NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMA JANJI DI GEDUNG MERDEKA

Pelayan itu muncul kembali dari kegelapan pintu gudang, membawa sebuah buku kecil bersampul kulit cokelat yang permukaannya sudah terkelupas di sana-sini. Debu tipis menempel di atasnya, menandakan bahwa benda itu telah menjadi saksi bisu bagi pergantian musim selama tiga tahun terakhir tanpa ada yang menyentuh. "Ini, Kak," ucap pelayan itu dengan suara pelan, memberikan buku itu pada Arunika. Tatapannya masih menyiratkan keraguan, seolah ia khawatir sedang memberikan sebuah kotak Pandora kepada gadis yang dianggapnya sedang kehilangan arah ini.

Arunika menerimanya. Dingin. Buku itu terasa sangat dingin, seolah-olah ia baru saja dikeluarkan dari lemari es, padahal gudang kafe itu pengap dan hangat. Ia menoleh ke arah Senja yang kini berdiri tepat di samping bahunya. Senja tidak bernapas, namun Arunika bisa merasakan aura laki-laki itu menegang, matanya terpaku pada buku tersebut dengan binar ketakutan. Arunika membuka lembar demi lembar dengan hati-hati. Di dalamnya, tidak ada foto. Tidak ada profil identitas yang jelas. Sebagian besar halamannya berisi sketsa-sketsa pensil yang tampak terburu-buru—garis-garis gedung Braga, tiang lampu Asia Afrika, dan siluet seorang wanita dari belakang yang rambutnya selalu tertutup syal. Wajahnya sengaja tidak digambar, atau mungkin si pelukis memang tidak sanggup mengingat detail wajah itu lagi.

Lalu, di halaman paling tengah, Arunika menemukan tulisan tangan yang tintanya sudah mulai luntur namun masih terbaca. Kalimat itu ditulis dengan tekanan pena yang sangat kuat, hingga membekas di lembaran sebaliknya: "Aku terlambat dan dia tidak datang. Aku harap dia melihat isi hatiku dari buku yang kutinggalkan di kafe ini." Hening seketika menyergap. Suara denting cangkir di kafe itu seolah lenyap, digantikan oleh gema kalimat itu yang berputar-putar di kepala Arunika.

Arunika menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat. Ia membaca kalimat itu berulang kali. "Aku terlambat... dan dia tidak datang." Ia mendongak, menatap Senja yang kini tampak gemetar. Laki-laki itu menyentuh tulisan itu dengan ujung jarinya—jarinya tidak menembus kertas itu kali ini, melainkan meninggalkan jejak uap dingin di atas tinta yang luntur. "Itu tulisanku," bisik Senja. Suaranya pecah, lebih rapuh dari biasanya. "Aku ingat rasa sakit saat menuliskan ini. Rasanya seperti jantungku ditarik paksa keluar dari dada."

"Senja," panggil Arunika lembut. "Kalimat ini... ini kunci semuanya. Kamu merasa terlambat ke halte itu, tapi buku ini bilang dia juga tidak datang. Berarti kalian berdua tidak pernah bertemu hari itu?" Senja menggeleng lemah. Matanya mulai berkaca-kaca, meski air matanya tidak benar-benar jatuh. "Aku berdiri di halte itu menunggunya datang dengan bus sore. Tapi bus itu lewat, dan dia tidak ada di sana. Aku lari ke sini, ke kafe ini, berharap dia sudah menungguku di meja nomor sembilan. Tapi meja itu kosong. Aku menulis ini karena aku merasa harus pergi ke suatu tempat, tapi aku tidak tahu ke mana."

Arunika mengerutkan kening. Ada potongan puzzle yang masih hilang. Jika Senja merasa ia mengalami kecelakaan, namun buku ini ditulis setelah ia merasa terlambat, maka urutan waktunya menjadi sangat kacau. "Tunggu," ucap Arunika, pikirannya mulai bekerja cepat. "Kalau kamu bisa menulis ini di kafe, berarti saat itu kamu masih 'ada'. Kamu belum menjadi seperti sekarang. Tapi kenapa kamu menulis 'dia tidak datang'?" Senja menekan pelipisnya, tampak sangat tersiksa. "Aku tidak tahu! Kepalaku rasanya seperti dihantam batu setiap kali mencoba mengingat bagian itu. Aku cuma ingat perasaan gagal itu. Rasa gagal karena tidak bisa menyerahkan isi hatiku padanya."

