NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Laporan

🛑

#

Ponsel yang berada di atas meja berbunyi sebentar lalu kembali hening. Tetapi, pemiliknya terlihat membiarkan benda pipih itu tetap berada di sana alih-alih segera mengeceknya.

Di dalam ruangan itu, Mahesa tampak tengah beradu tatap dengan pria yang duduk di depannya. Seorang perwira menengah dengan wajah dingin itu adalah atasan Mahesa. Ukiran papan kayu di atas meja jelas merupakan nama pria itu; Panji Permana.

“Ada alasan lain kenapa kamu mau pindah ke tim yang tangani kasus itu?” tanyanya singkat.

“Tidak ada, Pak. Saya hanya ingin mengembangkan diri dan kemampuan saya. Kasus-kasus seperti ini… Saya rasa saya bisa berkontribusi lebih di sana…” tutur Mahesa tanpa ragu.

Panji tidak segera menjawab. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi, kedua matanya menyipit seolah tengah membaca kebenaran dari tiap kata yang Mahesa ucapkan.

“Kamu yakin, Sa? Saya pikir kamu udah nyaman di posisi kamu sekarang. Saya cuma ingetin, jangan sampai nanti kamu menyesal dan minta mutasi lagi.”

Kali ini Mahesa yang tak langsung menjawab ucapan atasannya. Ia terlihat menunduk sebentar menekan rasa gelisah yang sempat hadir dalam hati kecilnya. “Saya siap, Pak. Apapun konsekuensinya.”

Setelahnya, Panji yang duduk di hadapan Mahesa sempat menghela napas dalam dan berat sebelum ia meraih surat yang Mahesa bawa padanya.

“Baiklah. Surat ini nanti akan saya ajukan ke Pak Kepala. Tapi kamu jangan terlalu berharap banyak. Urusan mutasi kadang agak rumit.”

“Baik, Pak. Tidak apa-apa. Sebelumnya terima kasih banyak!” Mahesa menunduk hormat.

Panji lalu mengangguk dan mengibaskan tangannya, sebuah isyarat pada Mahesa untuk meninggalkan ruangannya.

Jujur saja. Sebuah benih harapan kecil baru saja tumbuh jauh di dalam hati Panji. Sudut bibirnya yang tertarik ke atas itu hadir tanpa ia sadari.

Ponsel yang tadi sempat bergetar singkat itu adalah milik Panji. Pria itu meraih ponselnya dan telunjuknya mengetuk pesan yang masuk.

Sepertinya pesan yang diterima Panji bukan berisi sesuatu yang menyenangkan. Karena sesaat setelah ia membuka pesan itu, kedua matanya melebar dengan raut wajah yang tampak menegang.

“Ya Tuhan…” gumam Panji.

#

Alih-alih kembali ke ruangan kerjanya di lantai tiga, Mahesa justru terlihat berada di kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Di depan wastafel itu, Mahesa membuka pesan yang beberapa saat lalu diterimanya dari Naya. Tak butuh waktu lama, raut wajah Mahesa langsung berubah, jelas menyiratkan kemunculan bayak pertanyaan dalam benaknya.

“Ada apa lagi ini…?” pikirnya.

Lagi-lagi akun yang sama. Siapa sebenarnya sosok dibalik nama pengguna '1111worst' itu? Kenapa ia seperti sengaja memancing kegaduhan dan terus menebar keresahan?

Dari sana, Mahesa berbalik dan beranjak dari tempat itu. Langkah cepatnya menuntunnya menuruni anak tangga hingga pria bertubuh tegap itu memasuki sebuah ruangan di lantai satu.

Di sana, hanya terlihat satu orang pria yang sedang asyik bermain ponsel.

“Sore Pak Yudhi...” Mahesa menyapa pria berseragam yang duduk di depan komputer.

“Mahesa,” dahi pria itu mengernyit. “Ada apa?”

“Enggak… Kebetulan lewat aja,” bohongnya. “Yang lain pada ke mana, Pak?”

“Jam segini ya lagi pada ngopi di depan. Ada apa? Gak biasanya kamu ke sini.” Yudhi masih menunggu Mahesa menjawab pertanyaannya.

Mahesa menyusun kalimat mencoba menghindari kecurigaan seniornya itu. “Akhir-akhir ini saya cuma lagi kepikiran terus sama ‘Kasus Gaun Putih’ yang lagi rame dibahas itu...”

“Terus? Apa urusannya sama saya?” tanya pria itu dingin.

“Kok saya gak pernah denger ada yang nyariin mereka ya, Pak? Memangnya ke unit Pak Yudhi tidak pernah ada laporan orang hilang?”

