Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Drama Investigasi
Suasana santai di bawah rindangnya pohon beringin itu mulai terusik saat Dion tiba-tiba berdiri. Matanya tertuju pada sosok Sherly yang berdiri di dekat pagar pembatas zona candi, melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum lebar. Sebagai ketua kelas, Dion memang punya "urusan negara" yang harus diselesaikan, tapi semua tahu itu hanyalah alasan untuk bisa berdua dengan Sherly.
"Gue cabut dulu ya, Guys. Sherly kayaknya butuh bantuan buat koordinasi barisan... atau mungkin cuma mau difotoin," pamit Dion sambil nyengir, meninggalkan teman-temannya yang masih asyik bersandar di akar pohon.
Namun, kepergian Dion segera digantikan oleh pemandangan yang jauh lebih mendebarkan. Dari arah yang berlawanan, Vanya dan Nadia berjalan mendekat dengan langkah yang penuh determinasi. Vanya menjinjing laptopnya yang masih menyala, sementara Nadia berjalan di sampingnya dengan tangan terlipat di dada, memasang ekspresi seperti agen intelijen yang baru saja memecahkan kasus besar.
Begitu sampai di hadapan Gery, Vanya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung membalikkan monitor laptopnya ke arah kerumunan laki-laki itu. Di layar, terpampang sebuah foto profil close-up seorang gadis dengan wajah oriental yang sangat jernih. Rambutnya lurus hitam legam, kulitnya putih bersih kontras dengan latar belakang hijau lapangan sekolah, dan senyumnya... tipis namun sangat memikat.
"Anjir! Gila, cantik banget, Ger!" seru Reno, hampir melompat dari duduknya. Matanya melotot menatap layar. "Ini beneran si Angela itu? Ger, plis... Gue mohon, kenalin ke gue. Gue rela deh jadi pembawa bola lo setiap latihan kalau lo kenalin gue ke bidadari ini!"
Vanya tidak memperdulikan ocehan Reno. Matanya menatap tajam ke arah Gery. "Bener kan, ini orangnya? Angela yang lo ceritain itu?" tanyanya dengan nada dingin yang menusuk.
Gery dan Sammy saling melirik sejenak sebelum akhirnya mengangguk berbarengan. "Iya, betul. Itu akunnya dia," sahut Sammy pelan, merasa sedikit tidak enak karena dialah yang membocorkan nama akun tersebut.
Vanya menarik napas panjang. "Oh, oke. Tapi kayaknya investigasi gue belum selesai."
Jari Vanya bergerak lincah di atas trackpad laptop. Ia menggeser kursor dan mulai mengganti slide foto di album "Kenangan Basket" milik Angela. Ketegangan di bawah pohon itu mendadak naik beberapa derajat.
Foto pertama yang muncul adalah foto candid Gery yang sedang melakukan jump shot di tengah turnamen. Keringat yang bercucuran dan otot lengannya terlihat begitu jelas, diambil dengan sudut pandang seseorang yang sangat mengagumi objek fotonya. Reno dan Adrian bersiul nakal, sementara Gery mulai merasa gelisah.
Klik. Slide berikutnya menunjukkan foto tim inti basket laki-laki sekolah SMP mereka. Ada Sammy yang berpose kocak di barisan depan, dan tepat di belakangnya berdiri Gery dengan memegang bola basket, tampak sangat berwibawa di masanya.
Namun, bom atom yang sebenarnya meledak di slide terakhir.
Sebuah foto yang diambil di pinggir lapangan setelah sebuah pertandingan. Gery berdiri di sana, masih mengenakan jersi timnya, dan di sampingnya ada Angela yang memegang sebotol air mineral. Mereka tidak bersentuhan, tapi jarak di antara mereka sangat dekat, dan cara Angela menatap ke arah kamera—sambil sedikit menyandarkan bahunya ke arah Gery—mengisyaratkan sebuah kedekatan yang lebih dari sekadar senior dan junior.
Gery tersentak. Matanya membulat menatap layar laptop itu. "Lho... itu... kapan dia ambil foto itu? Gue bahkan nggak tahu ada foto berdua kayak gitu," gumam Gery jujur. Karena dia tidak memiliki akun Facebook, ia benar-benar buta akan fakta bahwa Angela mengunggah momen-momen itu ke dunia maya dan menyimpannya selama bertahun-tahun.
