Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hampir satu jam lebih Nabila berada di pelukan Reynaldo. Dia menatap wajah pria yang kini menjadi suaminya dengan tatapan campuran suka dan tidak suka.
"Kau memang tampan tapi menyebalkan sekali!!" cicit Nabila pelan. Saat dia mengatakan itu, Reynaldo semakin membenamkan wajahnya di ceruk lehernya.
"Reynaldooo!! Bangunlah dong ini sudah siang aku lapar banget! Lagipula aku harus mengganti perban tanganku!!" ucap Nabila menggoyangkan tubuh Reynaldo yang masih terlelap.
"Hemm.." ucap Reynaldo mencoba sadar dari tidurnya yang sangat nyenyak – setelah sekian lama, dia baru bisa merasakan tidur yang pulas seperti ini sejak ibunya pergi. Perlahan dia melepaskan pelukan dari Nabila.
Dengan kesal, Nabila langsung bangkit dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Reynaldo yang masih mencoba mengumpulkan kesadaran setelah tidur yang cukup panjang.
"Mengapa aku bisa tidur selama ini bersamanya.." gumam Reynaldo dalam hati kemudian memutuskan untuk mandi di kamar itu.
Sementara itu, Nabila tidak langsung mandi melainkan bergegas ke ruang makan untuk mencari makanan.
"Makan ... Makannn.. aku ingin makannn..!" gerutu Nabila sambil berjalan cepat melewati koridor istana.
Di ruang makan, sudah ada Kepala Pelayan dan beberapa pelayan lainnya yang siap melayani.
"Siang Nyonya.." ucap Kepala Pelayan dengan ramah.
"Iya selamat siang Bu. Aku sangat lapar nih, mau makan dong – semua ini karena ulah playboy cap kadal air itu.." ucap Nabila yang masih kesal dengan Reynaldo. Kepala Pelayan hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang polos namun sedikit marah.
"Tunggu kenapa kau tertawa ya..??" ucap Nabila bingung melihat reaksi pelayan itu.
"Haha biasanya pasangan muda akan seperti itu Nyonya, kami paham kok.." ucap Kepala Pelayan dengan senyum polos.
"Wah wahhh ternyata kepala pelayan disini sama mesumnya dengan si kadal air.." ucap Nabila sambil meminum susu yang baru saja disajikan pelayan.
"Hahah Nyonya tidak usah malu, kami memang mengerti.." ucap Kepala Pelayan dengan nada santai.
"Sepertinya aku harus melaporkanmu ke Reynaldo karena menggodaku yah.." ucap Nabila tersenyum sambil menaikkan turunkan alisnya.
"Ti-tiiidakk Nyonya, maafkan kami.." ucap pelayan itu langsung takut ketika nama Reynaldo disebutkan.
"Hahahahhahah hahahahah kalian ternyata takut sama si kadal air ya. Harusnya jangan takut dong.. dia itu jelek, nyebelin, tukang selingkuh, gengsian, mesum, bahkan psikopat – semua capnya pas banget sama nama kadal air hahaha" ucap Nabila terus menjelekkan suaminya tanpa sadar bahwa orang tersebut sudah berdiri di belakangnya.
"Siapa yang kau katakan jelek! Nyebelin! Tukang selingkuh! Gengsian! Mesum! Dan psikopat, monyett kecil!!" ucap Reynaldo dengan nada datar sambil menarik sepotong roti yang baru saja Nabila olesi selai stroberi kemudian langsung memakannya.
"Heii itu rotiku kan!"
"Bayaran karena sudah mengumpati pemilik rumah ini! Dan kalian berani sekali berbicara tanpa hormat kepada Nyonya Rumah ini.." ucap Reynaldo menatap tajam kepada para pelayan.
"Kadal airrrr!!! Mengapa kau menatap mereka seperti itu!! Ada apa salahnya mereka bicara denganku?? Makanya jangan terlalu kaku dong, lihat aja kan tidak ada yang mau deket sama kamu!" ucap Nabila menarik balik rotinya dari tangan Reynaldo.
"Aku cuma takut mereka tidak menghormatimu!"
"Jangan terlalu berlebihan dong tentang hormat-hormat! Lagipula mereka saja yang mau dengerin cerita aku!"
"Susah memang ngomong sama monyet kecil! Tengil, bawel, nyebelin!"
"Astaghfirullah Yaholohhhh.. Tuhan Yesusku tolonglah! Ambil saja aku ya Tuhan, aku lelah banget meladeni kadal air kayak kamu!"
"Kau tidak perlu panggil dua Tuhan, satu saja sudah pasti pusing melihat tingkahmu!"
"Terserah kamu deh, lama-lama aku bakal tua kayak kamu kalau terus harus meladeni kadal air kayak kamu!"
"Tunggu apa?! Kau bilang aku tua!! Aku baru 26 tahun lho Monyet!"
"Hahaha kadal air gak sadar diri! Heii aku baru 19 tahun dan kamu 26 tahun – kan jelas aja kamu lebih tua dan nyebelin lagi!"
"Setidaknya banyak wanita yang mau hidup bareng aku lho! Aku tampan dan punya banyak uang!" ucap Reynaldo dengan sombong.
