NovelToon NovelToon
Sinyal Dari Lantai 4.5

Sinyal Dari Lantai 4.5

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Action / Tamat
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.

Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang Nyawa

Mobil pick-up tua itu melaju pincang membelah aspal Jakarta yang basah. Di kursi belakang, Genta merasa seperti sedang duduk di atas kursi elektrik. Setiap kali mobil menghantam lubang kecil di jalan, kepalanya terbentur langit-langit kabin. Padahal Sarah sudah menyetir dengan sangat hati-hati, namun "Hutang Sial" Genta yang mencapai minus 600 membuat jalanan yang mulus pun terasa seperti medan perang.

"Aduh! Sarah, pelan-pelan! Kamu mau bikin otakku jadi bubur?" keluh Genta sambil memegangi kepalanya yang sudah benjol tiga.

"Itu bukan salahku, Genta! Ban kiri belakang tiba-tiba kempes sendiri setiap lima menit. Aku sudah memompanya tiga kali, tapi lubangnya muncul entah dari mana. Itu bukan bocor biasa, itu bocor konspirasi!" sahut Sarah tanpa menoleh, matanya awas memperhatikan spion.

Aki, yang duduk di tengah, hanya bisa mendesah panjang sambil mengelus remote "The Shifter" yang kini dibungkus kain perak untuk meredam sinyalnya. "Hutangmu sudah terlalu besar, Nak. Alam semesta sedang berusaha menyeimbangkan diri. Kalau kamu tidak segera sampai ke bunker itu, aku khawatir ban mobil ini akan lepas dan terbang menghantam gerobak nasi goreng, lalu meledak bersama kita di dalamnya."

"Terima kasih atas motivasinya, Ki. Sangat menenangkan," sindir Genta.

Mereka memasuki kawasan Menteng. Di sini, suasana berubah drastis. Pohon-pohon mahoni besar yang berusia ratusan tahun berdiri kaku di pinggir jalan, memayungi rumah-rumah megah bergaya kolonial yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di balik pagar-pagar itu, Genta bisa melihat taman-taman yang sangat rapi terlalu rapi untuk ukuran Jakarta. Tidak ada sampah plastik, tidak ada kucing liar, bahkan tidak ada daun kering yang jatuh sembarangan.

"Tempat ini aneh," bisik Genta. "Rasanya seperti masuk ke dalam set film yang belum selesai."

"Ini adalah Zona Putih," Sarah menjelaskan sambil memperlambat laju mobil. "Di sini, Index Keberuntungan penduduknya selalu dijaga di angka positif sepuluh ribu. Orang-orang yang tinggal di sini tidak pernah merasakan macet, tidak pernah salah pesan makanan, dan kalau mereka menjatuhkan ponsel, layarnya tidak akan pernah retak. Mereka adalah peliharaan kesayangan Konsorsium."

Genta menatap rumah-rumah itu dengan rasa iri sekaligus ngeri. "Jadi, semua kenyamanan mereka ini dibayar pakai kesialan orang-orang seperti saya?"

"Tepat," jawab Aki. "Dunia ini adalah sistem tertutup. Keberuntungan adalah energi. Kalau di sini surplus, berarti di tempat lain ada yang defisit. Dan saat ini, kamu adalah titik defisit terdalam di planet ini."

Tiba-tiba, mobil pick-up itu mengerem mendadak. Di depan mereka, sebuah portal keamanan otomatis tertutup tanpa alasan yang jelas. Seorang petugas keamanan dengan seragam yang saking rapinya terlihat seperti seragam astronot, mendekat sambil memegang alat pemindai retina.

"Waduh, kita ketahuan?" Genta mulai panik.

"Tenang. Tetaplah terlihat bodoh, itu spesialisasi kamu," bisik Sarah.

Petugas itu mengetuk kaca jendela. Sarah menurunkannya sedikit, memasang wajah paling ramah wajah yang biasa dia pakai saat menghadapi pelanggan minimarket yang mau tukar poin tapi kartunya sudah kadaluwarsa.

"Maaf, Mbak. Area ini sedang dalam sterilisasi rutin. Ada laporan gangguan frekuensi di sekitar sini. Bisa tunjukkan izin masuknya?" tanya petugas itu. Suaranya sangat sopan, tapi matanya dingin seperti robot.

"Aduh, maaf Pak. Kami ini kurir beras pesanan Ibu Ratna di nomor empat puluh lima. Ini nota pengirimannya," Sarah menyodorkan selembar struk belanja yang sudah dimodifikasi dengan printer portabel di bawah kursi.

