NovelToon NovelToon
Still You

Still You

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.

Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.

Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.

Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.

Still you.

Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Semakin Tipis

Pagi di vila itu datang dengan cahaya matahari yang masuk malu-malu dari sela tirai.

Aurora bangun lebih dulu.

Ia berjalan ke dapur kecil vila dengan rambut masih sedikit berantakan. Melihat bahan makanan sederhana yang disiapkan staf semalam, ia tersenyum kecil.

“Baiklah,” gumamnya. “Mari kita uji tangan pewaris kerajaan bisnis ini.”

Lima belas menit kemudian.....

Aroma telur gosong memenuhi ruangan.

“Sepertinya ada yang terbakar,” suara berat itu terdengar dari belakang.

Aurora terlonjak.

Arka berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung. Rambutnya masih sedikit basah.

Aurora menatapnya sebentar… terlalu lama.

“Jangan menatap seperti itu,” ucap Arka datar.

Aurora tersadar. “Seperti apa?”

“Seolah aku penyebab kebakaran.”

Aurora mendengus. “Ini kecelakaan dapur, bukan sabotase.”

Arka melangkah mendekat, melihat wajan yang isinya sudah terlalu cokelat.

“Ini bukan cokelat,” komentarnya.

“Ini… versi matang maksimal.”

Arka menahan senyum.

“Menjauhlah.”duduk manis dimeja makan”

“Niat membantu malah diusir.”gerutu Aurora

“Bukan diusir. Diselamatkan.”gumam Arka

Aurora menyilangkan tangan, pura-pura kesal, tapi tetap memperhatikan saat Arka dengan cekatan memecahkan telur baru.

“Sejak kapan kamu bisa masak?” tanyanya.

“Sejak aku tidak suka bergantung pada orang lain.”

Nada itu terdengar serius, tapi caranya mengaduk telur begitu tenang, hampir… domestik.

 Aurora tersenyum kecil.

“Kalau begitu, saya beruntung.”

Arka meliriknya. “Beruntung?”

“Kalau kita terdampar, setidaknya saya tidak mati kelaparan.”Aurora tertawa

Arka menghela napas pelan.

“Kamu terlalu banyak bicara.”

“Tapi kamu tetap mendengarkan.”sahut Ara

Hening sepersekian detik.

Dan kali ini Arka tidak menyangkal.

 Setelah sarapan—yang ternyata jauh lebih enak versi Arka—mereka menuju lokasi proyek dengan mobil jeep sewaan.

 Jalanan berbatu membuat mobil sedikit berguncang.

Aurora mencoba membaca dokumen di pangkuannya.

 “Kalau pusing, jangan salahkan aku,” ujar Arka tanpa menoleh.

“Saya tidak pusing.”

Dua detik kemudian—

Mobil melewati batu besar.

Dokumen Aurora terlempar, dan ia hampir kehilangan keseimbangan.

Arka refleks menahan bahunya.

“Kamu selalu bilang tidak apa-apa sebelum terjadi sesuatu.”

Aurora menatap tangannya yang masih memegang bahunya.

“Dan kamu selalu menangkap, sebelum saya benar-benar jatuh.”

Mata mereka bertemu.

 Lagi.

Jarak itu semakin tipis.

Arka cepat menarik tangannya kembali, kembali fokus ke jalan.

“Refleks,” katanya singkat.

Aurora tersenyum kecil. “Saya tidak keberatan kalau refleks itu dipertahankan.”

Sudut bibir Arka kembali bergerak, senyum smirk

Dan kali ini, ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Siang itu pekerjaan selesai lebih cepat dari perkiraan.

Semuanya berjalan dengan lancar .

 Mereka duduk di tangga kayu dekat dermaga kecil, menikmati es kelapa yang dibeli dari pedagang setempat.

Aurora menyeruput minumannya pelan.

“Boleh saya jujur?”Aurora bertanya

Arka menatap laut. “Biasanya kamu tetap jujur tanpa izin.”

Aurora terkekeh.

“Saya kira kamu tidak menyukai saya.”

“Saya memang curiga padamu.”

“Wah, romantis sekali.”

Arka menoleh pelan.

“Aku tidak membenci orang yang membuatku penasaran.”

Kalimat itu menggantung.

Aurora menatapnya lama.

“Dan sekarang?”

 “Sekarang…” Arka berpikir sejenak. “Kamu lebih menyebalkan dari yang kukira.”

 Aurora tertawa lepas.

“Kenapa?”

“Karena aku jadi tidak bisa berpikir jernih.”

Jantung Aurora berhenti sesaat.

Arka sadar kalimatnya terlalu jujur.

Ia berdeham ringan. “Dalam urusan proyek.”

Aurora tersenyum lebar.

“Tentu saja. Proyek.”

Mereka saling pandang.

Dan tanpa disadari....

 Tawa kecil mereka terdengar ringan. Seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal.

Seperti masa kecil yang samar itu.

 Sore menjelang malam.

Angin pantai lebih tenang.

Aurora berdiri menghadap laut, rambutnya tertiup angin.

Arka berdiri di sampingnya.

“Arka,” panggil Aurora pelan.

Ia jarang memanggil namanya tanpa embel-embel formal.

Arka menoleh.

“Kalau suatu hari nanti… ternyata aku bukan seperti yang kamu kira, apa kamu akan tetap berbicara denganku seperti ini?”

 Pertanyaan itu terdengar ringan.

Tapi matanya tidak.

Arka menatapnya lebih lama.

“Aku tidak pernah menilai orang dari cerita orang lain.”

 Aurora tersenyum.

“Lalu dari apa?”

“Dari caranya berdiri saat dunia mencoba menjatuhkannya.”

Aurora terdiam.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia merasa aman.

Di sisi pria yang seharusnya menjadi musuh keluarganya.

 Ironis.

Indah.

Dan berbahaya.

Malam itu, sebelum masuk ke kamar masing-masing—

Aurora berhenti di depan pintunya.

“Arka.”

“Hm?”

“Terima kasih sudah menyelamatkan sarapan saya.”

“Itu bukan menyelamatkan. Itu mencegah tragedi.”

Aurora tersenyum geli.

“Ahhh....Kalau begitu… terima kasih sudah mencegah tragedi.”

Arka menatapnya sebentar.

“Selamat malam, Ara.”

Cara ia menyebut namanya membuat sesuatu di dada Aurora menghangat.

“Selamat malam… Arka.”

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—

Tidak ada kecurigaan.

Tidak ada bayangan dendam.

Hanya dua orang yang perlahan jatuh…. tanpa menyadarinya.

1
Azahra Wicaksono
👏👏 happy ending 🥰
Retno Isusiloningtyas
aaaaaaa.....
😭😭😭
Azahra Wicaksono
bagus banget thorr nangis aku tuh😭 kasian Aurora
Azahra Wicaksono
suka banget visualnya thorrr😍
Agustin Hariyani: terimakasih readers ku...
total 1 replies
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr👍
Azahra Wicaksono
seru bangettt thorrr, lanjutttt
Azahra Wicaksono
suka bangetttt😍
Azahra Wicaksono
makin seru thorrr🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!