NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian di Atas Serpihan Kasih

Malam itu, langit Jakarta seolah membeku. Tidak ada suara selain deru angin yang sesekali menghantam atap seng rumah petak mereka, menimbulkan bunyi berisik yang menambah kegelisahan di dada Andini. Di dalam kamar yang remang, ia duduk di tepi tempat tidur, menatap sebuah koper kecil yang sudah terisi setengah. Di sampingnya, beberapa kotak perhiasan terbuka, memantulkan cahaya redup dari lampu neon yang berkedip-kedip.

Ini adalah perhiasan yang ia kumpulkan selama tujuh tahun pernikahan. Ada kalung emas tipis hadiah ulang tahun pertama yang dulu ia anggap terlalu sederhana, gelang keroncong yang dibelikan Hilman dengan uang lembur selama tiga bulan penuh, dan beberapa pasang anting yang selalu ia keluhkan karena modelnya yang "ketinggalan zaman". Semuanya kini ia kumpulkan, siap untuk diuangkan sebagai modal awal pelariannya bersama Reno.

"Hanya ini?" gumam Andini dengan nada kecewa. Matanya beralih ke kalung perak yang baru saja ia ambil dari tempat sampah kemarin—hadiah terakhir Hilman yang kini tampak menyedihkan. Ia tetap memasukkannya ke dalam tas kecil. Baginya, logam itu tidak ada artinya dibanding janji apartemen mewah di Jakarta Selatan yang diucapkan Reno siang tadi.

Andini melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Di luar sana, di ruang tengah, Hilman sedang tertidur di atas sofa. Suara batuknya yang berat dan serak terdengar sesekali, memecah kesunyian malam. Biasanya, suara itu akan membuat Andini merasa jengkel, namun malam ini, suara itu justru memicu rasa ingin cepat-cepat pergi. Ia merasa rumah ini sudah seperti kuburan bagi masa mudanya, dan Hilman adalah penjaga makam yang menahannya dalam kemiskinan.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Andini berdiri. Ia berjalan berjinjit, menghindari bagian lantai papan yang biasanya berderit. Tujuannya satu: lemari di sudut ruangan tempat Hilman menyembunyikan jaket kerjanya. Ia tahu, kunci "kotak rahasia" yang sering disebut Hilman sebagai harta karun pasti ada di sana.

"Lima puluh juta untuk Reno," bisik Andini dalam hati. "Kalau kotak itu benar-benar berisi uang banyak, aku akan ambil sebagian untuk Reno, lalu sisanya akan kubawa lari. Aku tidak perlu menunggu pria tua ini mati untuk bisa hidup mewah."

Ia merogoh saku jaket Hilman yang tergantung di balik pintu. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah kunci kecil dengan gantungan tali rafia yang sudah kusam. Jantungnya berdegup kencang—campuran antara rasa takut tertangkap dan gairah akan kekayaan mendadak.

Andini segera menuju kolong meja riasnya. Di sana, di balik tumpukan kotak sepatu bekas, ia menemukan kotak kayu itu. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci ke lubangnya.

Klik.

Kotak itu terbuka. Namun, bukannya tumpukan uang tunai yang menggunung, ia justru melihat tumpukan buku tabungan, beberapa lembar sertifikat deposito yang sudah kusam, dan sebuah amplop putih bersih yang diletakkan di paling atas.

Andini tidak tertarik pada surat itu. Ia segera menyambar buku tabungan yang paling tebal. Ia membukanya dengan terburu-buru, jarinya menelusuri kolom saldo terakhir.

Matanya melebar. Napasnya tertahan.

Rp999.000.000.

"Satu... satu miliar kurang satu juta?" Andini nyaris berteriak. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak pernah membayangkan pria yang ia maki setiap hari, pria yang ia anggap pecundang karena hanya memberinya uang belanja recehan, ternyata menyimpan kekayaan sebesar ini.

Rasa serakah yang luar biasa langsung menguasai otaknya. Dengan satu miliar ini, ia tidak hanya bisa membantu Reno, ia bisa membeli segalanya. Ia bisa meninggalkan gang sempit ini dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Ia segera mengambil buku tabungan itu, sertifikat deposito, dan semua perhiasan emasnya, lalu memasukkannya ke dalam koper.

Saat ia hendak menutup kotak itu, matanya tertuju pada amplop putih yang tertinggal. Di depannya tertulis dengan tulisan tangan Hilman yang miring dan gemetar: "Untuk Istriku Tersayang, Andini."

Andini mendengus. "Tersayang? Cukup sudah dramanya, Mas. Uang ini adalah bayaran atas tujuh tahun masa mudaku yang kamu sia-siakan."

