Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Kembali
Kediaman Menteri Bai tampak megah dengan lampion-lampion merah yang bergoyang tertiup angin sore. Menteri Bai dan Nyonya Bai Yun sudah berdiri di depan gerbang dengan wajah yang tidak sabar. Di samping mereka, Bai Rui tampil sangat mempesona dengan gaun sutra barunya, siap memamerkan kemesraannya jika saja Pangeran Kedua juga datang berkunjung.
"Kenapa mereka lama sekali? Apa Pangeran Idiot itu tersesat di jalan?" gerutu Nyonya Bai Yun sambil mengipasi wajahnya yang tebal dengan bedak.
"Mungkin mereka sudah mati di Jalur Hutan Bambu," bisik Bai Rui dengan senyum jahat yang tersembunyi di balik kipasnya.
Namun, suara derap kaki kuda tunggal memecah keheningan. Dari kejauhan, tampak seekor kuda hitam besar berlari kencang. Di atasnya, seorang pria berpakaian merah kusut sedang memacu kuda dengan cara yang terlihat sangat ceroboh, sementara seorang wanita meringkuk di dalam dekapannya.
Cittt!
Kuda itu berhenti mendadak tepat di depan undakan tangga gerbang, membuat Menteri Bai mundur selangkah karena kaget.
"Istri! Kita sampai! Rumah besar! Ada kue!" teriak Wan Long dengan suara cemprengnya yang khas.
Wan Long melompat turun dari kuda dengan gerakan yang terlihat seperti terjatuh, namun sebenarnya ia mendarat dengan stabil. Ia kemudian mengangkat tubuh Bai Hua dari punggung kuda. Pemandangan itu membuat semua orang tertegun.
Bai Hua tidak membawa kursi rodanya. Pakaian yang ia gunakan sedikit robek di bagian lengan, dan wajahnya pucat pasi. Wan Long menggendongnya secara horizontal, seperti gaya pengantin, namun dengan cara yang terlihat canggung seolah ia sedang membawa karung beras yang berat.
"Hua'er? Mana kursi rodamu? Dan kenapa pakaianmu berantakan seperti itu?" tanya Menteri Bai dengan nada curiga dan marah.
Bai Hua menatap ayahnya dengan tatapan dingin yang membuat Menteri Bai merasa seperti ditusuk es. "Kursi rodanya dimakan hantu hutan, Ayah," sahut Bai Hua datar.
"Iya! Hantu! Hantunya pakai baju hitam-hitam, terus mereka menari-nari dengan pisau! Wan Long takut, jadi Wan Long ajak istri terbang!" Wan Long menimpali sambil tertawa bodoh dan memutar-mutar kincir anginnya yang entah bagaimana masih ia pegang.
Menteri Bai dan Nyonya Bai Yun saling berpandangan. Hantu baju hitam? Pisau? Mereka tahu itu adalah kode untuk pembunuh bayaran yang dikirim Wan Jin. Namun, melihat Wan Long dan Bai Hua masih hidup tanpa luka serius, mereka merasa ada yang tidak beres.
"Sudahlah, masuklah. Memalukan sekali berdiri di depan gerbang dalam kondisi seperti ini," perintah Menteri Bai ketus.
Karena tidak ada kursi roda, Wan Long terus menggendong Bai Hua masuk ke dalam aula utama. Sepanjang jalan, para pelayan berbisik-bisik, menertawakan Pangeran yang menggendong istrinya seperti orang gila.
Di aula utama, jamuan makan malam sudah disiapkan. Bau hidangan mewah tercium, namun bagi Bai Hua, bau itu tercium seperti aroma kematian.
Wan Long mendudukkan Bai Hua di sebuah kursi kayu yang dialasi bantal tipis. Ia sendiri duduk di lantai di samping kaki Bai Hua, menolak untuk duduk di kursi yang disediakan.
