Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Tumbal di Tengah Badai
Malam itu, langit Jakarta seolah sedang berduka. Awan hitam bergulung pekat, menutupi cahaya bulan yang biasanya menerangi kawasan elit Menteng. Hujan turun bukan sekadar menetes, melainkan menghantam bumi dengan kemarahan yang meluap-luap. Angin kencang menderu, memukul-mukul jendela kaca setinggi tiga meter di ruang tengah kediaman keluarga Aristha, menciptakan irama mencekam yang bersahut-sahutan dengan suara guntur di kejauhan.
Namun, kegaduhan alam di luar sana masih kalah mengerikan dibandingkan badai yang sedang terjadi di dalam rumah mewah bergaya Eropa klasik itu.
"Aku tidak mau! Ayah dengar tidak? Aku lebih baik mati menenggak racun daripada harus menikah dengan monster itu!"
Suara teriakan itu melengking tinggi, memecah keheningan mencekam di ruang keluarga. Bella Aristha, putri sulung kebanggaan keluarga yang biasanya tampil anggun bak boneka porselen, kini tampak berantakan. Wajah cantiknya memerah karena amarah dan air mata yang bercampur aduk. Gaun sutra tidur berwarna peach yang dikenakannya kusut, senada dengan rambut panjangnya yang acak-acakan.
Dengan gerakan kasar, tangan lentiknya menyambar sebuah vas bunga kristal buatan Bohemia dari atas meja.
PRANG!
Pecahan kristal itu berhamburan ke lantai marmer yang dingin, berserakan bersama bunga mawar putih yang kini terinjak-injak, layu dan patah. Bunyi pecahnya benda mahal itu membuat semua pelayan yang mengintip dari balik tembok dapur menahan napas ketakutan.
Di sofa kulit berwarna cokelat tua, Tuan Bramantyo Aristha duduk dengan bahu merosot. Pria paruh baya yang biasanya terlihat gagah dengan setelan jas mahal itu kini tampak menua sepuluh tahun dalam semalam. Wajahnya pucat, dihiasi keringat dingin yang menetes di pelipis meski pendingin ruangan menyala maksimal. Tangannya yang memegang segelas scotch gemetar hebat, hingga cairan berwarna amber itu sedikit tumpah membasahi celana kainnya.
"Bella... tolong mengertilah," suara Bramantyo terdengar serak, nyaris seperti bisikan putus asa. Ia tidak berani menatap mata putri kesayangannya itu. "Ini bukan soal kemauan Ayah. Ini soal nasib kita semua. Keluarga Adhitama memegang leher kita. Jika pernikahan ini batal, besok pagi... tepat saat matahari terbit, kita akan kehilangan segalanya. Rumah ini, mobilmu, status sosial kita, semuanya akan disita bank."
"Biarkan saja disita!" jerit Bella lagi, kali ini ia menjatuhkan tubuhnya ke karpet berbulu tebal, menangis histeris seperti anak kecil yang mainannya direbut. "Aku masih muda, Yah! Aku cantik! Aku lulusan desain dari Paris! Masa depanku cerah! Kenapa Ayah tega mau menukarku dengan uang? Dan dari semua pria di dunia ini... kenapa harus Raga Adhitama?"
Bella mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh horor.
"Ayah tahu rumornya, kan?" suaranya bergetar hebat. "Mereka bilang wajahnya hancur total karena kebakaran lima tahun lalu. Dia lumpuh, Yah. Dia duduk di kursi roda seumur hidupnya. Dan yang lebih parah... mentalnya sakit. Orang-orang bilang dia psikopat yang suka menyiksa pelayan di rumahnya sampai mati. Ayah mau aku tidur di sebelah pria seperti itu? Ayah mau aku dibunuh perlahan-lahan?"
Ruangan itu kembali hening, hanya diisi oleh isak tangis Bella yang menyayat hati dan suara hujan yang semakin deras di luar.
Di sudut ruangan yang paling gelap, jauh dari jangkauan cahaya lampu kristal gantung yang mewah, berdiri seorang gadis lain.
Nala Aristha.
Nala berdiri mematung, seolah menyatu dengan bayang-bayang lemari kayu jati di sebelahnya. Tidak ada yang memperhatikannya. Tidak ada yang menoleh padanya. Selama dua puluh satu tahun hidupnya di rumah ini, Nala sudah terbiasa menjadi hantu. Ia ada, tapi dianggap tiada. Ia bernapas, tapi suaranya tak pernah didengar.
