NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Ibu Susu

Di Balik Kontrak Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Pernikahan Kilat / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah / Ibu susu / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆JUARA YAAW PERIODE 3 2025 TEMA KREATIF "IBU SUSU"🏆

Dituduh pembunuh suaminya. Diusir dari rumah dalam keadaan hamil besar. Mengalami ketuban pecah di tengah jalan saat hujan deras. Seakan nasib buruk tidak ingin lepas dari kehidupan Shanum. Bayi yang di nanti selama ini meninggal dan mayatnya harus ditebus dari rumah sakit.

Sementara itu, Sagara kelimpungan karena kedua anak kembarnya alergi susu formula. Dia bertemu dengan Shanum yang memiliki limpahan ASI.

Terjadi kontrak kerja sama antara Shanum dan Sagara dengan tebusan biaya rumah sakit dan gaji bulanan sebesar 20 juta.

Namun, suatu malam terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Sagara mengira Shanum adalah Sonia, istrinya yang kabur setelah melahirkan. Sagara melampiaskan hasratnya yang ditahan selama setelah tahun.

"Aku akan menikahi mu walau secara siri," ucap Sagara.

Akankah Shanum bertahan dalam pernikahan yang disembunyikan itu? Apa yang akan terjadi ketika Sonia datang kembali dan membawa rahasia besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Semua mata tertuju pada Dokter Marchel, pria berjas putih yang kini tampak kehilangan warna di wajahnya. Keringat dingin mengalir di pelipis, dan jemarinya yang menggenggam map hasil tes DNA sedikit bergetar.

Di depannya, Papi Leon berdiri dengan wajah tegas, sorot matanya tajam menembus kejujuran siapa pun yang berani berbohong.

“Jika sampai minggu depan tidak ada hasil, aku akan melaporkan masalah ini ke pihak berwajib!” kata Papi Leon dengan tegas, penuh tekanan yang membuat udara di ruangan seolah menipis.

Shanum, yang duduk di kursi agak terpisah, tiba-tiba menggenggam tangannya sendiri. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan cahaya antara ketakutan dan tekad untuk bicara.

Dokter Marchel menunduk sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Tentu saja, Pak Leon,” ucapnya dengan suara berat. “Saya akan menyelidiki masalah ini sampai tuntas.”

Namun sebelum ada yang menimpali, Shanum membuka suara, pelan tapi cukup tajam memecah keheningan.

"E, ini entah benar atau salah, karena malam itu aku sedang dalam keadaan kritis juga. Sepertinya Dokter Anton tahu sesuatu," ucap Shanum tiba-tiba.

Kalimat itu membuat semua orang menoleh ke arahnya secara bersamaan. Sagara yang duduk di sisi kanan langsung menegakkan badan. Mami Kartika berhenti menyesap teh. Dokter Marchel mendongak cepat, menatap Shanum dengan ekspresi kaget bercampur waspada.

“Apa kamu tahu sesuatu, Shanum?” tanya Papi Leon, suaranya menurun tapi nadanya tegas. “Katakan apa pun yang kamu ingat. Ini penting.”

Shanum menatap mereka satu per satu. Napasnya tersengal.

“Malam itu ketika aku melahirkan… semuanya samar. Tapi ada potongan-potongan yang kembali muncul di kepalaku.”

Semua orang diam. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar berdetak, memukul ketegangan di ruangan itu.

“Dokter Anton,” lanjutnya perlahan, “dia terlihat panik. Aku masih ingat ekspresinya. Wajahnya tegang, kemejanya berantakan, dan mobilnya melaju begitu cepat menembus hujan malam. Aku pikir waktu itu dia menolongku karena iba—karena aku ditemukan yang hendak melahirkan di pinggir jalan,” ucap Shanum memulai ceritanya.

Mata Shanum bergetar. “Tapi sekarang, setelah aku mengingat lagi, sepertinya dia memang sedang panik karena sesuatu.”

Sagara dan Mami Kartika saling pandang. Dokter Marchel mencatat sesuatu di ponselnya dengan tangan gemetar.

“Apa maksudmu, Shanum?” tanya Mami Kartika dengan nada ragu.

Shanum menghela napas, lalu menatap ke arah jendela, seolah berusaha menggali ingatan yang selama ini terkubur.

