NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TUJUH BELAS: KEHANCURAN

Keheningan di ruang kerja itu terasa begitu padat, seolah-olah udara telah berubah menjadi logam cair yang menyumbat paru-paru Seraphina. Di bawah tekanan tubuh Orion yang kokoh, ia merasa dunianya telah menyusut menjadi hanya sebidang meja kayu mahoni yang keras dan dingin. Orion tidak terburu-buru; ia menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari mata Seraphina, setiap getaran kecil yang merambat di kulit gadis itu, dan setiap isakan tertahan yang membuat bahunya naik turun dengan tidak beraturan.

Orion menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma ketakutan dan parfum mawar lembut yang melekat pada tubuh Seraphina. Baginya, ini bukan sekadar penaklukan fisik, melainkan sebuah ritual untuk meruntuhkan martabat seorang manusia sampai tidak ada yang tersisa selain kepatuhan mutlak. Tangan pria itu yang bebas kini mulai menjelajahi sisi tubuh Seraphina, memberikan tekanan pada rusuknya, seolah sedang menghitung setiap tarikan napas pendek yang diambil oleh gadis itu.

"Jangan pernah berpikir bahwa diammu adalah sebuah perlawanan, Seraphina," Orion berbisik tepat di samping telinga gadis itu, suaranya terdengar seperti gesekan beludru pada luka yang masih terbuka. "Diammu hanyalah pengakuan bahwa kau tidak berdaya. Kau bisa menangis sampai air matamu habis, kau bisa membenciku sampai jantungmu berhenti berdetak, tapi pada akhirnya, kau tetap akan berada di sini, di bawah kendaliku."

Seraphina memejamkan mata rapat-rapat, mencoba melarikan diri ke dalam kegelapan pikirannya sendiri, namun sentuhan Orion selalu menariknya kembali ke kenyataan yang kejam. Ia merasakan jemari Orion yang panjang dan kuat kini mulai bermain di sekitar kancing blus sutranya, membukanya satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan. Setiap kancing yang terlepas terdengar seperti bunyi jatuhnya benteng pertahanan terakhir yang ia miliki.

"Hiks... kenapa Tuan melakukan ini padaku?" Seraphina akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski suaranya pecah dan nyaris tidak terdengar. "Aku tidak pernah melakukan kesalahan padamu... Aku hanya ingin hidup tenang..."

Orion tertawa rendah, sebuah tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun, melainkan hanya kepuasan yang dingin. "Kesalahanmu adalah karena kau menarik perhatianku, Seraphina. Di dunia ini, apa yang diinginkan oleh seorang Valentinus, akan ia dapatkan. Dan aku menginginkanmu untuk hancur di tanganku sendiri. Ketenangan adalah kemewahan yang tidak akan pernah kau rasakan lagi selama kau berada di bawah atap ini."

Dengan satu sentakan kasar namun terkendali, Orion menyingkap blus itu, membiarkan kulit bahu Seraphina yang seputih porselen terpapar udara dingin ruangan. Cahaya redup dari lampu meja menciptakan bayangan yang dramatis pada lekuk tubuh gadis itu, memperlihatkan betapa rapuhnya ia di depan pria yang begitu dominan. Orion menatap pemandangan itu dengan mata yang berkilat penuh hasrat gelap yang mendidih.

Narasi internal Orion mencatat setiap inci penderitaan Seraphina sebagai sebuah kemenangan pribadi. "Lihatlah mahakarya ini. Kulit yang begitu mulus, mata yang penuh dengan keputusasaan, dan bibir yang hanya bisa merintih. Aku akan menanamkan setiap jejak kepemilikanku di seluruh tubuhnya, memastikan bahwa tidak ada pria lain yang berani menatapnya tanpa melihat bayanganku di sana. Dia akan menjadi saksi hidup atas kekejamanku, dan dia akan mencintaiku karena hanya aku yang bisa memberinya rasa sakit yang begitu nyata."

Orion mulai menanamkan ciuman-ciuman kasar di sepanjang garis leher Seraphina, meninggalkan tanda merah keunguan yang kontras dengan warna kulitnya. Ia tidak peduli jika Seraphina merasa sakit; ia justru menginginkan rasa sakit itu menjadi pengikat yang kuat di antara mereka. Seraphina merintih, tubuhnya melengkung ke atas sebagai reaksi spontan terhadap rangsangan yang menyakitkan sekaligus membingungkan bagi saraf-sarafnya yang masih trauma.

"Tolong... sakit..." bisik Seraphina, tangannya yang masih terkunci di atas kepala mencoba untuk meronta, namun cengkeraman Orion tidak bergeming sedikit pun.

"Sakit adalah cara tubuhmu memberitahu bahwa kau masih hidup, Seraphina," Orion membalas, suaranya semakin serak. Ia membiarkan bibirnya berpindah ke telinga gadis itu, memberikan gigitan kecil yang membuat Seraphina tersentak hebat. "Dan aku akan memastikan kau merasa sangat hidup malam ini. Kau akan merindukan rasa sakit ini saat aku tidak ada di sekitarmu."

Orion kemudian menarik diri sedikit, memberikan ruang bagi Seraphina untuk bernapas sejenak, namun tatapannya tetap mengunci mata gadis itu. Ia mulai membuka ikat pinggangnya sendiri, suara logam yang beradu terdengar sangat keras di dalam keheningan ruangan. Seraphina tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan ketakutan yang lebih besar kini menyergapnya, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat seperti daun yang tertiup badai.

Ia teringat malam pertama, saat Orion merenggut kesuciannya dengan cara yang sangat brutal. Ingatan itu datang kembali bagaikan kilatan petir yang menyambar, membawa serta rasa perih yang seolah-olah tidak pernah sembuh. Seraphina merasa kotor, merasa telah kehilangan identitasnya sebagai manusia, dan kini ia dipaksa untuk mengulangi ritual penghancuran itu sekali lagi.

Orion tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Baginya, Seraphina adalah objek yang harus digunakan, sebuah wadah bagi segala emosi gelap dan hasrat terpendamnya. Ia menindih kembali tubuh Seraphina, kali ini dengan beban yang lebih berat, seolah ingin mematikan setiap saraf motorik gadis itu.

"Malam ini, kau akan belajar bahwa setiap bagian dari dirimu adalah pelayan bagi keinginanku," Orion berbisik dengan nada yang sangat mengintimidasi. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Seraphina, sebuah dominasi fisik yang membuat Seraphina merasa tidak punya jalan keluar lagi.

Seraphina hanya bisa menatap langit-langit ruangan yang tinggi, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi permukaan meja mahoni. Ia merasa jiwanya telah terbang jauh meninggalkan tubuhnya yang kini sedang dipermainkan oleh sang serigala Valentinus. Di balik pintu jati yang kokoh itu, dunia luar tetap berjalan dengan normal, sementara di dalam sini, sebuah kehidupan sedang dihancurkan secara perlahan dalam kesunyian yang mewah.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!