"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMAKIN DEKAT
Leo terdiam, mencerna informasi itu, dia menatap Aurora dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Pantas saja auramu terasa berbeda, kamu tidak memiliki aroma kematian yang pekat seperti vampir murni lainnya. Ada kehangatan manusia yang tersembunyi di sana."
"Kakek Revan sering bilang kalau Nenek Alana adalah detak jantung istana ini. Meskipun dia tidak memiliki sihir, dia bisa mengendalikan Kakek hanya dengan senyumannya," ucap Aurora.
"Darah manusia di keluargaku melambangkan cinta, itulah kenapa keluarga kami sangat menghargai ikatan batin daripada sekadar kekuatan politik," lanjut Aurora.
Leo menyandarkan bahunya di pilar, menatap Aurora dengan ekspresi datar namun matanya berkilat jenaka.
"Berarti benar dugaanku, kamu mewarisi sifat galak dan keras kepala itu dari garis manusia, bukan dari vampir. Vampir biasanya terlalu malas untuk berdebat denganku," ucap Leo, terkekeh kecil.
"Mungkin saja, darah Wallace dikenal tidak pernah bisa diam jika melihat ketidakadilan. Kami memiliki jiwa pemberontak yang cukup kuat," jawab Aurora mendengus, namun tidak membantah.
"Itu menjelaskan kenapa kamu begitu berisik saat aku mencoba menyelamatkanmu," gumam Leo, kembali menggoda.
"Jiwa pemberontak Wallace mu itu sepertinya sangat suka membantah pahlawannya," lanjut Loe, melirik Aurora, nakal.
"Pahlawan yang digendong ayahnya, maksudmu?" jawab Aurora cepat, telaknya mendarat tepat di harga diri Leo.
Uhuk
Leo langsung terbatuk kecil, membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah yang kembali muncul di pipinya.
"Kita sepakat tidak akan membahas itu lagi, kan, Putri?" ucap Leo, memalingkan wajahnya.
"Hanya ingin memastikan ingatanmu masih bagus, Leo Alistair," jawab Aurora tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu dan hangat.
"Sekarang kamu sudah tahu kan, silsilah keluarga ku. Lalu kapan kamu siap untuk berkunjung ke kerajaan Wallece, untuk bertemu dengan Kakek dan Nenek buyut ku?" goda Aurora, tersenyum miring.
"I-itu, bisa kah bagian itu di lupakan saja, seperti nya belakang ini aku tidak punya waktu luang," jawab Leo, beralasan.
"Tidak masalah, aku bisa menunggu seribu tahun sekalipun," ucap Aurora, santai.
"Aurora, ku mohon..." rengek Leo, memelas.
Aurora tergelak melihat wajah tidak berdaya Leo, apa pria itu setakut itu dengan Kakek buyut nya.
"Kenapa kamu setakut itu Leo, Kakek buyut ku tidak se menyeramkan itu," ucap Aurora, terkekeh.
"Tetap saja aku belum berani kalau harus berhadapan langsung dengan seseorang yang sosok nya terkenal di sejarah, itu jauh lebih menakutkan dari pada menghadapi pasukan Vampir pemberontak," ucap Leo, menggeleng kan kepala nya.
"Salah bicara sedikit saja, bisa mati aku," lanjut Leo, lemas.
"Kamu ini, ada-ada saja," ucap Aurora, tertawa kecil.
Suasana di balkon itu kembali mencair, Leo menyadari bahwa meskipun status mereka adalah pelindung dan putri, mereka berdua adalah hasil dari perpaduan dua dunia yang berbeda.
Keberadaan mereka adalah bukti bahwa perbedaan ras bukanlah penghalang untuk menciptakan sesuatu yang kuat.
"Jadi kamu adalah bukti bahwa cinta kakekmu pada seorang manusia bisa menghasilkan keturunan sehebat dirimu," ucap Leo, mengalihkan pembicaraan.
"Dan kamu adalah bukti bahwa kesetiaan seorang Alistair bisa melampaui batas dimensi," jawab Aurora lembut, menatap Leo dengan pandangan yang lebih tulus.
Leo terdiam sesaat, dia tidak terbiasa dipuji secara jujur oleh Aurora, wajah nya sedikit terasa panas dan pipinya memerah.
"Ehem!"
Leo berdeham kecil, mencoba mengembalikan wibawanya.
