NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga puluh Tiga

Suasana SMA Trisakti pagi itu terasa sedikit berbeda bagi Meira. Setiap langkahnya melewati koridor, ia merasa setiap pasang mata sedang mengawasinya. Atau mungkin itu hanya perasaan paranoidnya saja setelah menerima pesan dari No Name.

Saat menuju kelas, Meira melihat Ilham sedang berdiri di dekat mading. Tidak ada lagi sisa wajah pucat seperti di kafe kemarin. Ia sedang tertawa lebar bersama Haris dan beberapa anak cewek dari kelas sepuluh, kembali menjadi matahari sekolah yang seolah tanpa beban.

Benarkah itu cuma akting? batin Meira.

"Pagi, Mei. Tegang amat mukanya, belum sarapan apa habis liat hantu?" sapa Haris saat menyadari kehadiran Meira. Ia mendekat dengan cengiran khasnya.

Meira berusaha tersenyum natural. "Pagi, Ris. Nggak apa-apa, cuma kurang tidur aja."

"Jangan kebanyakan begadang mikirin aku, nanti cepet keriput, Mei." goda Ilham. Namun, saat Meira menatap matanya dalam-dalam, ia menangkap kilatan sesuatu yang lain di balik binar jenaka itu. Ada kelelahan yang disembunyikan dengan sangat rapi.

Sebelum Meira sempat bertanya lebih jauh, sosok Rey muncul dari belokan koridor. Ia berjalan dengan langkah tegap, wajahnya datar seperti biasa. Namun, saat pandangannya bertemu dengan Meira, ia sempat berhenti sejenak sebelum akhirnya terus berjalan tanpa menyapa.

"Tuh kan, si kutub es lewat, suhu langsung turun 5 derajat." bisik Haris sambil bergidik ngeri yang dibuat-buat.

"Ayo, Mei, ke kelas." ajak Ilham. Meira hanya mengangguk lalu kembali melangkah mengikuti Haris dan Ilham di belakang.

"Meira. Buruan sini!" Lana memanggil Meira yang baru saja tiba di ambang pintu, bersama Ilham dan Haris yang juga refleks menoleh dan memperhatikan ke arah Lana.

Meira melihat Lana yang sedang berkumpul di tengah kelas bersama dengan Hesty, Ayara dan beberapa teman sekelasnya. Kesepuluh cewek di sana tampak sedang merundingkan sesuatu yang sangat penting.

"Sini, Mei. Kita lagi main sesuatu yang seru banget." kali ini Ayara yang mendesak Meira untuk segera mendekat.

"Iya, Mei. Dari tadi kita nungguin lo dateng tau nggak." timpal Tiara.

Meira menyimpan tas di atas mejanya, kemudian mendekat karena penasaran. "Main apa? Emang kalian lagi ngapain?" ia lalu duduk di salah satu bangku milik Alea yang kebetulan dekat dengan sekumpulan cewek-cewek itu.

"Kita lagi main kuis voucher minuman gratis dari Kafe yang baru launching di depan sekolah. Kebetulan level yang ini pertanyaannya soal Matematika. Karena lo jago, makanya kita butuh lo buat bantai level ini!" seru Anita sambil menyodorkan laptopnya yang menampilkan sebuah soal logika matematika yang cukup rumit.

Meira sedikit mengernyit, mencoba memfokuskan pikirannya yang sedang semrawut. Di layar laptop itu tertulis: "Jika f(x) \= 2x + 3 dan (g o f)(x) \= 4x^2 + 12x + 15, maka nilai dari g(1) adalah..."

Hanya butuh beberapa detik bagi Meira untuk menghitung di luar kepala. "Jawabannya 9." ucapnya tenang.

"Serius? Gila. Cepet banget!" Tiara melongo, sementara Anita buru-buru menekan angka tersebut dan seketika layar laptop itu meledak dengan kembang api digital tanda jawaban benar.

"Gue bilang juga apa kan. Meira emang otaknya gacor banget." seru Ayara sambil tertawa. "Bentar, Mei, masih ada satu soal lagi. Hadiahnya lumayan, voucher buat satu kelas." jelasnya.

"Bener, Mei. Kita yakin lo bisa menangin kuis ini." timpal Alea.

"Apaan nih? Kalian lagi ngapain, kayaknya seru banget?" Haris ikut nimbrung, cowok itu berdiri tepat di samping Lana. Kepalanya menyembul untuk mengintip kegiatan cewek-cewek itu.

"Diem lo, Ris. Jangan ganggu konsentrasi otak emas kelas kita!" sahut Lana sambil mendorong bahu Haris menjauh dengan bercanda.

"Yeuh. Galak amat sih. Kalau menang, bagi gue satu ya." katanya sambil tersenyum lebar. Cowok itu memang sudah mendengar sedari tadi tentang voucher gratis dari pembicaraan cewek-cewek itu.

Meira dan teman-temannya kembali fokus pada layar laptop yang kembali menampilkan sederet soal: "Sebuah tabung memiliki jari-jari r dan tinggi h. Jika jari-jarinya digandakan dan tingginya dikurangi setengahnya, berapakah perbandingan volume tabung baru terhadap volume tabung lama?"

Wajah dari teman-temannya langsung menegang dan menatap ke arah Meira yang melirik ke soal itu sekilas. Matanya terpejam sejenak, rumus dari pertanyaan itu langsung terpetakan di benaknya.

