NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Wawasan Naga

Ji Zhen melangkah melewati gerbang Sekte Qingyun dengan jubah kotor dan bercak merah yang telah mengering di punggungnya. Bau tanah basah dan aroma tajam dari Hutan Guyun masih melekat erat pada kulitnya. Saat ia meletakkan Bunga Kabut Merah di atas meja kayu milik pengawas tugas, ruangan itu mendadak kehilangan suaranya. Sang pengawas, seorang pria dewasa menatap bunga itu lalu beralih ke wajah Ji Zhen yang tampak pucat. Ada gurat keheranan yang tidak bisa disembunyikan dari wajah sang pengawas, ia tidak menyangka murid yang dianggap sebagai sasaran empuk ini bisa kembali secepat itu dari wilayah maut.

Ji Zhen tidak menunggu pujian atau kata-kata formal. Ia lebih memilih untuk mengambil tanda terima tugasnya dan segera berbalik. Ia bisa merasakan tatapan curiga yang menusuk punggungnya, sebuah indikasi bahwa keselamatannya justru menjadi kabar buruk bagi beberapa faksi di dalam sekte.

Malam itu, di dalam kamarnya yang berbau kayu lembap, Ji Zhen duduk bersila. Cahaya lilin di sudut ruangan bergerak seirama angin berhembus, memberikan penerangan yang terbatas. Di dalam kesadarannya, Zulong muncul dengan aura yang lebih berat dari biasanya.

“Bocah, kontrak darah kita bukan sekadar janji kosong,” suara Zulong bergema, setiap ucapannya terasa seperti es yang merambat di dalam otak Ji Zhen. “Darah naga yang menyatu dengan nadimu membawa wawasan yang tidak akan kau temukan di buku-buku usang sekte ini. Kekuatan Dao Es sejati berasal dari kemurnian internal, bukan sekadar memanipulasi udara luar.”

Zulong membagikan sebuah visi, sebuah rute aliran energi yang rumit dan menyakitkan. “Ini adalah teknik Pemurnian Es Dalam. Kau harus membekukan qi di dalam meridianmu sendiri untuk menutup robekan yang kau dapatkan di hutan kemarin. Tapi ingat, ini akan terasa seperti darahmu berubah menjadi pecahan kaca tajam.”

Ji Zhen menyeringai, sebuah ekspresi liar yang muncul di tengah rasa lelahnya. “Rasa sakit adalah guru terbaik yang pernah kupunya. Mari kita mulai.”

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Ji Zhen mulai menggerakkan qi sesuai instruksi Zulong. Seketika, suhu di dalam tubuhnya merosot drastis. Ia bisa merasakan jalur energinya membeku, menciptakan tekanan luar biasa pada dinding-dinding meridian yang sudah rusak. Rasa perih yang amat sangat membuatnya ingin berteriak, namun ia mengunci rapat mulutnya.

Keesokan paginya, Ji Zhen pergi ke hutan belakang sekte untuk menguji hasil latihannya. Targetnya bukan monster raksasa, melainkan Kalkun Cakar Kapak, jenis binatang buas yang lincah dengan kaki sekeras besi. Ia menemukan satu ekor yang sedang mencari makan di dekat pohon tua.

Namun, kenyataan tidak semudah teori. Saat Ji Zhen mencoba melancarkan serangan es, kakinya terpeleset akibat sisa rasa kaku dari latihan semalam. Kalkun itu berteriak nyaring, lalu menerjang dengan kecepatan yang di luar dugaan. Ji Zhen terpaksa lari mengelilingi pohon besar, dikejar-kejar oleh unggas pemarah yang ingin merobek jubahnya.

“Kau benar-benar memalukan, Ji Zhen,” ejek Zulong saat melihat wadahnya hampir terjatuh berkali-kali. “Mungkin aku seharusnya memilih babi hutan sebagai wadah, setidaknya mereka tidak lari dari ayam raksasa.”

Ji Zhen panik di tengah napasnya yang terputus-putus. “Aku tidak takut!” meski kenyataannya berbeda.

Sampai dirinya lelah dan berhenti, memutar tubuhnya, lalu menggunakan teknik Pemurnian Es Dalam untuk menstabilkan pijakannya. Tangannya menghantam tanah, melepaskan gelombang dingin yang membekukan rumput di bawah kaki sang kalkun. Saat binatang itu tergelincir, Ji Zhen melompat maju, membunuhnya dan menyerap qi binatang itu untuk memulihkan tenaganya sendiri.

Proses penyerapan itu kasar. Tubuhnya menolak energi asing tersebut, memaksa Ji Zhen muntah darah di atas tanah yang membeku. Namun, setelah rasa mual itu lewat, ia merasakan meridiannya yang robek mulai merapat, terikat oleh hawa dingin yang ia kendalikan.

Saat ia kembali ke kediamannya dengan langkah yang masih terhuyung-huyung meski dia menutupi setiap kelemahannya, Lian Shu sudah menunggunya di bawah pohon beringin.

“Ma Yingjie mulai bergerak lebih kotor,” ucap Lian Shu tanpa basa-basi. “Dia meracuni pasokan ramuan dasar yang dibagikan untuk murid luar. Dia ingin memastikan tidak ada yang bisa menantangnya di turnamen besar nanti, terutama kau.”

Ji Zhen menyeka sisa darah di bibirnya, matanya berkilat penuh ejekan. “Artinya mereka semakin takut padaku. Biarkan saja. Racun mereka tidak akan mempan pada seseorang yang darahnya sudah membeku.”

Tak lama kemudian setelah mereka bertukar kabar, ibunda Ji Zhen datang berkunjung. Ia membawakan keranjang berisi makanan hangat, wajahnya tampak jauh lebih lega dari beberapa hari yang lalu.

“Zhen-er, ibu senang melihatmu sekarang, Nak,” ucap sang ibu sambil menatap Lian Shu sejenak. “Ibu lega kau sudah tidak lagi memikirkan gadis bernama Yang itu. Sepertinya putraku sudah benar-benar melangkah maju.”

Lian Shu terdiam karena canggung. Sementara Ji Zhen segera memotong pembicaraan dengan nada datar. “Ibu, kami hanya teman dalam urusan informasi. Tidak ada yang lain. Fokusku hanya satu sekarang.”

Sang ibu menghela napas, duduk di samping Ji Zhen sambil mengeluarkan bungkusan nasi, memberikannya juga ke Lian Shu. “Ibu tahu ambisimu besar. Kau tahu sendiri Ayahmu dulu juga seperti itu. Tapi jangan sampai kau berakhir sama dengannya. berhati-hatilah, Nak.”

Penyebutan tentang masa lalu ayahnya membuat suasana menjadi berat. Ji Zhen menatap makanan di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak pernah bermain sebagai korban atas masa lalunya, namun setiap cerita tentang ketidakadilan yang menimpa keluarganya hanya menambah bahan bakar pada api ambisinya.

Setelah ibunya dan Lian Shu pulang, Zulong kembali berucap. “Turnamen besar tinggal sebentar lagi. Wawasan yang kau dapatkan hari ini baru permulaan. Kau butuh lebih banyak kekuatan jika ingin menginjak-injak Menara Kultivasi itu.”

Ji Zhen berdiri di depan jendela kamarnya, menatap Menara Kultivasi yang menjulang tinggi di kejauhan. Wawasan naga di dalam dirinya terasa semakin nyata, sebuah kekuatan yang menuntut pengorbanan lebih besar.

“Aku akan mengambil semuanya,” gumam Ji Zhen. “Turnamen ini akan menjadi panggung di mana mereka akan melihat siapa yang sebenarnya berada di puncak.”

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!