Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jebakan di Balik Layar dan Puncak Kehinaan
Bab 10: Jebakan di Balik Layar dan Puncak Kehinaan
Rencana Arini dan Bima kali ini jauh lebih rapi. Mereka tidak lagi mengincar fisik, melainkan karakter dan eksistensi. Di apartemen Bima, mereka menyusun strategi sabotase digital yang akan dilakukan tepat pada malam inaugurasi Reihan sebagai Direktur Utama Dirgantara Group.
Arini memberikan akses kode yang ia curi dari ponsel lama ayah Reihan kepada Bima. Rencananya: saat Reihan memberikan pidato kemenangan di depan para pemegang saham dan media, Bima akan meretas layar raksasa di aula utama untuk memutar rekaman pengakuan rahasia ayah Arini tentang korupsi bersama Dirgantara, serta bukti bahwa Reihan melakukan penggelapan dana untuk akun Swiss-nya sendiri.
"Ini akan menghancurkan mereka dalam satu malam, Arini," Bima meyakinkan sambil jemarinya menari di atas papan ketik. "Kau akan bebas, dan mereka akan membusuk di penjara."
Arini menatap layar monitor dengan tatapan haus darah. "Aku ingin melihat wajah Reihan saat dunianya runtuh."
Malam puncak itu tiba. Grand Ballroom Hotel Mulia dipenuhi oleh elit Jakarta. Arini masuk dengan identitas palsu sebagai tamu dari vendor teknologi, mengenakan wig pendek hitam dan gaun yang sangat tertutup untuk menutupi identitasnya. Ia berdiri di pojok ruangan, matanya tertuju pada panggung di mana Reihan berdiri dengan gagahnya, didampingi oleh Bianca yang tampak sangat intim di sisinya.
"Hadirin sekalian," suara Reihan bergema melalui pelantang suara, penuh wibawa dan kemenangan. "Malam ini adalah awal dari era baru bagi Dirgantara Group..."
Arini menekan tombol pada perangkat kecil di tangannya, memberi sinyal pada Bima yang berada di dalam van di parkiran bawah tanah untuk memulai serangan.
Bzzzt!
Layar raksasa di belakang Reihan berkedip. Arini menahan napas, menunggu rekaman kehancuran itu muncul. Namun, yang muncul di layar bukanlah rekaman korupsi Surya Atmadja.
Sebaliknya, layar itu menampilkan rekaman CCTV apartemen Bima dari malam sebelumnya.
Hening seketika menyelimuti aula. Seluruh tamu undangan terperangah melihat adegan panas antara Arini dan Bima di atas ranjang. Gambar itu sangat jelas, menyoroti wajah Arini yang penuh gairah dan Bima yang memeluknya.
Arini mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia menoleh ke arah Reihan di panggung. Reihan tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang jauh lebih mengerikan daripada biasanya.
"Seperti yang kalian lihat," ucap Reihan ke mikrofon, suaranya kini terdengar tenang dan penuh simpati yang dibuat-buat. "Istri saya yang malang, Arini, tampaknya telah kehilangan kewarasannya setelah skandal keuangan ayahnya terungkap. Dia berselingkuh dengan seorang investigator gadungan untuk mencoba memeras perusahaan ini."
Tiba-tiba, pintu aula terbuka. Dua petugas keamanan menarik Bima masuk dalam kondisi babak belur.
"Bima!" jerit Arini, namun suaranya tenggelam oleh kilatan lampu kamera wartawan yang kini berbalik menyerangnya.
Reihan berjalan turun dari panggung, mendekati Arini yang kini terkepung di tengah ruangan. Ia berbisik tepat di telinga Arini, aroma parfum mahalnya terasa seperti racun. "Kau pikir aku tidak tahu kau mencuri ponsel itu? Kau pikir aku tidak tahu Bima adalah mantan kekasihmu? Aku membiarkanmu pergi padanya, Arini. Aku yang memasang kamera di apartemennya."
"Kau... kau menjebakku dengan tubuhku sendiri?" bisik Arini dengan suara bergetar hebat.
"Kau ingin bermain licik, kan? Aku hanya memberimu panggung," Reihan menjauh, lalu menatap kerumunan wartawan. "Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Istri saya akan segera dibawa ke fasilitas rehabilitasi mental untuk pemulihan."
Bianca melangkah maju, memberikan sebuah dokumen kepada Arini di depan kamera. "Ini adalah surat gugatan cerai dan pernyataan pelepasan hak asuh atas seluruh asetmu. Tanda tangani, atau rekaman ini akan disiarkan langsung di seluruh stasiun televisi nasional besok pagi."
Arini jatuh berlutut di atas lantai karpet yang mahal. Ia melihat ke arah Bima yang menatapnya dengan penuh rasa bersalah dan kesakitan. Arini menyadari satu hal yang sangat pahit: Reihan tidak pernah mencintainya, bahkan tidak pernah menganggapnya lawan yang sepadan. Ia hanyalah sebuah pion yang sengaja dibiarkan merasa seperti ratu sebelum akhirnya dihancurkan dengan kehinaan yang paling dalam.
Rencananya bukan sekadar gagal. Rencana ini telah menghancurkan satu-satunya hal yang tersisa dari dirinya: harga diri.
Di bawah sorotan lampu dan cemoohan para elit, Arini menyadari bahwa di dunia Reihan dan ayahnya, kebenaran tidak ada harganya jika dibandingkan dengan kekuatan narasi. Ia kini dicap sebagai istri pezina yang tidak stabil secara mental, sementara suaminya menjadi pahlawan yang dikhianati.
"Aku membencimu, Reihan," desis Arini saat petugas keamanan mulai menyeretnya keluar.
Reihan hanya memperbaiki letak jam tangannya, bahkan tidak menoleh. "Kebencianmu tidak bernilai apa-apa di bank, Arini."
Arini dilemparkan ke dalam sebuah mobil hitam yang terkunci. Ia kehilangan Bima, kehilangan bukti, dan kini kehilangan nama baiknya. Namun, saat mobil itu mulai berjalan, ia menemukan sebuah kertas kecil yang diselipkan Bima di telapak tangannya saat mereka bersenggolan tadi.
Kertas itu berisi koordinat dan sebuah kalimat pendek: "Jangan menyerah. Masih ada orang ketiga yang mereka takuti."