Petugas itu memindai struk tersebut. Sesaat, suasananya menjadi sunyi. Genta bisa merasakan keringatnya jatuh mengenai remote di dalam sakunya. Dan saat itulah, kesialan Genta beraksi lagi.

Seekor burung merpati yang terbang di atas mereka tiba-tiba mengalami kram sayap dan jatuh tepat di atas pundak petugas keamanan tersebut. Petugas itu kaget, refleks melompat ke belakang, dan alat pemindainya jatuh ke lantai lalu terinjak oleh kakinya sendiri.

KREEK !..

Wajah petugas itu berubah dari ramah menjadi sangat bingung. "Ini... ini tidak mungkin. Peralatan saya tidak pernah rusak selama sepuluh tahun bekerja di sini."

"Waduh, Pak. Kayaknya burungnya lagi stres itu. Mau kami bantu?" tanya Genta dengan polosnya.

Sarah tidak menunggu jawaban. Dia melihat celah saat portal itu sedikit terbuka akibat korsleting alat pemindai tadi. Dia langsung menginjak gas sedalam-dalamnya. Mobil pick-up itu menderu, meninggalkan petugas yang masih bengong menatap burung merpati di bahunya.

"Genta! Kamu baru saja hampir bikin kita ditangkap!" teriak Sarah sambil bermanuver di tikungan tajam.

"Loh, kan burungnya yang jatuh! Masa saya yang disalahin?" bela Genta.

"Itu efek resonansi dari minus enam ratusmu! Kejadian mustahil akan terus terjadi di sekitarmu sampai sistemnya meledak!" Aki memperingatkan.

Mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan tua dengan papan nama pudar: **Panti Jompo 'Kasih Abadi'**. Bangunannya terlihat sangat tua, dengan tembok yang mulai mengelupas dan akar pohon beringin yang merambat di sela-sela jendela. Kontras sekali dengan rumah-rumah mewah di sekelilingnya.

"Kita sampai. Panti jompo ini adalah kamuflase paling sempurna," ujar Sarah. Dia memarkir mobil di bawah pohon rindang, lalu mereka bertiga turun dengan waspada.

Genta membawa tas berisi peralatan teknisinya. Kunci inggris, obeng, dan tentu saja remote The Shifter yang kini terasa semakin panas. Saat mereka melangkah masuk ke lobi panti, bau obat-obatan dan minyak kayu putih langsung menusuk hidung. Beberapa orang tua tampak duduk di kursi roda, menatap kosong ke arah televisi tua yang hanya menampilkan bintik-bintik putih.

"Permisi, kami mau menjenguk... eh, kakek kami?" Genta mencoba berakting.

Seorang perawat dengan wajah pucat dan gerakan kaku seperti robot menyambut mereka. "Nama kakek Anda?"

"Kakek... Anu... Kakek Sugiono?" jawab Genta asal.

Aki menepuk jidatnya sendiri. "Bego. Bilang saja kita mau ke bagian 'Pemeliharaan Jaringan'."

Mendengar kata-kata itu, perawat tersebut tiba-tiba berhenti bergerak. Matanya berkedip dengan pola yang aneh, lalu dia memberikan jalan. "Lantai bawah tanah, pintu biru di belakang dapur. Harap bawa kartu akses Anda."

"Kami tidak punya kartu, tapi kami punya ini," Genta menunjukkan remote-nya yang layarnya masih retak.

Perawat itu hanya diam, kembali ke posisinya semula seperti boneka manekin yang kehabisan baterai.

Mereka berjalan cepat menuju dapur. Sarah memimpin di depan, menggunakan ponselnya untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik. Di belakang dapur, tersembunyi di balik tumpukan kaleng sarden kadaluwarsa, ada sebuah pintu baja berwarna biru yang tidak punya gagang pintu.

"Pintu tanpa gagang. Klasik banget," keluh Genta. "Pasti pakai pemindai mata atau kode rahasia."

"Bukan. Ini pintu tekanan udara," Sarah memeriksa celah pintunya. "Genta, gunakan The Shifter. Cari menu 'Pressure Over ride. Kamu harus memanipulasi tekanan udara di dalam ruangan itu agar pintunya terdorong keluar."

Genta mengeluarkan remotenya. Dia ragu sejenak. "Sarah, kalau saya tekan ini, hutang sial saya bakal nambah lagi nggak?"

