Di dunia yang penuh dengan keajaiban, di mana yang Abadi mampu membelah lautan dan menghancurkan gunung, di mana Akar Roh menjadi penentu antara yang fana dan yang Abadi, jiwa lain bangkit di tubuh manusia fana.
Dengan kitab harta karun yang ia peroleh, jiwa itu membawa tekad untuk bertahan di dunia yang kejam. Ia melangkah ke dunia kultivasi, menciptakan klan kultivasinya sendiri. Setiap langkah adalah perlawanan, setiap kemajuan dipenuhi berbagai rintangan dan cobaan.
Namun ia ditakdirkan untuk tidak menjadi biasa-biasa saja.
Ia ditakdirkan untuk mencapai sesuatu yang besar.
Saksikan bagaimana seorang manusia fana memulai jalan kebangkitan untuk klannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hdibibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.1 - Yan Lei
Musim dingin sudah berlangsung selama lebih dari setengah musim. Udara begitu dingin seperti menusuk tulang. Tanah dan pepohonan membeku, tertutupi salju yang lebat.
Yan Lei berjalan menyusuri jalan setapak yang tertutup oleh salju yang tebal. Langkahnya pelan. Pakaian tebal di tubuhnya terasa membebani tubuhnya. Salju itu menutupi tanah sedalam hampir satu meter. Kakinya tenggelam. Rasanya sangat berat. Dia merasa kesusahan setiap kali ingin melangkah.
“Sepertinya akan terjadi badai salju,” gumam Yan Lei sambil menengadah ke langit yang gelap saat salju jatuh perlahan-lahan. “Aku sepertinya tidak bisa kembali ke desa hari ini.”
Yan Lei mempercepat langkahnya. Tubuhnya yang kurus dan lemah karena kekurangan gizi kelelahan di cuaca yang ekstrim itu. Napasnya tersengal-sengal. Keranjang rotan di punggungnya semakin membebani tubuhnya yang lemah itu.
“Tidak kusangka, kehidupan kedua setelah kematian ternyata sungguh ada, ” ucapnya lirih.
Dia kembali teringat pada kehidupan pertamanya. Dia adalah seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan studinya dan hendak kembali ke kampung halamannya untuk melakukan perayaan kecil-kecilan bersama keluarganya.
Namun siapa sangka, takdir malah berkata lain. Ketika dalam perjalanan, bus yang ia tumpangi mengalami masalah pada remnya dan meluncur begitu saja menuju jurang yang dalam. Saat itu dia begitu ketakutan dan menjerit seperti penumpang lainnya.
Tapi entah tragedi atau rasa kasihan dari takdir, setidaknya penderitaan mereka tidak berlangsung lama. Bus itu meledak hanya beberapa detik setelah meluncur menuju jurang, membawa seluruh nyawa penumpang menuju alam baka. Mereka tidak merasakan sakit lagi saat itu, atau pun rasa takut. Hanya ada keheningan dan ketenangan.
Kecuali untuk dirinya sendiri. Bukannya kehilangan kesadaran, ia malah menemukan dirinya terbangun di tubuh seorang anak kecil yatim piatu berusia sembilan tahun di suatu pedesaan. Yan Lei saat itu kebingungan dan tak percaya. Ia bahkan menjalani hidup dengan linglung selama beberapa bulan. Namun perlahan-lahan ia menerima kenyataan itu.
Jika sesuatu sudah tak bisa diubah, maka ia setidaknya harus menjalaninya dengan bahagia. Untungnya, penduduk di desanya ramah dan baik kepadanya dan saudara-saudarinya. Beberapa tetangganya bahkan selalu membantu mereka untuk setidaknya tidak kelaparan. Beberapa kasihan melihat anak-anak itu, kematian ayah dan ibu mereka pasti sangat berat untuk anak-anak sekecil mereka.
Sudah delapan tahun berlalu sejak saat itu. Kini ia berumur 17 tahun, dengan tinggi kurang lebih 70 inci(sekitar 170 cm), berambut hitam pendek, hidung mancung dan mata hitam yang tajam.
Meskipun tubuhnya lemah dan kurus karena keterbatasan ekonomi, kulitnya bersih. Meski tidak terlalu putih, warna kulitnya tidak tampak seperti seseorang yang berasal dari pedesaan. Sebagai orang yang pernah hidup di perkotaan modern, kebersihan menjadi sesuatu yang tak bisa lepas darinya. Meski di situasi yang serba kekurangan, ia selalu berusaha merawat dirinya untuk tetap bersih.
“Semoga hasil kali ini lumayan,” Yan Lei bergumam pelan. Ia sedang dalam perjalanan menuju kota terdekat dari desanya untuk menjual hasil panennya.
Keranjang rotannya terisi penuh kentang musim dingin gemuk seukuran kepalan tangan. Itu adalah tanaman yang persis menyerupai kentang, kecuali bahwa bagian luar dan dalamnya berwarna putih abu-abu. Rasanya manis dan lembut.
Kentang musim dingin merupakan salah satu dari beberapa tanaman yang dapat tumbuh di musim dingin. Tidak peduli seberapa ekstrim cuacanya, tanaman itu dapat bertahan dan tumbuh dengan baik.
Beberapa bahkan dapat tumbuh hingga sebesar kepala manusia dewasa jika dirawat dengan sungguh-sungguh.
Saat pertama kali mengetahui hal itu. Yan Lei takjub. Dia belum pernah melihat tanaman yang begitu ajaib. Perawatannya bahkan sangat sederhana.
