Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Malaikatku
Karina terdiam sejenak, jantungnya berdenyut nyeri. Namun, bayangan Agus yang tersenyum padanya saat mereka makan bakso di pinggir jalan, bayangan Agus yang menjanjikan kebahagiaan meski dalam kesederhanaan mampu mengalahkan akal sehatnya.
Di samping kakinya, ada sebuah koper. "Jika pilihanku berarti aku harus melepaskan nama Wijaya, maka aku akan melakukannya. Aku akan pergi!" ucap Karina.
Tanpa menoleh lagi, Karina menyeret kopernya menembus hujan. Air hujan langsung membasahi gaun mahalnya, tapi ia terus berjalan menuju gerbang besar yang biasanya terbuka otomatis untuk sedan mewahnya. Kini, ia berjalan kaki sendirian.
Karina terus berjalan dengan langkah berat di tengah guyuran hujan yang kian menderu, gaun sutra yang melekat di tubuhnya kini terasa dingin dan berat, namun beban di pundaknya jauh lebih menyesakkan.
Karina menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap gerbang megah kediaman Wijaya yang perlahan tertutup rapat. Pintu itu bukan hanya menutup aksesnya ke kemewahan, tapi juga menutup hubungannya dengan orang tua yang sangat ia cintai.
Dengan sisa tenaga, Karina memanggil taksi daring, ia tidak menuju ke apartemen mewahnya di pusat kota, melainkan ke sebuah kawasan padat penduduk di pinggiran kota. Di sanalah, sebuah bangunan kos berlantai dua yang catnya mulai mengelupas berdiri di antara gang-gang sempit.
Sudah satu tahun Karina menyewa kamar kos di sana dan selama ini ia menjalani kehidupan ganda yang melelahkan namun ia anggap romantis, setiap kali akan bertemu Agus, ia akan pulang ke kos ini dan mengganti pakaian bermereknya dengan kaos oblong dan celana murah lalu menghapus riasan wajahnya yang mahal. Baginya, kamar kos ini adalah ruang suci di mana ia bisa menjadi Karina yang biasa dan bukan putri mahkota Grup Wijaya.
Karina membuka pintu pagar besi yang berdecit, bau khas pemukiman padat perpaduan antara aroma selokan dan asap dapur menyambut indranya. Karina menaiki tangga beton yang sempit sambil menyeret kopernya dan sesampainya di depan pintu kamar, ia terduduk lemas di lantai semen yang dingin.
Tangisnya pecah, bukan karena ia menyesali keputusannya, tapi karena luka akibat ucapan Ayahnya terasa begitu nyata. 'Kamu akan menjadi orang asing bagi kami,' kalimat itu terus terngiang dan menusuk-nusuk jantungnya.
Kamar kos itu terasa lebih sempit dari biasanya, di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip, Karina menatap pantulan dirinya di cermin retak yang tertempel di pintu lemari kayu murah.
Wajahnya pucat, matanya sembap dan rambutnya lepek terkena air hujan, tidak ada lagi jejak keanggunan seorang pewaris takhta bisnis, yang tersisa hanyalah seorang wanita muda yang mempertaruhkan segalanya demi sebuah janji.
Tiba-tiba, suara deru motor tua berhenti tepat di bawah jendela kamarnya. Karina segera menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam dan berusaha memasang senyum terbaiknya. Karina tahu itu adalah suara motor Agus, motor bebek tua yang selalu menjadi kebanggaan pria itu meski knalpotnya sering kali mengeluarkan asap hitam.
"Karina? Kamu di dalam?" Suara bariton Agus terdengar dari luar.
Karina turun dan membuka pintu, di mana Agus berdiri di sana dan masih mengenakan jaket jeans yang mulai menipis di bagian siku. Wajahnya yang kusam karena debu jalanan langsung berubah cerah saat melihat Karina dam tanpa aba-aba, Karina menghambur ke pelukan Agus lalu menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
"Kamu kenapa?" tanya Agus.
"Aku kangen kamu," ucap Karina.