"Mungkin. Tapi kalau kamu nggak tekan, kita bakal mati konyol di dapur panti jompo ini karena keracunan bau sarden. Pilih mana?"

Genta menghela napas. Dia mulai mengoperasikan menu di layar remote. Angka di layar menunjukkan Luck: -615 . Setiap tekanan tombol terasa berat, seolah ada beban berton-ton yang menekan jemarinya.

"Pressure Over ride... Level 4... Execute!"

SIIIUTTT... BOOM!

Pintu itu terbuka dengan suara desisan udara yang sangat kencang, hampir membuat mereka terpental. Di balik pintu itu, bukan lagi ruangan panti jompo yang apek, melainkan sebuah lorong futuristik dengan dinding logam yang mengkilap dan lampu LED biru yang berjajar rapi. Udara di dalamnya sangat dingin dan bersih.

"Selamat datang di Lantai 4.5 yang sesungguhnya," bisik Aki. "Bunker telekomunikasi pusat."

Saat mereka melangkah masuk, suara tawa yang halus terdengar dari speaker yang tersembunyi di langit-langit. Suara itu bukan suara mesin, bukan pula suara Arsitek yang tadi bicara lewat hologram. Ini adalah suara seorang pria tua yang terdengar sangat santai, seolah-olah dia sedang menunggu kawan lamanya datang untuk bermain catur.

"Aki... sudah lama sekali ya. Aku pikir kamu sudah menyerah dan memilih jadi penjual nasi uduk di pinggiran kota," ujar suara itu.

Aki berhenti melangkah. Wajahnya menegang. "Baskoro. Jadi kamu masih hidup dan mengurung diri di lubang tikus ini?"

"Hidup adalah soal perspektif, kawan lama. Aku tidak mengurung diri. Aku sedang mengawasi dunia agar tidak hancur karena kebodohan manusia. Dan kamu... kamu membawa anak muda yang sangat berbakat dalam merusak barang ya?"

Genta maju ke depan, menatap ke arah sumber suara. "Mana Arsitek? Mana orang yang ngancem keluarga saya?!"

"Sabar, anak muda. Arsitek itu bukan orang. Arsitek adalah ide. Dan aku adalah penjaganya," sebuah pintu besar di ujung lorong terbuka, menampakkan sebuah ruangan bundar yang penuh dengan server-server raksasa yang berputar. Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua dengan kursi roda elektrik. Dia memakai piyama sutra dan sedang memegang sebuah remote yang bentuknya persis seperti milik Genta, tapi berwarna emas murni.

"Perkenalkan, namaku Baskoro. Pendiri Konsorsium Semesta yang asli. Dan Genta... terima kasih sudah membawa remote itu kembali padaku. Kamu tahu tidak? Sebenarnya kamu bukan pencuri. Kamu adalah kurir yang sudah kami pilih sejak awal untuk menguji sistem terbaru kami."

Genta tertegun. "Maksudnya... saya sengaja dibiarkan nemuin lantai itu?"

"Tentu saja," Baskoro tersenyum tipis. "Kami butuh seseorang dengan Index Keberuntungan paling rendah di Jakarta untuk melihat apakah The Shifter bisa bertahan dalam kondisi ekstrem. Dan kamu berhasil. Kamu bertahan sampai minus enam ratus lebih. Itu rekor baru."

Sarah maju, menghalangi Genta. "Jangan percaya dia, Genta! Dia sedang melakukan 'Gaslighting'. Dia mau bikin mentalmu jatuh supaya dia bisa mengambil alih remote itu dengan mudah!"

"Oh, Sarah. Kasir minimarket yang cerdas," Baskoro tertawa. "Kamu pikir data struk belanja itu murni idemu? Siapa yang menurutmu memberikan algoritma itu ke komputermu dua tahun lalu?"

Sarah terdiam. Wajahnya menjadi pucat pasi.

"Kita semua adalah bagian dari rencana, anak-anakku," lanjut Baskoro. "Sekarang, Genta... berikan remote itu padaku, dan aku akan menghapus semua hutang sialmu. Kamu bisa pulang, ibumu akan aman, dan kamu akan mendapatkan pekerjaan sebagai direktur di perusahaan lift terbesar di Asia. Tawaran yang adil, bukan?"

Genta menatap remotenya yang retak, lalu menatap teman-temannya yang kini tampak hancur secara mental. Dia merasakan amarah yang memuncak di dadanya. Dia teringat bagaimana dia harus lari di selokan, bagaimana dia hampir mati tertimpa pot bunga, dan bagaimana ibunya hampir celaka.

"Pak Baskoro yang terhormat," ujar Genta sambil melangkah maju dengan kunci inggris di tangan kirinya. "Saya mungkin memang orang paling sial di Jakarta. Tapi sebagai teknisi lift, saya tahu satu hal: kalau mesin sudah terlalu berisik dan banyak bohongnya, cara benerinnya bukan lewat software..."

Genta mengangkat kunci inggrisnya tinggi-tinggi.

"...tapi dipukul pakai benda keras sampai hancur!"

"GENTA, JANGAN!" teriak Aki.

Tapi Genta tidak peduli. Dia tidak menekan tombol Execute. Dia justru menggunakan remote The Shifter-nya untuk memukul panel kontrol utama di kursi roda Baskoro dengan sekuat tenaga.

*KRAAAAK!*

Ledakan energi biru terpancar dari titik benturan itu. Seluruh ruangan bergetar. Lampu-lampu server mulai meledak satu per satu. Angka di remote Genta berputar liar, melewati angka nol, masuk ke angka positif, lalu tiba-tiba menghilang dan memunculkan tulisan: [SYSTEM ERROR: LOGIC PARADOX].

"Apa yang kamu lakukan, anak bodoh?!" Baskoro berteriak, wajahnya kini penuh ketakutan. "Kamu menghancurkan keseimbangan dunia!"

"Dunia yang seimbang itu membosankan, Pak Tua!" seru Genta di tengah badai listrik. "Saya lebih suka dunia yang berantakan tapi jujur!"

Ruangan itu mulai runtuh. Alarm berbunyi keras di seluruh bunker. Sarah dan Aki segera menarik Genta untuk lari kembali ke arah pintu biru. Saat mereka keluar, bunker di bawah panti jompo itu meledak dengan suara yang tertahan, hanya menyebabkan gempa kecil di permukaan tanah Menteng.

Mereka bertiga berdiri di halaman panti jompo yang kini gelap gulita karena seluruh listrik di kawasan itu padam total. Genta melihat ke arah tangannya. Remote The Shifter itu kini hancur berkeping-keping, hanya menyisakan serpihan logam hitam yang tidak lagi bercahaya.

"Sudah berakhir?" tanya Genta dengan napas tersengal.

Aki menatap puing-puing bangunan dengan tatapan kosong. "Bunker pusatnya hancur. Tapi Konsorsium punya banyak cadangan. Hanya saja... untuk saat ini, mereka tidak punya kendali atas nasibmu lagi, Genta."

Sarah memeriksa ponselnya. "Sinyal pelacak hilang. Kita resmi jadi orang biasa lagi."

Genta duduk di aspal, tertawa kecil yang lama-lama menjadi tawa keras. Dia merasa sangat ringan. Tidak ada lagi beban di pundaknya. Tidak ada lagi angka minus yang menghantuinya.

"Eh, teman-teman," panggil Genta tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Sarah.

"Barusan saya nemu uang seratus ribu di kantong celana saya yang ini. Padahal tadi pagi kosong," Genta menunjukkan lembaran uang biru itu.

Aki tersenyum lebar. "Yah, sepertinya alam semesta sedang memberikan kembalian atas semua kesialanmu tadi, Nak."

"Kalau begitu," Genta berdiri dengan semangat. "Ayo kita pergi dari sini sebelum keberuntungan saya berubah jadi sial lagi gara-gara saya lupa bayar parkir mobil pick-up tadi!"

Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil tua yang ajaibnya kali ini mesinnya langsung menyala dengan suara yang sangat halus. Mereka melaju meninggalkan Menteng, menuju fajar yang mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta.

Namun, di dalam reruntuhan bunker di bawah panti jompo, sebuah layar monitor kecil yang masih menyala menampilkan sebuah baris kode baru yang muncul secara otomatis:

[NEW ANOMALY DETEKSI : THE TECHNICIAN]

[STATUS: UN KONTROL LABLE]

[LEVEL: ARCHITECT CANDIDATE]

Permainan belum benar-benar berakhir. Genta mungkin baru saja menghancurkan sebuah mesin, tapi dia tidak sadar bahwa dia baru saja menciptakan mesin yang jauh lebih besar.

Dan babak selanjutnya... akan jauh lebih lucu dan mematikan.

1
Melissa McCarthy
mantap bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!