NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: KONFLIK YANG MEMANAS.

​Apartemen – Pukul 20.00

​Revan baru saja pulang. Ia melonggarkan dasinya, berniat mengecek tugas rangkuman Valerie yang ia berikan tadi siang. Namun, pemandangan di ruang tengah membuatnya terpaku.

​Valerie duduk di sofa dengan tumpukan buku hukum yang sudah sobek dan berhamburan di lantai. Di tangannya, ia memegang kotak kayu pemberian Arsen.

​"Apa yang kau lakukan dengan buku-buku itu, Erie?" tanya Revan dengan suara berat, mencoba menahan emosi.

​Valerie bangkit, menatap Revan dengan mata yang memerah karena amarah dan kekecewaan. "Kenapa Mas tidak bilang saja kalau Mas butuh hartaku? Kenapa harus berakting jadi pahlawan kaku di depan Kakek sementara Mas sendiri yang merencanakan skandal itu!"

​Revan membeku. "Siapa yang mengatakannya padamu?"

​"Tidak penting siapa yang bilang! Yang jelas, aku tahu sekarang. Kau hanya 'anjing penjaga' yang rakus, Revan! Kau memanfaatkan masa pelarianku untuk menjebakku!" Valerie melemparkan buku hukum itu tepat ke dada Revan. "Berhenti bersikap seolah kau melindungiku! Kau hanya melindungi karirmu sendiri!"

​Revan diam seribu bahasa. Ia tidak bisa membela diri. Jika ia mengatakan bahwa Arsen adalah pelakunya, Valerie yang sedang terhasut pasti akan menganggapnya sedang memfitnah satu-satunya "sahabat" yang membelanya.

​Revan hanya menatap buku-buku yang berserakan di bawah kakinya dengan sorot mata yang sangat sedih. "Jika itu yang ingin kau percayai, silakan," jawab Revan dingin, meski hatinya terasa seperti dihantam. "Tapi tugas itu harus tetap dikumpulkan besok pagi. Aku tidak mentoleransi kemalasan, bahkan untukmu sekalipun."

Revan berbalik pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Valerie yang menangis sesenggukan. Di balik pintu yang tertutup, Revan memukul tembok dengan kepalan tangannya hingga berdarah.

Suara hantaman tangan Revan pada tembok beton itu teredam, namun rasa sakitnya menjalar hingga ke bahu. Napasnya memburu, matanya memerah menatap buku-buku hukum yang berserakan di lantai ruang tengah melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Di sana, Valerie masih terisak, memeluk kotak kayu pemberian pria yang paling ia benci di dunia ini.

Tepat saat itu, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bimo, lengkap dengan lampiran foto koordinat dan gambar buram dari jarak jauh.

Bimo: "Bos, tebakanmu tepat. Arsen menemui Valerie di taman belakang gedung Seni pukul 16.15 tadi. Dia memberikan sesuatu. Arsen sekarang berada di klub pribadinya di kawasan SCBD. Dia sedang merayakan 'kemenangan' kecilnya."

Rahang Revan mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Darah segar menetes dari buku jarinya yang pecah, namun ia seolah tak merasakannya. Ia mengambil kunci mobil dan mantelnya, lalu keluar dari ruang kerja dengan langkah yang sangat tenang—ketenangan yang justru menandakan badai besar akan datang.

Valerie mendongak saat mendengar langkah kaki Revan. Ia mengira suaminya akan kembali memarahinya, namun Revan bahkan tidak menoleh padanya.

"Mas! Mau ke mana kau?" teriak Valerie dengan suara serak.

Revan berhenti sejenak di ambang pintu apartemen. Tanpa berbalik, ia menjawab dengan suara yang sangat dingin, "Tidurlah, Erie. Dan jangan pernah berani membuka kotak itu lagi jika kau masih ingin aku menganggapmu sebagai mahasiswi yang punya akal sehat."

Brak!

Pintu apartemen tertutup dengan dentuman keras.

Klub Eksklusif "The Abyss" – 23.00 WIB

Arsenio sedang tertawa bersama dua orang rekan bisnisnya di sofa VVIP sambil memegang gelas kristal berisi wiski mahal. Ia merasa di atas angin karena hasutannya pada Valerie bekerja jauh lebih cepat dari yang ia duga.