"Dua banding satu." jawab Meira cepat.

Anita mengetik angka tersebut dengan tangan sedikit gemetar karena excited. Seketika, musik kemenangan menggema dari speaker laptop. Tulisan "CONGRATULATIONS! YOU WON VOUCHERS FOR ALL STUDENTS IN THE CLASS" terpampang besar di layar.

"MEIRA!!! LO EMANG TERBAIK!" teriak Lana refleks memeluk Meira. Satu kelas langsung riuh, bahkan Haris sudah mulai memimpin sorakan kemenangan.

"Biar gue yang klaim entar pas jam istirahat!" sahut Ilham ditengah sorakannya.

"Halah. Mau enaknya doang lo!" timpal Abil seraya melemparkan gulungan kertas yang baru saja ia sobek dari buku milik Haris.

Keriuhan di dalam kelas itu seperti suara latar yang memudar bagi Rey. Dari bangkunya yang terletak di barisan paling depan, ia hanya duduk mematung. Matanya tidak lepas dari sosok Meira yang kini tengah dikerumuni teman-temannya. Ada senyum tipis di wajah gadis itu, sebuah senyum kemenangan yang tulus, bukan senyum angkuh seperti yang sering Rey lihat pada orang-orang ambisius di sekitarnya.

Rey menatap layar laptop Anita dari kejauhan. Soal itu tidak sulit baginya, namun kecepatan Meira memproses angka-angka di kepalanya adalah sesuatu yang berbeda. Ada insting alami yang tajam di sana.

Perlahan, Rey menunduk, menatap jemarinya yang menggenggam pulpen dengan erat. Perasaan itu datang lagi. Sebuah rasa sesak yang ia kenali sebagai rasa insecure.

Selama ini, Rey adalah matahari di SMA Trisakti dalam hal akademik. Tak ada yang bisa menyentuh posisinya di juara satu paralel. Namun sekarang, melihat bagaimana Meira dengan mudahnya membantai soal-soal itu sambil tetap dicintai oleh teman-temannya, membuat Rey merasa takhtanya mulai goyah. Ia merasa seperti sebuah mesin yang hanya diprogram untuk benar, sementara Meira adalah manusia yang memiliki jiwa dalam kecerdasannya.

"Dia bukan cuma cerdas, tapi juga lebih bersinar." batin Rey pahit.

Ingatannya kembali pada ancaman Mamanya. Bayangan wajah Hera yang merah padam karena amarah seolah muncul di atas meja belajarnya.

"Kalau hasil semester ini kamu kalah dari Meira, Mama sendiri yang akan turun tangan langsung. Dan kamu tahu apa yang bisa Mama lakukan!"

Rey memejamkan mata rapat-rapat. Ancaman itu terasa seperti belati yang menggantung di atas kepalanya. Di satu sisi, ia mengagumi Meira, cara gadis itu berpikir, cara gadis itu tertawa. Namun di sisi lain, keberadaan Meira adalah lonceng kematian bagi ketenangannya di rumah. Meira adalah ancaman nyata bagi posisinya yang harus tetap sempurna di mata Hera.

"Woi, Ketua Kelas. Bengong aja lo. Meira dapet voucher sekelas nih, lo nggak mau ikutan seneng?" seru Haris sambil menepuk pundak Rey keras. Sengaja memanas-manasi Rey.

Rey tersentak, wajahnya kembali mengeras menjadi dingin seperti biasanya. "Gue nggak butuh minuman gratis!" jawabnya singkat, suaranya datar dan ketus.

Ia segera berdiri, menyambar buku catatannya, dan berjalan keluar kelas tanpa memedulikan tatapan heran teman-temannya. Ia perlu udara segar. Berada di ruangan yang sama dengan Meira saat ini membuatnya seolah merasa kecil, tertekan dan pengecut.

Saat melewati kerumunan cewek-cewek itu, langkah Rey sempat melambat. Matanya tak sengaja beradu dengan mata Meira selama sepersekian detik. Ada binar kebahagiaan di mata gadis itu yang seketika meredup saat melihat tatapan tajam dan dingin dari Rey.

Rey terus melangkah, namun di dalam hatinya, ia berteriak. Ia benci harus merasa terancam oleh seseorang yang justru ingin ia lindungi.

"Biasalah, kalah saing dia." Ilham menanggapi tatapan teman-temannya yang heran.

Cowok itu berusaha mengembalikan suasana kelas menjadi kembali ceria seperti semula. Namun, bagi Meira, sorak-sorai kemenangan yang baru saja ia rasakan kini terasa hambar. Tatapan tajam Rey tadi bukan hanya sekadar tatapan dingin biasa, ada luka dan tekanan besar yang terpancar dari sana.

"Mei, lo denger nggak?" Lana mengguncang bahunya, membuyarkan lamunan Meira. "Nanti jam istirahat kita semua serbu kafe itu. Lo harus jadi kaptennya!"

Meira hanya mengangguk kecil, memberikan senyum yang dipaksakan. Matanya masih tertuju pada pintu kelas, tempat Rey menghilang beberapa saat lalu. Hatinya mulai bertanya-tanya, apakah kecerdasannya justru menjadi duri bagi orang lain?

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!