NovelToon NovelToon
Aku Dan Jam Ajaibku

Aku Dan Jam Ajaibku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Komedi / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hafidz Irawan

Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wangi Sandalwood dan Arsip Berdebu

Suasana kantor pasca "Insiden Layar Hitam" terasa aneh. Lebih hening dari biasanya, seperti hutan sesudah badai lewat. Orang-orang masih bekerja, tapi mata mereka sering melirik curiga ke arahku. Mungkin mereka takut kalau aku adalah hacker menyamar, atau mungkin mereka takut aib mereka ikut terbongkar di layar monitor kalau macam-macam denganku.

Jujur saja, aku menikmati sedikit rasa takut itu. Setidaknya, tidak ada lagi yang berani menyuruhku bikin kopi atau memfotokopi dokumen pribadi mereka.

Aku duduk di kubikelku, menatap layar komputer tabung yang kini kembali normal. Chrono, si jam tangan ajaib yang merangkap bodyguard digital, sedang dalam mode sleep. Layarnya mati, hanya terlihat seperti jam karet murahan biasa.

"Mode hemat daya aktif. Jangan ganggu kecuali ada gempa bumi atau cowok ganteng lewat," begitu pesan terakhirnya tadi.

Tiba-tiba, pintu utama divisi gudang terbuka kasar.

Brak!

Semua kepala menoleh serentak. Jantungku ikut melonjak kaget.

Di ambang pintu, berdiri sosok yang membuat seluruh ruangan seolah menahan napas. Itu bukan Pak Burhan. Itu bukan staf HRD. Itu dia.

Adi Pratama. Sang CEO.

Dan dia tidak sendirian. Di belakangnya mengekor sekretarisnya yang berwajah panik, Bu Ratna, dan Pak Burhan yang wajahnya pucat pasi seputih kertas HVS.

Tapi fokusku—dan mungkin fokus semua wanita di ruangan ini—terkunci pada Adi. Dia terlihat... kacau. Tapi kekacauan yang ganteng. Jas mahalnya tersampir di lengan, kemeja putihnya yang digulung sampai siku sedikit kusut, dan dasinya sudah longgar. Rambutnya yang biasanya klimis tertata rapi, kini sedikit berantakan, seolah dia baru saja menjambaknya sendiri karena frustrasi.

"Saya tidak mau dengar alasan lagi, Pak Burhan!" Suara bariton Adi menggelegar, memantul di dinding-dinding gudang yang sempit. Nadanya rendah, tapi tajam menusuk. "Dokumen kontrak tanah pabrik Cikarang tahun 1998 itu harus ketemu sekarang! Investor dari Jepang sudah menunggu di ruang rapat. Kalau dokumen aslinya tidak ada, kesepakatan triliunan rupiah batal!"

Pak Burhan gemetar hebat, keringat sebesar biji jagung bercucuran di pelipisnya. "Ta-tapi Pak Adi... arsip tahun 98 itu sudah lama sekali. Gudang kita sempat kebanjiran dua kali. Mungkin... mungkin hanyut atau dimakan rayap..."

"Cari!" bentak Adi, memijat pangkal hidungnya. "Saya kasih waktu sepuluh menit. Bongkar semua lemari sialan ini!"

Seketika, ruangan divisi gudang berubah jadi pasar kaget. Semua staf berlarian panik. Kardus-kardus dibongkar, map-map berhamburan ke lantai. Debu beterbangan di mana-mana membuat udara jadi keruh.

Aku berdiri mematung di pojok. Bingung harus berbuat apa. Aku baru kerja di sini enam bulan, mana aku tahu letak dokumen zaman purba tahun 1998? Waktu itu aku bahkan belum lahir!

Adi berdiri di tengah kekacauan itu dengan wajah frustrasi. Dia menyandarkan pinggulnya ke salah satu meja kosong, menatap jam tangannya (yang asli Rolex, bukan AI bawel kayak punyaku) dengan gelisah.

Jarak kami hanya sekitar lima meter.

Angin AC meniupkan aroma tubuhnya ke arahku. Wangi sandalwood, musk, dan sedikit aroma tembakau mahal. Wangi laki-laki dewasa yang sukses tapi kesepian. Lututku rasanya mau leleh. Ini pertama kalinya aku melihatnya sedekat ini tanpa terhalang kaca mobil atau jarak meja kantin.

Dia punya tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya. Dan bulu matanya... ya ampun, lentik sekali.