"Hahaha banyak yang mau hidup bareng kamu ya!! Terus kamu pikir kan luar sana nggak ada yang mau jadi suamiku..!! Hellooo bapak kadal air tua yang terhormat, kamu nggak liat aja kan banyak yang lebih cantik dari aku tuh hahh?? Kalau banyak yang mau bareng kamu, kenapa kamu memilih aku jadi istri kamu!!"
"Hanya karena kamu yang paling gila! Jadi pantas dibuat lebih gila lagi!" cetus Reynaldo tanpa berpikir panjang.
"Pelayan-pelayan, ada pisau daging nggak??" ucap Nabila berteriak.
"Untuk apa pisau daging??" tanya Reynaldo dengan sedikit khawatir.
"Aku mau potong sosis dong! Lalu aku bagi jadi 7 bagian terus buang ke kolam ikan aja deh!"
"Ahhhkkk shitt!! Mengapa kamu selalu mengancam sosisku Nabila!!" ucap Reynaldo spontan memegang bagian bawah tubuhnya dengan ekspresi ketakutan.
Para pengawal yang melihatnya hampir tidak bisa menahan tawa melihat wajah bos mereka yang biasanya tangguh kini seperti itu.
"Akhirnya bos menemukan orang yang bisa mengendalikan dia.." bisik salah satu pelayan kepada Kepala Pelayan.
Di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, seorang pria tampan yang merupakan salah satu putra tunggal dari keluarga terkaya di Hong Kong telah tiba dan segera menuju Kota Perak untuk bertemu sahabat kecilnya.
Pria tampan bernama Ryan Chen memiliki tinggi badan 192cm, kulit putih mulus, badan tegap dengan lesung pipi yang membuatnya semakin diminati banyak wanita.
"Setelah sepuluh tahun berlalu, aku harap kamu tidak sudah melupakanku ya Nabila.." gumam Ryan sambil mengemudikan mobil sportnya menuju rumah lama Nabila di Kota Perak.
Ryan adalah sahabat kecil Nabila – dia tiga tahun lebih tua darinya. Dulu mereka tinggal berdekatan dan Ryan sering menyaksikan pertengkaran orang tua Nabila. Setiap hari sebelum berangkat sekolah, Ryan selalu melihat Nabila keluar rumah dengan mata merah karena menangis, kemudian menghabiskan waktu di lapangan kecil dekat sekolah mereka. Bahkan Ryan selalu ada untuk melindungi Nabila ketika anak-anak nakal mengganggunya.
"Nabila.. aku sangat merindukanmu.." ucap Ryan yang kini sudah sampai di depan rumah lama Nabila. Dia masih ingat betul bentuk rumah itu – hampir tidak ada yang berubah, hanya sekitarnya yang kini sudah banyak berdiri rumah-rumah mewah.
"Kau siapa? Apa yang kau cari!!" ucap seorang pria yang hanya mengenakan boxer keluar dengan keadaan lusuh – dia adalah Rendra Patra, ayah kandung Nabila.
"Halo paman.. saya mau mencari Nabila. Apakah Nabila ada di sini??" ucap Ryan dengan sopan.
"Hahahah kau mencari gadis itu?! Aku sudah menjual dia – cari aja sendiri kalau mau ketemu!!" ucap Rendra kemudian langsung menutup pintu rumahnya.
"Dijual??!!" ucap Ryan heran dan langsung mengetuk pintu dengan keras, namun Rendra mengabaikannya.
"Sialann!! Bagaimana bisa dia menjual putrinya sendiri!!" umpat Ryan yang akhirnya terpaksa mendobrak pintu rumah itu dengan kuat agar bisa tahu dimana Nabila berada.
DUBBBBBBRAKKKKK!! Pintu kayu rumah itu hancur berkeping-keping.
Di dalam rumah, terlihat jelas Rendra sedang berhubungan badan dengan seorang wanita yang bukan istri kandung Nabila.
"What the Fuck!! Menjijikkan sekali!! Katakan padaku dimana Nabila berada sekarang!!" ucap Ryan dengan marah lalu menendang tubuh Rendra yang sedang mencumbu wanita itu.
"Sialann!! Kau siapa aja nih berani mengganggu kesenanganku!! Aku tidak tahu dimana dia berada.. kau harus mengganti kerusakan pintu ini!"
"Shitt!! Kau benar-benar bajingan bangsatt! Bagaimana bisa menjual anakmu sendiri! Kau pantas mati!!"
"Kau siapaaa untuk mengatur hidupku! Pergiii keluar dari sini dan bayar uang gantinya sekarang juga!" ucap Rendra menatap tajam ke arah Ryan.
Tanpa berkata apa-apa, Ryan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu rupiah dan melemparkannya ke wajah Rendra sebelum langsung meninggalkan rumah itu dengan hati yang sangat marah dan khawatir.
..."Nabila kamu ada dimanaaa..!!" ucap Ryan sambil mengemudikan mobilnya pulang ke apartemennya di Kota Perak. Dia sudah memutuskan akan melakukan segala cara untuk mencari tahu keberadaan Nabila....