Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REKAYASA SANG PENJAGA
"Nggak ada yang namanya teman kalau urusannya sudah soal stabilitas semesta, Vio. Nama itu, kasih sayang itu, cuma pelumas biar mesin takdir nggak berdecit terlalu keras saat berjalan."
Suara Alfred tidak lagi mengandung kehangatan kakek tua yang menawarkan teh di gudang payung. Suara itu kini murni mekanis, bergetar dengan frekuensi yang sanggup meretakkan lapisan pelindung mental siapa pun yang mendengarnya. Di bawah guyuran hujan Jakarta yang kian menderu, Alfred berdiri tegak, membiarkan jubah hitamnya berkibar ditiup angin yang membawa aroma besi berkarat. Di sekelilingnya, puluhan pria bersetelan jas hitam—para Ajudan Temporal—berdiri mematung. Payung-payung hitam mereka tidak hanya menahan air, tetapi juga memancarkan pendar cahaya merah redup yang menciptakan jaring frekuensi di seluruh pelataran Monas.
Nirmala mencengkeram gagang payung birunya yang patah, merasakan denyut di telapak tangan kirinya kian panas. "Jadi selama ini Kakek cuma nunggu Jantung Waktu ini matang di dalem diri Vio? Semua bantuan Kakek, semua nasihat itu... cuma akting?"
"Akting adalah bagian dari fungsi Penjaga, Nirmala," Alfred melangkah maju, setiap ketukan tongkat gagaknya di atas aspal menciptakan riak energi yang memadamkan lampu-lampu taman satu per satu. "Nathan Mahendra pikir dia bisa mencuri Jantung ini dan menyembunyikannya di dalam genetik manusia. Dia pikir emosi bisa menjadi brankas yang tak tertembus. Tapi dia lupa, manusia adalah makhluk yang paling mudah diprediksi saat mereka sedang merasa takut atau mencintai."
Lukas, yang wajahnya masih pucat karena sisa-sisa pengaruh sang Archivist, mencoba mengutak-atik gawainya dengan tangan gemetar. "Kakek beneran mau jadi penjahat di bab terakhir ini? Klise banget, tahu nggak! Aku udah anggep Kakek kayak mentorku sendiri, meski Kakek agak pelit soal info."
"Lukas, kamu hanyalah variabel kecil yang sengaja saya biarkan hidup untuk menjaga kewarasan Nirmala agar tidak kolaps sebelum waktunya," Alfred melirik Lukas dengan tatapan dingin yang membuat pemuda itu tersedak kata-katanya sendiri. "Sekarang, hapus semua harapan itu. Ordo tidak butuh pahlawan. Kami butuh kepatuhan."
Situasi di puncak Monas kian mencekam. Narasi ruang dan waktu di sekitar mereka mulai terdistorsi secara brutal. Tugu Monas yang menjulang tinggi di belakang mereka tampak bergetar, seolah-olah fondasi betonnya sedang digantikan oleh susunan roda gigi raksasa yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Hujan yang tadinya cair kini mulai berubah bentuk menjadi kristal-kristal kecil tajam yang jatuh perlahan, namun memiliki daya hancur yang sanggup mengiris pakaian dan kulit.
Nirmala merasakan beban yang luar biasa menekan jiwanya. Jantung Waktu di dalam dirinya bereaksi terhadap aura merah dari payung-payung Ordo. Ini bukan lagi soal pelarian; ini adalah konfrontasi antara kehendak bebas manusia dan determinisme absolut dari sebuah organisasi yang mengklaim diri sebagai penguasa detik.
"Vio, dengerin gue," Lukas berbisik, matanya menatap layar gawainya yang kini dipenuhi angka-angka biner yang bergerak liar. "Gue dapet sinyal dari 'Echo' Adrian lagi. Dia bilang, payung-payung hitam itu adalah penangkap frekuensi. Kalau mereka nutup lingkaran ini, lo bakal ketarik masuk ke dimensi pembersihan secara permanen. Kita harus pecahin formasinya sekarang!"
