Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga Vincenzo
Tujuh hari berlalu sejak serangan Bratva. Tujuh hari aku hidup dengan kesadaran baru tentang diriku sendiri. Tentang apa yang bisa kulakukan. Tentang apa yang sudah kulakukan.
Dan setiap hari, kegelapan itu terasa semakin normal.
Pagi ini Damian membangunkanku lebih awal. Masih gelap di luar. Jam baru menunjukkan pukul lima.
"Bangun," katanya sambil mengelus wajahku. "Kita punya acara penting hari ini."
Aku membuka mata dengan susah payah. "Acara apa?"
"Pertemuan lima keluarga," jawabnya sambil bangkit dari tempat tidur. "Pertemuan besar yang diadakan setiap enam bulan untuk membahas wilayah, bisnis, dan konflik."
Dia berjalan ke lemari. Mengeluarkan gaun hitam panjang yang sangat elegan.
"Dan hari ini," lanjutnya sambil meletakkan gaun itu di tempat tidur, "kau akan diperkenalkan sebagai Donna. Ratuku."
Jantungku langsung berdegup kencang. "Donna?"
"Ya." Damian berbalik menatapku. "Istri Don. Ratu dari keluarga Vincenzo. Kau akan duduk di sampingku. Akan berbicara di depan semua orang. Akan menunjukkan pada mereka bahwa kau bukan hanya istri. Tapi pemimpin."
"Aku tidak siap untuk itu."
"Kau siap," potongnya. Tegas. "Kau sudah membunuh. Sudah membuktikan dirimu di pertempuran. Sekarang kau harus membuktikan dirimu di ruang pertemuan."
Dia duduk di tepi tempat tidur. Meraih tanganku.
"Ini akan sulit," katanya. "Mereka tidak akan suka. Keluarga mafia sangat tradisional. Sangat misoginis. Mereka akan meremehkanmu. Akan mencoba membuatmu terlihat lemah."
Matanya menatapku dengan intens.
"Tapi kau tidak boleh lemah," lanjutnya. "Kau harus tunjukkan pada mereka bahwa kau layak duduk di sampingku. Bahwa kau sama berbahayanya denganku."
Aku menarik napas gemetar. "Bagaimana kalau aku gagal?"
Damian tersenyum tipis. "Kau tidak akan gagal. Karena aku akan ada di sampingmu. Dan siapa pun yang tidak memberi hormat padamu akan menghadapi aku."
***
Dua jam kemudian, kami sudah dalam perjalanan. Konvoi lima mobil hitam meluncur menembus jalanan kota yang masih sepi. Aku duduk di samping Damian di mobil tengah. Mengenakan gaun hitam yang membuat aku terlihat seperti ratu, atau janda.
Atau keduanya.
Damian mengenakan jas hitam dengan dasi perak. Rambut tersisir rapi, wajah tenang tapi mata tetap waspada.
"Ada apa di pikiranmu?" tanyanya tanpa menatapku. Matanya fokus ke jendela.
"Takut," jawabku jujur.
"Bagus," katanya. "Takut akan membuatmu waspada. Hanya jangan biarkan mereka melihat ketakutan itu."
Tangannya meraih tanganku. Menggenggamnya.
"Ingat," lanjutnya. "Kau bukan lagi gadis yang dulu. Kau Alexa Vincenzo. Donna dari keluarga paling kuat di negara ini. Kau punya kekuasaan. Punya kekuatan. Gunakan itu."
Aku mengangguk. Mencoba menenangkan detak jantung yang kencang.
Mobil akhirnya berhenti di depan gedung besar. Bangunan tua bergaya klasik dengan pilar-pilar tinggi. Seperti istana.
Marco membukakan pintu untuk kami. Damian turun pertama. Lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku mengambilnya. Turun dengan hati-hati. Gaun panjang hampir tersangkut.
Di depan gedung, sudah ada banyak mobil. Puluhan mobil mewah. Dan orang-orang berkumpul di tangga. Pria-pria bertubuh besar dengan jas hitam. Beberapa wanita juga. Tapi sangat sedikit.
Mereka semua menatap kami ketika kami berjalan mendekat. Ada yang membungkuk hormat pada Damian. Ada yang hanya menatap dengan wajah datar.
Dan semua mata tertuju padaku, menilai, menimbang, bahkan mungkin meremehkan. Aku bisa merasakan tatapan mereka seperti pisau di kulit.
