NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31-Sama-sama nggak peduli, kan? Deal

Arlan tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya melirik Bundanya sekilas sambil melempar kunci motor ke atas meja marmer di ruang tengah. Suara denting kunci itu terdengar nyaring di tengah keheningan rumah.

​"Tuh, di belakang. Masih utuh," jawab Arlan tanpa ekspresi. Ia terus berjalan menuju tangga, mengabaikan tatapan menyelidik dari Nada.

​"Arlan! Bunda nanya baik-baik, jangan ketus begitu sama istri sendiri!" tegur Nada dengan teriaknya yang kencang seperti menggunakan toa masjid.

​Arlan berhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh sedikit, wajahnya tampak lelah namun tetap datar. "Dia bukan istri Arlan, Bun. Cuma status di atas kertas karena kemauan Bunda. Jangan paksa Arlan buat peduli lebih dari ini."

​Setelah mengucapkan kalimat yang menusuk itu, Arlan kembali melangkah naik. Punggungnya yang tegap menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat, disusul suara kunci yang diputar dari dalam. Ia benar-benar menutup akses untuk siapa pun malam ini.

​Tepat saat itu, Aluna masuk dengan wajah yang masih merah padam menahan amarah. Begitu melihat Nada, Aluna berusaha mengatur napasnya agar tidak meledak di depan wanita baik itu.

​"Aluna sayang, kamu nggak apa-apa? Arlan nggak macem-macem di jalan kan?" tanya Nada cemas, ia menghampiri Aluna dan mengusap pundaknya

​Aluna memaksakan senyum tipis, meski bibirnya terasa perih. "Nggak apa-apa, Bun. Cuma ya gitu, anak Bunda bawa motornya kayak mau ngajak ke akhirat. Mana sombongnya minta ampun."

​Nada menghela napas panjang, menatap ke arah lantai dua dengan sedih. "Maafin Arlan ya. Dia memang kaku sejak dulu. Bunda harap kamu bisa sabar ngadepin dia."

​"Sabar ada batasnya, Bun," batin Aluna ketus. Ia menatap tangga dengan penuh dendam. Di sekolah Arlan dipuja sebagai Ketua OSIS yang sempurna, tapi di rumah, dia tak lebih dari sekadar bongkahan es yang tidak punya perasaan.

​Aluna kemudian pamit masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah, menatap langit-langit kamar.

Aluna menghela napas panjang, merentangkan tangannya lebar-lebar di atas kasur empuk yang ukurannya bahkan bisa menampung tiga orang itu. "Status di atas kertas doang ya? Bagus deh. Emang gue pikirin," gumamnya ketus ke arah plafon kamar.

​Baginya, omongan Arlan barusan bukan pedang yang menusuk hati, melainkan tantangan perang yang baru dimulai. Aluna justru merasa lega karena Arlan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Dengan begitu, Aluna tidak perlu merasa berutang budi atau harus bersikap manis di depan cowok itu.

​"Sama-sama nggak peduli, kan? Deal," ucapnya mantap.

​Tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring, mengingatkannya bahwa emosi saja tidak cukup untuk mengenyangkan lambung. Aluna bangkit dari kasur, melangkah menuju meja rias untuk melepas ikat rambutnya. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia menyentuh sariawan di bibirnya yang masih berdenyut perih.

​"Aish, makin gede aja ini sariawan. Gara-gara teriak-teriak di motor tadi pasti," gerutunya.

​Ia kemudian mengganti seragam sekolahnya dengan kaus oblong kebesaran dan celana pendek kain yang nyaman. Tidak ada niat untuk tampil cantik atau elegan di rumah ini. Aluna berjalan menuju dapur dengan santai, mengabaikan suasana sunyi di lantai dua tempat kamar Arlan berada.

​Di dapur, ia mendapati Bi Inah sedang merapikan meja makan. "Eh, Non Aluna mau makan? Biar Bibik siapin ya?"

​"Nggak usah, Bi. Aluna mau bikin mi instan aja, lagi pengen yang kuah-kuah," jawab Aluna tanpa beban.

​"Loh, tapi Nyonya tadi pesen supaya Non makan masakan nyonya Nada..."

​"Bunda mana, Bi?" tanya Aluna sambil membuka lemari stok makanan.

​"Tadi baru saja masuk kamar, kayaknya pusing denger Mas Arlan tadi," jawab Bi Inah pelan.

​Aluna mengangguk paham. Ia mengambil satu bungkus mi rasa soto, menyalakan kompor, dan mulai memasak dengan tenang. Baginya, kenyamanan perut adalah prioritas utama malam ini. Urusan Arlan yang dingin atau omongan pedasnya tadi, ia simpan di dalam kotak sampah di pikirannya.

​Setelah mi matang, Aluna duduk di meja makan sendirian, menikmati setiap suapan meskipun lidahnya terasa perih saat terkena kuah hangat. Ia menyesap kuahnya dengan perlahan, membiarkan rasa hangat menjalar ke tenggorokannya.