Beberapa pengunjung kafe mulai terang-terangan menunjuk ke arah Arunika. Mereka melihat seorang gadis muda berkerudung krem sedang menangis sambil memegang buku usang, berbicara pada kursi kosong dengan nada yang sangat emosional. "Kasihan ya, cantik-cantik kok begitu," bisik seorang wanita di meja seberang. Arunika mendengar itu dengan sangat jelas. Namun, ia tidak peduli. Ia justru mengangkat kepalanya, menatap orang-orang itu dengan tatapan yang tajam dan berani.

"Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin," bisik Arunika pada Senja, mengulangi mantra mereka. "Jangan dengerin mereka, Senja. Mereka nggak tahu kalau saat ini kita lagi berusaha menyatukan dunia yang sudah hancur." Senja menatap Arunika dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Kenapa kamu melakukan ini untukku, Arunika? Padahal buku ini membuktikan kalau aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku punya 'dia' yang lain di masa laluku."

Arunika tersenyum kecil di sela air matanya. "Karena kamu nyata buat aku. Dan karena aku tahu rasanya memiliki janji yang tidak terpenuhi. Aku nggak mau kamu terjebak di Braga selamanya hanya karena sebuah kalimat yang belum sempat dibaca." Arunika menutup buku itu dan mendekapnya di dada. Ia merasakan kehangatan dari tubuhnya sendiri perlahan merambat ke buku yang dingin itu, seolah-olah ia sedang mencoba menghangatkan memori Senja yang membeku.

"Ayo," ajak Arunika tegas. "Ke mana?" tanya Senja bingung. "Ke Asia Afrika. Ke tempat yang tadi pagi kamu datangi. Ke Gedung Merdeka yang kamu bilang membuatmu sesak." Arunika berdiri, menyampirkan tasnya dengan mantap. "Kalau buku ini ditinggalkan di sini agar dia bisa melihat isi hatiku, mungkin jawaban kenapa dia tidak datang ada di ujung jalan Asia Afrika itu."

Senja mengikuti langkah Arunika menuju pintu. Saat mereka melewati ambang pintu kafe, bel berbunyi nyaring—ting!—seperti sebuah lonceng yang menandai dimulainya babak baru. Matahari pagi Bandung mulai menghangatkan trotoar. Di sepanjang jalan Braga, Arunika berjalan bersisian dengan Senja. Bagi orang yang lewat, Arunika tampak berjalan sendirian, sesekali berbicara pada angin. Namun bagi Arunika, ia sedang berjalan dengan seorang laki-laki yang membawa beban sejarah tiga tahun di pundaknya.

"Senja," panggil Arunika saat mereka mulai memasuki kawasan Asia Afrika yang dipenuhi pilar-pilar putih megah. "Ya?" jawabnya. "Buku ini... isinya sangat cantik. Walaupun aku nggak tahu siapa wanita yang kamu gambar, aku bisa ngerasain betapa besarnya kamu mencintai dia. Tapi kamu harus tahu satu hal. Cinta yang besar nggak seharusnya jadi penjara. Aku akan bantu kamu kasih tahu dia isi hati kamu, gimana pun caranya. Supaya kamu bisa bebas."

Senja terdiam. Ia menatap pilar-pilar Gedung Merdeka di depan mereka. Di sana, di antara keramaian orang yang berswafoto, ia merasa bayangan masa lalunya mulai memadat. Ia merasa bahwa di ujung jalan ini, janji yang tidak terpenuhi itu akhirnya akan menagih bayarannya. "Terima kasih, Arunika," bisik Senja. "Untuk tidak memandangku sebelah mata." Mereka terus melangkah, menembus kabut waktu di tengah hiruk-pikuk Bandung, mencari jejak seorang wanita berinisial 'A' yang mungkin, sedang menunggu pesan dari masa lalu di suatu tempat yang belum mereka ketahui.

Gedung Merdeka berdiri dengan pilar-pilar putihnya yang kokoh, memancarkan aura ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk Jalan Asia Afrika di sekitarnya. Angin pagi berembus pelan di antara celah-celah bangunan tua, membawa kesunyian yang ganjil bagi siapa pun yang bersedia mendengarnya. Arunika melangkah pelan, membiarkan ujung sepatunya mengetuk trotoar batu, sementara di sampingnya, Senja berjalan dengan langkah yang lebih ringan, hampir tanpa suara.

Senja berhenti tepat di depan deretan pilar besar yang menjadi saksi bisu sejarah panjang kota ini. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mencoba menghirup aroma waktu yang terperangkap di dinding gedung tersebut. "Tadi aku ke sini seperti sesak," ucap Senja pelan, matanya menyapu setiap sudut bangunan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia teringat kembali saat fajar tadi ia berdiri di sini sendirian, merasa seperti ada ribuan ton beban yang menghimpit dadanya, sebuah kecemasan tanpa nama yang membuatnya ingin melarikan diri namun sekaligus ingin tetap tinggal.

Namun, Senja kemudian menoleh ke arah Arunika. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Tapi saat sama kamu, aku ngerasa baik-baik aja," lanjutnya. Suaranya kini terdengar lebih jernih, lebih berjangkar pada realitas. Arunika tertegun sejenak mendengarnya. Ia merasakan semburat hangat menjalar di pipinya, bukan karena sinar matahari yang mulai terik, melainkan karena pengakuan jujur dari sosok yang selama ini merasa terombang-ambing oleh ketidakpastian.

"Mungkin karena kamu punya saksi sekarang," jawab Arunika lembut sambil merapatkan buku sketsa cokelat itu di pelukannya. "Semua rasa sesak itu muncul karena kamu harus menanggung ingatanmu sendirian. Sekarang, aku yang pegang separuh bebannya. Jadi kamu bisa bernapas lebih lega." Mereka berdiri berdampingan di depan Gedung Merdeka, dua jiwa yang berbeda dunia namun dipertemukan oleh perasaan yang sama: keinginan untuk tidak lagi dianggap tiada.

Senja mengangguk perlahan, memandangi kerumunan orang yang berlalu-lalang di depan mereka. "Dulu, aku selalu merasa dikejar oleh sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Setiap kali aku berdiri di tempat yang familiar seperti ini, kepalaku berisik dengan suara-suara yang menyalahkanku. Tapi melihatmu berdiri di sini, memakai kerudung itu, dan tidak memandangku dengan takut... itu membuat suara-suara itu diam."

Arunika tersenyum, kali ini lebih lebar. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena telah memilih untuk tidak pergi semalam. Ia teringat kalimat yang selalu ia katakan dalam hati untuk menguatkan diri. "Kadang orang lain selalu memandang kita sebelah mata, jadi kalau mereka nggak anggap kita hidup, biarin." Ia sadar bahwa kalimat itu kini tidak hanya berlaku untuk dirinya, tapi juga menjadi pelindung bagi Senja.

"Ayo kita jalan lagi," ajak Arunika, menunjuk ke arah ujung Jalan Asia Afrika yang menuju ke arah alun-alun. "Kita cari tahu kenapa kamu merasa sesak di sini tadi. Kalau rasa sesaknya sudah hilang, mungkin memori yang lain akan muncul. Siapa tahu di depan sana, ada potongan janji lain yang tertinggal di bawah pohon atau di antara bangku-bangku itu."

Senja melangkah mengikuti Arunika, bahunya tampak lebih tegak. Di tengah riuhnya Bandung, di depan Gedung Merdeka yang tenang, mereka terus melangkah—seorang gadis yang menolak untuk abai dan seorang laki-laki yang mulai menemukan cara untuk kembali utuh. Bagi dunia, trotoar itu mungkin hanya milik Arunika seorang diri, namun bagi mereka berdua, setiap langkah adalah bukti bahwa keberadaan tidak selalu butuh bayangan untuk menjadi nyata.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!