Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 : Ritual
Wesa memiringkan kepalanya. Menjilati bibir, jemarinya mengusap dagu, sorot mata penuh nafsu.
Ainur meraba samping pinggang, menarik gunting dan menggenggam erat. “Inikah aslinya dirimu?”
Alis kanan Wesa naik-turun, dia paham maksud kata-kata iparnya. Maju satu langkah, dan terkekeh saat Ainur mundur selangkah.
“Ya, aku yakin kamu tidak buta. Pada malam-malam tertentu memergoki perselingkuhan pria yang dikira suami ternyata cuma sebatas kumpul kebo. Pun, tentang kepala keluarga yang sering keluar masuk kamar pelayan bisu – kesimpulan dari semua itu … di hunian ini, kita bisa bertukar pasangan selagi sama-sama nyaman. Jadi, mari mencoba. Aku penasaran akan rasamu.”
Kaki Wesa melangkah lebar, tangannya terulur ingin menangkap Ainur yang memilih mundur, menolak mentah-mentah permintaan gila itu.
"Kamu tidak seistimewa itu, Wesa. Kubur keinginan sintingmu!” Ainur mengangkat tinggi-tinggi guntingnya. Berusaha mempertahankan diri sekaligus menyerang.
Belum sama-sama saling mencapai, dari arah belakang sebuah tangan terulur, menusuk tepat pundak Wesa.
Mba Neng menekan habis cairan di dalam spuit.
Akh … arghh.
Wesa memekik lalu merintih bersamaan dengan badannya yang rubuh diatas tanah.
Ainur meringis ngilu, lalu mendongak melihat ekspresi tenang mba Neng. Terkejut, namun cepat teratasi.
Mba Neng menoleh ke kebelakang pada tembok tinggi, memberi kode kepada Ainur bergegas pergi.
Ainur menyimpan lagi guntingnya, dia mengangguk, tidak mengucapkan terima kasih. Sampai sekarang belum bisa menebak tujuan mba Neng – sedari awal memang dirinya ada menaruh curiga.
Pelayan itu tidak seperti pembantu pada umumnya. Dari gesture tubuh, gerakannya, dan ekspresi, bertolak belakang dari kebanyakan pekerja rumah tangga.
Wanita yang malam ini akan melakukan ritual, berlari memutari gazebo agar tidak berpapasan dengan mba Neng serta Wesa. Saat mencapai pintu besi, Ainur menoleh ke samping – betapa terkejutnya ia, pria berbadan besar tengah dipanggul layaknya karung padi.
Ainur tersadar, ada yang lebih penting daripada mencari tahu. Hal ini bisa nanti, sekarang saatnya pergi ke perbatasan hutan.
Setiap pijakan terdengar sunyi, tanpa suara derap kaki. Ainur terus berlari diterangi cahaya rembulan masuk ke celah-celah dedaunan serta ranting.
Belum juga sampai perbatasan, dia berhenti saat melihat Kinasih berdiri dengan menggenggam lentera. Ainur berjalan pelan, mendekati.
Kinasih mengulurkan telapak tangannya, meminta untuk diraih.
Kali ini tanpa ragu Ainur menyambut. Rautnya terlihat tegang, ritme jantung tak lagi berirama menenangkan melainkan bertempo cepat.
Kabut tebal mengelilingi mereka, dalam sekejap mata, sosok Ainur memejamkan mata, badannya lemas seketika bersandar di lengan atas Kinasih.
Jelmaan siluman Macan tutul membaca mantra, sesaat setelahnya mereka menghilang dari hutan belantara.
***
“Di mana ini?” Ainur terbangun di ruangan asing. Dia tersentak kala mencium aroma tajam bunga Melati dan Kantil, dalam sekali gerakan sudah terduduk di sesuatu keras berlapiskan kain satin berwarna merah darah.
“Kinasih ….” panggilnya pelan sambil melihat sekitar. Setiap sudut ruangan sangat luas, langit-langit seperti kubah berornamen lukisan wayang, lentera tergantung di sepanjang dinding tinggi sekali.
Ainur menunduk, matanya melotot melihat dirinya hanya mengenakan kain jarik, ada selendang rangkaian kuncup bunga Melati menutupi bahu. Rambutnya digelung, ditahan konde sisir kembang Kantil.
“Kinasih ….” suara Ainur bergetar, dia kedinginan sekaligus sedikit takut. Kakinya diturunkan, tapi tidak sampai menjejak lantai berkarpet terdapat pola lingkaran berwarna hitam diatas warna merah.
Keterkejutannya bertambah ketika melihat kolam batu alam bertaburan kelopak bunga. Ainur menelan air liur, mensugesti diri sendiri agar tetap tenang.
Suara derit pintu dibuka, membuat Ainur langsung memalingkan wajah guna melihat siapa gerangan.