Reno meledak dalam tawa kemenangan, seolah menemukan senjata untuk membalas ejekan Gery tadi pagi. "Wah, wah! Gery yang katanya 'cuma ajarin basket' ternyata punya koleksi foto private di akun orang kaya! Liat tuh, Ger, muka lo di situ sok ganteng banget. Dan liat Vanya..." Reno menunjuk ke arah Vanya dengan jempolnya. "Mukanya udah kayak mau nelen stupa candi hidup-hidup."
Vanya memang sedang memasang wajah merajuk yang sangat kentara. Ia melipat laptopnya dengan suara klik yang tajam, lalu menatap Gery dengan mata yang menyipit. "Oh, jadi nggak tahu ya? Nggak tahu tapi fotonya manis banget gitu? Kayaknya si Angela ini gagal move on ya sampai foto lo masih dipajang rapi di sana?"
Gery hanya bisa terdiam, mematung di antara rasa terkejut akan jejak digitalnya sendiri dan rasa bingung bagaimana cara meredam api kecemburuan yang mulai membakar wajah Vanya di tengah teriknya Borobudur.
Gery mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin meski matahari Magelang sedang terik-teriknya. Di bawah tatapan menyelidik Vanya, ia merasa lebih tertekan daripada saat menghadapi full court press di lapangan basket tadi pagi.
"Sumpah, Van. Gue beneran nggak punya akun Facebook," ucap Gery dengan nada yang berusaha setenang mungkin, meski ada sedikit getaran jujur yang bercampur pembelaan diri. "Lagi pula, lo liat sendiri kan? Foto-foto itu disimpannya di album 'Kenangan Basket'. Itu kan foto kolektif, masa-masa turnamen sekolah dulu."
Sammy, yang merasa bertanggung jawab karena telah membocorkan nama akun tersebut, segera pasang badan untuk sahabatnya. "Iya, betul Van! Sumpah, jangan marah dulu. Di album itu kan isinya foto tim semua. Gue juga ada kok foto berdua sama Angela pas pembagian medali. Itu cuma dokumentasi ekskul aja, bukan foto romantis yang gimana-gimana."
Vanya tidak langsung menjawab. Ia masih melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut membentuk ekspresi merajuk yang membuat Gery berkali-kali menelan ludah. Suasana sempat hening sejenak, membuat Gery benar-benar merasa sedang disidang di tengah kemegahan Borobudur.
Namun, keheningan itu pecah saat suara tawa Nadia meledak.
"Pffft! Hahahaha! Gue udah ga kuat nahan lagi, Van. Liat deh muka lo, Ger! Pucat banget kayak belum sarapan seminggu!" seru Nadia sambil menunjuk-nunjuk wajah Gery.
Vanya yang tadinya berusaha keras menahan tawa akhirnya runtuh juga. Bahunya berguncang, dan senyum manisnya kembali muncul. Ternyata, aksi merajuknya tadi adalah bagian dari sandiwara kecil untuk mengerjai Gery. "Aduh, Ger... lo gampang banget dipancing ya? Padahal gue cuma mau liat seberapa panik lo kalau rahasia masa lalunya kebongkar," ucap Vanya sambil tertawa geli.
Reno, yang tidak mau kehilangan momen untuk menjatuhkan mental sahabatnya, ikut menimpali sambil terbahak-bahak. "Gila, ini momen bersejarah! Gery yang biasanya tenang kayak air di botol mineral, hari ini gemeteran cuma gara-gara satu foto Facebook! Lemah lo, Ger! Mana jiwa bad boy tawuran lo yang dulu?"
Gery mengembuskan napas panjang, merasa beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah usil teman-temannya. "Kalian bener-bener ya... gue udah mau kena serangan jantung tau nggak."
"Ya lagian," Vanya menyela sambil menutup laptopnya dengan santai, "Foto itu emang manis, tapi gue tahu itu cuma masa lalu. Cuma ya... tetep aja, lain kali kalau ada 'malaikat penyelamat' lain, lapor dulu ke gue sebagai pacar lo yang sah!"