"Woy. Sadar. Jangan ngiler," suara Chrono tiba-tiba menyentak di kepalaku. "Detak jantung lo naik jadi 120 bpm. Lo mau pingsan di depan dia terus bikin malu tujuh turunan?"

Aku tersentak pelan. "Chrono! Kamu bangun?"

"Gue kebangun gara-gara sinyal kepanikan di ruangan ini tinggi banget. Berisik. Ada apaan sih?"

"Pak Adi cari dokumen kontrak tahun 98. Kalau nggak ketemu, perusahaan bisa rugi triliunan. Kasihan Pak Adi, Chrono. Dia kelihatan stres banget," jelasku dalam hati, mataku tak lepas dari wajah Adi yang semakin keruh.

"Cih. Masalah manusia primitif. Arsip fisik emang nyusahin. Kenapa nggak didigitalisasi dari dulu sih?" gerutu Chrono.

"Bantuin dong, Chrono... Please..." pintaku memelas. "Kamu kan bisa scan apa aja."

"Apa untungnya buat gue?"

"Nanti... nanti aku beliin kamu casing baru? Atau aku jemur kamu di matahari seharian biar bateraimu penuh?" tawarku asal.

Hening sejenak.

"Oke. Tawaran berjemur diterima. Gue emang butuh Vitamin D—eh, solar energy. Diam di tempat. Gue aktifkan mode X-Ray Scanner."

Tiba-tiba, pandanganku berubah.

Bukan, mataku tidak berubah. Tapi di depan mataku, seolah ada lapisan layar transparan berwarna biru muda. Persis seperti tampilan Iron Man di dalam helmnya. Garis-garis grid hijau memindai seluruh ruangan. Tumpukan kardus, lemari besi, laci-laci berantakan... semuanya dipindai dengan cepat oleh sensor Chrono.

BIP! BIP! BIP!

Sebuah titik merah berkedip di pandanganku. Titik itu mengarah ke sebuah lemari besi tua di pojok ruangan yang tertutup tumpukan kardus bekas air mineral. Lemari yang sepertinya tidak pernah disentuh bertahun-tahun karena letaknya tersembunyi di balik dispenser air.

"Target locked," lapor Chrono. "Dokumen 'Akta Tanah Cikarang No. 45/98' terdeteksi di Laci Bawah, Map Biru Tua, di bawah tumpukan majalah otomotif bekas. Sepertinya ada karyawan malas yang nyembunyiin majalah porno di situ, terus dokumennya ketindih."

Aku terbelalak. "Hah? Serius?"

"Gue nggak pernah salah, Nona. Sekarang, lo punya dua pilihan: diem aja jadi penonton, atau maju jadi pahlawan kesiangan."

Aku menelan ludah. Kakiku gemetar. Maju ke depan Adi? Menghadap CEO paling dingin se-Jakarta? Dengan bajuku yang kucel dan mukaku yang pas-pasan ini?

Tapi melihat Pak Burhan yang sudah mau nangis dan Adi yang sudah siap meledak lagi, rasa ibaku muncul. Lagipula... aku ingin terlihat berguna di mata Mas Adi.

Aku menarik napas panjang. "Bismillah. Ayo, Fa. Kamu bisa."

Aku melangkah maju. Melewati teman-teman kerjaku yang sedang sibuk mengaduk-aduk tumpukan kertas yang salah.

"Permisi..." suaraku keluar kecil, nyaris tak terdengar.

Tidak ada yang menoleh.

"PERMISI!" teriakku sedikit lebih keras, suaraku pecah karena gugup.

Hening seketika. Semua mata menatapku. Termasuk mata tajam setajam elang milik Adi. Tatapan itu langsung mengunci mataku, membuat lututku makin lemas.

"Kamu siapa?" tanya Adi dingin. "Kalau tidak membantu mencari, jangan berteriak."

"Sa-saya Sifa, Pak. Anak magang," jawabku terbata-bata, tanganku meremas ujung rok. "Saya... saya sepertinya tahu di mana dokumen itu."

Pak Burhan langsung menyambar, "Halah! Jangan sok tahu kamu, Sifa! Kamu anak baru tahu apa?! Kita yang senior aja nggak nemu!"

Adi mengangkat tangan, memberi isyarat agar Pak Burhan diam. Dia menatapku intens, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku orang gila atau bukan. "Di mana?"