"Yah, jangan terlalu terbiasa memujiku ,aku bisa menjadi sangat besar kepala, dan itu akan menyulitkan mu nanti," ucap Leo, menatap Aurora.
"Terlambat, kepalamu sudah besar sejak pertama kita bertemu di hutan," ucap Aurora sambil mulai berjalan meninggalkan balkon, jubah hitam besar Leo masih menempel erat di tubuhnya.
"Hei! Tunggu!" teriak Leo, mengikuti langkah Aurora dengan seringai yang tak bisa ia sembunyikan.
Leo melangkah di samping Aurora, menjaga jarak yang cukup dekat agar dia bisa bertindak jika gadis itu mendadak lemas, namun cukup jauh untuk tetap terlihat sopan di mata para pelayan yang berlalu-lalang.
Jubah hitam besarnya masih membungkus bahu Aurora, membuat sang Putri terlihat sedikit lebih kecil dan menggemaskan.
"Masih ada satu hal yang mengganjal pikiranku," ucap Leo sambil menatap lurus ke depan.
"Jika Nenek Alana adalah manusia biasa, bagaimana dia bisa bertahan tinggal di puncak gunung es yang membeku ini? Istana ini bukan tempat yang ramah untuk seseorang tanpa sihir pelindung atau suhu tubuh vampir," tanya Leo, penasaran.
"Dia tidak bertahan karena tempatnya, Leo. Dia bertahan karena Kakek Revan," jawab Aurora menoleh sedikit, membiarkan ujung jubah Leo menyapu lantai marmer.
"Kakek Revan mungkin terlihat seperti penguasa yang kejam bagi dunia, tapi di depan Nenek Alana, dia hanya seorang pria yang takut istrinya kedinginan, itu adalah sisi kakek yang paling aku kagumi," lanjut Aurora, tersenyum tipis.
"Oh, Raja Vampir itu ternyata tidak jauh beda dengan Ayah ku, yang bertekuk lutut di hadapan istri nya, pantas saja Ayahmu, Raja Arion, juga tidak jauh berbeda," canda Leo, tertawa kecil.
"Hei! Itu namanya pengabdian, seorang pria sejati," protes Aurora menyikut lengan Leo, meski pukulannya sangat pelan.
"Sebut saja apa pun yang membuatmu senang, Tuan Putri," jawab Leo dengan nada datar yang menggoda.
Mereka sampai di depan sebuah pintu ganda berukir motif mawar perak, tapi sebelum Aurora sempat menyentuh gagang pintunya, Leo sudah lebih dulu melangkah maju dan membukakannya.
Ceklekk
"Silakan, Cucu Sang Legenda," ucap Leo dengan nada formal yang sedikit berlebihan.
Aurora mendengus kecil, lalu masuk ke dalam ruangan itu, sebuah ruang duduk pribadi yang hangat, di mana Ratu Serena sudah menunggu di dekat meja bundar.
"Ah, kalian di sini," ucap Serena tersenyum lembut.
Duduklah, kalian butuh asupan energi setelah pagi yang melelahkan," ucap Ratu Serena.
Leo menarik kan kursi untuk Aurora sebelum duduk di seberangnya dengan tegak, di depan Ratu Serena, Leo kembali menjadi seorang pria yang sangat disiplin.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucap Leo singkat.
"Makanlah, Leo, jangan terlalu kaku, di ruangan ini, kau bukan hanya pelindung, tapi tamu keluarga," ucap Serena sambil menuangkan teh untuk Leo.
"Aku baru saja mendapat kabar lewat pesan burung dari perbatasan. Duke Lucas sudah hampir sampai di wilayah Alistair, sepertinya dia benar-benar memacu kudanya tanpa ampun," ucap Ratu Serena, terkekeh kecil.
"Sudah kuduga, Ayah mungkin akan mematahkan rekor berkuda tercepat dalam sejarah hanya demi bertemu Ibu tepat waktu untuk makan siang," ucap Leo, menggeleng kan kepala nya.
"Setidaknya kamu tahu dari mana asal sifat keras kepalamu, Leo," ucap Aurora terkekeh pelan.
"Setidaknya aku keras kepala untuk hal yang berguna, seperti menarik seseorang keluar dari dimensi cermin," jawab Leo tanpa ekspresi, sambil meraih sepotong kue kecil dan memakannya dengan tenang.