"Angkat kepalamu," bisik Damian di telingaku. "Jangan pernah menunduk."
Aku menarik napas dan mengangkat kepala. Menatap mereka semua dengan tatapan yang kusemoga terlihat tenang walau dadaku sesak.
Kami masuk ke dalam gedung. Ruangan besar dengan langit-langit tinggi. Lampu kristal besar menggantung. Meja panjang berbentuk U di tengah ruangan. Sudah ada orang-orang duduk di sana.
Empat pria di posisi kepala meja. Masing-masing dengan beberapa orang di belakang mereka. Empat Don dari empat keluarga besar lainnya.
"Damian!" sapa salah satunya. Pria gemuk berusia sekitar enam puluh tahun. "Akhirnya kau datang, dan membawa teman?"
Dia melirikku dengan senyum yang membuatku ingin mencakar wajahnya.
"Bukan teman," kata Damian dingin. "Ini istriku. Alexa Vincenzo. Donna dari keluarga Vincenzo."
Ruangan langsung senyap. Pria gemuk itu tertawa. Tawa yang keras dan menghina.
"Donna?" katanya sambil masih tertawa. "Sejak kapan kita punya Donna dalam pertemuan ini? Ini pertemuan Don, Damian. Bukan pesta teh."
Beberapa orang lain tertawa juga, aku merasakan wajahku memanas. Tangan mengepal di samping tubuh. Tapi Damian tetap tenang. Dia berjalan ke kursinya. Menarikku duduk di sampingnya.
"Don Russo," kata Damian dengan nada yang sangat dingin, "sejak keluargaku adalah yang terkuat di antara semua keluarga di sini. Sejak aku yang mengendalikan empat puluh persen bisnis di negara ini. Sejak saat itu, aku bisa membawa siapa pun yang aku mau ke pertemuan ini."
Dia bersandar di kursi. Menatap Don Russo dengan tatapan yang membuat pria gemuk itu berhenti tertawa.
"Dan kalau kau punya masalah dengan itu," lanjut Damian pelan, "kita bisa selesaikan sekarang. Di luar. Dengan cara lama."
Ancaman jelas di suaranya.
Don Russo menatapnya. Lalu perlahan duduk kembali.
"Tidak perlu sejauh itu," katanya. Tapi suaranya tidak seekor sombong lagi. "Aku hanya terkejut. Itu saja."
"Bagus," kata Damian. "Sekarang, siapa lagi yang punya keberatan?"
Tidak ada yang menjawab.
Damian mengangguk. "Baik. Mari kita mulai."
***
Pertemuan berlangsung tiga jam. Mereka membahas wilayah. Bisnis. Konflik yang terjadi. Siapa yang melanggar perjanjian. Siapa yang perlu dihukum.
Dan sepanjang waktu itu, aku hanya duduk di samping Damian. Diam. Mendengarkan. Belajar.
Tapi aku bisa merasakan tatapan mereka. Terutama Don Russo dan dua Don lainnya. Tatapan meremehkan. Tatapan yang bilang aku tidak pantas di sini.
Sampai salah satu topik muncul. Tentang wilayah selatan yang dikuasai keluarga Vincenzo.
"Wilayah selatan seharusnya dibagi rata," kata Don Caruso. Pria kurus dengan kumis tebal. "Vincenzo menguasai terlalu banyak. Tidak adil."
"Tidak adil?" ulang Damian. "Kami menguasai wilayah itu karena kami yang membangunnya. Yang membersihkannya dari sampah. Yang membuatnya produktif."
"Tetap saja," kata Don Caruso. "Lima keluarga seharusnya setara."
"Kalau kau mau setara," kata Damian, "bangun wilayahmu sendiri. Jangan coba ambil punyaku."
Ketegangan memenuhi ruangan.
"Mungkin," kata Don Russo tiba-tiba, "kita bisa tanya pendapat Donna baru kita?"
Dia menatapku dengan senyum licik.
"Donna Alexa," panggilnya. "Apa pendapatmu tentang pembagian wilayah selatan?"
Semua mata tertuju padaku, jantungku hampir berhenti. Ini jebakan. Jelas ini jebakan. Apapun yang kukatakan akan digunakan melawan Damian.
Aku melirik Damian. Dia menatapku dengan tatapan yang tenang dan penuh percaya. Aku menarik napas pelan, dan berdiri perlahan.
