NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Visual dan Fisik yang Absurd

Genta mencoba menendang Javi, tapi Javi malah melakukan gerakan spin 360 derajat ke belakang, melepaskan tangan Genta, lalu mendarat dengan pose ending fairy yang sangat tajam.

"Woi! Lo lagi berantem atau lagi audisi?!" teriak salah satu teman Genta yang kebingungan.

"Ini adalah teknik bela diri Luminous Style!" seru Javi yang entah darimana dia mendapatkan nama itu.

Genta yang merasa dipermalukan, kembali menyerang dengan membabi buta. Dia menerjang ke arah Javi, tapi Javi dengan gerakan yang sangat anggun namun bertenaga, memberikan satu jotosan tepat di rahang Genta.

BUGH!

Genta terjatuh di lantai lobi, memegangi pipinya yang langsung membiru.

"Gue laporin lo ke polisi! Lo udah melakukan penganiayaan!" teriak Genta sambil merintih.

Javi berdiri tegak di atas Genta. Dia perlahan menurunkan kacamata renang birunya ke posisi mata.

"Silakan. Beritahu polisi bahwa Anda dipukul oleh seorang pria yang memakai kacamata renang. Mari kita lihat siapa yang akan dianggap gila oleh mereka."

Para mahasiswa di lobi mulai bersorak. Sebagian besar dari mereka sebenarnya sudah lama muak dengan kesombongan Genta.

"HIDUP UJANG! HIDUP DASTER PINK!" teriak seorang mahasiswa dari lantai dua.

Javi terlena dengan teriakan para mahasiswa yang memuji dirinya hingga tak ia sadari Genta berdiri dan melayangkan satu pukulan di wajah tampan sempurna nya. Pukulan itu mendarat telak di rahang Javi. Wajah tampannya terlempar ke samping, topi beanie-nya terbang, dan kacamata renang birunya melorot hingga menggantung tragis di leher.

Keheningan horor menyelimuti lobi. Aruna mematung, jantungnya terasa merosot sampai ke jempol kaki.

Genta terengah-engah, mengepalkan tangannya yang gemetar.

"Makan tuh visual! Lo pikir ini panggung konser?!"

Javi tetap diam. Dia tidak jatuh, dia hanya berdiri mematung dengan wajah tertunduk, rambut peraknya menutupi mata. Perlahan, dia menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan setetes darah merah, darah yang membuktikan bahwa dia bukan robot kloningan.

"Ujang..." bisik Aruna gemetar.

"Kamu... kamu nggak apa-apa?"

Javi perlahan mendongak. Bukannya marah, matanya justru berkilat dengan binar yang aneh. Dia menatap noda darah di jarinya, lalu menatap Genta dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Genta," ucap Javi, suaranya kini jauh lebih berat dan tenang, seolah jiwa aslinya baru saja dipukul bangun dari tidur panjang.

"Apa?! Mau mukul balik?!" tantang Genta, meski kakinya mulai mundur perlahan.

Javi menggeleng pelan.

"Pukulan Anda... sangat amatir. Tidak ada ritme, tidak ada power, dan yang paling parah... Anda merusak simetri wajah yang sedang dalam masa garansi dari pusat kendali."

Javi kemudian menoleh ke arah Aruna.

"Majikan, apakah Anda lihat itu? Dia baru saja melakukan serangan langsung ke arah aset negara. Apakah ini artinya saya diizinkan untuk melakukan prosedur Diskon Keadilan?"

"Diskon apa?! Ujang, ayo pergi!"

Aruna berusaha menarik tangan Javi.

Tapi Javi tidak bergerak. Dia justru merapikan rambutnya dengan sekali sisiran tangan yang sangat cool, lalu kembali menatap Genta.

"Genta, dalam dunia saya, satu pukulan di wajah berarti saya harus memberikan satu pertunjukan yang tak terlupakan,"

Javi maju selangkah, membuat Genta tersudut ke mading.

"Tapi karena saya sedang amnesia, saya hanya akan memberikan satu peringatan, jika Anda menyentuh wajah ini lagi, atau membentak Majikan Aruna sekali lagi... saya akan memaksa Anda memakai daster Mbak Widya dan menari ballet di depan gedung rektorat. Mengerti?"

Genta menelan ludah, nyalinya menciut melihat aura Javi yang mendadak berubah jadi sangat mengintimidasi.

"G-gue... gue nggak takut!"

"Bagus," Javi tersenyum tipis, senyum Ice Prince yang legendaris.

"Karena orang yang tidak takut biasanya adalah orang yang paling cepat pingsan saat melihat tagihan ganti rugi visual saya."

Javi kemudian berbalik, mengambil topi beanie-nya di lantai, dan memakainya kembali dengan gaya yang jauh lebih keren dari sebelumnya. Dia merangkul bahu Aruna yang masih bengong.

"Ayo, Aruna. Mari kita pulang. Darah ini membuat saya ingin makan es mambo rasa stroberi agar warnanya serasi."

