Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM TERKAHIR
"Calista! Putriku! Tolong aku, bicaralah pada Grand Duke! Aku hanya dipaksa, Nak! Count Miller mengancam akan membunuhku jika aku tidak membantunya!" teriak pria itu dengan suara serak.
"Berhenti berbohong, aku melihat binar di matamu saat kau menerima emas kapulaga itu di gudang belakang. Kau tidak terlihat terancam, kau terlihat rakus," ucap Calista berjongkok agar matanya sejajar dengan pria itu.
Pria itu terdiam, mulutnya mengatup rapat, di depan nya ini benar-benar jauh berbeda dengan Calista yang dia kenal.
"Katakan padaku satu hal! Kenapa kau setuju untuk membunuh putri kandungmu sendiri? Kau tahu jika paviliun itu dibakar, aku yang ada di dalamnya juga akan menjadi abu bersama Pangeran," tanya Calista, suaranya merendah namun penuh penekanan.
"Kau hanya seorang pelayan, Calista yang beruntung bisa menjadi ibu Susu Pengeran Mahkota, jika kau mati, mereka menjanjikan aku kekayaan yang bisa membuatku hidup seperti bangsawan di desa lain, aku pikir, aku bisa memulai hidup baru," jawab Pria tua itu menunduk, menghindari tatapan tajam Calista.
Calista tertawa kecil, sebuah tawa kering yang tidak mengandung kebahagiaan.
"Hidup baru di atas tumpukan mayat anakmu sendiri? Kau benar-benar manusia yang menjijikkan," ucap Calista, mengepal kan tangan nya kuat.
Calista tidak bisa membayangkan, seandainya dirinya tidak masuk ke dalam tubuh ini, dan Calista asli yang ada di paviliun waktu itu, mungkin saat ini Pengeran Lorenzo dan juga Calista asli sudah menjadi abu.
"Calista, kumohon! Aku ayahmu!" teriak Ayah Calista, tidak tahu malu.
"Ayahku sudah mati saat dia memegang obor untuk membakar tempat tinggal ku," jawab Calista dingin.
Calista berdiri dan menatap ayahnya seolah pria itu hanyalah serangga kecil yang tidak berarti.
"Besok, di alun-alun, aku akan memastikan kau berdiri di barisan depan, aku ingin kau melihat bagaimana kekayaan yang kau impikan itu berubah menjadi tali gantungan," ucap Calista, tanpa sedikit pun rasa iba di hatinya.
"TIDAK!"
"Calista! Jangan lakukan ini padaku! Aku membesarkan mu!" teriak pria itu histeris saat Calista berbalik pergi.
Calista tidak menoleh lagi, rasa sesak yang sempat muncul di dadanya, sisa-sisa emosi dari pemilik tubuh asli, perlahan menghilang, digantikan oleh ketenangan yang mematikan.
Saat Calista berjalan kembali menuju tangga, dia berpapasan dengan Owen yang ternyata diperintahkan Jayden untuk menyusulnya secara diam-diam.
"Nona Calista, Anda baik-baik saja?" tanya Owen, melihat wajah Calista yang pucat di bawah cahaya obor.
"Aku baik-baik saja, Owen, hanya sedikit membersihkan sisa-sisa masa lalu yang mengganggu," jawab Calista, menyerahkan kunci sel itu kepada Owen.
"Pastikan pria di sel ujung itu tidak punya kesempatan untuk mengakhiri hidupnya sendiri malam ini, aku ingin dia tetap bangun sampai matahari terbit besok," ucap Calista, berlalu pergi dari sana.
"Baik, Nona," jawab Owen, mengangguk kan kepala nya.
Calista kembali ke atas, menuju kamar Lorenzo. Namun saat melewati lorong menuju sayap kanan, dia melihat siluet Jayden yang masih berdiri di balkon, menatap ke arah alun-alun kota yang mulai diterangi cahaya fajar yang masih sangat tipis.
Calista tidak langsung kembali ke kamar Lorenzo, melainkan membelokkan arah menuju balkon tempat Jayden berdiri.
Hawa dingin fajar menusuk kulitnya, namun panas di hatinya akibat pertemuan di sel tadi masih belum sepenuhnya padam.
Jayden tidak menoleh, namun dia tahu Calista ada di sana, aroma samar mawar dan besi, perpaduan aneh yang kini menjadi ciri khas Calista, tertiup angin ke arahnya.
"Sudah selesai memberikan ucapan selamat malamnya?" tanya Jayden datar, suaranya parau karena terjaga semalaman.