Aluna baru saja meletakkan mangkuk mi instannya yang sudah kosong ke tempat cucian piring. Rasa hangat dari kuah mi tadi lumayan membantu tenggorokannya, meski perih di bibir masih sesekali menyentak. Saat ia hendak kembali ke kamar, telinganya menangkap suara pintu kamar di lantai atas terbuka.

​Langkah kaki yang berat namun teratur terdengar menuruni tangga. Aluna berdiri diam di dekat area dapur, memperhatikan Arlan yang turun dengan pakaian yang sudah berganti. Cowok itu kini mengenakan jaket bomber hitam dan celana kargo senada, kunci motor sudah kembali berada di genggamannya.

​Wajahnya tetap datar, tanpa emosi. Arlan melewati ruang tengah begitu saja, seolah-olah Aluna yang berdiri tak jauh dari sana hanyalah pajangan rumah yang tidak terlihat.

​"Mau ke mana lo?" tanya Aluna, akhirnya bersuara. Suaranya masih sedikit serak, tapi nada ketusnya tetap ada.

​Langkah Arlan terhenti tepat di depan pintu utama. Ia tidak berbalik, hanya menolehkan kepalanya sedikit. "Bukan urusan lo," jawabnya singkat. Dingin sekali, sampai-sampai Aluna merasa suhu di ruangan itu turun beberapa derajat.

​"Bunda udah tidur. Lo pergi nggak bilang-bilang, nanti gue yang ditanya," sahut Aluna lagi sambil bersedekap dada.

​Arlan memutar tubuhnya sepenuhnya, menatap Aluna dengan tatapan meremehkan.

"Gue nggak butuh izin dari siapa pun, apalagi dari lo. Kalau Bunda tanya, bilang aja gue ada urusan penting. Nggak usah jadi mata-mata."

​Tanpa menunggu balasan dari Aluna, Arlan membuka pintu besar itu dan keluar. Tak lama kemudian, suara deru mesin motor sport-nya memecah kesunyian malam, lalu perlahan menjauh meninggalkan gerbang rumah.

​"Terserah deh mau ke kutub utara sekalian juga gue nggak peduli," gumam Aluna sambil mematikan lampu dapur.

​Ia berjalan naik ke kamarnya dengan perasaan sedikit dongkol. Bukan karena peduli Arlan pergi ke mana, tapi karena sikap Arlan yang merasa berkuasa penuh atas segalanya benar-benar memancing sisi reog Aluna untuk meledak suatu saat nanti. Namun untuk malam ini, Aluna memilih untuk mengalah pada rasa kantuknya. Besok masih ada hari lain untuk memikirkan cara membalas sikap sombong Ketua OSIS itu.

Deru mesin motor sport hitam itu membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di balik helm fullface gelapnya, rahang Arlan mengeras. Angin malam yang menusuk tulang sama sekali tidak ia hiraukan. Baginya, kecepatan adalah satu-satunya cara untuk membungkam kebisingan di kepalanya.

​"Dia bukan istri Arlan, Bun."

​Kalimatnya sendiri tadi di tangga kembali terngiang. Arlan menghela napas kasar. Ia tahu kata-katanya tajam, tapi baginya itu adalah kenyataan. Ia benci dipaksa, dan pernikahan konyol di usia sekolah ini adalah paksaan terbesar dalam hidupnya yang selama ini selalu ia susun dengan sempurna.

​Ia melirik spion, seolah memastikan tidak ada yang mengikutinya. Bayangan Aluna yang berdiri di dapur dengan kaus kebesaran dan wajah ketusnya tadi sempat melintas.

Setiap kali melihat Aluna, Arlan merasa wilayah pribadinya terancam. Aluna itu berisik, tidak terduga, dan selalu punya cara untuk memancing emosinya keluar. Arlan lebih suka kesunyian, lebih suka segalanya berjalan sesuai rencana dan Aluna adalah variabel acak yang paling ia hindari.

​Motornya melambat saat ia memasuki area gudang tua di pinggiran kota yang sudah disulap menjadi markas rahasia kelompoknya. Beberapa motor sport lain sudah terparkir di sana.

1
Suo
nanti nyesel. loh arlan
Ria Irawati
roman-romannya jatuh cinta nih🤭
j_ryuka
yeh peluk aja
only siskaa
mulai suka ciee
SarSari_
kok senyum² ya...🫣🫣
SarSari_
duuh mulai datang si penganggu😤
Mentariz
savage abizzz 👍
Mentariz
Wah udah hapal banget nih pesanan aluna
Mentariz
Gak tahan godaan juga kan, lun 🤭
Panda%Sya🐼
Sariawan itu musuh terbesar ku 😭
Panda%Sya🐼
Arlan jangan gitu... nanti bucin kan susah
pojok_kulon
Nanti juga kamu nempel terus Al
pojok_kulon
Berisik amat Al
j_ryuka
peluk peluk peluk
j_ryuka
ngapa di tempat sampah 😭😭kalau terbang lagi gimana
pojok_kulon
haduh Al jangan keras kepala
pojok_kulon
Sadis banget Arlan
Ria Irawati
yah nantangin nih bocah
SarSari_
udah ngincer dari awal toh ternyata,🫣
Suo
galak bgt banh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!