Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran
Qi di Lembah Sunyi bergetar pelan.
Ci Lung dan Zhao Ming saling menatap tanpa bergerak. Tidak ada tekanan meledak, tidak ada aura yang mengamuk—keheningan di antara mereka justru terasa lebih menyesakkan dari badai qi mana pun.
Zhao Ming adalah yang pertama berbicara.
“Meridian Opening layer ketiga,” katanya ringan, seolah menyebut hal sepele. “Cepat. Terlalu cepat.”
Ci Lung tidak menurunkan kewaspadaan. “Kalau kau datang hanya untuk menghitung tingkat kultivasiku, kau salah tempat.”
Zhao Ming tersenyum tipis. “Aku datang untuk memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Apakah kau ancaman,” katanya pelan, “atau hanya korban yang belum sadar.”
Angin berhenti.
Daun-daun membeku di udara.
Meridian Ci Lung berdenyut keras, seolah qi-nya sendiri bereaksi terhadap keberadaan Zhao Ming.
“Kalau aku ancaman?” tanya Ci Lung.
“Maka aku akan membunuhmu.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
“Dan kalau aku korban?”
Zhao Ming memiringkan kepala sedikit. “Maka aku akan mengajarimu. Sedikit saja. Cukup agar kau tidak mati bodoh.”
Tangan Ci Lung bergerak ke gagang pedang.
Zhao Ming meliriknya. “Jangan salah paham. Ini bukan duel.”
“Lalu apa?” tanya Ci Lung.
“Pelajaran.”
Zhao Ming melangkah maju satu langkah.
Dunia seperti menyusut.
Ci Lung bereaksi instingtif—pedangnya tercabut dari sarungnya, tebasan lurus dilepaskan tanpa ragu.
SHIIING!
Tebasan itu berhenti di udara.
Bukan tertahan.
Dihapus.
Qi di tepi pedang Ci Lung tercerai berai, seperti niatnya dipreteli satu per satu.
“Niatmu terlalu terbuka,” kata Zhao Ming. “Pedangmu jujur… tapi dunia tidak.”
Dua jari Zhao Ming mengetuk udara.
DUUM!
Tekanan menghantam dada Ci Lung. Tubuhnya terlempar, menghantam batu lembah, darah menyembur dari mulutnya.
[PERINGATAN KRITIS]
[Meridian tidak stabil]
Ci Lung bangkit terhuyung, lututnya hampir menyerah.
“Aku belum kalah,” katanya serak.
“Benar,” jawab Zhao Ming. “Karena aku belum mulai.”
Dalam sekejap, Zhao Ming sudah berada di belakangnya.
Telapak tangan mendarat di punggung Ci Lung—tidak keras, tidak cepat, tapi tepat di simpul qi utama.
BUK.
Qi Ci Lung langsung kacau.
Meridian ketiganya bergetar liar, aliran qi berbalik arah, menghantam organ dalam dan kesadarannya sendiri.
Rasa sakit itu tidak meledak—ia menenggelamkan.
“Perhatikan,” bisik Zhao Ming di telinganya.
“Kau selalu mendorong qi ke luar.”
“Coba rasakan apa yang terjadi… saat dunia yang mendorongmu kembali.”
Pandangan Ci Lung mengabur.
Dia mencoba berdiri. Gagal.
Pedangnya jatuh ke tanah dengan suara logam yang hampa.
Zhao Ming menatapnya dari atas.
“Kau tidak kalah karena lemah,” katanya datar.
“Kau kalah karena kau masih berpikir dunia akan menunggumu siap.”
Dengan satu sentuhan terakhir di tengkuk—
Kesadaran Ci Lung runtuh.
Tubuhnya roboh ke tanah.
Zhao Ming berdiri lama di sana, menatap Ci Lung yang tak sadarkan diri.
“Aku harap kau ingat rasa ini,” gumamnya. “Kalau tidak… kau tidak akan bertahan menghadapi mereka.”
Angin berhembus.
Zhao Ming menghilang.
Medan Perang Wuhan — Hari Kedua
Matahari terbit di atas medan perang yang belum sempat mendingin.
Mayat-mayat masih menumpuk. Darah mengering di tanah yang retak.
Perang berlanjut.
Lebih brutal.
Enam tetua dan panglima Kultus Demonic maju bersamaan, aura hitam mereka menyatu seperti badai hidup.
“Dia pasti kembali!” raung salah satu dari mereka. “Habisi sebelum semuanya terlambat!”
Langit bergetar.
Sang master muncul.
Tanpa cahaya.
Tanpa suara.
Dua puluh menit kemudian—
Langit Wuhan dipenuhi darah hitam.
Tiga tetua Kultus Demonic terbelah bersih. Dua lainnya hancur bersama jiwa mereka sendiri.
Satu tersisa—berlutut di kawah, separuh tubuhnya lenyap.
“Separuh,” kata sang master pelan. “Cukup.”
Dia menghilang.
Di sisi lain medan perang—
Pemimpin Kultus Demonic tertawa.
Aura gelapnya meledak, menghantam barisan elit Aliansi Murim.
Tetua Aliansi maju untuk menahan.
Satu per satu—pedang patah, formasi runtuh, teknik warisan gagal berfungsi.
Dalam satu jam—
Separuh tetua Aliansi Murim tewas.
Yang tersisa mundur dengan wajah pucat.
Pemimpin Kultus berdiri di tengah kehancuran, darah menetes dari lengannya sendiri.
“Keseimbangan sudah mati,” katanya puas. “Sekarang dunia akan belajar.”
Lembah Sunyi
Yan Yu berlutut di samping Ci Lung.
Wajah Ci Lung pucat. Napasnya tipis.
Sistem berkedip pelan.
[Status Pengguna: Tidak sadar]
[Evaluasi: Dipaksa tumbuh]
[Catatan: Metode ekstrem — tidak direkomendasikan. Namun efektif.]
Langit jauh masih bergemuruh.
Hari kedua perang belum berakhir.
Dan Ci Lung—
belajar, bahkan saat dia tidak bisa membuka mata.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