Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Semburat jingga matahari sore masuk melalui celah-celah jendela masjid, menciptakan suasana tenang yang menghanyutkan. Setelah menyelesaikan salat ashar berjamaah, Bunda menepuk bahu Namira pelan.
"Mira, Bunda tunggu di mobil ya? Jangan lama-lama, nanti terjebak macet," bisik Bundanya yang kemudian beranjak pergi.
Namira mengangguk, lalu kembali membetulkan posisi duduknya. Masjid sudah sepi, hanya ada dia di saf wanita. Merasa punya waktu "privat" dengan Sang Pencipta, Namira menengadahkan tangan mungilnya tinggi-tinggi. Ia mulai merapal doa dengan suara pelan namun jelas, seolah sedang bernegosiasi.
"Ya Allah... kalau boleh minta, kasih jodoh yang nggak jelek ya Allah. Tampan juga nggak apa-apa banget, malah saya syukur. Terus ya Allah, jangan yang miskin, kalau bisa yang kaya biar aku bisa jajan terus. Good rekening juga boleh banget ya Allah... Amin," ucap Namira dengan sangat khusyuk.
Namun, ketenangannya pecah saat sebuah suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari balik tirai pembatas saf pria.
"Orang aneh. Minta kok aneh-aneh, banyak mau lagi," ucap pria itu tanpa dosa, terdengar sangat ketus.
Namira tersentak. Matanya yang lentik membelalak kaget. Ia menoleh ke arah tirai hijau yang memisahkan mereka. Bukannya merasa malu, jiwa "bawel"-nya justru langsung meronta.
"Ihh! Aminin aja apa susahnya sih? Kan nggak rugi juga situ yang doain!" dumel Namira kesal, bibirnya yang unik itu mengerucut tajam.
Belum sempat Namira melanjutkan omelannya, sosok di balik tirai itu berdiri. Dari balik celah kain, Namira bisa melihat sekilas sosok pria tinggi tegap dengan hidung mancung yang sangat tegas. Pria itu berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi, meninggalkan aura dingin yang membekukan suasana.
Namira terpaku sejenak, memandangi punggung lebar yang menjauh itu. "Gila... tampan-tampan kok galak banget! Bisa darah tinggi aku kalau punya suami kayak gitu," gerutunya sambil merapikan mukena, tak sadar bahwa takdir mungkin saja baru saja mencatat permintaannya.
***
Namira menghempaskan tubuhnya ke jok depan mobil dengan wajah yang ditekuk seribu. Ia membanting pintu mobil—tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa mood-nya sedang di bawah nol.
"Kamu kenapa sayang? Datang-datang kok kayak kesel gitu," tanya Bunda heran sambil mulai menyalakan mesin mobil.
Namira memakai sabuk pengaman dengan gerakan menyentak. "Gimana nggak kesel coba, Bun! Orang lagi doa khusyuk-khusyuk sama Allah, eh malah diganggu!" jawab Namira dengan nada tinggi khas orang mengadu.
Bunda Namira terkekeh pelan, melirik putri mungilnya yang terlihat menggemaskan saat marah. "Lho, kok bisa? Emang kamu doa apa sayang sampai ada yang ganggu? Jarang-jarang lho ada orang iseng di masjid."
Namira membuang muka ke arah jendela, bibirnya mengerucut. "Ya Mira doa standar lah Bun. Minta jodoh yang ganteng, yang kaya, yang rekeningnya nggak pernah kering. Kan itu doa yang realistis bagi wanita seperti Mira, ya kan?"
Tawa Bunda pecah mendengar kejujuran anaknya. "Terus yang ganggu bilang apa?"
"Masa dia bilang Mira orang aneh, katanya doa Mira kebanyakan mau! Mana suaranya dingin banget kayak es kutub lagi. Sok kecakepan banget itu orang, padahal cuma di balik tirai!" Namira mulai mengeluarkan jurus bawelnya, tangannya bergerak ke sana kemari saat bercerita. "Harusnya kan sesama muslim saling meng-aminkan ya, Bun? Ini malah dikatain aneh. Benar-benar nggak ada adabnya!"
Bunda hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menyetir. "Hati-hati lho, Mira. Biasanya orang yang paling bikin kesel itu yang bakal selalu diingat."
"Nggak akan! Mira bakal langsung blacklist cowok kayak gitu dari daftar calon!" seru Namira berapi-api.
Bunda melirik Namira dengan senyum penuh arti. "Awas jodoh lho, sayang. Biasanya benci sama cinta itu bedanya tipis banget."
Namira langsung bergidik ngeri, jemarinya mengetuk-ngetuk dasbor mobil dengan cepat.
"Amit-amit, Bun! Jangan sampai! Mending Mira jomblo seumur hidup daripada punya suami galak dan dingin kayak kulkas dua pintu begitu. Bisa-bisa Mira kena sariawan tiap hari karena nggak boleh ngomong!"