Aruna hanya bisa pasrah diseret Javi keluar dari lobi, sementara para mahasiswa di belakang mereka mulai berteriak histeris,

"UJANG! JADILAH PACARKU!" dan

"UJANG, NOMOR WA-NYA BERAPA?!"

Aruna menyadari bahwa kerumunan semakin besar dan banyak yang mulai merekam dengan HP. Ini bahaya. Jika wajah Javi tertangkap jelas tanpa kacamata renangnya, tamatlah mereka.

"Tapi Aruna, saya belum memberikan pose kemenangan!" protes Javi saat dia diseret melewati kerumunan.

"Nggak usah pose! Pose kamu itu bikin kita masuk penjara!"

Mereka berlari menuju parkiran motor. Namun, di gerbang kampus, mereka dihadang oleh sekelompok emak-emak yang ternyata adalah member grup Facebook Pencari Javi Indonesia. Rupanya, video Mbak Widya semalam sudah menyebar ke seluruh pelosok internet.

"Itu dia! Itu Javi yang pake kemeja flanel!" teriak salah satu emak-emak sambil

membawa lightstick yang entah kenapa dia bawa ke pasar.

"BUKAN! INI UJANG! DIA LAGI SAKIT GIGI!" teriak Aruna sambil menyalakan motor matic-nya.

Javi melompat ke belakang motor Aruna. Saat motor itu melaju, Javi sempat-sempatnya berdiri di atas pedal kaki, berpegangan pada pundak Aruna, dan melambaikan tangan ke arah emak-emak itu.

"Halo, Kloningan-Kloningan Senior! Sampai jumpa di pusat kendali!" seru Javi dengan ceria.

"DUDUK, UJANG! JANGAN ATRAKSI!"

Aruna menggeber motornya, meninggalkan kampus DKV yang kini berubah menjadi medan perang antara fans Javi dan pengikut Genta.

Mereka akhirnya sampai di warung Bang Tejo, tempat yang dianggap paling netral karena tidak ada sinyal internet yang bagus di sana. Aruna duduk di bangku kayu, napasnya tersengal-sengal. Javi duduk di sebelahnya, tampak sangat santai seolah habis pulang piknik.

"Kamu... kamu gila ya?"

Aruna menatap Javi dengan pandangan antara marah dan kagum.

"Kamu mukul Genta! Kamu tau nggak, dia itu anak penyumbang dana kampus?"

Javi membuka kacamata renangnya, lalu mengelap keringat di dahinya.

"Saya tidak peduli, Majikan. Dia menyakiti perasaan Anda. Di dunia kloningan saya yang gelap, peraturan nomor satu adalah jangan biarkan Majikanmu dihina oleh pria yang potongan rambutnya mirip jamur kuping."

Aruna tertegun, dia merasakan kehangatan yang aneh di dadanya.

"Tapi sekarang kita jadi buronan, Jang. Mbak Widya nyariin kamu, Genta mau lapor polisi, emak-emak mau nyulik kamu... apa kita harus pindah kos ke Planet Bekasi?"

Javi meraih tangan Aruna. Tangannya besar, kasar karena bekas sikat piring, tapi terasa sangat melindungi.

"Aruna," ucap Javi lembut.

"Selama saya punya kacamata renang ini dan selama ada Aruna di depan motor, saya tidak takut. Kita bisa bersembunyi di mana saja. Bahkan jika kita harus tinggal di dalam mesin cuci laundri kiloan."

Aruna tertawa lemas.

"Mesin cuci nggak muat buat kaki kamu yang sepanjang galah itu, Bego!"

"Kalau begitu, kita beli es mambo dua,"

Javi tersenyum miring.

"Sebagai perayaan atas jotosan estetik saya tadi."

Aruna menghela napas, menyerahkan uang lima ribu perak kepada Bang Tejo.

"Bang, dua ya. Yang satu kasih racun tikus dikit buat yang ini."

"Wah, Mas Ujang abis berantem ya? Hebat bener, tadi videonya udah masuk grup WA RT lho!" sahut Bang Tejo sambil menyerahkan es mambo.

Aruna hampir tersedak.

"APA?! GRUP WA RT?!"

"Iya, judulnya 'Superhero Daster Menghajar Penindas Mahasiswa'. Mas Ujang jadi pahlawan lokal sekarang,"

Bang Tejo mengacungkan jempol.

Javi memakan es mambo melonnya dengan bangga.

"Dengar itu, Aruna? Saya bukan lagi sekadar kloningan gagal. Saya adalah Pahlawan Daster. Apakah saya harus mulai memesan jubah dengan motif bunga kamboja?"

"Nggak! Nggak ada jubah-jubahan!"

Aruna memijat pelipisnya.

Di saat mereka sedang menikmati es mambo, sebuah mobil van hitam berhenti di seberang jalan. Kacanya turun sedikit, memperlihatkan kamera dengan lensa tele yang sangat panjang.

"Dapet," ucap Satya dari dalam mobil.

"Javi-hyung baru saja dapet gelar pahlawan lokal. Manajer Han, kita harus segera bertindak sebelum dia mencalonkan diri jadi ketua RT!"

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!