"Gimana caranya, Kas? Gue bahkan nggak bisa buka payung gue sendiri!" Nirmala membalas dengan bisikan panik.
"Pake rasa sakit lo, Kak! Inget kata Alfred tadi? Emosi adalah pelumas. Kalau lo bisa bikin emosi lo meledak, lo bakal bikin mesin mereka overheat!" Lukas memberikan instruksi yang terdengar gila namun masuk akal dalam logika paradoks ini.
Alfred menyadari rencana mereka. Ia mengangkat tongkat gagaknya tinggi-tinggi. "Tangkap Materi 001. Hapus variabel pendampingnya."
Para pria bersetelan jas itu bergerak secara serempak. Gerakan mereka tidak alami, melainkan seperti bayangan yang berpindah dari satu titik ke titik lain dalam sekejap mata. Payung-payung hitam itu kini diarahkan ke arah Nirmala, mengeluarkan jaring-jaring cahaya merah yang mulai melilit kaki dan tangan Nirmala secara gaib.
"Gue bukan Materi! Gue Nirmala!" teriak Nirmala.
Ia memejamkan mata, mencari di dalam relung memorinya yang paling gelap. Ia memanggil kembali rasa pedih saat melihat ibunya meluruh menjadi debu, rasa kecewa saat dikhianati oleh Alfred, dan rasa cinta yang tragis dari ayahnya yang rela menjadi mesin. Semua perasaan itu ia kumpulkan, ia padatkan di dalam dadanya hingga terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
"VIO, SEKARANG!" Lukas berteriak sambil melempar gawainya ke tengah formasi Ordo.
BUMMM!
Ledakan itu bukan berasal dari gawai Lukas, melainkan dari pusat tubuh Nirmala. Sebuah gelombang energi safir yang sangat besar menyapu pelataran Monas. Cahaya biru itu bertabrakan dengan cahaya merah Ordo, menciptakan fenomena aurora buatan yang menyala di langit Jakarta tengah malam itu. Payung-payung hitam para ajudan hancur berkeping-keping, dan para pria itu terlempar ke belakang seperti daun kering yang diterjang badai.
Alfred sendiri terhuyung, ia menggunakan tongkatnya untuk menahan diri agar tidak jatuh. Topi dan jasnya kini tampak hangus, menyingkapkan bahwa di balik kulit tuanya, terdapat lempengan perak yang sama dengan yang dimiliki Nathan.
"Kamu... kamu berani membakar esensimu sendiri demi pemberontakan ini?" Alfred menggeram, suaranya kini sepenuhnya mekanis dan parau.
Nirmala terengah-engah, tubuhnya mengeluarkan uap tipis. Telapak tangan kirinya kini benar-benar bersinar terang, menembus kulitnya. "Aku sudah bilang, Kek. Aku punya waktuku sendiri. Dan aku nggak bakal biarin Kakek atau siapa pun nulis bab terakhir buat aku"
Lukas segera menyambar tas Nirmala dan menarik tangan gadis itu. "Ayo, Kak! Mumpung mereka masi loading! Kita ke Kota Tua sekarang!"
Mereka berlari sekuat tenaga menuruni pelataran Monas, menuju area parkir di mana masih ada sisa-sisa kendaraan yang bisa mereka gunakan. Namun, Jakarta yang mereka lihat saat ini bukan lagi Jakarta yang normal. Gedung-gedung tinggi di sepanjang Jalan Thamrin tampak seolah terbuat dari kaca transparan yang di dalamnya terdapat aliran data perak yang terus bergerak. Jalanan aspal berubah menjadi jalur-jalur berpendar yang meliuk-liuk di udara.
Dunia sedang berada di ambang reset besar-besaran, dan Nirmala adalah satu-satunya orang yang bisa menarik tuas penghentinya.