Bunda hanya tertawa kecil, dalam hati
membatin,Biasanya yang paling ditolak itu yang paling cepat dikabulkan.
Bunda Namira mulai mengemudi membelah jalanan sore yang mulai padat. Tangannya dengan tenang memutar setir, sementara matanya sesekali melirik Namira yang masih saja sibuk merapikan khimarnya dengan wajah cemberut.
"Udah, jangan ditekuk terus mukanya. Nanti cantik imutnya hilang, malah jadi tambah mirip anak kecil kalau lagi ngambek," goda Bunda sambil tetap fokus mengemudi.
Namira menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih emosi. "Habisnya keterlaluan banget, Bun. Mira kan doa baik-baik. Kalau dia nggak mau aminin, ya udah diem aja, nggak usah pakai ngatain aneh segala."
Mobil melaju pelan mengikuti arus lalu lintas. Bunda Namira hanya tersenyum tipis. Beliau sangat tahu sifat putrinya ini; bawelnya minta ampun kalau merasa benar, tapi hatinya sangat lembut.
"Mungkin itu cara Allah ngasih tahu kamu, kalau minta sesuatu itu jangan cuma duniawinya aja," ujar Bunda lembut sambil menyalip sebuah kendaraan. "Siapa tahu mas-mas tadi itu sebenernya mau ngingetin, tapi caranya aja yang sedikit... tegas?"
"Tegas apanya, Bun? Itu mah galak!" potong Namira cepat. "Tingginya sih emang lumayan tadi Mira lihat pas dia pergi, tapi kalau sifatnya kayak gitu, hiii... nggak masuk kriteria Mira!"
Bunda Namira tertawa kecil melihat tingkah putrinya yang sangat ekspresif. "Ya sudah, sekarang kita cari makan dulu yuk? Mau makan apa biar keselnya hilang?"
Mendengar kata makan, mata lentik Namira langsung berbinar. "Mau bakso yang pedes banget ya, Bun! Sama es teh manis!"
"Tuh kan, kalau urusan perut langsung nomor satu," ucap Bunda sambil membelokkan setir ke arah kedai bakso langganan mereka.
***
Namira tidak tahu, bahwa di saat yang sama, pria di masjid tadi sedang memperhatikan jam tangannya dengan dahi berkerut, masih terngiang-ngiang suara "bawel" seorang gadis yang meminta "good rekening" di sela-sela doanya.
Ayyan tersentak dari lamunannya. Suara berat sang Abah membuyarkan bayangan gadis "aneh" di masjid tadi yang terus saja berputar di kepalanya. Ia menutup kitab kecil yang sejak tadi dipegangnya, lalu berdiri merapikan jas koko hitam yang melekat pas di tubuh kekarnya.
"Nggih, Bah. Ayyan siap," jawabnya singkat dengan nada rendah yang berwibawa.
Abah Kyai menepuk bahu putranya itu dengan bangga. "Calon istrimu ini anak sahabat lama Abah. Orangnya baik, tulus, meskipun Abah dengar dia sedikit... ceria. Kamu yang sabar ya menghadapi dia nanti."
Ayyan hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ceria? pikirnya. Entah kenapa kata itu mengingatkannya kembali pada gadis mungil yang tadi mengomel di balik tirai masjid. Gadis yang dengan berani menyuruhnya mengaminkan doa tentang "good rekening".
"Ayo, jangan melamun terus. Kita sholat magrib di masjid hotel saja supaya bisa langsung berangkat," ajak Abah lagi.
Sepanjang langkah menuju mushola, Ayyan berusaha menenangkan hatinya. Sebagai seorang Ustadz yang terkenal dingin dan disiplin, ia selalu bisa mengontrol emosinya. Namun entah mengapa, malam ini ada perasaan aneh yang menyelinap. Ada rasa penasaran yang tidak biasa.
Sementara itu, di sebuah rumah tak jauh dari sana, Namira sedang sibuk berperang dengan kain jarik dan kebaya pilihannya.
"Bun! Mira nggak mau pakai yang ini! Sempit banget, susah buat napas, apalagi buat ngomong!" teriak Namira dari dalam kamar.
Bunda yang sedang bersiap di luar hanya geleng-geleng kepala. "Mira, sekali-kali jadi wanita anggun. Calon suamimu itu orang hebat, Ustadz muda. Jangan sampai nanti dia kaget lihat kamu bawel begitu."
"Biarin aja Bun! Kalau dia nggak kuat denger Mira ngomong, berarti dia bukan jodoh yang dikirim Allah lewat doa Mira tadi sore!" balas Namira sambil bercermin, tanpa menyadari bahwa doa "aneh"-nya tadi sore memang sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.