Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.
Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.
Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Di dalam kamar, Kiara mondar-mandir gelisah. Langkahnya pendek-pendek, sesekali berhenti lalu berbalik arah. Matanya menyapu ruangan, seolah mencari jalan keluar dari satu kenyataan yang tak ingin ia terima.
Pintu kamar terbuka pelan. Alvar masuk membawa selimut tebal berwarna cokelat tua.
“Ibu titip ini,” katanya singkat. “Biasanya malam di sini dingin. Takut kamu nggak terbiasa sama hawa pegunungan.”
Kiara berhenti melangkah. “Aku nggak mau tidur satu ranjang sama kamu,” ucapnya cepat.
“Aku belum terbiasa.”
Alvar menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Ya sudah, aku nggak akan maksa.”
Jawaban itu membuat Kiara sedikit terkejut. Alvar meletakkan selimut di ranjang dan bersiap naik. Namun, baru saja lututnya menyentuh kasur,
“Jangan!” teriak Kiara refleks. Alvar berhenti, menoleh dengan alis berkerut.
“Kamu harus menghormati tamu,” kata Kiara tegas. “Aku yang tidur di atas ranjang. Kamu di lantai.”
Alvar menarik napas panjang. Ia menatap wajah Kiara, yang keras kepala, penuh gengsi. Jika diladeni, mereka tidak akan tidur semalaman.
“Baik,” ucapnya akhirnya, singkat. Ia mengambil bantal lain, menggelar alas tipis di lantai, lalu berbaring membelakangi ranjang. Selimut ia serahkan seluruhnya ke Kiara.
Kiara berdiri mematung beberapa detik. Ada rasa menang, namun juga rasa aneh yang menyelinap, saat melihat Alvar tidur di lantai tanpa protes lebih jauh.
Suara angin gunung dan serangga malam menjadi latar.
Keesokan paginya, Kiara terbangun dengan mata masih berat. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah jendela, menimpa wajahnya. Ia refleks mengusap mata, lalu duduk.
Tak ada Alvar di lantai, tak ada selimut terlipat, tak ada sosok pria itu di kamar. Kiara menghela napas entah lega atau justru heran.
Dia bangkit, merapikan rambut seadanya, lalu dengan langkah canggung keluar kamar. Aroma singkong rebus dan kayu bakar langsung menyambut hidungnya.
Di dapur, Bu Sulastri tampak sibuk merebus singkong di tungku kecil.
“Selamat pagi, Bu,” sapa Kiara pelan.
Sulastri menoleh dan tersenyum hangat. “Pagi, Nak. Tidurnya nyenyak?”
Kiara mengangguk. “Iya … lumayan.”
“Kamu mandi dulu ya,” lanjut Sulastri. “Habis itu sarapan. Alvar sudah pergi ke sawah dari subuh.”
“Oh…” Kiara berhenti sejenak. “Ke sawah?”
“Iya, Ibu sebentar lagi mau ngantar minum buat dia.”
Kiara menggigit bibir, lalu berkata spontan, “Aku ikut, Bu.”
Sulastri sedikit terkejut. “Ikut?”
“Iya, bosan di rumah sendiri,” jawab Kiara cepat, seolah takut keputusannya ditolak.
Sulastri tersenyum makin lebar. “Boleh, tapi kamu siap-siap dulu. Sarapan dulu sebelum ke sawah.”
Kiara mengangguk. “Baik, Bu.”
Ia berbalik menuju kamar mandi dengan langkah lebih ringan.
Hamparan sawah terbentang luas di depan mata. Pagi itu matahari belum terlalu tinggi, cahayanya memantul di permukaan air sawah yang tenang, menciptakan kilau keemasan. Angin pegunungan berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan padi muda.
Alvar berdiri di pematang, memperhatikan para pekerja sawah yang sibuk menanam dan membersihkan gulma. Sesekali ia memberi arahan singkat, suaranya tenang dan berwibawa.
Sawah-sawah itu milik Pak Kades Yono. Biasanya Bu Sulastri yang memantau semuanya, tapi sejak Alvar kembali ke desa dan menetap, peran itu perlahan diambil alih olehnya.
Tak lama, Alvar turun ke lahan. Ia menggulung lengan kemeja, lalu mengambil cangkul. Gerakannya cekatan, seolah pekerjaan itu sudah lama menjadi bagian dari hidupnya.
Di sebelah kanan terbentang sawah hijau, di sebelah kiri tampak perkebunan bawang dan cabai yang berjajar rapi. Daun-daunnya bergoyang tertiup angin, sementara tanahnya tampak subur.
Beberapa gadis desa yang sedang memetik cabai diam-diam melirik ke arah Alvar. Bisik-bisik pelan terdengar, disusul senyum malu-malu.
“Mas Alvar rajin banget ya…” “Padahal dokter, tapi nggak gengsi ke sawah.”
Saat Bu Sulastri dan Kiara melintas di pematang, para gadis itu serempak menyapa.