“Ketika sampai di rumah sakit, ada seorang perawat yang menghampiri Dokter Anton. Aku tidak ingat namanya, tapi wajahnya sangat pucat. Mereka berbicara pelan, tapi aku sempat mendengar kata ‘bayi’ dan ‘darurat’. Lalu, aku langsung dibawa ke ruang operasi tanpa pemeriksaan apa pun. Tanpa identitas, tanpa surat, tanpa keluarga. Seolah mereka sudah siap dari awal.”

Semua orang menegang. Sagara mencondongkan tubuhnya ke depan. “Tanpa prosedur?” ulangnya tak percaya.

Shanum mengangguk. “Iya. Tidak ada tanda tangan, tidak ada verifikasi. Aku hanya pasien asing yang tiba-tiba ditangani seperti kasus prioritas. Bahkan perawat yang membawa tandu waktu itu sempat meneteskan air mata. Aku pikir dia hanya kasihan, tapi mungkin bukan itu alasannya.”

Suara jantung Shanum berdentum keras di telinganya sendiri. Udara terasa dingin dan menusuk.

“Setelah operasi … aku tidak sadar lama. Aku tidak tahu apa yang terjadi di ruang itu.”

Dokter Marchel mulai menulis catatan cepat di mapnya, tapi Papi Leon mengangkat tangan.

“Biarkan dia bicara sampai selesai,” katanya tegas.

Shanum mengangguk pelan, lalu menatap kosong ke arah meja.

“Ketika aku sadar, aku sudah berada di ruang rawat. Badanku lemah. Aku menanyakan bayiku pada perawat yang jaga, tapi dia hanya menunduk. Lalu, Dokter Anton datang dengan wajah sedih. Ia bilang bayiku tidak selamat.”

Sagara mengernyit. “Kamu percaya begitu saja?”

“Tentu saja aku percaya. Apalagi dia yang sudah menolong aku,” jawab Shanum lirih. “Aku sendirian. Luka operasi masih nyeri. Aku hanya bisa menangis, lalu tidak sadarkan diri lagi. Ketika putus ada untuk pembayaran biaya administrasi, ada tawaran untuk menjadi ibu susu dari Dokter Anton. Aku pun menerimanya.”

Hening kembali menyelimuti ruangan. Namun tiba-tiba, Shanum menatap ke udara, matanya membesar seolah baru teringat sesuatu.

“Tunggu—” bisiknya pelan. “Tanda merah.”

Semua orang langsung menatapnya.

“Tanda merah?” ulang Dokter Marchel cepat.

Shanum berdiri perlahan dari kursinya, menatap ke tangannya sendiri gemetar. “Ya, aku baru ingat sekarang. Bayiku yang meninggal itu punya tanda merah di pergelangan tangan kirinya. Bentuknya seperti biji kecil. Aku ingat karena aku sempat menyentuhnya saat melihat jenazahnya. Aku pikir itu hanya tanda lahir biasa.”

Shanum terdiam sesaat, lalu menatap semua orang dengan wajah pucat.

“Tanda itu sama persis dengan yang dimiliki Sonia di tangannya sekarang.”

Suara napas tercekat terdengar dari arah Mami Kartika.

“Apa kamu yakin, Shanum?” Suaranya bergetar, seperti orang yang takut mendengar kebenaran.

Shanum mengangguk. “Ya. Aku yakin. Aku tidak mungkin salah ingat. Bentuknya unik seperti bercak merah berbentuk biji kecil di sisi pergelangan tangan. Aku bahkan masih bisa menggambarnya di kepala.”

Mami Kartika menatap suaminya, Papi Leon, yang kini tampak murung. Pria itu menunduk dalam, kedua tangannya mengepal.

“Kalau benar, berarti bayi yang katanya meninggal malam itu—”

Dokter Marchel cepat, nada suaranya tegang. “Bisa jadi bayi itu tertukar atau sengaja ditukar.”

Sagara langsung berdiri. “Ditukar? Maksud Anda apa, Dokter?”

Marchel menelan ludah. “Kemungkinan besar ada manipulasi data kelahiran. Apalagi jika pasien tidak memiliki identitas dan rumah sakit tidak melapor ke catatan sipil. Dalam kasus seperti ini, bayi bisa diganti tanpa jejak administratif.”

Semua mata terbelalak. Mami Kartika memegang dadanya.

