Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung
Udara pagi masih terasa sejuk dan jalanan belum terlalu ramai, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas di persimpangan. Di kursi depan sopir papa pak taryo, mengemudi dengan santai. Zea duduk di kursi belakang di samping papanya, ia menatap jalanan dari balik jendela mobil memperhatikan langit pagi yang perlahan mulai terang.
Beberapa menit perjalanan berlalu dalam suasana yang tenang, tiba-tiba zea sedikit mencondongkan badan ke depan. "Pak, boleh berhenti sebentar di toko buah depan itu?" katanya pada sopir.
Sopir langsung mengangguk. "Baik non."
Mobil perlahan menepi di depan sebuah toko buah kecil yang sudah buka sejak pagi.
Papa menoleh ke arah zea. "Mau beli apa?"
"Zea mau beli buah dulu, pa." jawab zea sambil membuka pintu mobil.
Papa hanya mengangguk kecil, zea berjalan masuk ke toko buah itu di sana beberapa keranjang buah tersusun rapi di meja kayu apel merah, jeruk, pir, dan anggur segar yang masih tampak berembun.
Ia memilih beberapa apel merah dan beberapa jeruk yang terlihat segar, lalu menyerahkannya pada penjual untuk dimasukkan ke dalam kantong.
Penjual buah itu tersenyum ramah. "Apelnya baru datang pagi ini dek, manis."
Zea mengangguk kecil, penjual itu menimbang buahnya sebentar lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik.
"Totalnya dua puluh delapan ribu." kata penjual itu.
Zea membuka dompet kecilnya dan mengeluarkan uang lima puluh ribu, lalu menyerahkannya pada penjual. "Ini kak."
Penjual menerima uang itu lalu memberikan kembaliannya. "Terima kasih."
Zea menerima kantong buah dan kembalian itu dengan sopan. "Iya, terima kasih juga."
Setelah itu zea kembali ke mobil sambil membawa kantong buah di tangannya, ia membuka pintu belakang dan duduk kembali di samping papanya.
"Buat pak rio?” tanya papa.
Zea mengangguk kecil sambil meletakkan kantong buah di pangkuannya. "Iya pa."
Papa tersenyum tipis. "Pak rio pasti senang."
Sopir kembali menyalakan mobil dan perlahan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
Jalanan pagi mulai sedikit lebih ramai dibanding beberapa menit lalu, kendaraan mulai berdatangan dan toko-toko juga sudah banyak yang membuka pintunya. Zea menatap keluar jendela mobil sambil sesekali melihat kantong buah yang ada di pangkuannya.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki area rumah sakit, pak taryo memarkirkan mobil di dekat pintu masuk utama.
"Sudah sampai, tuan." kata pak taryo.
Papa membuka pintu mobil lalu zea ikut turun sambil membawa kantong buahnya. Mereka berjalan menuju ruang perawatan dengan langkah tenang, koridor rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai hanya beberapa perawat yang berjalan membawa berkas.
Saat pintu kamar dibuka, pak rio terlihat sudah duduk lebih tegak dibanding kemarin. Perban masih menempel di keningnya dan tangan kirinya masih digendong, namun wajahnya terlihat lebih segar.
Matanya langsung berbinar ketika melihat Zea masuk. "Tuan, non zea…." katanya pelan.
Pak Rio terlihat sedikit terkejut sekaligus senang melihat mereka datang pagi-pagi. Zea tersenyum kecil lalu berjalan mendekat ke ranjang pasien, kantong buah yang tadi ia beli masih di pegangnya.
"Gimana pak? udah enakan?" tanya zea pelan.
Pak rio mengangguk pelan. "Alhamdulillah sudah mendingan non."
"Tetap harus banyak istirahat rio, jangan terlalu banyak bergerak dulu." kata papa zea.
"Iya tuan." jawab pak rio patuh.
Zea kemudian mengangkat sedikit kantong buah yang ia bawa. "Ini pak, tadi zea beli buah buat pak rio."