“Pagi, Bu Sulastri.”
Sulastri membalas dengan senyum ramah. “Pagi, Nak.”
Namun, tatapan mereka hanya berhenti di Bu Sulastri. Tak satu pun menyapa Kiara, padahal dia berjalan di samping mertuanya dengan langkah kaku. Pakaian yang dikenakannya terlalu mencolok untuk suasana itu, celana pendek, kaos lengan pendek, rambut tergerai tanpa penutup kepala. Tak ada topi, tak ada caping. Hanya kacamata hitam yang menempel di wajahnya.
Ia tampak seperti potongan kota yang tersesat di tengah hamparan desa.
Kiara menyadari lirikan-lirikan itu. Ada yang menilai, ada yang membandingkan. Ia menarik napas pelan, mencoba bersikap biasa, meski panas matahari mulai menyengat kulitnya.
Di kejauhan, Alvar mendongak. Pandangannya sempat menangkap sosok Kiara di pematang, kontras, asing, namun entah kenapa sulit diabaikan. Ia kembali mencangkul, tapi sudut bibirnya menegang.
Bu Sulastri tiba-tiba teringat sesuatu.
“Aduh, ibu lupa. Hari ini ada arisan di desa sebelah,” katanya sambil menepuk pelan tangan.
“Ibu nggak bisa lama-lama nunggu Alvar.”
Kiara menoleh. “Terus aku—”
“Kamu berteduh saja di bawah gubuk sawah itu ya,” lanjut Sulastri menunjuk rangkang kecil di pematang.
“Nanti kalau Alvar istirahat, kamu ikut dia pulang.”
Kiara melirik sawah yang becek. Air menggenang, lumpur hitam mengilap di bawah sinar matahari. Ia ingin menolak, ingin bilang panas, kotor, dan tidak nyaman, tapi gengsinya menahan.
Takut dibilang manja.
“Baik, Bu,” jawabnya akhirnya.
Sulastri tersenyum lega, lalu berpamitan. Tak lama kemudian, bayangannya menghilang di antara pematang dan rumpun padi.
Beberapa menit berlalu. Matahari makin naik, panasnya menusuk kulit. Kiara duduk di gubuk kecil, menyeka keringat di pelipis. Kacamata hitamnya tak banyak membantu. Kaosnya terasa lengket, napasnya sedikit terengah.
Dari kejauhan, Alvar memperhatikannya, Kiara menggeser posisi, lalu duduk di tepi gubuk. Kakinya menggantung, napasnya berat. Saat Alvar akhirnya berjalan mendekat untuk istirahat, ia langsung duduk tanpa menyapa, meneguk minuman dari botolnya.
Pandangan Alvar melirik Kiara sekilas. Wajahnya memerah karena panas.
“Kalau kepanasan,” ucap Alvar datar, “kenapa nggak pulang aja? Kamu nggak akan bisa jadi gadis desa.”
Ucapan itu menusuk.
Kiara menoleh tajam.
“Siapa bilang aku mau jadi gadis desa?”
“Kenyataannya begitu,” balas Alvar.
“Kamu cuma nyiksa diri.”
“Jangan sok tahu tentang aku!” bantah Kiara, emosinya naik. “Aku ikut ke sini bukan buat dinilai!”
Saat itulah Alvar melihat sesuatu di kaki Kiara. Matanya membesar sedikit, tapi suaranya tetap santai.
“Kiara … itu lintah.”
“Hah?” Kiara menunduk.
Begitu melihat benda licin, hitam, dan memanjang menempel di kulit mulusnya,
“Aah!” Kiara berteriak jijik. Ia spontan menggoyangkan kaki, meloncat kecil.
"Apa itu?! Kenapa nggak mau lepas?!"
“Jangan loncat-loncat,” kata Alvar sambil menahan tawa. Sudut bibirnya terangkat geli.
“Kamu ketawa?!” Kiara hampir menangis. “Tolongin!”
Alvar tertawa pelan. “Santai, dia cuma nempel nggak bakal gigit.”
“Cuma?!” Kiara makin panik.
Melihat Kiara benar-benar kelelahan dan hampir jatuh, Alvar akhirnya berdiri. “Berhenti lompat - lompat, aku bantu lepasin.”
Ia berjongkok, dengan cepat dan terampil menyingkirkan lintah itu, lalu membuangnya jauh ke sawah.
“Sudah,” katanya.
Kiara menghela napas panjang, tubuhnya gemetar. Saat ia mencoba berdiri, kakinya goyah. Refleks, ia memegang bahu Alvar.
Namun, tanah di bawah pijakan mereka basah dan gembur tiba-tiba ambruk.
“Kiara!”
Keduanya terjatuh bersamaan ke tanah berlumpur.
Alvar berada di bawah, Kiara menimpa tubuhnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Nafas Kiara terhembus hangat di wajah Alvar, mata mereka saling bertaut dan tak berkedip.
Hanya suara angin dan detak jantung yang terasa terlalu keras.
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng