Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lilis
"Bi Tari..."
"Astagfirullah Bu Aisyah, ko Bu Aisyah pulang lagi?" tanya Tari yang sedang mengupas buah untuk dia simpan di kulkas.
"Iya bi, Ais agak sedikit pusing, nanti Adis di jemput mas Anjas, mbak Lilis mana bi?" tanya Aisyah
"Jam segini biasanya Lilis sedang mencuci Bu" jawab Tari
"Saya ada perlu dengan Lilis, bibi istirahat saja karena sejak pagi bibi sibuk menyiapkan sarapan" ucap Aisyah mengusap punggung Tari yang mengangguk sopan.
Tari berjalan ke arah samping dapur di mana kamarnya berada, bahkan Aisyah bisa melihat Tari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya kembali. Buah yang masih belum selesai di potong Tari di masukkan Aisyah ke dalam kulkas, dia lalu berjalan ke arah halaman belakang tempat biasa Lilis mencuci.
Tapi saat sampai, Lilis bukan mencuci, dia sedang menelepon Kunto, Aisyah tetap berada di belakang Lilis dan mendengarkan semua yang Lilis sampaikan pada ayah angkatnya itu, semuanya adalah tentang Anjas dan semua penghuni rumah.
"Iya yah, ayah bayangkan saja setiap malam sekarang selalu terdengar suara tertawa kuntilanak, Lilis takut, pak Anjas juga sekarang sudah tidak meminum kopi ataupun memakan makanan yang Lilis buat, sekarang yang bertanggung jawab memasak adalah Bi Tari" ucap Lilis
"Apa mungkin Anjas tahu kalau kamu adalah mata mata di rumah itu?" tanya Kunto
"Lilis tidak tahu yah, tapi Lilis tidak pernah melakukan hal yang mencurigakan di depan pak Anjas" jawab Lilis
"Bagaimana dengan anaknya? kamu memperlakukan dia dengan baik kan?" tanya Kunto
"Iya yah, tapi akhir akhir ini Lilis sering kesal karena pak Anjas tidak mau menganggap Lilis, biasanya pak Anjas selalu ramah dan mau meminum kopi buatan Lilis, jadi sesekali Lilis membentak Adisti dan sekarang Adisti juga tidak pernah mendekati Lilis lagi" jawab Lilis
"Lilis, kamu harus hati hati dengan istri Anjas, aku takut nasib kamu berakhir seperti Triana, jangan pernah dekat dekat dengan dia" ucap Kunto
"Memangnya dia kenapa yah? orangnya terlihat rapuh sekali, mungkin kalau Lilis dorong dia dari tangga orang juga tidak akan curiga, orangnya juga tidak pernah berpikiran buruk pada orang lain" ucap Lilis
"Dia berbahaya Lilis, bahkan mungkin Anjas juga tidak tahu siapa istrinya sebenarnya makanya Anjas menikah dengan dia" ucap Kunto
"Dia akan Lilis urus pa, Lilis akan melakukan sesuatu supaya pak Anjas kembali" jawab Lilis lalu mengakhiri panggilan itu.
"Aku yang harus jadi nyonya di rumah ini.... "
"Benarkah?" tanya Aisyah
Deg.
Lilis berbalik dan dia terkejut saat melihat Aisyah sedang tersenyum sinis ke arahnya, Lilis tidak tahu kapan Aisyah sudah berdiri di belakangnya karena dia sama sekali tidak bisa merasakan kedatangan Aisyah.
"Bu Aisyah" kagetnya segera memasukkan handphone miliknya ke dalam saku.
"Bi Tari bilang kamu sedang mencuci tapi ternyata kamu sedang menggosipkan tuan rumah di sini" sinis Aisyah
"Ma.. maafkan saya Bu, saya tidak bermaksud seperti itu" ungkap Lilis menunduk takut
"Aku sudah mendengarnya semuanya Lilis, kamu tahu apa yang harus di lakukan pada seorang pengkhianat?" tanya Aisyah maju mendekat.
Lilis terus mundur karena dia panik, tapi saat melihat tubuh Aisyah yang tidak lebih besar darinya, muncul niat jahat dalam diri Lilis, dia ingin mencelakai Aisyah dan membuat Aisyah lenyap.
"Iya, aku memang pengkhianat, dan aku akan membuat kamu lenyap, kamu tidak pantas bersanding bersama pak Anjas dengan tubuh lemah kamu itu" ucap Lilis yang tiba tiba maju dan sekarang sudah berhadapan dengan Aisyah.
Tatapan keduanya sama tajamnya, tapi ada yang tidak Lilis ketahui, orang yang berdiri di hadapannya sekarang, tubuh kecil yang tidak lebih tinggi dari dia itu bukanlah Aisyah, dia adalah khodam Aisyah, Martini.
"Hihihihi...."
"Kenapa tertawa seperti itu!" bentak Lilis mencekik sosok Aisyah
"Nduk... hati hati saat melangkah, di belakang kamu itu adalah jurang" bisiknya membuat Lilis mengernyitkan alisnya karena di belakang Lilis hanya halaman berumput yang rata.
"Dasar perempuan miskin! bermimpi jadi nyonya di sini tapi aku tidak akan pernah mengakui kamu sebagai nyonya rumah ini!" bentak Lilis
"Benarkah? lalu siapa yang berhak jadi nyonya di sini? kamu anak Kunto!" bentak balik sosok Aisyah membuat Lilis terkejut.
"Kamu... tahu siapa aku?"
Grep.
"Hhkkkk..... le... lepas!" ucap Lilis dengan nafas tersengal karena lehernya juga di cekik sosok Aisyah
"Aku tahu siapa kamu, Kamu sudah membahayakan anakku, kamu juga berniat jahat pada cucuku, aku tidak akan membiarkan itu" ucap sosok Aisyah yang sekarang suaranya berubah menjadi suara seorang nenek nenek.
"Si.. siapa kamu!"
"Hihihi.... hhkkkk Cuih!"
"Aakhhhh panas!"
Bruk.
Lilis memekik saat sosok Aisyah meludahi wajahnya dan membuat mata Lilis kepanasan, bahkan Lilis terus berguling guling di lantai saking panasnya ludah Martini.
"Itu adalah hadiah dariku! perempuan licik!" bentak
"Aakhhh! tolong! tolong!" teriak Lilis
"Hihihi.... tidak ada yang bisa mendengar kamu di sini, karena saat ingin kamu tidak sedang berada di rumah nduk, buka mata kamu" ucap Martini
Lilis membuka sedikit demi sedikit matanya yang masih terasa perih dan panas, dan saat mata itu terbuka, dia begitu terkejut karena dia tidak berada di rumah Anjas, tapi berada di pinggir jurang terjal dan di bawahnya banyak pohon bambu yang sudah terpotong.
"Ti.. tidak, ini di mana? bi Tari! tolong siapapun tolong aku!" teriak Lilis melihat ke sekeliling berharap bisa menemukan seseorang di sana, tapi yang ada di hadapannya sekarang adalah sosok Martini yang sedang tersenyum lebar ka arahnya dengan tangan di lipat ke belakang.
"Siapapun kamu, tolong biarkan aku pergi, aku tidak mau ada di sini! kenapa kamu melakukan ini padaku!" ucap Lilis
"Kenapa? tentu saja karena kamu punya niat jahat pada anak dan cucuku!" jawab Martini
"Tolonggg!"
"Hihihihi.. selamat datang di alam Kinasih di mana saat manusia sudah masuk ke dalamnya, tak ada jalan untuk kembali"