NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan dan Halte Bus

Langit Universitas Nusantara mendadak berubah menjadi abu-abu pekat hanya dalam hitungan menit, seolah-olah semesta sedang menyesuaikan suasana hatinya dengan apa yang sedang dirasakan Rara. Sore itu, udara terasa berat dan lembap. Suara guntur yang menggelegar di kejauhan menjadi pertanda bahwa badai besar akan segera datang.

Rara melangkah keluar dari gedung fakultasnya dengan bahu yang sedikit merosot. Seharian ini, kampus terasa seperti medan perang yang tidak adil baginya. Setelah gerakan bawah tanah yang dipicu oleh Kania melalui grup-grup anonim, Rara bisa merasakan setiap pasang mata menatapnya dengan penuh kecurigaan. Bisikan-bisikan itu tidak lagi samar, mereka terang-terangan menyebutnya sebagai mahasiswi oportunis yang sengaja "menjebak" sang Presiden Mahasiswa demi kepentingan tugas jurnalisme.

Baru saja Rara sampai di depan gerbang utama, langit benar-benar tumpah. Hujan turun dengan sangat deras, seolah jutaan anak panah air sedang menghujam bumi.

Rara berlari kecil menuju halte bus yang terletak tepat di pinggir jalan raya kampus. Halte itu sepi, hanya ada aroma tanah basah dan suara riuh air yang menghantam atap seng. Ia berdiri di sana, mendekap tasnya erat-alih-alih berharap tas itu bisa melindunginya dari dingin yang mulai menusuk hingga ke tulang. Baju katun tipis yang ia kenakan mulai terasa lembap akibat cipratan air hujan yang tertiup angin.

"Nasib... nasib," gumam Rara pelan. Ia menatap jalanan yang mulai tertutup kabut tipis akibat curah hujan yang begitu tinggi. Tidak ada bus yang nampak, dan aplikasi ojek daring pun tidak memberikan harapan dengan status 'permintaan tinggi'.

Di tengah keputusasaan itu, sebuah mobil sedan hitam yang elegan perlahan menepi tepat di depan halte. Rara mengenal mobil itu. Itu adalah mobil yang sering terparkir di slot khusus pimpinan BEM.

Kaca mobil menurun perlahan. Genta duduk di balik kemudi. Ia tidak mengenakan kacamatanya kali ini, membuat matanya yang tajam nampak lebih dalam dan lelah.

"Masuk," perintah Genta singkat. Suaranya hampir tertelan oleh deru hujan.

Rara menggeleng perlahan, meskipun giginya mulai bergemeletuk karena dingin. "Nggak usah, Kak. Nanti kalau ada yang liat, 'Lambe Kampus' bisa bikin edisi spesial lagi. Aku nggak mau nambah musuh hari ini."

Genta menatap Rara selama beberapa detik, lalu tanpa diduga, ia mematikan mesin mobilnya. Ia mengambil sebuah payung hitam besar dari kursi belakang, membuka pintu, dan berjalan keluar menerobos hujan menuju halte. Bukannya memaksa Rara masuk ke mobil, Genta justru menutup payungnya dan duduk di bangku panjang halte, tepat di samping Rara.

"Kak Genta ngapain?" Rara terbelalak. "Bajumu basah semua!"

"Aku juga mau berteduh," sahut Genta datar, menatap lurus ke depan, ke arah tirai hujan yang menutupi pemandangan kampus. "Lagipula, mobil itu terasa terlalu sempit sekarang. Aku butuh udara... meskipun udaranya dingin."

Rara terdiam. Ia bisa melihat butiran air hujan yang menempel di rambut hitam Genta yang sedikit berantakan. Pria itu nampak tidak peduli dengan kemeja mahalnya yang mulai basah di bagian bahu.

***

Hembusan angin kencang meniupkan kabut hujan ke dalam halte, membuat Rara refleks merapatkan pelukannya pada tasnya sendiri. Ia menggigil hebat.

Tanpa sepatah kata pun, Genta mulai melepas jas almamater biru tuanya yang ikonik. Jas dengan logo Universitas Nusantara yang sangat dibanggakan oleh semua mahasiswa itu kini ia sampirkan ke bahu Rara.

"Kak, jangan—"

"Pakai saja," potong Genta, suaranya kini sedikit lebih lembut. "Kalau pewawancaraku sakit, tugas wawancaramu itu nggak bakal selesai-selesai, kan?"

Rara akhirnya mengalah. Ia memasukkan tangannya ke dalam lengan jas almamater yang terlalu besar untuk tubuhnya. Seketika, rasa hangat menyelimuti kulitnya. Jas itu tidak hanya memberikan kehangatan fisik, tapi juga membawa aroma khas Genta, campuran antara parfum citrus yang segar, aroma kertas baru, dan sedikit wangi kayu cendana yang menenangkan.

Entah kenapa, berada di dalam jas Genta membuat Rara merasa terlindungi dari segala hujatan yang ia terima di kampus seharian ini. Di balik kain tebal ini, ia merasa aman.

"Terima kasih, Paladin," bisik Rara pelan.

