NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Puncak Murka sang Penguasa

Darahku mendidih melihat mobil hitam itu melesat menjauh dari halaman panti asuhan. Seeula berada di sana, di tangan pria yang baru saja kupastikan sebagai pembunuh orang tuaku. Aku tidak peduli dengan rahasia darah atau silsilah keluarga yang coba dimainkan Gautama. Bagiku, Seeula adalah segalanya, dan siapa pun yang menyentuhnya harus bersiap kehilangan nyawa.

"Rian! Kunci posisi mobil itu sekarang!" teriakku melalui ponsel yang tersambung ke sistem audio mobil.

"Sudah, Yansya! Mereka menuju ke arah dermaga lama di sektor utara. Itu wilayah buta CCTV, tapi aku masih memegang sinyal GPS dari jam tangan yang kau berikan pada Seeula!" sahut Rian dengan nada panik.

Aku menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Mesin menderu keras, membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Pikiranku bekerja lebih cepat dari putaran roda. Gautama sengaja membawaku ke sana karena dia merasa memiliki keunggulan medan. Dia ingin aku berlutut, memohon sebagai seorang putra yang baru menemukan ayahnya.

"Jangan berani-berani menyentuhnya, Gautama," desisku sambil menyalip truk besar dengan jarak hanya beberapa sentimeter.

Ponselku bergetar kembali. Nama Gautama muncul di layar. Aku menekan tombol terima dengan gerakan kasar.

"Kau sangat mahir mengemudi, Yansya. Bakat yang menurun dari ayahmu," puji Gautama dengan tawa yang meremehkan.

"Hentikan omong kosong ini. Kau ingin apa?" tuntutku tanpa basa-basi.

"Aku hanya ingin kau menyerahkan seluruh kendali Widowati Group dan data enkripsi bank Artha Kencana secara fisik. Datanglah ke gudang nomor empat di dermaga. Sendiri. Jika aku melihat ada satu pun pengawal, Seeula akan menjadi sejarah," ancam Gautama sebelum memutus sambungan.

Aku membanting ponsel ke kursi samping. Bajingan itu benar-benar ingin menguras semua yang sudah kubangun. Tapi dia melakukan satu kesalahan fatal: dia meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria yang sudah pernah hidup dua kali.

Sesampainya di dermaga, suasana sangat sunyi. Gudang nomor empat berdiri kokoh di ujung jalan buntu, dikelilingi oleh tumpukan kontainer berkarat. Aku keluar dari mobil, membiarkan mesinnya tetap menyala. Tanganku meraba senjata di balik jas, memastikan pelatuknya siap ditarik.

"Aku sudah di sini! Lepaskan Seeula!" seruku saat memasuki ruang gudang yang luas.

Lampu sorot mendadak menyala, membutakan pandanganku sejenak. Di tengah ruangan, Seeula terikat di kursi kayu dengan mulut diplester. Gautama berdiri di sampingnya, memegang pistol yang diarahkan tepat ke pelipis Seeula.

"Letakkan senjatamu, Nak. Kita bicara sebagai keluarga," perintah Gautama dengan senyum kemenangan.

"Kita bukan keluarga. Kau hanya monster yang membunuh orang tuaku untuk harta," balasku sambil melempar senjataku ke lantai.

Seeula meronta, matanya yang basah menatapku dengan penuh ketakutan. Aku memberikan isyarat dengan kedipan mata agar dia tetap tenang. Aku tahu jam tangan yang dia pakai memiliki fungsi khusus yang sudah disiapkan Rian jika ditekan secara bersamaan.

"Kau sangat mirip denganku, Yansya. Keras kepala dan haus kekuasaan. Martha pasti bangga melihatmu sekarang," ucap Gautama sambil menurunkan sedikit senjatanya.

"Jangan pernah sebut nama ibuku dengan mulut kotormu itu," tukasku dengan nada yang sangat rendah.

"Kenapa? Aku memberinya segalanya, tapi dia memilih pria miskin itu! Sekarang, serahkan flashdisk data itu padaku!" bentak Gautama dengan wajah yang memerah.

Aku merogoh saku jas dan mengeluarkan sebuah flashdisk hitam. "Ini yang kau inginkan? Seluruh kerajaan bisnisku dan bukti kejahatan perbankanmu ada di sini."

Gautama memberikan isyarat pada salah satu anak buahnya untuk mengambil benda itu. Saat pria itu mendekat, aku menatap Seeula dengan tajam.

"Sekarang!" teriakku.

Seeula menekan kedua tombol di jam tangannya. Dalam sekejap, gelombang frekuensi tinggi meledak dari perangkat kecil itu, menciptakan suara melengking yang menghancurkan sistem audio dan membuat telinga semua orang di ruangan itu sakit luar biasa. Para pengawal jatuh tersungkur sambil memegangi kepala mereka.

Gautama terhuyung, cengkeramannya pada pistol melemah. Aku berlari secepat kilat, menerjang Gautama dengan hantaman bahu yang sangat keras hingga dia terpental ke tumpukan peti kayu. Aku segera menarik Seeula dan melepaskan ikatannya dengan gerakan tangkas.

"Yansya! Belakangmu!" jerit Seeula.

Aku berbalik dan melihat seorang pengawal sudah menarik pelatuknya. Aku mendorong Seeula ke balik pilar beton, membiarkan peluru itu menyerempet lengan jasku. Aku mengambil kembali senjataku yang tadi kulempar dan memberikan tembakan balasan yang tepat sasaran.

"Kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup, Yansya!" teriak Gautama yang merangkak mencari senjatanya.

"Aku sudah keluar dari neraka yang lebih buruk dari tempat ini, Gautama!" sahutku sambil menembakkan sisa peluruku ke arah lampu sorot, membuat gudang kembali menjadi gelap gulita.

Aku menarik tangan Seeula, membimbingnya menembus kegelapan yang sudah kupetakan melalui kacamata sensor inframerah tipis yang kupakai. Kami keluar dari pintu belakang tepat saat mobil tim keamananku yang dipimpin Rian datang mengepung tempat itu.

"Bawa dia ke tempat aman sekarang!" perintahku pada Rian sambil menyerahkan Seeula yang masih gemetar.

"Lalu kau? Kau mau ke mana?" tanya Seeula sambil menahan tanganku.

"Aku harus menyelesaikan sejarah ini agar tidak ada lagi hantu yang mengejarmu, Seeula," jawabku sambil memberikan kecupan singkat di dahinya.

Aku masuk kembali ke dalam gudang yang kini sudah dipenuhi oleh suara tembakan antara anak buah Gautama dan tim keamananku. Aku mencari satu sosok yang paling bertanggung jawab atas semua penderitaanku.

Di sudut gudang, aku melihat Gautama mencoba melarikan diri melalui dermaga air. Dia memegang tas besar yang kutebak berisi dokumen pentingnya. Aku mengejarnya, setiap langkahku adalah dendam yang terbayar.

"Berhenti di sana, Gautama!" seruku saat kami sampai di tepi dermaga yang licin.

Gautama berbalik, wajahnya penuh dengan luka dan keringat. Dia menatapku dengan kebencian yang murni. "Kau pikir kau menang? Seluruh kota ini akan memburumu jika aku mati!"

"Kota ini tidak akan memburu orang yang membersihkan sampahnya," balasku sambil menodongkan senjata ke arahnya.

Gautama tertawa gila, lalu dia melihat ke arah laut yang gelap. Dia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar lagi baginya. Dia mengeluarkan sebuah pemantik api dan mengarahkannya ke tas dokumen yang dia bawa.

"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh memilikinya!" teriaknya.

Namun, sebelum dia sempat menyalakan apinya, sebuah pesan masuk ke ponselnya yang terjatuh di lantai. Aku bisa melihat layarnya menyala terang. Itu adalah pemberitahuan bahwa seluruh asetnya di luar negeri baru saja dikosongkan oleh pemerintah atas laporan anonim.

Gautama tertegun, menatap layar itu dengan mata yang tidak percaya. Seluruh kekuatannya lenyap dalam sekejap mata. Dia menjatuhkan pemantiknya, tubuhnya lemas seolah tulang-tulangnya baru saja dicabut.

"Kau... kau yang melakukannya?" tanya Gautama dengan suara yang sangat lemah.

"Aku sudah mengawasi setiap transaksi gelapmu sejak aku kembali ke kota ini. Kau hanyalah orang tua yang hidup di masa lalu, sementara aku adalah masa depan yang kau takuti," ucapku dengan dingin.

Aku tidak menembaknya. Aku membiarkan tim kepolisian yang sudah kusiapkan masuk dan memborgolnya. Kematian terlalu mudah baginya; aku ingin dia melihat kekaisarannya hancur berkeping-keping dari balik jeruji besi.

Aku berjalan menjauh dari dermaga, menghirup udara malam yang kini terasa jauh lebih ringan. Seeula menungguku di dekat mobil, dia langsung berlari dan memelukku dengan sangat erat seolah takut aku akan menghilang.

"Semuanya sudah selesai, Seeula. Kita benar-benar bebas sekarang," bisikku di telinganya.

"Jangan pernah tinggalkan aku lagi seperti tadi, Yansya. Aku sangat takut," lirih Seeula dalam isak tangisnya.

Aku mengangguk, mendekapnya lebih dalam. Aku menoleh ke arah gedung Widowati Group yang terlihat dari kejauhan, menyadari bahwa besok pagi akan ada berita besar yang mengguncang dunia bisnis. Namun, saat aku baru saja akan membuka pintu mobil, Rian mendekatiku dengan wajah yang sangat pucat.

"Ada apa, Rian? Gautama sudah tertangkap, bukan?" tanyaku dengan dahi berkerut.

"Ini bukan tentang Gautama, Bos. Ini tentang surat wasiat ibumu yang tadi kau temukan," ucap Rian sambil menyodorkan tabletnya.

Aku melihat data yang baru saja diproses Rian. Di sana, tertulis bahwa ada satu orang lagi yang terlibat dalam penghapusan jejak Martha dua puluh tahun lalu. Dan nama itu adalah seseorang yang selama ini berada di lingkaran terdalam perusahaanku.

Rahangku mengeras seketika. Ternyata musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya daripada singa yang mengaum di depanku.

"Siapa orangnya, Rian?" tuntutku dengan suara yang membuat Seeula tersentak.

Rian hanya menunjukkan satu foto profil karyawan senior yang baru saja kukenal sebagai tangan kananku di urusan logistik. Aku mengepalkan tangan, menyadari bahwa kemenangan malam ini hanyalah gerbang menuju pengkhianatan yang lebih besar.

"Siapkan mobil. Kita tidak pulang ke rumah malam ini," perintahku tanpa menoleh lagi.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!