NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. pergilah ke adik kesayanganmu, Mas!

Shaka duduk di kursi ruang tunggu, masih dengan kemeja yang berlumur darah Amara. Tangannya gemetar, menatap noda merah yang kini mulai mengering, darah yang tak seharusnya keluar dari tubuh wanita yang baru saja ingin ia lindungi.

Suasana ruang tunggu terasa hening. Hanya suara langkah perawat dan denting alat medis dari balik pintu UGD yang terdengar

Zico berdiri tak jauh darinya, rahangnya mengeras, tangan mengepal. Ia belum bicara sepatah kata pun sejak mobil mereka berhenti di depan instalasi gawat darurat.

Shaka menunduk, menarik napas dalam-dalam, tapi setiap tarikan napas justru menyesakkan. Kepalanya dipenuhi bayangan suara bentakannya tadi, wajah Amara yang menahan sakit, dan darah yang mengalir deras dari kakinya saat jatuh di Zico.

'Semua ini salahku, seandainya aku tidak mempermalukannya di depan semua orang … kalau saja aku menahan emosi sesaat saja…'

Pintu UGD tertutup rapat, waktu terasa berjalan lambat. Setiap kali dokter lewat, Shaka spontan berdiri tapi tidak ada satu pun yang membawa kabar tentang Amara. Beberapa staf rumah sakit mulai berbisik pelan. Mereka tahu siapa Shaka Wirantara, tapi untuk pertama kalinya mereka melihat pria itu duduk lunglai, wajahnya pucat, matanya kosong. Zico akhirnya bersuara, nada suaranya datar tapi menusuk.

“Kalau Nona Amara sampai kehilangan bayi itu, Kapten…” ia berhenti, menatap Shaka dengan sorot mata tajam, “aku sendiri yang akan memastikan kau merasakan sakit yang sama.”

Shaka hanya diam, tidak membela diri, tidak marah. Karena di dalam hatinya, ia tahu ucapan Zico benar. Tak lama kemudian, Haris datang dengan napas tersengal.

“Bagaimana keadaannya, Pak?”

Shaka menggeleng pelan, menatap pintu dengan mata merah. “Dia belum keluar … dia pendarahan parah.”

Lorong itu kembali senyap, hanya suara detak jam dinding yang mengiringi kecemasan mereka. Sampai akhirnya, pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter keluar, mengenakan masker dan sarung tangan yang masih bernoda darah.

“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Shaka cepat, berdiri dengan wajah penuh tegang.

Dokter menatap mereka satu per satu sebelum melepas maskernya.

“Kami sudah hentikan pendarahannya, tapi kondisi ibu dan janinnya masih sangat lemah. Kami harus melakukan observasi beberapa hari. Kalau tekanan emosinya tidak stabil, ada risiko keguguran.”

Suara itu menggema di kepala Shaka, risiko keguguran, kata-kata itu menamparnya tanpa ampun. Zico menatap lantai, menahan emosi yang hampir meledak.

Dokter melanjutkan pelan, “Untuk sekarang, tolong jangan beri tekanan apa pun pada pasien. Dia harus benar-benar tenang.”

Setelah dokter berlalu, Shaka menunduk, memegangi kepala. Ia berjalan pelan ke jendela besar ujung lorong.

Cahaya matahari yang masuk membuat silau, tapi yang terlihat di benaknya hanya wajah Amara, senyumnya, tatapan kecewanya, dan tubuhnya yang lemah tak berdaya di pelukannya.

“Dia terluka karena aku…” gumamnya lirih.

Zico mendekat, menatap Shaka dalam.

“Kalau benar Anda menyesal, lindungi dia mulai sekarang. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya, termasuk dirimu yang dulu sempat menyakitinya.”

Shaka tak menjawab, dia hanya berdiri mematung, menatap pintu ruang perawatan tempat Amara berada, dengan tatapan penuh sesal dan janji diam-diam.

“Aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekali saja dia sadar … aku akan menebus semuanya.”

