NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. The Shattered Innocence and The Miracle from Heaven

lLangit New York tampak kelabu saat Julian dan Alice mendarat. Harapan mereka membumbung tinggi; satu tangan membawa berkas medis untuk pemulihan Alice, tangan lainnya menggenggam dokumen awal adopsi Leo. Mereka sudah menyiapkan kamar bernuansa biru langit di rumah mereka, lengkap dengan miniatur pesawat yang sangat disukai Leo.

"Sedikit lagi, Al. Sedikit lagi keluarga kita akan lengkap," bisik Julian sembari mengecup kening Alice di dalam mobil menuju rumah.

Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik. Saat mereka tiba di kediaman Samuel Vane, ponsel Julian bergetar hebat. Itu adalah panggilan dari pengelola panti asuhan Grace Home.

"Tuan Reed... Leo... Leo diculik. Seseorang yang mengaku sebagai utusan Anda membawanya pergi dua jam yang lalu," suara di seberang sana gemetar karena tangis.

Dunia Julian seolah runtuh. Samuel Vane segera bergerak, menghubungi koneksi FBI-nya. Hanya butuh waktu satu jam untuk mengetahui bahwa ini adalah ulah Sean Miller. Meski berada di balik jeruji besi, Sean masih memiliki sisa-sisa anak buah dari The Shadow Syndicate yang belum tertangkap. Ia menggunakan "orang dalam" di panti asuhan untuk menculik Leo—sebagai serangan terakhir untuk menghancurkan batin Julian dan Alice.

Penyergapan dilakukan di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Julian bersikeras ikut bersama tim SWAT, namun saat mereka mendobrak masuk, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih menyakitkan daripada peluru mana pun.

Leo tergeletak di sebuah dipan kayu yang dingin. Wajahnya membiru, tangannya masih mencengkeram dadanya sendiri. Alat pengisap asmanya terinjak hancur di lantai, tak jauh dari tempatnya terbaring.

"Leo!" Julian menerjang maju, mengangkat tubuh mungil yang sudah dingin itu ke dalam pelukannya. "Bangun, Nak! Paman di sini! Leo!"

Julian melakukan CPR dengan tangan gemetar, ia terus memanggil nama Tuhan, namun denyut nadi Leo tidak pernah kembali. Anak malang itu meninggal dalam kesendirian, sesak napas di tengah kegelapan dan ketakutan karena asmanya kambuh saat disekap.

Alice, yang memaksa turun dari mobil saat melihat tim medis membawa kantong jenazah, hanya bisa terpaku. Saat kain penutup dibuka sedikit dan ia melihat wajah Leo yang tenang namun tak bernyawa, sebuah jeritan pilu yang memecah langit keluar dari mulutnya.

"TIDAK! LEO! JANGAN TINGGALKAN MAMA!"

Alice jatuh berlutut di aspal yang kasar. Ia menangis histeris, memukul-mukul dadanya sendiri sampai akhirnya tubuhnya lemas dan ia jatuh pingsan di pelukan Julian yang juga sedang terisak.

Alice dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri akibat syok berat. Julian duduk di samping ranjangnya, kepalanya tertunduk di atas tangan Alice yang masih dingin. Ia merasa gagal. Ia gagal melindungi anak yang ingin ia selamatkan.

Samuel Vane masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat serius namun matanya menunjukkan kelembutan. "Julian... Sean Miller akan membusuk selamanya. FBI sudah menambah tuntutan pembunuhan berencana padanya. Dia tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi."

Julian tidak menjawab. Ia hanya terus menggenggam tangan Alice. "Ini salahku, Pa. Aku pembawa sial bagi semua orang di dekatku."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Dokter Sarah, spesialis yang menangani Alice, masuk dengan wajah yang terlihat bingung sekaligus takjub. Ia membawa lembar hasil tes darah terbaru milik Alice yang diambil saat ia baru tiba di unit gawat darurat.

"Tuan Reed... saya harus menyampaikan sesuatu. Ini sangat tidak biasa," ujar Dokter Sarah.

Julian mendongak dengan mata merah. "Apa? Apa kondisi fisiknya memburuk?"

"Tidak. Alice pingsan bukan hanya karena syok, tapi karena tubuhnya sedang berada dalam kondisi yang sangat sensitif," Dokter Sarah menarik napas panjang. "Zat penahan kesuburan yang dulu diberikan agensi secara ilegal... tampaknya sudah luruh sepenuhnya secara alami akibat perubahan hormon besar-besaran saat Alice berada di perdesaan yang tenang. Mukjizat itu terjadi lebih cepat dari pengobatan kita."

Julian terpaku. "Maksud Dokter?"

"Alice hamil, Julian. Usia kandungannya sudah empat minggu. Pingsannya Alice adalah reaksi tubuhnya untuk melindungi janin itu dari stres yang luar biasa."

Julian tertegun, seolah waktu berhenti berputar. Di satu sisi, ia berduka sedalam-dalamnya atas kepergian Leo, namun di sisi lain, Tuhan menitipkan nyawa baru di rahim Alice tepat di saat mereka merasa kehilangan segalanya.

Alice perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit putih, air mata masih mengalir di sudut matanya. "Leo... mana Leo?" bisiknya parau.

Julian segera memeluk istrinya, menangis di bahunya. "Al... Leo sudah tenang bersama Tuhan. Dia tidak sakit lagi sekarang."

Alice mulai terisak lagi, namun Julian memegang wajahnya, menatapnya dengan penuh keajaiban. "Tapi Al... dengarkan aku. Leo tidak pergi begitu saja. Dia seolah memberikan tempatnya untuk adik kecilnya. Kau hamil, Al. Ada bayi di dalam perutmu."

Alice terdiam. Tangisnya berhenti seketika. Ia menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. "Hamil? Tapi... dokter bilang..."

"Tuhan punya rencana lain, Al," Julian mencium tangan Alice berkali-kali. "Leo adalah malaikat yang membuka jalan bagi kita. Dia mengajarkan kita mencintai sebelum kita memiliki anak kandung sendiri."

Mereka berdua berpelukan dalam duka dan syukur yang campur aduk. Sebuah keluarga yang hampir hancur oleh kejahatan Sean Miller, kini kembali dikuatkan oleh sebuah harapan baru.

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!