Tidak dibutuhkan tanah yang subur atau pupuk yang mahal. Cukup tanam dan siram setiap hari. Selama itu bukan gurun atau batu, tumbuhan ini dapat tumbuh dengan baik dalam waktu dua bulan.
“Semoga harga kentang di kota masih stabil, “ gumam Yan Lei pelan. Tujuannya kali ini adalah selain menjual hasil panennya, juga karena rumor yang tersebar beberapa waktu ini.
“Beras spiritual ya.. ” ucap Yan Lei pelan, matanya berbinar. Ia tahu bahwa keberadaan kultivator sungguh-sungguh ada di dunia ini. Ia sudah mendengar cukup banyak ceritanya. Ia bahkan pernah sepintas melihat mereka secara langsung.
Meski mereka jauh dari kehidupan manusia fana, sesekali mereka akan turun dari gunung Abadi mereka dan memasuki kehidupan manusia fana.
Beberapa karena ingin berkelana dan bersantai, beberapa karena ingin mencari Dao dengan menjalani hidup yang sederhana, dan beberapa karena ada tugas yang harus diselesaikan.
Sejak saat itu, Yan Lei memandang dunia dengan cara yang berbeda. Ia menjadi sangat penasaran dengan hal-hal yang berhubungan dengan para kultivator.
Sayangnya, sebagai manusia fana tanpa Akar Roh, dunia kultivasi merupakan dunia yang jauh. Ia bahkan tidak punya kesempatan untuk mengendus hal-hal itu.
Langkahnya semakin cepat dan Yan Lei tiba di kota sebelum salju turun semakin deras. Beberapa penjaga yang seluruh tubuhnya tertutupi oleh pakaian tebal berdiri dengan teguh di depan gerbang, ,elirik dan memantau setiap pengujung yang masuk dan keluar dari gerbang.
Yan Lei buru-buru memasuki barisan. Para penjaga itu hanya menggeledah barang bawaan pengunjung dan bertanya singkat mengenai tujuan dan alasan mereka memasuki kota. Selama tidak ada hal yang melanggar aturan, mereka dapat memasuki kota dengan tenang.
Ketika tiba gilirannya, Yan Lei dengan tenang menjawab setiap pertanyaan. Ia sudah berkali-kali datang dan sudah terbiasa dengan inspeksi rutin ini.
Tidak ada yang salah dengannya. Ia hanya ingin menjual hasil panennya. Para penjaga itu membiarkannya masuk dengan mudah.
Baru kemudian Yan Lei menyadari ada yang berbeda dengan kota ini. Jumlah orang di jalan lebih banyak dari biasanya.
“Sepertinya bukan hanya saya yang datang karena rumor itu, ” ucap Yan Lei pelan. Jika bukan karena sedang waktu panen kentang musim dingin di desanya, beberapa orang dari desanya pasti sudah ikut bersamanya.
Yan Lei berkeliling sesaat dan menuju pasar di alun-alun kota. Ia lalu menuju pedagang di mana ia sering menjual hasil panennya.
Mereka sudah saling mengenal, karena itu Yan Lei menjualnya dengan lancar. Ada empat puluh pon total. Sepuluh pon kentang musim dingin dihargai satu tael perak. Dengan itu, Yan Lei memperoleh empat tael perak.
Jumlah tersebut bukanlah jumlah yang besar. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Satu tael perak mampu membeli sekitar empat hingga enam pon daging atau satu pon garam kasar, tergantung fluktuasi harga pasar.
Dengan uang itu, Yan Lei lalu menghabiskan semua penghasilannya dan membeli beberapa pon daging, bawang, cabai dan gandum untuk memperkaya hidangan di rumah. Ia tidak lupa mencari permen manis untuk dua adiknya di rumah.
Setelah menyusun barang belanjaannya di keranjang rotan, Yan Lei lalu berlalu lalang di jalanan, berkeliling mencari tahu informasi mengenai Beras Spiritual. Dan hal itu ternyata jauh begitu mudah dari yang dibayangkannya.
“Kau tidak tahu? Semua orang tahu kalau klan Sue yang merilis informasi itu dengan sengaja. Mereka akan melelangnya di rumah lelang mereka. Oh, dan acaranya akan segera dimulai,” ucap seorang pria paruh baya dengan heran pada Yan Lei.
Yan Lei hanya bisa tersenyum malu dan menggaruk kepalanya. Bagaimana bisa ia tahu? Ia hanya mendengarnya secara samar dari beberapa pelancong yang lewat di jalan tanpa sengaja.
Ia lalu mengucapkan terima kasih sebelum menuju rumah lelang. Yan Lei tahu di mana letaknya. Lagipula itu satu-satunya rumah lelang di kota ini.
Kota ini didirikan oleh klan Sue ratusan tahun yang lalu. Dan bahkan nama kota ini pun diberi nama kota Sue.
Konon katanya klan Sue memiliki beberapa kultivator turun-temurun di klan mereka, yang menjadi alasan mengapa kota ini dapat berdiri selama ratusan tahun dengan damai.
Namun mereka jarang terlihat. Mereka selalu menetap di gunung Abadi, tersembunyi di antara awan dan hujan, menekuni Dao dengan tekun.
Rencana saya update 2 chapter/hari.
Bagi kawan2 yang menyukai cerita ini, bantu like dan komen skuyy.
Dukungan kalian jadi motivasi buat Author.
Salam membaca, Salam dari dunia kultivasi. Gua tunggu lu pada di sana.