"Hanya memastikan bahwa penyesalan tidak akan datang menjemput mereka dalam tidur. Aku ingin mereka tetap terjaga, menghitung setiap detik menuju ajal," ucap Calista berdiri di samping Jayden, menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon yang dingin.
Jayden melirik garis wajah Calista dari samping, cahaya fajar yang abu-abu mulai menyinari garis rahangnya yang tegas.
"Kau tampak lebih tenang setelah bertemu pria itu, apakah membencinya membuatmu merasa lebih hidup, atau justru semakin hampa?"
"Bukan keduanya, karena itu hanya seperti membuang sampah yang sudah lama membusuk di sudut ruangan, melelahkan, tapi harus dilakukan agar aku bisa bernapas lega," jawab Calista menarik napas panjang, membiarkan udara pagi memenuhi paru-parunya.
Jayden memutar tubuhnya, bersandar pada pagar balkon sehingga dia kini menghadap Calista sepenuhnya.
"Dia menyebut-nyebut soal hubungan darah, tapi di kerajaan ini, pengkhianatan terhadap darah sendiri adalah dosa paling rendah, tapi bagi sebagian orang, emas jauh lebih kental daripada darah," ucap Jayden, menatap dalam mata Calista.
"Dan bagiku, kesetiaan jauh lebih berharga daripada keduanya," jawab Calista tajam, menatap langsung ke mata Jayden.
"Aku tidak peduli siapa yang melahirkan ku atau siapa yang menjanjikan kekayaan, karena fokusku hanya pada satu hal, yaitu Lorenzo harus hidup, dan siapa pun yang mencoba menyentuhnya harus musnah," lanjut Calista, dengan mata berkilat tajam.
Jayden terdiam menatap mata Calista semakin dalam, ada sesuatu dalam tatapan Calista yang selalu membuatnya merasa bahwa wanita di depannya ini bukanlah pelayan biasa yang secara ajaib menjadi berani.
Keberaniannya tidak terasa seperti nekat, melainkan seperti pengalaman yang sudah teruji oleh ribuan badai.
Jayden merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah lencana perak kecil, simbol pribadi kediaman Grand Duke.
"Pakai ini di pakaianmu nanti," ucap Jayden, menarik tangan Calista dan meletakkan lencana itu di telapak tangannya.
"Besok, kamu bukan lagi sekadar ibu susu atau pelayan, tapi kamu adalah orang yang berada di bawah perlindungan penuh ku, dan siapa pun yang berani berbisik buruk tentang latar belakangmu atau masa lalu mu, akan berurusan langsung dengan pedangku," ucap Jayden, dengan sungguh-sungguh.
"Ini lebih dari sekadar perlindungan, bukan? Kau memberiku panggung," tanya Calista menatap lencana dingin di tangannya, lalu beralih pada Jayden.
"Aku memberimu kebebasan, gunakan itu untuk menghancurkan apa pun yang tersisa," jawab Jayden, tanpa mengalihkan tatapannya dari Calista.
"Sekarang, kembalilah ke kamar mu, mandilah, bersihkan bau penjara itu darimu. Lorenzo akan segera bangun, dan dia butuh melihat pelindung nya, bukan seorang algojo," lanjut Jayden, menegakkan tubuh nya.
"Sampai bertemu di alun-alun, Jayden," ucap Calista mengepalkan tangannya yang memegang lencana itu.
Calista pergi dari sana, dan kembali ke dalam kamar.
Ruangan itu masih hangat dan tenang, Calista mendekati ranjang Lorenzo, memperhatikan dada kecil itu naik-turun dengan teratur.
Calista duduk di tepi tempat tidur, menyentuh jemari kecil Lorenzo yang menggenggam pinggiran selimut.
Di dalam kepalanya, dia merangkai strategi, hari ini adalah akhir dari para pengkhianat, namun Calista tahu ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar melawan Isabella yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang istana.
"Tidurlah yang nyenyak, Pangeran Kecil, saat kamu bangun nanti, dunia akan sedikit lebih bersih untukmu," bisik Calista lirih.
Calista melepaskan sepatu botnya, merasakan kelelahan mulai menarik-narik kesadarannya. Namun, sebelum dia memejamkan mata untuk istirahat singkat, dia menyelipkan belati emasnya di bawah bantal.
Di dunia yang kejam ini, ketenangan hanyalah jeda singkat di antara dua pertempuran.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.