"Hahaha, aku juga. Oh ya, aku kesini buat ngasih martabak ini, sebentar lagi kan hujan, jadi aku bawain kamu martabak buat nyemil," ucap Agus.
"Soal ajakan kamu menikah, aku mau," ucap Karina tiba-tiba.
"Beneran?" tanya Agus dan diangguki Karina.
"Terima kasih sayang," ucap Agus dan memeluk Karina.
Hingga beberapa bulan kemudian, Agus dan Karina menikah. Pernikahan itu tidak dihadiri oleh satu pun anggota keluarga Wijaya, di sebuah KUA kecamatan yang pengap, Karina resmi menjadi istri Agus.
Tidak ada gaun rancangan desainer ternama, yang ada hanya kebaya putih murah yang ia beli di pasar. Namun, saat itu, Karina merasa kecantikan batinnya jauh melampaui segala perhiasan yang pernah ia miliki.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu, sayang. Meskipun sekarang aku cuma punya motor tua ini," bisik Agus setelah mereka sah menjadi suami istri.
Karina tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Agus yang masih beraroma debu proyek, ia merasa menjadi pahlawan bagi cintanya sendiri. Namun, realita segera menghantam, Agus yang hanya bekerja sebagai buruh kasar di sebuah toko material tiba-tiba di pecat dan menganggur beberapa bulan hingga Agus berniat untuk membuka usaha sendiri, namun ia tidak memiliki modal untuk mewujudkan mimpinya membangun usahanya sendiri.
Saat Agus tertidur karena kelelahan, Karina membuka koper tuanya. Di balik tumpukan baju-baju kaus murah, terdapat sebuah kotak beludru kecil yang ia selundupkan keluar dari rumah Ayahnya. Isinya adalah sepasang anting berlian dan sebuah kalung safir pemberian almarhum Neneknya, warisan turun-temurun keluarga Wijaya yang nilainya bisa membeli sepuluh motor baru.
"Maafin Karina, Bunda," bisik Karina sambil mengusap air matanya.
Keesokan harinya, Karina pergi ke sebuah toko emas di pinggiran kota yang tidak mengenalnya. Karina menjual perhiasan itu dengan harga yang jauh di bawah nilai aslinya karena ia butuh uang tunai secepatnya. Dengan uang puluhan juta di tangan, ia pulang dan meletakkannya di atas meja makan kayu yang reyot.
"Mas, lihat ini," ucap Karina saat Agus pulang.
Mata Agus membelalak melihat tumpukan uang itu, "Ini... dari mana, sayang? Kamu nggak macam-macam kan?" tanya Agus.
Karina berbohong dengan lancar, "Ini tabunganku selama kerja jadi penjaga toko, aku simpan sedikit demi sedikit untuk masa depan kita, gunakan ini untuk sewa ruko kecil dan beli stok material pertama kamu," ucap Karina.
Agus memeluk Karina begitu erat dan hampir membuat Karina sesak napas, "Kamu malaikatku, sayang! Aku bersumpah, uang ini akan jadi miliaran di tanganku dan aku akan bahagiakan kamu," ucap Agus.
Namun, Karina tahu uang saja tidak cukup. Di bisnis material dan konstruksi, koneksi adalah segalanya dan Agus yang tidak dikenal siapa pun mustahil mendapatkan proyek besar. Maka, Karina mulai menjalankan kehidupan ganda yang sesungguhnya.
Saat Agus sibuk membersihkan ruko sewaan mereka yang ia namakan Agus Materialindo, Karina pergi ke warnet setiap hari, ia mengirimkan email-email anonim kepada para manajer proyek di perusahaan-perusahaan yang pernah menjadi rekanan Grup Wijaya.
Karina menggunakan gaya bahasa profesional tingkat tinggi yang hanya dikuasai oleh eksekutif papan atas, ia memberikan bisikan tentang proyek-proyek pemerintah yang akan datang dan merekomendasikan sebuah bengkel material kecil milik Agus sebagai pemasok yang mudah diatur dan fleksibel.
.
.
.
Bersambung.....