Genta hanya mengangguk kecil. Mereka duduk dalam keheningan yang cukup lama, hanya ditemani oleh irama hujan yang nampak tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

"Semua orang ingin aku jadi sempurna, Ra," ucap Genta tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat parau, seolah kata-kata itu sudah lama tersangkut di tenggorokannya dan baru sekarang menemukan jalan keluar.

Rara menoleh, menatap profil samping wajah Genta yang tegas. Pria itu masih menatap lurus ke jalanan yang kosong.

"Ayahku... dia adalah orang yang membangun standar itu. Baginya, posisi kedua adalah kegagalan mutlak," lanjut Genta. Ia menyandarkan kepalanya ke tiang halte yang dingin. "Sejak aku kecil, hidupku adalah tentang panggung. Pidato, presentasi, olimpiade. Aku dilatih untuk tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun. Aku harus jadi robot yang selalu punya jawaban untuk semuanya."

Genta menghela napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat. "Kamu tahu kenapa aku suka main Fantasy World? Karena di sana, aku bisa pakai armor perak yang asli. Di sana, kalau aku terluka, ada Healer yang akan bantu aku tanpa tanya kenapa aku bisa kena serang. Di dunia nyata... nggak ada yang mau bantu Presma yang lemah. Mereka cuma mau lihat Presma yang bisa memimpin mereka."

Rara mendengarkan dengan seksama. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin mengejek atau menggoda pria di sampingnya ini. Ia melihat Genta yang sebenarnya, bukan sang 'Pangeran Es' yang sombong, bukan juga 'Presma' yang berwibawa. Ia melihat seorang anak laki-laki yang kelelahan karena harus terus berlari demi ekspektasi orang lain.

"Kadang aku merasa kalau aku berhenti sebentar saja, semuanya akan runtuh," bisik Genta lagi. "Aku takut kalau orang-orang tahu aku punya anxiety, mereka akan menganggap semua prestasiku cuma omong kosong. Aku terjebak dalam peran ini, Ra. Dan jujur saja... aku lelah."

Rara merasakan sesak di dadanya mendengar pengakuan jujur itu. Ia teringat bagaimana Kania dan mahasiswa lain memuja kesempurnaan Genta tanpa pernah peduli betapa berat beban yang harus dipikul pria itu untuk menjaga citra tersebut.

"Genta," panggil Rara lembut, kali ini tanpa sebutan 'Kak'.

Genta menoleh perlahan.

"Kamu nggak harus jadi nomor satu buat aku," ucap Rara mantap. "Di game, Paladin itu hebat bukan karena dia nggak pernah kena damage, tapi karena dia berani maju biarpun dia tahu dia bisa mati. Dan di dunia nyata... kamu sudah jadi Paladin yang hebat buat aku. Kamu sudah bertahan sejauh ini, itu sudah lebih dari cukup."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan Genta seolah runtuh. Bukan runtuh dalam artian dia menangis atau gemetar, tapi tatapan matanya yang tajam mendadak melunak. Ketegangan yang biasanya terlihat di garis rahangnya menghilang.

Rara perlahan menggeser duduknya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Genta yang masih sedikit basah karena hujan. Ia bisa merasakan tubuh Genta membeku seketika. Genta nampak kaget dengan keberanian Rara yang tiba-tiba.

Namun, Rara tidak menjauh. Ia justru mengeratkan jas almamater Genta di tubuhnya. "Bahu kamu lebar, tapi kamu nggak harus bawa beban seluruh dunia sendirian di sana. Sekali-kali, biarin orang lain yang sandaran, biar kamu juga ngerasa punya beban yang nyata, bukan cuma beban pikiran."

Genta tidak bergerak selama beberapa detik. Ia menahan napas, matanya menatap ujung sepatu Rara. Namun perlahan, keajaiban itu terjadi.

Genta merilekskan bahunya. Ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Rara, membiarkan rambut mereka yang sedikit lembap bersentuhan. Tangannya yang biasanya gemetar hebat saat berada di dekat orang lain, kini terasa hangat dan tenang. Ia tidak gemetar. Untuk pertama kalinya di tengah kerumunan atau tempat umum, Genta merasa tidak perlu waspada.

Hujan masih mengguyur bumi dengan ganasnya di depan mereka, namun di dalam halte bus yang sempit itu, waktu seolah berhenti berputar. Tidak ada Presiden Mahasiswa, tidak ada mahasiswi jurnalis yang dikecam, tidak ada Kania yang sedang merencanakan skandal. Yang ada hanyalah Paladin dan Healer-nya, saling berbagi kehangatan di tengah dunia yang terasa sangat dingin.

"Terima kasih, Ra," gumam Genta sangat pelan, hampir tak terdengar di antara suara hujan. "Tetaplah seperti ini... sebentar saja."

Rara hanya tersenyum di dalam dekapan jas itu, memejamkan matanya, dan menikmati detak jantung Genta yang kini berdegup dengan tenang di sampingnya. Malam itu, halte bus yang sunyi menjadi saksi bahwa di bawah guyuran hujan, es yang paling keras sekalipun bisa mencair jika bertemu dengan kehangatan yang tulus.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!