Aku menunjuk ke pojok ruangan, ke arah dispenser air. "Di lemari besi yang itu, Pak. Di laci paling bawah."

"Itu lemari rusak, Sifa! Isinya cuma sampah!" bentak Pak Burhan lagi.

Tapi Adi tidak mendengarkan. Dia berjalan mendekatiku, langkah kakinya tegas berbunyi tak-tak-tak di lantai ubin. Dia berhenti tepat di depanku. Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa melihat pori-pori wajahnya dan gurat kelelahan di matanya. Dia tinggi sekali. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya.

"Buktikan," katanya singkat.

Aku mengangguk kaku. Aku berjalan menuju lemari itu, diikuti tatapan skeptis semua orang. Dengan susah payah, aku menggeser tumpukan kardus air mineral yang berat.

"Geser ke kiri dikit. Awas pinggang lo encok," komentar Chrono.

Setelah kardus tersingkir, terlihatlah lemari besi berkarat itu. Aku berjongkok, menarik laci paling bawah. Macet.

"Nggak bisa dibuka kan? Udah saya bilang!" cemooh Pak Burhan.

Aku tidak menyerah. Aku menarik napas, lalu menyentakkan laci itu sekuat tenaga.

KREEK!

Laci terbuka dengan suara memilukan. Debu mengepul keluar, membuatku terbatuk-batuk. Uhuk! Uhuk!

Di dalam laci yang gelap dan bau apek itu, ada tumpukan majalah bekas yang sudah dimakan rayap pinggirannya. Aku menyingkirkan majalah-majalah itu (untung covernya bukan gambar aneh-aneh seperti kata Chrono, cuma majalah mobil).

Dan di sana, di dasar laci, tergeletak sebuah map plastik warna biru tua yang sudah kusam.

Tanganku gemetar saat mengambilnya. Aku meniup debu tebal yang menempel di atasnya. Fuuuuh.

Tertera tulisan tangan pudar di label map: KONTRAK TANAH CKR 1998.

"Ini... ini bukan, Pak?" tanyaku pelan, sambil berdiri dan berbalik badan.

Pak Burhan melongo. Bu Ratna menutup mulutnya kaget.

Adi melangkah cepat ke arahku. Dia menyambar map itu dari tanganku. Gerakannya cepat, namun saat jari-jarinya bersentuhan dengan jari-jariku yang kotor kena debu, waktu seolah berhenti sedetik.

Kulitnya hangat. Dan kasar—bukan kasar kuli, tapi kasar maskulin.

Sengatan listrik imajiner—atau mungkin ulah Chrono lagi—menjalar dari ujung jariku sampai ke ulu hati.

Adi membuka map itu, memeriksa isinya dengan teliti. Hening yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Bahu Adi yang tadi tegang, perlahan turun. Kerutan di dahinya menghilang. Dia menghela napas panjang, napas lega yang sepertinya sudah ditahannya sejak pagi.

"Ini dia," gumamnya pelan. "Dokumen aslinya."

Dia menutup map itu, lalu menatapku. Kali ini, tatapannya berbeda. Tidak ada lagi dingin yang menusuk. Yang ada adalah rasa takjub, bercampur dengan... rasa ingin tahu?

"Siapa namamu tadi?" tanyanya lembut.

"S-Sifa, Pak. Sifa Adistia," jawabku, menunduk karena tidak kuat menatap matanya yang berwarna cokelat gelap itu.

"Sifa," ulangnya, seolah sedang mencicipi nama itu di lidahnya. "Bagaimana kamu bisa tahu dokumen sepenting ini ada di tempat sampah seperti itu? Padahal kepala bagianmu sendiri tidak tahu."

Aku melirik Pak Burhan yang kini wajahnya merah padam menahan malu.

"Ehm... intuisi, Pak?" jawabku asal. "Dulu... dulu Bapak saya suka nyimpen barang berharga di tempat yang nggak kepikiran sama orang lain. Jadi saya pikir... mungkin di sini juga gitu."

Alasan yang bodoh. Tapi Adi sepertinya menerimanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat sedikit, tapi cukup untuk membuat jantungku berhenti berdetak.

Dia tersenyum! Mas Adi tersenyum padaku!

"Intuisi yang bagus," katanya. "Dan efisiensi kerja yang luar biasa. Terima kasih, Sifa. Kamu baru saja menyelamatkan muka perusahaan ini di depan investor Jepang."

"Sama-sama, Pak," cicitku.

Adi menoleh ke arah Bu Ratna. "Ratna, catat nama dia. Pastikan dia dapat bonus bulan ini. Dan Pak Burhan..."

Suaranya kembali dingin saat menyapa Pak Burhan. "Bereskan gudang ini. Malu saya punya gudang arsip lebih berantakan dari kandang ayam. Kalau Sifa anak magang aja bisa lebih becus dari kamu, saya rasa kita perlu evaluasi ulang posisi kamu."

Pak Burhan mengangguk-angguk cepat seperti ayam patuk padi. "Si-siap, Pak Adi! Siap!"

Adi kembali menatapku sekilas. Tatapan yang lebih lama dari yang seharusnya. Dia seolah sedang memindai wajahku—kacamata patahku yang di-lakban, bajuku yang kusam, dan rambutku yang awut-awutan. Tapi anehnya, aku tidak merasa dihakimi. Aku merasa... dilihat.

"Sampai ketemu lagi, Sifa," ucapnya pelan.

Lalu dia berbalik, melangkah pergi dengan gagah, membawa map biru itu seperti membawa harta karun. Wangi parfumnya tertinggal di udara, melingkupiku seperti selimut tak kasat mata.

Aku berdiri terpaku di tempat, kakiku terasa seperti jeli.

"Udahan kali bengongnya," celetuk Chrono, membuyarkan lamunanku. "Analisis ekspresi mikro menunjukkan target (Adi Pratama) memiliki ketertarikan sebesar 15 persen terhadap subjek (Sifa). Not bad buat permulaan. Tapi serius, Fa, lo harus ganti kacamata lo. Lakban hitam di gagang kacamata itu merusak estetika wajah lo sebesar 80 persen."

Aku tidak peduli omelan Chrono. Aku memegang dadaku yang bergemuruh hebat.

Dia tahu namaku.

Dia menyentuh tanganku.

Dia memujiku.

Aku, Sifa si Itik Buruk Rupa, baru saja dilihat oleh sang Pangeran.

"Cieee... Sifa!" goda salah satu teman kerjaku setelah Adi pergi jauh.

"Hebat lo, Fa! Bisa nemu aja!" puji yang lain.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kerjaku di sini, aku merasa diterima. Aku merasa dihargai. Dan semua ini berkat jam tangan hitam matte yang kini melingkar manis di pergelangan tanganku.

Aku mengelus layar Chrono dengan sayang. "Makasih, Partner," bisikku dalam hati.

"Hmm. Jangan lupa jemur gue besok," balasnya cuek.

Tapi kebahagiaan ini tidak berlangsung lama. Di seberang ruangan, dari balik kaca jendela yang mengarah ke lorong, aku melihat sepasang mata yang menatapku dengan kebencian yang menyala-nyala.

Rana.

Dia berdiri di sana, melihat semuanya. Melihat bagaimana Adi tersenyum padaku. Wajahnya merah padam, tangannya mengepal. Dia tidak terlihat seperti sosialita cantik lagi; dia terlihat seperti penyihir jahat yang siap melempar kutukan.

Aku menelan ludah. Kemenangan kecil ini sepertinya baru saja menyulut perang yang lebih besar. Mas Adi mungkin baru saja menyelamatkan karirnya, tapi dia—tanpa sadar—telah menempatkan target besar di punggungku.

Tapi anehnya, aku tidak takut.

Aku menatap balik Rana dari kejauhan. Aku membetulkan letak kacamataku.

Maju sini, Rana. Aku punya Chrono. Aku punya harapan. Dan sekarang, aku punya senyuman Mas Adi sebagai bahan bakar.

Dunia Sifa yang abu-abu, perlahan mulai berwarna.

1
Lala Kusumah
rasain Lo pada 😂😂😂
Lala Kusumah
semangat Sifa 💪💪👍👍
Tt qot
ok...di tunggu tanggal mainnya..
Tt qot
sabar sifa
Tt qot
ck..ck..ck..kaasihaan...😟
Tt qot
kaca mata joni iskandar tuh...😅
Tt qot
ih..kok kayak anak bujangku..persis gitu tahi lalatnya disitu😱
Hafidz Irawan: waduh kok bisa pas gitu 😂
total 1 replies
Yulya Muzwar
suka sama ceritanya.
semangat kakak
Hafidz Irawan: makasih ya suport nya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!