Namun, tak jauh dari sana, di balik pilar lorong, Karina berdiri dengan mata merah dan rahang menegang. Tangannya menggenggam erat tasnya, menahan amarah dan ketakutan setelah mendengar nama Marvionne disebut.

Aroma obat-obatan menyengat memenuhi udara. Di atas ranjang, Amara membuka matanya perlahan, pandangannya masih buram, hingga siluet tubuh seorang pria yang duduk di kursi sebelah tempat tidurnya mulai terlihat jelas.

Shaka duduk menunduk, kedua tangan bertaut di depan wajahnya, seolah sedang berdoa dalam diam. Begitu mendengar suara Amara bergerak, Shaka langsung menegakkan tubuhnya.

“Amara…” suaranya serak, nyaris bergetar. “Syukurlah kamu sadar.”

Amara menatapnya sekilas, dingin, lalu memalingkan wajah.

“Kenapa kamu di sini, Mas?” suaranya datar, tanpa ekspresi.

Shaka menelan ludah, mendekat pelan. “Aku … aku cuma mau memastikan kamu dan bayi kita selamat.”

Amara tersenyum miring, senyum yang lebih mirip luka.

“Bayi kita? Jangan munafik, Mas Shaka. Dari awal yang kamu lindungi bukan aku atau anak ini.”

Matanya menatap tajam. “Pergilah ke adik kesayanganmu itu. Bukankah dia yang selalu kamu bela, bahkan di depan semua orang?”

Shaka memejamkan mata, rasa sesak menyesakkan dadanya.

“Amara, aku salah…”

Kata-kata itu keluar begitu lirih.

“Aku salah mengenal, salah menilai, salah bersikap padamu. Aku pikir...”

Kalimatnya menggantung di udara. Tatapan Shaka tiba-tiba kosong, suaranya serak dan tertahan.

“Aku pikir … Karina adalah...”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Zico masuk bersama dua sosok yang membuat udara di ruangan seolah berhenti, Tuan Wirantara dan Nyonya Merlin.

“Nona Amara,” suara Zico lembut, namun tegas, “keluarga Wirantara ingin menemui Ibu.”

Shaka berdiri kaku, wajah Tuan Wirantara tampak tegang, sorot matanya tajam seperti baja. Nyonya Merlin, dengan wajah sendu namun penuh wibawa, berjalan pelan mendekati ranjang.

“Amara, Nak…” suara Merlin bergetar, ia menggenggam tangan menantunya. “Maafkan Ibu ... kami baru tahu apa yang terjadi.”

Amara menatap wanita itu, matanya lembut namun tetap menjaga jarak.

“Tak perlu, Bu. Saya baik-baik saja,” jawabnya pelan, meski suaranya masih bergetar menahan emosi.

Di sisi lain, Shaka hanya diam, menatap adegan itu dengan perasaan bersalah yang menumpuk. Tuan Wirantara melangkah maju, menatap putranya tajam.

“Kau lihat sendiri akibat dari sikapmu, Shaka,” katanya dengan nada dingin. “Kalau bukan karena keberuntungan, kau hampir kehilangan istrimu dan cucuku.”

Shaka menunduk, tidak berani menatap balik.

“Maafkan aku, Ayah … aku benar-benar....”

“Cukup,” potong Wirantara tegas. “Kau boleh bicara nanti. Sekarang biarkan Amara beristirahat.”

Suasana ruangan mendadak hening, hanya terdengar suara monitor detak jantung yang berdetak perlahan, irama yang terasa seperti teguran bagi semua yang ada di sana.

Amara menutup matanya, menarik napas panjang, lalu berbisik lirih,

“Mulai hari ini, aku tidak ingin melihatmu lagi, Shaka. Aku ingin tenang.”

Shaka menatapnya, matanya merah menahan perih. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan semuanya, tapi lidahnya kelu.

1
Suciati Suci
sumpah nangis /Sob//Sob/
Forta Wahyuni
betul itu, mungkin memaafkan mudah tapi tuk bersama lg dgn org yg memberi qt luka itu susah.
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!