Mereka menemukan sebuah mobil tua yang terparkir di pojok—sebuah taksi yang supirnya entah sudah hilang ke mana. Lukas segera masuk ke kursi pengemudi dan melakukan hotwire pada mesinnya dengan kabel-kabel yang ia bawa.
"Naik, Kak! Gue bakal bawa lo ke koordinat itu secepat mungkin!"
Nirmala melompat masuk ke kursi penumpang. Taksi itu menderu liar, melesat menembus jalanan yang kini dipenuhi oleh distorsi waktu. Di spion belakang, Nirmala melihat Alfred berdiri diam di tengah jalan, tidak mengejar. Pria tua itu hanya mengangkat tangan kanannya, dan dari langit, muncul sebuah jarum jam raksasa—sebuah menara yang jatuh dari dimensi lain—tepat di jalur yang akan mereka lalui.
"Lukas, awas di depan!"
Lukas membanting stir ke kiri, menghindari jarum raksasa itu yang menghantam aspal dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. "Sial! Dia beneran mau hancurin kota ini cuma buat dapet lo?!"
"Bukan cuma gue, Lukas. Dia mau koin yang ada di dalem gue!" Nirmala meraba dadanya, ia merasakan denyut itu kini bukan lagi sekadar energi, melainkan sebuah pesan yang berulang-ulang.
Mereka tiba di kawasan Kota Tua dalam waktu singkat, namun tempat itu sudah tertutup oleh kabut tebal yang mengeluarkan aroma belerang dan oli. Bangunan-bangunan kolonial di sana tampak seperti monster batu yang sedang tidur. Sinyal GPS di ponsel Lukas membawa mereka ke sebuah gang sempit di dekat Museum Fatahillah.
Di ujung gang itu, berdiri sebuah pintu besi tua yang dipenuhi oleh lumut dan karat. Namun, di tengah pintu itu, terdapat sebuah lubang kunci yang berbentuk persis seperti pena perak milik Nirmala.
"Ini tempatnya, Kak. Ruang Arsip Terlarang," Lukas berbisik dengan nada ngeri.
Nirmala melangkah keluar dari mobil, tangannya memegang pena perak yang masih berpendar biru. Ia mendekati pintu itu, namun sebelum ia bisa memasukkan penanya, pintu itu terbuka dari dalam.
Sesosok wanita berdiri di sana. Ia tidak memakai gaun arsitek, juga tidak memakai mahkota jarum jam. Ia memakai daster batik yang sederhana, memegang sebuah sapu lidi, dan wajahnya tampak sangat lelah.
Itu Elena. Ibunya.
"Vio... kamu sudah pulang?" tanya Elena dengan suara yang sangat lembut, suara yang Nirmala dengar di rumah sakit tadi.
Nirmala membeku. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Ibu? Ibu ngapain di sini?"
Wanita itu tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tulus namun penuh kepedihan. "Ibu nungguin kamu buat makan malam, Nak. Tapi sebelum itu, Ibu harus kasih tahu kamu satu hal soal Ayahmu."
Lukas menahan bahu Nirmala, ia melihat ke arah gawainya yang kini menunjukkan peringatan merah yang berkedip gila-gilaan. "Vio, jangan percaya! Sensor gue bilang... wanita di depan lo ini bukan manusia. Dia itu Live-Core dari sistem Ordo yang paling kuat."
Elena melangkah maju, tangannya yang hangat menyentuh pipi Nirmala. "Jangan dengerin anak itu, Vio. Nathan menitipkan kunci terakhir ini pada Ibu. Dia bilang, hanya kamu yang bisa memilih: memaafkan masa lalu, atau menghapusnya selamanya."
Elena mengulurkan tangannya, dan di telapak tangannya terdapat sebuah benda yang membuat Nirmala nyaris pingsan. Itu adalah Jantung Waktu yang asli—sebuah bola cahaya emas yang berdenyut, yang identik dengan apa yang ada di dalam dada Nirmala.