Nala mengenakan kemeja putih lusuh yang ukurannya sedikit kebesaran, bekas pakai Bella tiga tahun lalu, dan celana kain hitam sederhana. Rambut hitamnya diikat satu ke belakang dengan karet gelang biasa, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Wajahnya polos tanpa riasan sedikit pun, namun jika seseorang mau melihat lebih dekat, mereka akan menemukan sepasang mata bulat berwarna cokelat terang yang jernih, kontras dengan ekspresi wajahnya yang datar dan tenang.
Mata Nala menatap pecahan vas bunga di lantai. Ia menghitung dalam hati berapa harga vas itu. Lima puluh juta rupiah. Uang sebanyak itu hancur hanya karena emosi sesaat Bella, sementara Nala harus memohon berhari-hari hanya untuk meminta uang beli cat lukis seharga seratus ribu rupiah.
Ia menarik napas panjang, aroma ruangan itu terasa pengap oleh campuran parfum mahal Bella dan bau alkohol dari gelas ayahnya. Nala ingin pergi ke kamarnya yang sempit di belakang dekat area servis, tapi ia tahu ia tidak boleh bergerak sebelum diizinkan.
"Tenanglah, Sayang. Tenang dulu."
Nyonya Siska, ibu tiri Nala sekaligus ibu kandung Bella, segera berlutut di lantai memeluk putrinya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berkat perawatan rutin itu mengelus rambut Bella dengan sayang. Tatapannya pada Bramantyo tajam, penuh tuntutan.
"Mas, kamu lihat kondisi anak kita?" desis Siska tajam. "Dia bisa gila kalau kamu paksa. Apa kamu tega melihat Bella menderita seumur hidup merawat suami cacat? Bella itu permata keluarga ini. Dia harus menikah dengan pria yang sempurna, bukan sisa-sisa manusia seperti Tuan Muda Adhitama itu."
Bramantyo membanting gelasnya ke meja, menimbulkan bunyi tak yang keras. "Lalu aku harus bagaimana, Siska?! Hutang perusahaan sudah jatuh tempo minggu ini. Keluarga Adhitama satu-satunya yang mau menyuntikkan dana segar, dengan syarat kita memenuhi perjanjian kakek dulu untuk menikahkan putri keluarga Aristha dengan pewaris mereka. Kalau kita tolak, kita jadi gelandangan! Kamu mau hidup di kolong jembatan?"
Siska terdiam. Kata "gelandangan" adalah mimpi buruk terbesar bagi wanita yang memuja kemewahan itu. Otaknya berputar cepat. Matanya yang tajam dengan riasan eyeliner tebal bergerak gelisah, menyapu seisi ruangan mencari jalan keluar.
Pandangannya melewati sofa, melewati lukisan mahal di dinding, hingga akhirnya berhenti di sudut ruangan yang gelap.
Di sana, Nala berdiri menunduk.
Sebuah senyum tipis, yang nyaris tak terlihat namun sangat dingin, terbit di bibir merah Nyonya Siska. Perlahan, ia melepaskan pelukannya pada Bella dan berdiri tegak. Ia merapikan gaunnya sejenak, lalu berjalan mendekati suaminya.
Tangannya yang berhias cincin berlian menyentuh bahu Bramantyo, meremasnya pelan.
"Mas," panggilnya lembut, nada suaranya berubah drastis menjadi manis namun berbisa. "Keluarga Adhitama itu keluarga kuno yang memegang teguh tradisi. Coba ingat-ingat lagi isi surat perjanjian itu."
Bramantyo mendongak, bingung dengan perubahan sikap istrinya. "Apa maksudmu?"
"Di surat itu..." Siska menjeda ucapannya, matanya melirik sekilas ke arah sudut ruangan, memastikan mangsanya masih di sana. "Apakah tertulis secara spesifik nama 'Bella Aristha'?"
Bramantyo mengerutkan kening, mencoba menggali ingatannya yang keruh karena alkohol dan stres. "Tidak. Seingatku, kakek Adhitama hanya menulis 'Putri dari Keluarga Aristha'. Saat itu Bella bahkan belum lahir, perjanjian itu dibuat saat kita baru menikah."
Senyum Siska semakin lebar. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga suaminya, namun suaranya cukup keras untuk terdengar di keheningan ruangan itu.
"Kita punya dua orang putri di rumah ini, Mas."
Jantung Nala, yang sejak tadi berdetak tenang, tiba-tiba berhenti satu ketukan.
Darahnya berdesir hebat, mengalir dingin dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, Nala menatap lurus ke arah ayah dan ibu tirinya. Firasat buruk yang sejak tadi menggantung di udara kini berubah menjadi kenyataan yang mencekik lehernya.
Tuan Bramantyo tertegun. Matanya membulat, menatap istrinya tak percaya. "Maksudmu... Nala?"