Pak rio langsung terlihat terharu. "Aduh non, repot-repot sekali."
Zea menggeleng pelan. "Nggak repot kok pak."
Papa lalu mengambil kantong buah dari tangan zea dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.
Papa menepuk pelan bahu pak rio. "Rio, istirahat yang banyak jangan mikirin pekerjaan dulu."
"Iya tuan." jawab pak rio.
Beberapa menit mereka berbincang ringan, lalu zea melirik jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan bahwa ia harus segera berangkat ke sekolah.
Zea menoleh pada papanya. "Pa, zea udah harus ke sekolah."
Papa ikut melihat jam tangannya lalu mengangguk. "Ya sudah, kita berangkat sekarang."
"Pak rio, cepat sembuh ya." kata zea tersenyum kecil.
"Amin non, terima kasih sudah datang." jawab pak rio.
"Iya pak sama-sama, zea berangkat sekolah dulu ya." pamit zea
"Iya non, belajar yang rajin." kata pak rio
"Okee...." ujar zea.
Setelahnya zea dan papa keluar dari kamar perawatan, mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang masih cukup tenang di pagi hari. Sesampainya di depan pintu masuk, pak taryo sudah berdiri di dekat mobil.
Papa membuka pintu mobil untuk zea. "Ayo."
Zea masuk ke kursi belakang, duduk di sebelah papanya, setelah itu pak taryo kembali ke kursi kemudi dan menyalakan mobil. Mobil perlahan keluar dari area rumah sakit dan kembali ke jalan raya.
Beberapa menit perjalanan berlalu suasana di dalam mobil cukup tenang, zea menatap keluar jendela melihat kendaraan yang mulai ramai dan toko-toko sudah mulai banyak terbuka.
Papa kemudian menoleh ke arahnya. "Hari ini pelajaran apa saja ze?"
"Matematika, penjas, bahasa Indonesia sama seni budaya pa." jawab zea.
"Latihan basket?" tanya papa.
"Lusa." jawab zea.
Papa mengangguk kecil. "Belajar yang rajin tidak usah petantang-petenteng disekolah." kata papanya dengan sedikit candaan.
"Iya pa." jawab zea pelan sambil tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian gerbang sekolah mulai terlihat di depan, suasana sudah cukup ramai oleh para siswa yang baru datang, pak taryo menepikan mobil didepan gerbang.
"Sudah sampai non." kata pak taryo.
Sebelum turun zea meraih tasnya memastikan buku dan botol minumnya sudah ada di dalam tas lalu ia turun dari mobil dan menutup pintunya dengan pelan
"Makasih pak."
"Iya non." jawab pak taryo.
Papa menoleh ke arahnya. "Nanti setelah pulang sekolah langsung pulang, ya."
Zea mengangguk. "Siap pa."
"Jangan lupa makan siang ze." ujar papanya.
"Iya papaku sayang." jawab zea tersenyum senang.
Lalu ia menyalimi papanya dan berjalan masuk melewati gerbang sekolah, bergabung dengan siswa-siswi lain yang mulai memenuhi halaman sekolah pagi itu.
Suasana pagi di sekolah sudah cukup ramai, suara obrolan siswa terdengar dari berbagai arah, beberapa guru juga terlihat berjalan menuju ruang kelas. Zea melangkah dengan santai melewati halaman menuju kelasnya.
Di koridor beberapa temannya menyapa, zea membalas dengan senyum tipis tapi ia tidak terlalu banyak bicara. Suasana pagi terasa lebih pelan dibanding biasanya, tidak ada hiruk-pikuk drama kecil hanya sapaan singkat dan langkah kaki para siswa berjalan menuju kelas masing-masing.
Sesampainya di kelas, Zea meletakkan tasnya di bangkunya lalu menata buku dan alat tulisnya dengan rapi. Ia duduk dekat jendela, menatap cahaya pagi masuk pelan melalui tirai dan mengambil napas dalam sebelum pelajaran dimulai.
Bersambung