"Istri, aku lapar! Mau daging!" Wan Long mulai meraih piring daging rusa di tengah meja.
"Pangeran, harap jaga tata krama Anda," tegur Nyonya Bai Yun dengan nada merendahkan. "Di rumah ini, kami makan dengan sopan."
Bai Rui menyandarkan tubuhnya ke arah Bai Hua. "Kasihan sekali Kakak. Pulang ke rumah tanpa kursi roda, digendong oleh pria gila yang bahkan tidak tahu cara memakai sumpit. Oh, omong-omong Kakak, apa Pangeran Kedua mengirimkan salam untukmu?"
Bai Hua menyeringai tipis. Ia meraba saku hanfu-nya, merasakan benda logam kecil di sana. "Oh, soal Pangeran Kedua, dia sangat murah hati tadi pagi di taman istana. Bahkan, dia memberikan sebuah kenang-kenangan yang sangat berharga. Aku pikir benda ini milikmu, Adik Rui."
Bai Hua mengeluarkan bros emas berbentuk merak milik Bai Rui dan meletakkannya di atas meja giok.
Ting.
Mata Bai Rui membelalak. Ia refleks meraba dadanya yang kosong. Itu adalah bros kesayangannya yang hilang saat jamuan teh kemarin. Nyonya Bai Yun juga tersentak, wajahnya berubah pucat.
"Itu... itu brosku! Bagaimana bisa ada padamu?!" pekik Bai Rui.
"Pangeran Kedua memberikannya padaku," ucap Bai Hua pelan, namun setiap katanya seperti hantaman palu. "Dia bilang, bros ini jatuh saat ia... berkunjung ke kamarmu malam-malam. Dia memintaku mengembalikannya padamu agar tidak ada salah paham dengan Ayah."
Aula itu seketika menjadi sunyi senyap. Wajah Menteri Bai berubah dari merah menjadi ungu karena marah. Berkunjung ke kamar malam-malam? Itu adalah skandal besar bagi seorang gadis yang belum menikah.
"APA?!" bentak Menteri Bai sambil menggebrak meja. "Rui'er! Apa maksudnya ini?!"
"Tidak Ayah! Kakak bohong! Aku tidak pernah---"
"Iya! Iya!" Wan Long tiba-tiba berteriak sambil bertepuk tangan. "Kakak Jin bilang bros itu harum seperti bunga! Wan Long mau cium tapi dilarang! Kakak Jin bilang itu rahasia mereka berdua! Hihihi!"
Wan Long menambahkan bumbu pada kebohongan itu dengan sangat sempurna.
Bai Rui mulai menangis keras, sementara Nyonya Bai Yun berusaha membela anaknya dengan suara gemetar. Di tengah kekacauan itu, Bai Hua hanya duduk diam, menikmati setiap detik kehancuran mental keluarga yang pernah menyiksanya.
Namun, di tengah kemarahan Menteri Bai, Wan Long tiba-tiba berhenti tertawa. Matanya yang tajam melirik ke arah mangkuk sup yang baru saja diletakkan di depan Bai Hua. Ia mencium sesuatu yang sangat samar, aroma yang ia kenal dari laboratorium forensik.
"Istri! Lihat! Ada lalat di supmu!" Wan Long tiba-tiba menyambar mangkuk sup Bai Hua dan menumpahkannya ke lantai.
Sssss...
Lantai batu di bawah sup itu mengeluarkan buih halus dan aroma asam yang tajam. Sianida jenis kuno.
Bai Hua menatap genangan sup itu, lalu menatap Nyonya Bai Yun yang kini gemetar ketakutan karena dua hal. Skandal anaknya dan percobaan pembunuhan yang gagal.
Setelah dapat mahar kau mau langsung bunuh aku?
"Sepertinya," bisik Bai Hua sambil menatap ayahnya, "ada yang sangat ingin aku tidak kembali ke istana hidup-hidup malam ini."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa