NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

empat

Alia baru saja tiba di rumah setelah seharian ini ia keluar menjernihkan pikirannya di luar, ia masih berdiri di ambang pintu ruang tamu, ketika sayup-sayup terdengar di telinganya percakapan nurmala, ibu tirinya di telepon dengan seseorang.

 Awalnya alia tak perduli, tak ambil pusing dan tak mau tahu. Langkah alia terhenti ketika ibu tirinya itu menyebut namanya dan juga tentang kemungkinan dirinya hamil. Alia meyakini bahwa lawan bicara nurmala pasti pria bajingan itu.

Alia benar-benar muak melihat ibu tirinya yang tak tahu malu memanfaatkan kehamilan yang belum secara pasti kebenarannya,

"Harusnya kau menambah bayaran, alia mengandung anakmu..hmm aku bisa pastikan itu" bisik nurmala dengan suara lirih, suaranya yang tadi lantang tiba-tiba berubah karena melihat alia lewat dari hadapannya,

"alia tunggu.." panggil nurmala menghentikan langkah alia, ternyata sambungan telepon antara nurmala dan pria itu telah berakhir, terlihat ibu tirinya itu meletakkan gawainya di meja.

"Kamu darimana?, seharian ini aku tidak melihatmu dirumah"

"Maaf ma, aku sedang cari pekerjaan, sahira memintaku untuk tidak jadi benalu di rumah ini" jawab alia menatap nurmala yang terlihat sedikit gusar mendengar jawabannya,

 "kamu sudah ke dokter?" Tanya nurmala ketus.

Alia menggelengkan kepalanya

 "aku cuman masuk angin ma, aku sudah minum obat, mungkin karena beberapa malam sejak papa meninggal aku tidak bisa tidur"

 Dusta alia dengan raut wajah polos, ia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapapun tentang kehamilannya, terutama dua orang wanita kejam yang berstatus ibu dan kakak tirinya itu.

Alia tidak mau kehamilannya ini di manfaatkan oleh mereka, alia menatap ibu tirinya yang berdiri memandang tak percaya ke arahnya,

"kenapa mama bersikeras supaya aku periksa ke dokter?apakah mama juga menduga aku hamil, seperti ucapan sahira, lantas menurut mama, aku hamil anak siapa?, mama sendiri tahukan aku tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun"

Nurmala terlihat terperanjat mendengar ucapan alia, gelagapan ia berusaha mengalihkan perhatian alia. Bagaimanapun nurmala tak mau alia tahu bahwa ia telah menjual keperawanan anak tirinya itu kepada langit,

"Bukan begitu maksudku.." tergagap nurmala menjawab

 "aku hanya tak mau penyakitmu merepotkan aku dan sahira"

"Jangan khawatir ma, aku hanya masuk angin" jawab alia singkat meninggalkan nurmala yang terdengar menggerutu.

Alia masuk kedalam kamarnya mengunci pintu itu dari dalam. Ia duduk termangu bertopang dagu menatap keluar jendela kamar, rintik hujan terlihat membasahi kaca jendelanya suasana yang teduh sedikit mendung membawa ingatan alia kepada papanya serta hidup malangnya.

 Tanpa disadari air mata jatuh ke pipi mulusnya, tangan alia mengelus perutnya yang masih rata,pikirannya menerawang. Alia menyayangkan kenapa anak ini hadir di saat ia saja tak ingin hidup di dunia ini, apa yang harus alia lakukan, untuk menafkahi hidupnya saja alia tak mampu.

Ia tidak membenci kehadiran anak yang ada dirahimnya ini, alia merasa ini mungkin cara tuhan untuk menyelamatkan dia dari niatnya yang ingin mengakhiri hidup. Namun alia tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membesarkan makhluk yang ada di rahimnya ini.

 Alia tak mau anak yang dikandungnya ini akan mengalami hidup yang sama malangnya dengan hidupnya sendiri. Ia takut kehadiran anak ini ke dunia akan dimanfaatkan manusia-manusia sampah yang hanya perduli dengan nasib dan hidupnya sendiri.

Alia menggelengkan kepala, tangannya masih mengelus perutnya yang rata itu, seakan ingin mengatakan,

'jangan takut ada aku, mari kita saling menguatkan'

"Tok..tok.."

suara ketukan keras di pintu kamar, cukup mengagetkan alia yang sedang termenung, dengan malas ia menyeret kakinya menuju ke pintu kamar.

Sahira, kakak tirinya itu berdiri bertolak pinggang menatap alia dengan raut wajah kesal.

"Kau tidak masak kah?, apa kerjaanmu seharian di rumah hanya bermalasan, dasar pemalas, aku lapar pulang kerja sementara kau enak-enakkan tidur" bentak sahira menunjuk muka alia dengan jari telunjuknya.