Ia menyambar koper dan tas jinjingnya. Ia tidak berniat membangunkan Syifa. Dalam pikirannya yang sudah diracuni oleh janji Reno, Syifa akan lebih baik jika tetap bersama ayahnya untuk sementara waktu. Nanti, setelah ia mapan di apartemen barunya, ia mungkin akan menjemput anaknya—atau mungkin tidak, jika Reno keberatan.

Andini melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, lampu dimatikan, namun cahaya bulan yang masuk dari ventilasi jendela menerangi tubuh Hilman yang meringkuk di sofa. Hilman tidak menggunakan selimut. Tubuhnya yang kurus tampak gemetar kencang dalam tidurnya.

Andini berjalan melewatinya dengan langkah yang mantap. Namun, tepat saat ia berada di depan pintu depan, langkahnya terhenti oleh sebuah suara.

"An... dini..."

Andini membeku. Suaranya sangat lemah, lebih mirip bisikan angin daripada suara manusia. Ia menoleh perlahan, jantungnya seolah hendak melompat keluar.

Hilman tidak bangun. Ia mengigau dalam tidurnya. Wajahnya yang pucat pasi tampak penuh dengan penderitaan. Tangannya yang terbalut perban kotor itu bergerak-gerak di udara, seolah mencoba menggapai sesuatu yang tak kasat mata.

"Maaf... Mas belum... kaya..." bisik Hilman lagi. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam, jatuh ke bantal kusamnya.

Andini merasakan getaran aneh di dadanya. Sebuah rasa yang sudah lama ia matikan: nurani. Namun, bayangan Reno yang sedang menunggunya di ujung gang dengan mobil mewah sewaan dan janji-janji manis kembali muncul. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa bersalah itu.

"Ini salahmu sendiri, Mas. Kenapa kamu menyimpan uang sebanyak ini tapi membiarkanku hidup seperti pengemis? Kamu sengaja ingin menyiksaku, kan?" gumam Andini ketus, mencoba membenarkan tindakannya yang tega mencuri harta terakhir suaminya yang sedang sekarat.

Ia membuka kunci pintu perlahan. Angin dingin malam langsung menyergap wajahnya. Ia melangkah keluar ke teras, menutup pintu tanpa suara.

Di ujung gang, sebuah mobil hitam dengan lampu dim yang menyala sekali tampak menunggu. Itu pasti Reno. Andini mempercepat langkahnya, menyeret kopernya di atas semen gang yang kasar. Ia merasa selangkah lagi menuju kebebasan.

Namun, baru beberapa meter ia berjalan, sayup-sayup dari arah dalam rumah, ia mendengar sebuah bunyi gedebuk yang cukup keras, diikuti oleh teriakan histeris dari suara yang sangat ia kenal.

"AYAAAAAAHHH!!! AYAH BANGUN!!! JANGAN TIDUR DI LANTAI, AYAH!!!"

Itu suara Syifa.

Andini berhenti. Langkahnya terpaku di tengah gang yang gelap. Ia menoleh ke belakang, ke arah rumah kecilnya. Cahaya lampu di dalam rumah mendadak menyala terang. Ia bisa melihat bayangan Syifa yang sedang panik dari balik kaca jendela yang buram.

Di saat yang bersamaan, mobil di ujung gang membunyikan klakson pendek. Reno menurunkan kaca jendela, melambai dengan wajah tidak sabar. "Ayo, Andini! Cepat! Kita harus berangkat sekarang kalau mau sampai di bandara sebelum subuh!"

Andini berdiri di persimpangan jalan paling krusial dalam hidupnya. Di tangannya, ada koper berisi satu miliar rupiah yang dikumpulkan suaminya dengan taruhan nyawa. Di depannya, ada Reno yang menjanjikan kemewahan palsu. Dan di belakangnya, ada suara teriakan anaknya yang memilukan di samping tubuh suaminya yang mungkin baru saja jatuh pingsan—atau lebih buruk lagi.

Andini menatap ke arah mobil Reno, lalu kembali menatap ke arah pintu rumahnya yang terbuka lebar, di mana Syifa kini berlari keluar teras sambil menangis tanpa alas kaki, mencari pertolongan.

"Mama! Mama di mana?! Ayah muntah darah banyak sekali, Mama!!!"

Andini mematung. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan beberapa lembar kertas dari tas kecilnya yang tidak tertutup rapat—kertas-kertas catatan lembur Hilman yang kini berserakan di aspal gang yang kotor.

Haruskah ia terus berlari menuju Reno, atau kembali ke rumah di mana kematian mungkin sedang menunggu suaminya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!