“Ya Tuhan…”

1
Erna Lubis
saya suka alur ceritanya
Sandisalbiah
lagian Shanum itu ibu kandung Abyasa, jelas dia punya hak penuh atas anknya mengingat Aby masih balita dan itu gak bisa di tuntun perwaliannya atau gak asuhnya apalagi kondisi Sahnum yg mendukung dgn segala finansialnya.. Elia kan cuma nenek dan dia pun gak punya pekerjaan harusnya pengadilan udah bisa jadikan itu semua sebagai pertimbangan utk menentukan hak asuh.. aneh..
Sandisalbiah
karakter Shanum itu baik dan lemah lembut tp terlalu lemah, seakan gak punya niat buat belah diri ... jelas Elia dan Alana yg berbuat buruk padanya tp di tetap diem seakan semua fitnah yg mereka sebarkan itu kebenaran yg dia Terima dgn kediamannya itu.. hah.. gemes juga jadinya
Sandisalbiah
hadehh.. gerah banget setiap baca bab yg ada dua anomali gak jelas ini.. buruk sifat, akhlak, prilaku.. lengkap semua keburukan di borong.. mana awet lagi gak langsung di eliminasi dr cerita..
Sandisalbiah
dasar maruk.. keadilan buat Alvin atau sekedar niat buat memuaskan ego anda.. nyonya Eli..
Sandisalbiah
ibu dan adik almarhum Alvin juga banyak dosa pd Shanum tp mereka tetap hidup dan semakin sombong dgn mulut beracun mereka itu.. apa gak ada tuh azab buat dua perempuan demit itu
Sandisalbiah
Sonia ingin melepaskan Sagara buat Shanum sebagai bentuk kasih sayang terakhir utk org² yg dia cintai.. suami dan juga saudara kembarnya... Shanum yg pertama mengalah utk kebahagiaan Sonia dan kini Sonia ingin menyerahkan kebahagiaan utk Shanum dlm detik terakhir hidupnya
Sandisalbiah
dua org polisi tdk sanggup menahan satu perempuan yg tangannya sudah terborgol...? itu Soraya yg sring banget atau polisinya lemah.. ampun deh
Sandisalbiah
manusia kalau hatinya di penuhi rasa iri dan dengki maka dia tdk akan pernah mensyukuri apa yg dia punya, apa yg ada di sekelilingnya tp hatinya akan tetap di penuhi ambisi utk memiliki dan mengalahkan yg lain sampai meng halalkan segala cara
Sandisalbiah
dan korbannya adalah ayah kandung Abyasa.. suami Shanum... kudu di hukum yg berat itu perempuan sundal
Sandisalbiah
Soraya.. ih.. pengen banget itu betina segera mendekam di hotel prodio
Sandisalbiah
jelas Soraya jd tersangka utama... dan semoga kasusnya segera terungkap
Sandisalbiah
Soraya ini hatinya penuh dgn kelicikan dan culas... jgn bilang kalau dia lah dalang di balik hilangnya Sonia paska melahirkan... krn dia sepertinya juga terobsesi pd Sagara
Sandisalbiah
setidaknya Shanum memiliki Abyasa..
Sandisalbiah
keputusan Sagara dgn menikah lagi emang salah, dan gak ada perempuan yg mau di madu seperti yg nyonya Kartika katakan itu benar tp pembelaan mereka yg terkesan berlebihan utk seseorang yg jelas² meninggalkan suami dan menelantarkan anaknya sendiri.. itu aneh...
Sandisalbiah
dan biasanya setelah saling terbuka dan membuka hati itu anomali lama bakal muncul menghancurkan semuanya... sosok Sonia yg lama menghilang bakal kembali dan ujungnya Shanum kembali menjadi sosok terbuang dgn luka hati dan laranya
Sandisalbiah
bab ini juga ada typo Thor... tertulis " ada tawa dr tiga laki² " kan si kembar cewek cowok ya..
Sandisalbiah
Shanum harus tetap menempati kamar pengasuh dan bila minat Sagara akan mendatanginya dgn alasan agar dia tdk di cap sebagai wanita penghilang dan menanggung malu, terus kalau sampai Shanum hamil emang gak bakalan jd bulan²an mulut org.. mikir gak itu laki yg punya nafsu besar tp gak punya hati
Sandisalbiah
takdir Shanum yg selalu di genangi lautan air mata.. miris banget, dia tetap akan jd yg tersisi
Sandisalbiah
kenapa ank kembar Sagara justru mirip dgn Shanum dan almarhum suaminya, jgn bilang mereka di tukar pas Shanum melahirkan krn dia yg dlm kondisi tdk sadar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!