"Jika kamu mengambil ini, kamu akan menjadi utuh, Nirmala. Tapi kamu harus memberikan 'rasa sakitmu' sebagai gantinya," bisik Elena.
Nirmala menatap ibunya, lalu menatap Jantung Waktu itu. Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa Alfred dari arah belakangnya, bergema di antara bangunan tua.
"Pilihan yang sulit, bukan, Nirmala? Memberikan perasaanmu untuk menjadi Tuhan, atau tetap menjadi manusia dan melihat ibumu hancur sekali lagi?"
Nirmala menoleh ke arah Alfred yang kini sudah sampai di mulut gang, bersama pasukannya yang kian banyak. Ia kembali menatap ibunya, lalu menyadari satu hal yang sangat mengerikan saat melihat ke arah bayangan ibunya di dinding.
Bayangan ibunya tidak berbentuk manusia; bayangan itu berbentuk sebuah pena emas besar yang siap menuliskan akhir ceritanya.
"Bu... kalau Vio pilih buat tetap jadi manusia, Ibu bakal benci Vio?" tanya Nirmala lirih.
Elena—atau apa pun makhluk itu—terhenti sejenak, matanya berubah menjadi perak murni selama satu detik sebelum kembali normal.
"Vio, di dunia ini... tidak ada yang namanya pilihan tanpa pengorbanan."
Nirmala menggenggam pena peraknya erat-erat, lalu ia melakukan sesuatu yang tidak disangka oleh siapa pun. Ia tidak menusukkan penanya ke pintu, juga tidak mengambil Jantung Waktu di tangan Elena.
Ia menusukkan penanya ke jantungnya sendiri.
"VIO! JANGAN!" Lukas berteriak histeris.
Lampu-lampu di Kota Tua mendadak padam total. Suara jam raksasa yang berdetak di seluruh penjuru kota mendadak berhenti. Keheningan yang sangat pekat menyelimuti mereka, seolah-olah waktu itu sendiri baru saja dibunuh.
Nirmala terjatuh di atas aspal yang dingin, cahaya biru mulai keluar dari luka di dadanya, namun kali ini cahaya itu tidak menghancurkan. Cahaya itu mulai menyelimuti seluruh Kota Tua, mengubah bangunan-bangunan kolonial itu kembali ke bentuk aslinya, menghapus distorsi Ordo sedikit demi sedikit.
"Kamu... kamu melakukan Paradoks Balik?!" Alfred raung murka, tubuh peraknya mulai retak dan meluruh.
Nirmala tersenyum di tengah rasa sakitnya yang luar biasa. "Gue nggak butuh Jantung yang lo kasih, Ma. Gue punya detak jantung gue sendiri."
Namun, di saat pendar cahaya itu mencapai puncaknya, sesosok pria berjaket denim muncul dari balik kabut, berdiri tepat di antara Nirmala dan Elena. Pria itu tidak berkata apa-apa, ia hanya menyerahkan sebuah jam saku yang sudah hancur kepada Nirmala.
Nirmala membelalakkan mata saat melihat isi di dalam jam saku itu.
"Ayah... jadi ini alasan sebenarnya kenapa Ayah lari?"
Pria itu mengangguk, lalu ia menunjuk ke arah pintu besi tua yang kini mulai bercahaya merah darah.
"Vio, jangan pernah buka pintu itu. Di dalamnya bukan arsip... di dalamnya adalah orang yang pertama kali menciptakan Ordo Chronos. Dan dia... adalah kamu di masa depan."
Nirmala menatap pintu itu dengan ngeri, menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah Alfred atau ibunya, melainkan dirinya sendiri yang telah kehilangan kemanusiaannya di garis waktu yang lain.
"Kak Vio, lo mau buka pintunya sekarang atau kita kabur sebelum lo jadi monster itu?" tanya Lukas dengan suara bergetar.