"Hanya masalah waktu sampai gadis itu menggugat cerai si anak pelayan," gumam Arsen puas.

Tiba-tiba, suasana riuh di dalam klub itu mendadak sunyi saat pintu kayu jati berukir di pintu masuk didorong paksa hingga menghantam dinding. Dua orang penjaga di depan bahkan tidak sempat menghalangi saat sosok pria bertubuh tegap dengan aura membunuh masuk ke dalam ruangan.

Revanza Malik. Tanpa kacamata, tanpa senyum formal, dan dengan tangan kanan yang dibalut sapu tangan yang sudah basah oleh darah.

"Wah, wah... lihat siapa yang datang. Sang Pengacara Terhormat sedang mencari istrinya yang hilang?" ejek Arsen sambil berdiri, meletakkan gelasnya.

Revan tidak membalas dengan kata-kata. Ia terus melangkah mendekat. Saat salah satu ajudan Arsen mencoba menghadang, Revan dengan gerakan cepat memutar lengan pria itu dan menghantamkan kepalanya ke meja marmer hingga tak sadarkan diri.

Arsen terkejut, namun sebelum ia sempat bereaksi, kerah kemeja mahalnya sudah dicengkeram oleh Revan. Dengan kekuatan yang luar biasa, Revan menyeret Arsen dan menghantamkan punggung pria itu ke dinding kaca yang menghadap ke pemandangan kota.

"Kau menyentuh wilayahku, Arsen," desis Revan tepat di depan wajah Arsen. Suaranya rendah, namun penuh ancaman kematian.

"Lepaskan! Kau akan masuk penjara karena ini, Revan! Aku bisa melaporkanmu atas penganiayaan!" teriak Arsen yang mulai ketakutan melihat kilat kegilaan di mata Revan.

"Laporkan saja," Revan memberikan pukulan telak ke perut Arsen hingga pria itu tersungkur dan muntah cairan pahit. Revan berjongkok, menjambak rambut Arsen agar pria itu menatapnya. "Hukum adalah permainanku setiap hari. Kau pikir aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu cacat tanpa meninggalkan bukti yang bisa membawaku ke pengadilan?"

Revan menekan luka di tangannya yang berdarah ke wajah Arsen, membiarkan darah itu mengotori kemeja putih Arsen yang bersih.

"Sekali lagi kau mendekati Valerie... sekali lagi kau meracuni pikirannya dengan mulut sampahmu itu... aku tidak akan datang sebagai dosen atau pengacara," Revan mendekatkan bibirnya ke telinga Arsen. "Aku akan datang sebagai iblis yang akan memastikan kau kehilangan segala harta dan martabat yang kau banggakan itu. Mengerti?"

Arsen gemetar hebat, ia tidak pernah melihat Revan selepas kendali ini. Pria kaku yang selama ini ia anggap remeh ternyata memiliki sisi monster yang selama ini disembunyikan di balik jubah hukumnya.

Revan melepaskan cengkeramannya, membiarkan Arsen terkapar di lantai seperti sampah. Ia berdiri, merapikan mantelnya yang sedikit berantakan, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Di luar klub, Bimo sudah menunggu di samping mobil. "Sudah selesai, Bos?"

"Belum," jawab Revan sambil mengatur napasnya. "Ini baru peringatan. Besok pagi, pastikan semua aset perusahaan cangkang milik Arsen diperiksa oleh kantor pajak. Aku ingin dia sibuk menyelamatkan dirinya sendiri sehingga dia tidak punya waktu untuk memikirkan istriku."

Revan masuk ke apartemen saat jam menunjukkan pukul dua pagi. Keadaan sunyi senyap, namun lampu ruang tengah masih menyala remang-remang. Ia melihat Valerie tertidur meringkuk di sofa, masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi sore. Di bawah sofa, sapu tangan yang tadi ia gunakan untuk membalut tangannya telah jatuh, basah dan merah oleh darah yang mulai mengering.

Revan mendekat, lalu dengan gerakan sangat pelan, ia menyelimuti tubuh istrinya. Saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh kulit kening Valerie yang dingin, memorinya berputar mundur ke belasan tahun silam.

FLASHBACK — 12 Tahun Lalu

​Suasana kediaman Adiwijaya sedang mencekam. Revan remaja, yang saat itu baru saja selesai membantu ibunya (seorang ART di sana) membersihkan taman, mendengar suara teriakan dari ruang kerja utama.