"Kenapa tidak?" Siska mengangkat bahu ringan, seolah sedang membicarakan baju bekas yang hendak disumbangkan. "Dia juga menyandang nama belakang Aristha, bukan? Walaupun dia lahir dari... wanita itu, tapi di akta kelahiran, dia tetap tercatat sebagai anakmu."
"Tapi... Keluarga Adhitama pasti mengharapkan Bella. Bella yang cantik, Bella yang berpendidikan tinggi," bantah Bramantyo lemah.
"Raga Adhitama itu buta dan cacat, Mas!" potong Siska cepat. "Rumornya dia jarang keluar kamar. Dia tidak akan tahu bedanya. Dan lagipula, siapa yang berani memprotes? Dia butuh istri hanya untuk status agar bisa mewarisi harta kakeknya, dan kita butuh uangnya. Ini pertukaran yang adil. Nala cukup cantik, dia sehat, dia bisa melahirkan pewaris kalau diperlukan. Itu sudah lebih dari cukup untuk pria cacat."
Bella yang masih terisak di lantai mendongak. Harapan mulai menyala di matanya yang sembab. Ia menghapus air matanya kasar, lalu menatap Nala dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa lega dan sedikit rasa kasihan yang tertutup oleh keegoisan.
"Ibu benar, Ayah," seru Bella, suaranya parau. "Nala bisa menggantikanku. Dia... dia kan biasa hidup susah. Dia pasti lebih kuat menghadapi suami yang galak daripada aku. Aku tidak akan bertahan sehari pun di sana, Ayah. Ayah mau melihatku mati bunuh diri?"
Tiga pasang mata kini tertuju pada Nala.
Tuan Bramantyo perlahan memutar tubuhnya menghadap Nala. Tatapan pria itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Nala malam ini. Bukan tatapan penuh kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, melainkan tatapan seorang pebisnis yang sedang menimbang nilai jual sebuah aset yang sudah lama tersimpan di gudang.
Bramantyo menghela napas panjang, seolah membuang sisa-sisa hati nuraninya.
"Nala," panggilnya berat.
Nala tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, menempel di langit-langit mulut. Ia ingin berteriak, Aku bukan barang! Aku juga manusia!, tapi suara itu tertahan di tenggorokan.
"Sini, Nak," perintah Bramantyo.
Dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, Nala melangkah maju keluar dari bayang-bayang. Cahaya lampu kristal kini menyinari wajahnya yang pucat. Ia meremas jemarinya sendiri di depan tubuh, berusaha menyembunyikan getaran tangannya.
"Kau dengar pembicaraan kami?" tanya ayahnya.
Nala mengangguk pelan. "Ya, Ayah."
"Kau tahu kondisi keluarga kita?"
"Tahu, Ayah."
Bramantyo bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati Nala. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu kecil gadis itu. Tangan ayahnya terasa hangat, namun Nala merasakan dingin yang menusuk tulang.
"Dua puluh satu tahun lalu, aku membawamu masuk ke rumah ini saat ibumu meninggal," ucap Bramantyo, memulai narasi yang selalu ia ulang setiap kali ingin membuat Nala merasa bersalah. "Meskipun kehadiranmu membuat rumah tangga Ayah dan Ibu Siska sempat retak, kami tetap merawatmu. Kami memberimu makan, pakaian, dan tempat bernaung. Kau tidak pernah kekurangan apa pun secara materi."
Nala menunduk, menatap sepatu kets-nya yang sudah jebol di bagian ujung. Tidak kekurangan? batinnya menjerit. Ia makan makanan sisa pesta Bella. Ia memakai baju bekas Bella. Ia bahkan tidak diizinkan kuliah karena alasan "biaya", padahal Bella bisa kuliah ke Paris. Tapi Nala tetap diam.
"Sekarang saatnya kau membalas budi, Nala," lanjut Bramantyo, nada suaranya menekan. "Ayah tidak pernah memintamu melakukan hal berat selama ini. Tapi kali ini, Ayah mohon. Selamatkan keluarga kita. Selamatkan kehormatan kakakmu."
"Tapi, Ayah..." Nala akhirnya memberanikan diri membuka suara, suaranya serak dan bergetar. "Menikah... itu seumur hidup. Saya tidak mengenal Tuan Raga. Saya takut..."
"Apa yang kau takutkan?" sela Nyonya Siska tajam. Ia berdiri di samping suaminya, menatap Nala dengan jijik. "Kau pikir kau siapa? Kau hanya anak haram. Di luar sana, tidak ada laki-laki terhormat yang mau memungutmu. Sekarang kau diberi kesempatan menjadi Nyonya Besar dari keluarga terkaya di negeri ini. Kau seharusnya bersujud syukur, bukan malah jual mahal!"