Pria yang garis keriput di wajahnya sudah sangat jelas itu lalu menyilangkan tangan di dada. Sudut bibirnya tampak ia turunkan. “Karena tidak pernah ada yang lapor, makanya tidak ada yang nyari mereka.”

“Jadi beneran tidak ada laporan orang hilang, Pak?”

“Tidak ada. Laporan terakhir soal orang hilang juga udah ditutup,” tangannya masih menyilang di dada.

“Yang guru cewek itu, Pak? Apa yang mana?” Mahesa berusaha keras menggali informasi dari pria ketus itu.

Yudhi hanya mengangguk.

Sebenarnya, Mahesa merasa terkejut dengan pengakuan Yudhi barusan. Jika laporan tentang menghilangnya Astrid sudah ditutup, seharusnya Addam dan Naya-lah yang paling dulu mendapat kabar, seharusnya Addam dan Naya tidak lagi mendapat pesan dari akun anonim itu.

“Dia ketemu?” tanya Mahesa lagi.

“Pak Kepala yang nyuruh. Katanya keterangan yang nyebutin kalau dia lagi cuti udah cukup buat nutup laporan itu. Udah gak perlu diperpanjang lagi.”

“Oh gitu… Berarti keluarganya harusnya udah tahu, ya?”

Namun bukannya menjawab pertanyaan Mahesa, Yudhi malah hanya terlihat memutar kedua matanya malas lalu membuang muka.

“Kamu urus saja kerjaan kamu. Tidak perlu bahas lagi kasus yang sudah selesai.” Pria itu memaksa Mahesa mengakhiri perbincangan mereka.

Mahesa merasa sedikit terkejut mendengar perubahan nada bicara Yudhi. Karena itu, ia melangkah mundur dan berpamitan pada pria dingin di hadapannya.

“Oke… Kalau begitu saya permisi Pak Yudhi… Mari…” Mahesa mencoba bersikap sesopan mungkin.

Sejumlah tanda tanya besar muncul setelah Mahesa meninggalkan ruangan itu.

Laporan menghilangnya Astrid sudah ditutup? Keluarganya sudah diberi kabar? Tapi siapa yang nerima kabar itu? Kenapa Addam masih meminta bantuannya mencari Astrid? Kenapa Naya juga mendapat kiriman foto itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?

Semua pertanyaan itu muncul bersamaan dan langsung memenuhi isi kepala Mahesa. Pria itu memijat keningnya perlahan sambil menaiki anak tangga kembali menuju ruang kerjanya.

Dalam setiap langkahnya, Mahesa terus berharap supaya permohonan mutasinya bisa disetujui. Langkah besar itu diambilnya bukan tanpa alasan. Sebab hanya dengan cara itulah Mahesa bisa leluasa membuka jalan dalam usahanya membantu Addam menemukan kembali Astrid.

#

Di lain tempat, Panji tengah disibukkan dengan sebuah laporan tentang kasus baru yang beberapa saat lalu diterimanya.

Penemuan sesosok jasad wanita dalam kondisi mengenaskan kembali menggegerkan warga, khususnya mereka yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Situasi kos eksklusif yang disandang oleh bangunan empat lantai itu kini benar-benar berbeda dari biasanya. Deretan pedagang di sepanjang jalan memberi kesan hidup dan ramai, tapi jauh dari kata kumuh.

Namun pada hari itu, suasana di sana terasa menegangkan karena kedatangan sejumlah anggota polisi dan tim forensik. Para petugas itu berdatangan menuju sebuah kamar kos yang berada di lantai paling atas.

Ruangan yang lokasinya paling pojok itu terasa sangat mencekam. Udaranya sangat dingin karena AC yang terus menyala pada suhu paling rendah, gelap, dan pengap karena seluruh ventilasi ditutup rapat.

Lalu diantara keheningan yang dingin itu, tampaklah sumber dari ketegangan yang paling besar; sesosok jasad yang tampak menyender pada lemari, di dekat tempat tidur. Tali yang mengikat lehernya memaksa jasad malang yang terikat itu terus tegak, tanpa bisa meminta beristirahat, entah sejak kapan.

Panji yang saat itu datang ke TKP benar-benar tak bisa berkata-kata melihat korban dari kekejian pelaku.

Kemudian, satu hal yang membuat dada Panji terasa berat adalah gaun putih yang melekat pada tubuh korban. Panji merasa déjà vu. Ia seperti tertarik kembali pada kasus sebelumnya yang masih belum menemukan jalan menuju garis akhir.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!