Sosok pria sepuh berambut serta berjanggut putih, melangkah dengan postur tegak. Seakan usia hanyalah angka, tetap terlihat gagah dengan fisik prima.
Dibelakangnya, ada sosok wanita paruh baya, membawa cawan di atas nampan. Disampingnya, berdiri perempuan sangat cantik, kulitnya bercahaya tertimpa sorot lentera. Dia menoleh sebentar, tersenyum pada Ainur yang langsung shock.
“Kinasih?” Ainur menegang, mengenali senyum itu walaupun di tubuh jauh lebih muda daripada ibu-ibu yang sudah beberapa kali berinteraksi dengannya.
Kinasih tampak bersinar, cantik, anggun – mengenakan gaun satin putih, berlengan besar sesiku.
Dari arah berlawanan, sebuah pintu terbuka – pria yang Ainur kenal dengan nama Dwipangga menuruni undakan tangga.
Posturnya tegap, otot bisep kekar, dan perut datar. Rambutnya digelung dan ditahan ikat logam kuningan.
Dwipangga tidak mengenakan baju, hanya ada kain berwarna keemasan seperti wastra (selendang) terselip di pinggang depan lalu disampirkan pada pundak. Bawahannya celana jarik motif parang.
Sekali melihat, Ainur sudah dapat menebak jika Dwipangga memang seorang pemimpin. Dari mulai kain batik motif parang yang hanya diperbolehkan dikenakan seorang raja maupun kalangan bangsawan. Melambangkan kekuatan, kekuasaan, serta kedudukan.
Walaupun tanpa mahkota, perhiasan, aura Dwipangga sangat pekat seorang pemimpin.
Pria gagah itu melangkah mantap menghampiri wanita yang masih belajar membiasakan mata dengan cahaya jauh lebih terang bila dibandingkan di huniannya, dan belum terbiasa akan kehadiran orang asing beraura misterius.
“Monggo nderek kula (ayo ikut saya).” Tangannya terulur nyaris menyentuh lengan kiri Ainur.
Ainur seperti seseorang baru saja disadarkan setelah dihipnotis. Selain Daryo, belum pernah dia bersentuhan dengan pria lain secara intim sampai deru napas lembut Dwipangga menyapa rungunya.
Jemarinya bergetar, perlahan diletakkan di atas telapak besar.
Tanpa aba-aba, tangan bebas Dwipangga terselip di ketiak Ainur, dalam sekali gerakan, sang wanita sudah menjejak lantai empuk.
Ainur lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar, wajahnya memerah. Malu dan terkejut.
Dwipangga seperti seseorang tidak melakukan kesalahan, dia berjalan dengan menggenggam tangan berkeringat serta dingin.
Mereka berlutut diundakan tangga paling bawah. Kedua tangan tertangkup menjepit bunga Kantil.
Tetua sedang membacakan mantra-mantra pengikat satu jiwa dengan pemimpin alam tak kasat mata.
Kinasih bersimpuh, mencondongkan tubuh meletakkan cawan tepat di hadapan sepasang insan tengah melakukan ritual.
“Raden Dwipangga, silahkan teteskan darah ndoro Ainur ke dalam cawan – agar sempurna ritual pernikahan ini!” titah tegas suara berat.
Kening Ainur mengerut samar. ‘Pernikahan? Maksudnya aku dinikahi dia? Terus kenapa aku dipanggil Ndoro?’
Dikarenakan terlalu larut dalam pikiran rumit, Ainur sampai tidak sadar jika jari telunjuk kanannya telah digenggam.
Ainur mengetatkan gigi, rasa sakit tiba-tiba mengejutkannya. Ternyata Dwipangga menusuk ujung jarinya menggunakan belati tembaga kuningan, lalu menekan agar darah cepat menetes di dalam cawan.
Tetes demi tetes hingga sembilan kali buliran pekat itu terjatuh baru disudahi.
Dwipangga melepaskan jemari wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya. Dia nikahi demi bisa terhubung langsung dengan para manusia biadab.
“Tahap akhir sudah dilewati, tinggal disempurnakan sebagaimana mestinya pasangan suami istri saling mengasihi satu sama lainnya,” ucap tetua dengan uraian kata sopan.
Dwipangga mengangguk, sementara Ainur masih mencerna. Dia bukan bodoh, tapi pengaruh racun masih menguasai tubuhnya, melemahkan saraf serta memperlambat daya menangkap.
Wanita paruh baya yang tadi bersimpuh bersama Kinasih, menunduk dalam lalu mengambil cawan.
Kinasih menyimpan belati ke dalam sarung. Dia beranjak bersama rekannya, berjalan ke kolam pemandian, menyatukan darah dengan air dan meletakkan belati di pinggiran batu alam.
Satu persatu saksi pernikahan penguasa alam gaib melangkah senyap keluar dari aula luas.
“Mau sampai kapan kamu bersimpuh, istriku …?”
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??