Kata-kata itu menampar Nala lebih keras daripada tamparan fisik. Anak haram. Label itu sudah melekat padanya sejak lahir, seolah menjadi dosa bawaan yang tidak akan pernah bisa ia hapus, sekeras apa pun ia berusaha menjadi anak yang baik.
Nala menatap Bella. Kakaknya itu kini sudah berhenti menangis, menatapnya dengan pandangan mendesak.
"Nala, tolonglah," rengek Bella. "Kau kan sayang padaku? Kau selalu membantuku mengerjakan PR sekolah dulu. Kau selalu membereskan kamarku. Sekali ini saja, gantikan aku. Aku janji, kalau kau menikah dengannya, aku akan sering menjengukmu. Aku akan membawakanmu baju-baju baru."
Janji manis yang kosong. Nala tahu itu.
Ia melihat sekeliling ruangan mewah itu. Dinding-dinding berlapis wallpaper emas, perabotan impor, dan kemewahan yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ia sadar, di rumah ini, posisinya lebih rendah daripada anjing peliharaan Bella. Setidaknya anjing itu disayang tulus.
Jika ia menolak, apa yang akan terjadi? Mereka akan membencinya. Mereka mungkin akan mengusirnya malam ini juga, di tengah badai hujan ini, tanpa uang sepeser pun.
Tapi jika ia menerima... ia akan masuk ke dalam gua singa. Ia akan menyerahkan hidupnya pada pria yang disebut "Monster".
Namun, ada satu pemikiran gila yang melintas di benak Nala.
Jika ia menikah, ia akan keluar dari rumah ini. Ia akan bebas dari tatapan merendahkan Nyonya Siska. Ia akan bebas dari keegoisan Bella. Meskipun ia harus masuk ke neraka baru, setidaknya itu adalah neraka yang berbeda. Dan mungkin... mungkin saja rumor itu salah.
Nala menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan keberanian terakhir yang ia miliki. Ia menatap mata ayahnya, mencari sisa-sisa kasih sayang di sana, namun ia hanya menemukan kelegaan karena beban itu telah berpindah.
Hatinya terasa perih, seperti disayat sembilu. Tapi wajahnya tetap tenang, setenang permukaan danau yang dalam.
"Baik, Ayah," ucap Nala lirih. Suaranya hampir tertelan suara guntur yang menggelegar di luar.
Senyum merekah di wajah Bramantyo. Ia menepuk bahu Nala keras-keras. "Anak pintar! Ayah tahu kau anak yang berbakti. Ayah tidak salah membesarkanmu."
"Terima kasih, Nala! Ya Tuhan, terima kasih!" Bella bersorak girang, langsung bangkit dan memeluk ibunya, melupakan keberadaan Nala seolah adiknya itu hanyalah alat yang baru saja selesai digunakan.
"Ingat," Nyonya Siska menunjuk wajah Nala dengan jari telunjuknya yang runcing. "Mulai besok sampai hari pernikahan, kau tidak boleh keluar kamar. Jangan sampai ada orang yang melihatmu. Dan saat kau bertemu keluarga Adhitama, tutup mulutmu rapat-rapat. Biar kami yang bicara. Kau hanya perlu mengangguk dan tersenyum."
"Saya mengerti, Nyonya," jawab Nala sopan. Ia bahkan tidak memanggil wanita itu 'Ibu'.
"Bagus. Sekarang pergi ke kamarmu. Aku muak melihat wajah sedihmu itu, bisa membawa sial," usir Siska sambil mengibaskan tangannya.
Nala membungkuk hormat sekilas, lalu berbalik badan. Ia melangkah meninggalkan ruang keluarga yang hangat namun beracun itu.
Saat ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju bagian belakang rumah yang dingin dan lembap, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Satu tetes, bergulir di pipinya yang tirus.
Di luar, kilat menyambar membelah langit, menerangi lorong gelap itu sesaat. Bayangan Nala memanjang di dinding, tampak kesepian dan rapuh.
Malam ini, Nala Aristha telah resmi dijual oleh ayah kandungnya sendiri seharga hutang perusahaan. Ia telah menyerahkan masa depannya, mimpinya, dan kebebasannya.
"Selamat tinggal, Nala yang lama," bisiknya pada kegelapan malam.
Ia tidak tahu apa yang menunggunya di kediaman Adhitama. Apakah kematian? Penyiksaan? Atau justru takdir yang akan membalikkan seluruh hidupnya? Yang Nala tahu, mulai detik ini, ia bukan lagi putri yang tidak diinginkan. Ia adalah tumbal yang berjalan sukarela menuju altar pengorbanan.
Hujan terus turun, seolah berusaha menghapus jejak kepedihan yang baru saja terukir di hati gadis itu, namun luka malam ini akan membekas selamanya.
ceritanya bagu😍