NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 5

Hari pernikahan itu datang tanpa memberi Yurie kesempatan untuk benar-benar siap.

Pagi belum sepenuhnya terang ketika Bu Ratna mengetuk pintu kamarnya pelan. Yurie terbangun dengan perasaan aneh—bukan gugup, bukan bahagia, melainkan kosong, seperti seseorang yang berdiri di tepi sungai tanpa tahu apakah air di bawahnya dingin atau hangat.

“Nona Yurie,” panggil Bu Ratna lembut. “Sudah waktunya bersiap.”

Yurie duduk perlahan di ranjang. Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis, jatuh lembut di lantai kamar. Ia mengangguk kecil. “Iya, Bu.”

Gaun pernikahan tergantung rapi di dekat jendela. Warnanya putih gading, sederhana, tanpa terlalu banyak hiasan. Agnesa memilihkan gaun itu—tentu saja—dengan alasan “keluarga Reynard tidak suka yang berlebihan”. Namun entah kenapa, Yurie merasa gaun itu justru cocok dengannya. Tidak mencolok, tidak menuntut perhatian, hanya ada.

Seperti dirinya.

Saat gaun itu dikenakan, Yurie menatap bayangannya di cermin. Rambut pirangnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan jatuh lembut di sisi wajah. Matanya yang hijau tampak lebih tenang, meski di dalamnya ada riak yang belum reda.

“Cantik sekali,” kata Bu Maya tulus.

Yurie tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Di luar kamar, rumah Reynard mulai sibuk. Langkah kaki, suara bisik-bisik, persiapan terakhir. Namun tidak ada kekacauan. Semuanya teratur, rapi, dan terkendali—seperti keluarga itu sendiri.

Kaiden berdiri di ruang ganti lain, mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih. Ia menatap pantulan dirinya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Hari ini bukan tentang dirinya. Ia tahu itu.

Pernikahan ini tidak lahir dari cinta, tapi dari keputusan. Namun Kaiden sudah berjanji pada dirinya sendiri: jika Yurie harus melewati ini, maka ia tidak akan membiarkannya merasa sendirian.

Upacara berlangsung di aula dalam kediaman Reynard. Tidak besar, tidak mewah berlebihan.

Hanya keluarga inti, beberapa kerabat dekat, dan saksi. Tidak ada media. Tidak ada sorotan kamera. Semua berjalan sunyi, hampir khidmat.

Yurie melangkah masuk dengan Bu Ratna di sisinya. Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak mencari wajah dari rumah yang ia tinggalkan. Tidak ada yang menunggunya di sana.

Di ujung aula, Kaiden berdiri.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, Yurie lupa bernapas. Kaiden tidak tersenyum lebar, tidak menunjukkan emosi berlebihan. Namun di matanya, ada ketenangan yang membuat langkah Yurie tidak goyah.

Ketika Yurie berdiri di sampingnya, Kaiden mencondongkan kepala sedikit dan berbisik,

“Kamu baik-baik saja?”

Yurie mengangguk. “Iya.”

Upacara berlangsung singkat. Kata-kata diucapkan, janji dilafalkan. Yurie mendengar suaranya sendiri mengucapkan “iya” dengan jelas—lebih jelas dari yang ia kira.

Saat cincin disematkan di jarinya, Yurie menatap benda kecil itu lama. Dingin. Berkilau. Dan nyata.

Mereka kini resmi terikat.

Setelah upacara, para tamu memberi ucapan singkat. Tidak ada pesta besar. Tidak ada musik keras. Semuanya terasa seperti sebuah kesepakatan yang diselesaikan dengan rapi.

Agnesa datang dengan senyum yang terlalu lebar. “Selamat,” katanya, suaranya manis. “Jaga diri baik-baik, ya.”

Yurie mengangguk. Tidak ada yang perlu dibalas.

Kayla berdiri di belakang ibunya, menatap Yurie dari ujung kepala sampai kaki. “Lumayan,” katanya singkat.

Kaiden berdiri di samping Yurie, tanpa berkata apa-apa. Namun ketika Kayla melangkah terlalu dekat, Kaiden bergeser setengah langkah, berdiri di antara mereka. Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Yurie.

Setelah semua selesai, Yurie dibawa kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Gaun pernikahan diganti dengan dress sederhana. Rambutnya dilepas, dibiarkan tergerai. Ketika ia keluar, Kaiden sudah menunggunya di koridor.

“Kamu capek?” tanya Kaiden.

“Sedikit,” jawab Yurie jujur.

“Kalau begitu, kita tidak perlu menemui siapa pun lagi hari ini,” kata Kaiden. “Kamu bisa istirahat.”

Yurie menatapnya, sedikit ragu. “Kamu tidak keberatan?”

Kaiden menggeleng. “Tidak.”

......................

Malam hari pun tiba, mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya sebagai suami istri. Tidak ada pembicaraan berat. Tidak ada pembahasan tentang masa depan. Hanya makan, diam, dan sesekali bertukar pandang.

Setelah makan, Kaiden mengantar Yurie ke depan kamarnya.

“Kamar ini tetap milikmu,” katanya. “Kamar saya di ujung koridor.”

Yurie terkejut. “Maksudmu… kita tidak—”

“Tidak,” potong Kaiden lembut. “Tidak ada yang berubah kalau kamu belum siap.”

Yurie menatapnya lama. “Terima kasih.”

Kaiden mengangguk. “Istirahatlah.”

Saat pintu kamar tertutup, Yurie bersandar di baliknya. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu bagaimana pernikahan ini akan berjalan, tapi satu hal pasti: Kaiden menepati kata-katanya.

Malam semakin larut. Yurie terbangun karena haus dan turun ke dapur untuk mengambil air. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dari ruang kerja Kaiden.

Ia tidak bermaksud menguping, tetapi suara itu terdengar jelas.

“Berita terakhir?” suara Kaiden rendah.

“Masih sama,” jawab suara lain—pria dewasa, tegas. “Tidak ada jejak Elif. Bandara bersih.”

Kaiden terdiam sejenak. “Jayden tidak mungkin meninggalkannya.”

“Justru itu yang membuat semuanya aneh.”

Yurie menahan napas. Nama itu asing baginya, tapi nada percakapan itu membuat dadanya mengencang.

“Kita mulai lagi penyelidikan,” kata Kaiden.

“Diam-diam.”

“Dan Nazeeran?”

Kaiden menjawab setelah jeda panjang. “Perhatikan mereka.”

Yurie mundur perlahan, kembali ke kamarnya dengan jantung berdebar. Ia tidak mengerti sepenuhnya, tetapi ia tahu satu hal: rumah ini tidak sesederhana yang terlihat.

Di kamar, Yurie duduk di tepi ranjang, menatap cincin di jarinya. Pernikahan ini mungkin dimulai tanpa cinta, tanpa pilihan. Namun di balik itu, ada sesuatu yang bergerak—perlahan, senyap, dan berbahaya.

Dan Yurie kini berada tepat di tengahnya.

Ia memeluk dirinya sendiri, menarik napas dalam-dalam. “Tidak apa-apa,” bisiknya. “Aku akan bertahan.”

Di lorong yang sunyi, Kaiden berdiri di depan jendela, menatap gelap malam. Wajahnya tenang, tetapi pikirannya penuh.

Ia tahu, membawa Yurie ke dalam hidupnya berarti menyeretnya ke pusaran rahasia yang belum selesai. Namun ia juga tahu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang di rumah ini yang tidak pantas menjadi korban.

Dan Kaiden bersumpah—dalam diam—bahwa Yurie tidak akan menjadi salah satunya.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!