"Pendapat saya," kataku. Suaraku bergetar di awal tapi aku memaksanya tetap kuat, "adalah Don Caruso terdengar seperti pengemis yang minta sedekah."
Ruangan langsung sunyi.
Don Caruso berdiri. Wajah merah padam. "Apa kau bilang?"
"Saya bilang," ulangku sambil menatapnya langsung, "Anda terdengar seperti pengemis. Kalau Anda ingin wilayah, bangun sendiri. Jangan minta-minta wilayah yang sudah dibangun orang lain dengan darah dan keringat."
Aku berjalan mengelilingi meja. Perlahan. Seperti Damian melakukannya.
"Keluarga Vincenzo menguasai wilayah selatan karena kami layak menguasainya," lanjutku. "Karena kami yang bekerja. Yang berdarah. Yang membunuh untuk itu."
Aku berhenti di depan Don Caruso.
"Dan kalau Anda pikir Anda bisa mengambilnya begitu saja," bisikku cukup keras untuk semua orang dengar, "silakan coba. Saya yang akan menghadapi Anda sendiri."
Don Caruso menatapku dengan mata melotot. "Kau berani mengancam aku?"
"Bukan ancaman," jawabku. "Janji."
Lalu aku berbalik, berjalan kembali ke kursiku. Duduk dengan tenang. Damian tersenyum. Senyum tipis tapi penuh kebanggaan. Don Caruso masih berdiri. Gemetar menahan amarah.
"Kau akan menyesal," katanya pada Damian. "Membiarkan wanita bicara seperti itu."
DUAR!
Tembakan menggelegar, Don Caruso jatuh. Memegang lututnya yang berdarah, dan berteriak kesakitan. Damian meletakkan pistolnya di meja. Asap masih mengepul dari moncongnya.
"Itu untuk tidak memberi hormat pada istriku," katanya dengan nada yang sangat tenang. "Dan kalau ada yang lain ingin tidak hormat."
Dia mengangkat pistol lagi. Mengarahkannya ke Don Russo yang langsung mengangkat tangan.
"Tidak! Tidak!" kata Don Russo cepat. "Kami mengerti, kami menghormati Donna Alexa."
Damian menurunkan pistolnya. "Bagus."
Dia berdiri lalu meraih tanganku.
"Pertemuan selesai," katanya. "Siapa yang tidak setuju, bisa bicara dengan Marco di luar."
Lalu kami berjalan keluar. Meninggalkan kekacauan di belakang kami.
***
Di mobil, aku masih gemetar. Adrenalin masih mengalir di pembuluh darah.
"Kau luar biasa," kata Damian sambil mencium tanganku. "Benar-benar luar biasa."
"Aku tidak tahu dari mana kata-kata itu datang," bisikku. "Aku hanya merasa marah. Dan kata-kata itu keluar begitu saja."
"Itu instingmu," kata Damian. "Instingmu sebagai Donna. Sebagai pemimpin."
Dia menarikku ke pelukannya.
"Kau terlahir untuk ini," bisiknya. "Aku tahu sejak awal. Dan hari ini kau membuktikannya."
Aku memeluknya kembali, menenggelamkan wajahku di dadanya.
"Mereka membenciku sekarang," bisikku.
"Biarkan mereka benci," jawab Damian. "Yang penting mereka takut. Dan setelah hari ini, mereka takut."
Aku mengangkat wajah. Menatapnya.
"Kau menembak lututnya."
"Aku akan menembak kepalanya kalau kau mau," kata Damian. "Tapi aku pikir lutut sudah cukup untuk pelajaran."
Dia menciumku lembut, tapi penuh dengan kebanggaan.
"Kau ratuku," bisiknya. "Ratuku yang sempurna."
Dan aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tersenyum bukan karena terpaksa. Tapi karena aku bangga pada diriku sendiri.
Bangga karena aku bisa berdiri, di depan semua pria yang menakutkan itu dan tidak mundur. Bangga karena aku sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat. Walau itu berarti kehilangan siapa aku yang dulu.
Tapi ketika mobil melaju membawa kami pulang, satu pertanyaan terus bergema: apakah keluarga mafia lain akan menerima keberadaanku, atau mereka akan merencanakan pembunuhanku?
Dan yang lebih menakutkan, apakah aku sudah terlalu jauh berubah, sampai aku tidak peduli lagi dengan jawabannya?
Apakah aku sudah menjadi seperti mereka, siap membunuh siapa pun yang menghalangi jalanku?