​"Anak bodoh! Kenapa nilaimu selalu merah sementara kakakmu selalu sempurna?!" Suara melengking ibu Valerie terdengar begitu tajam. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Valerie kecil yang baru berusia delapan tahun.

Valerie kecil hanya bisa terisak, memeluk buku gambarnya yang sudah disobek-sobek oleh sang ibu karena dianggap sebagai penghambat belajar. Ia diseret dan dikurung di gudang belakang sebagai hukuman.

​Revan yang melihat itu merasa jantungnya teriris. Tengah malam, ia menyelinap ke gudang, membawa segelas susu hangat dan sebuah kotak kayu berisi pensil warna baru yang ia beli dari hasil jerih payahnya membantu tukang kebun.

​"Jangan menangis, Erie," bisik Revan dari balik celah pintu gudang. "Dunia ini luas. Suatu hari nanti, kau akan melukis warna yang tidak pernah mereka lihat. Aku janji, aku akan melindungimu agar kau bisa terus melukis."

​Itulah janji yang dibawa Revan hingga ia dikirim ke luar negeri oleh Kakek Adiwijaya untuk sekolah hukum. Revan dipaksa memutus kontak agar ia fokus menjadi "pedang" keluarga, namun setiap malam di London, ia hanya memikirkan satu hal: pulang dan membawa Valerie keluar dari neraka berkedok rumah mewah itu.

KEMBALI KE MASA KINI

Mata Valerie perlahan terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Revan yang sedang berjongkok di samping sofa, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mas..." gumam Valerie serak. Pandangannya turun ke tangan Revan yang kini tak terbalut apa pun, menunjukkan luka robek di buku jari yang tampak mengerikan. "Tanganmu... kenapa parah sekali?"

Revan langsung menarik tangannya, berdiri dan kembali memasang wajah kaku. "Bukan apa-apa. bangunlah dan mandi, sebentar lagi pagi. Kau harus mengumpulkan tugasmu."

"Mas pergi menemui Arsen, kan?" tuduh Valerie, suaranya mulai bergetar. "Kau menghajarnya karena kau takut dia membongkar rahasiamu?"

Revan diam, rahangnya mengeras. Ia lebih memilih dianggap monster daripada harus memberi tahu Valerie bahwa pria yang dipujanya (Arsen) adalah orang yang telah membuat semua kekacauan ini.

Saat pagi hari Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi dengan brutal. Tok! Tok! Tok!

Valerie membuka pintu dan tersentak. Di sana berdiri kedua orang tuanya dengan wajah penuh kemurkaan. Tanpa permisi, ibunya masuk dan langsung menunjuk wajah Valerie.

"Anak tidak tahu diri! Kami sudah memberikanmu kehidupan mewah, menikahimu dengan tangan kanan keluarga ini agar kau tidak jadi gelandangan, dan sekarang kau malah membuat masalah di kampus?!" teriak ibunya.

Ayah Valerie mendengus, menatap sketsa lukisan Valerie di atas meja dengan pandangan menjijikkan. "Melukis lagi? Sudah kubilang bakat sampahmu ini tidak akan menghasilkan apa-apa! Kau itu bodoh, Valerie. Tidak seperti kakakmu yang sudah jadi dokter sukses. Kau hanya beban!"

Valerie menunduk, air matanya jatuh. Luka lama itu kembali terbuka. Ia merasa sangat kecil, persis seperti saat ia dikurung di gudang dulu.

"Cukup," sebuah suara dingin dan tajam menginterupsi.

Revan melangkah maju, berdiri tepat di depan Valerie, menghalangi pandangan orang tuanya. Aura predator hukumnya keluar sepenuhnya.

"Tuan dan Nyonya Adiwijaya, ini apartemen saya. Dan wanita yang sedang Anda maki saat ini sudah menjadi istri saya," ucap Revan dengan nada bicara yang sangat tenang namun mematikan. "Jika Anda datang hanya untuk membandingkan istri saya dengan anak anda yang lain, silakan keluar sekarang juga sebelum saya kehilangan rasa hormat saya pada Anda sebagai keluarga."

"Revan! Kau berani mengusir kami? Ingat Kau itu hanya anak yatim piatu dari seorang ART yang kami besarkan karena belas kasihan!" teriak ibu Valerie.

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!