Alia hanya diam menatap sahira tenang,

"masakkan aku sesuatu, aku lapar" perintah sahira sebelum berlalu meninggalkan alia yang bergerak malas menuju ke dapur.

Sebenarnya alia takut masak, karena aroma per bawangan sungguh membuat perutnya tak tahan menahan mual. Alia takut jika reaksinya akan memancing kecurigaan nurmala dan sahira yang memang sudah mencurigainya.

 Alia membuka kulkas, aroma yang sangat kuat membuat dirinya hampir muntah, sekuat tenaga alia menahan rasa mual itu, karena saat ini sahira sudah berdiri di ambang pintu menatap curiga ke arahnya,

"sahira, kita makan di luar aja yuk" ajak nurmala yang tiba-tiba muncul di dapur, sudah dalam keadaan rapi.

"mama bosan makan masakan alia terus" nurmala terlihat berbalik meraih tas sandang yang tergantung di samping lemari.

Tangannya menggandeng lengan sahira yang masih berdiri menatap alia penuh curiga, alia yang berdiri di depan kulkas masih berdiri diam, menunduk, ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat dan nafas yang mulai memburu.

 Rasa mual dari dalam perutnya benar-benar minta di tuntaskan, alia berusaha menahan sekuat tenaga, ia berlalu dari depan kulkas dengan membawa beberapa bahan masakan.

 Alia tahu sahira dan ibunya masih berdiri di ambang pintu, mengamati dirinya yang sedang mempersiapkan bahan-bahan yang akan ia olah.

 "bersihkan saja semuanya, kami mau makan di luar" perintah nurmala cepat, matanya menatap alia tajam.

 "aku mau semuanya bersih, kalau sampai aku pulang, rumah masih seperti ini, kau akan tahu apa akibatnya"

"Hhuffft.." alia menghela nafasnya lega, ia masih menahan rasa mual yang semakin menyeruak.

Alia berjalan menuju ke ruang tamu, ingin memastikan nurmala dan sahira sudah pergi. Rasa mual itu kembali menyerangnya, setengah berlari Alia menuju ke kamar mandi, di kamar mandi, ia memuntahkan segalanya.

Rasa pahit akan selalu muncul setiap alia memuntahkan cairan kuning, ia mengusap mulutnya yang basah.

 Mata alia membola, terbelalak terkejut saat ia membalikkan tubuhnya, Sahira dan Nurmala berdiri di depan pintu kamar mandi dengan senyuman sinis tersungging di bibir sahira yang berdiri bersidekap.

Dengan satu hentakan, ibu tirinya menarik alia keluar dari kamar mandi, wanita kejam itu menyeret alia yang terhuyung-huyung hampir jatuh. Dengan kasar tubuh lemah alia dihempaskan ke atas sofa tua yang sudah pudar warnanya itu.

 Alia meringis, rasa sakit di punggung ketika menghantam sandaran kursi yang busanya mulai menipis.

"Benar kan yang ku bilang Ma, alia pasti hamil"

 tukas sahira dengan seringainya yang terlihat puas, wanita itu masih berdiri dengan tangan yang masih bersidekap, seringaian buas di wajahnya membuat wajah cantik itu terlihat menakutkan.

 Mata nurmala melotot marah menatap alia yang terduduk di sofa tua itu

 "kau masih tak mau mengaku kalau kau hamil?" Tunjuk nurmala tepat ke wajah alia yang masih terdiam menatap nurmala

"jangan cuman melotot dan diam, jawab alia!"

"Gak perlu pakai di jawab juga Ma, dia itu sudah pasti hamil" terdengar celetukan sahira yang memprovokasi,

"kita hanya perlu tahu, siapa laki-laki yang menghamilinya"

"Tciihhh.." suara tawa sinis dari mulut Alia terdengar menyebalkan di telinga Sahira dan Nurmala, ketika alia memalingkan wajahnya yang sedang tertawa sinis.

Sahira merangsek maju mengungkung tubuh Alia tepat di bawahnya, rasa marah karena terprovokasi suara tawa mengejek alia, membuat mata besar Sahira seakan mau copot dari matanya yang melotot marah.

Tangannya sudah terangkat ingin menampar, namun urung karena ibunya melarang

"apa maksud tawamu itu, jawab!" Perintah Sahira menarik leher baju Alia keras, ia masih tersenyum sinis, matanya menatap nyalang ke mata Sahira yang memerah tanpa rasa takut, sebab rasa takut sudah lama hilang dari hidupnya, pukulan dan cacian tak lagi berguna.

Perlahan Alia menarik tangan Sahira yang menarik keras leher bajunya,

"apakah aku harus memberi tahu nama pria bajingan itu, yang jelas-jelas kalian tahu, siapa dia"

sahira terkejut, begitu juga Nurmala, mereka terkejut, karena Alia tahu perbuatan mereka.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!