Tawa mereka kembali pecah di bawah naungan pohon besar itu. Meskipun awalnya menegangkan, insiden "Investigasi Facebook" ini justru membuat suasana grup mereka semakin cair. Di sela-sela tawa itu, Gery menyadari satu hal: Vanya mungkin cemburu, tapi dia jauh lebih menghargai kejujurannya daripada sebuah foto lama dari masa SMP.
Tawa Reno masih menggema di bawah pohon beringin itu saat ia mulai mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Ayo Ger, buruan! Mana nomornya si bidadari basket itu? Gue udah nggak sabar mau mempraktikkan ilmu komunikasi tingkat tinggi gue," desak Reno dengan mata berbinar-binar.
Gery mendesah pelan, namun ia tetap mengeluarkan ponselnya untuk mencari kontak tersebut. Saat Gery mulai membuka hpnya, ia merasakan kehadiran seseorang yang sangat dekat di sampingnya. Vanya secara spontan mencondongkan tubuhnya, ikut mengintip ke layar ponsel Gery. Matanya yang tajam langsung mencari nama Angela di daftar kontak, ingin memastikan apakah Gery memberinya nama panggilan khusus atau sekadar nama biasa.
"Nih, Ren. Tapi inget ya," peringat Gery sambil menunjukkan layar ponselnya—yang ternyata tertulis nama 'Angela SMP' secara formal, membuat Vanya sedikit bernapas lega. "Gue nggak bisa janji dia bakal bales SMS lo. Meskipun lo bawa-bawa nama gue, dia itu orangnya fokus banget kalau udah urusan latihan. Jangan berharap lebih."
Reno langsung mencatat nomor tersebut dengan jempol yang bergerak cepat di atas tombol ponselnya. "Tenang, Ger! Gue ini sudah punya pengalaman berdarah-darah dalam urusan kenalan sama cewek. Ilmu approach gue sudah setingkat ahli!" ucapnya penuh percaya diri.
Nadia yang sejak tadi memperhatikan tingkah Reno langsung menyambar dengan nada sarkas. "Alah, Ren! Pengalaman ditolak mungkin iya. Kalau emang lo jago dan selalu diterima, nggak mungkin lo sampai sekarang masih menjomblo karatan begini!"
BOOM!
Ledakan tawa Sammy, Adrian, dan Feri pecah seketika. Reno hanya bisa terdiam dengan wajah kecut, sementara Gery ikut terkekeh melihat sahabatnya yang baru saja terkena serangan mental dari Nadia.
"Sakit tapi nggak berdarah ya, Ren?" ejek Sammy sambil menepuk-nepuk pundak Reno yang lesu.
Namun, di tengah keriuhan tawa itu, suara lantang memecah suasana dari kejauhan. "WOOOIIII! SEMUANYA! BURUAN!"
Ternyata itu Dion yang sedang berjalan berdampingan dengan Sherly. Sang Ketua Kelas tampak melambai-lambaikan tangannya dengan semangat ke arah rombongan yang sedang asyik nongkrong.
"Waktu kita sudah habis! Pak Bambang sama Bu Ratna sudah di parkiran. Ayo lekas ke bus sekarang juga atau kita ditinggal di Magelang!"
Gery langsung berdiri, diikuti oleh yang lainnya. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku, mengakhiri pembicaraan tentang masa lalu dan media sosial di bawah pohon itu. Mereka semua mulai melangkah meninggalkan kemegahan batu-batu candi, berjalan menyusuri jalur keluar menuju area parkir bus yang dipenuhi pedagang oleh-oleh.
"Borobudur beres," gumam Gery sambil melirik Vanya yang berjalan di sampingnya. "Sekarang tinggal perjalanan panjang ke Jakarta."
Vanya tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih tulus tanpa ada rasa cemburu yang tersisa. "Dan gue harap di bus nanti nggak ada lagi investigasi Facebook yang bikin jantung lo mau copot, Ger."
Mereka semua mempercepat langkah, menyambut babak terakhir dari perjalanan study tour ini: kepulangan ke rumah masing-masing dengan membawa segudang cerita baru.