Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: SENTUHAN YANG MEMBEKU
Keheningan di dalam mobil terasa jauh lebih berat setelah kejadian di kampus. Julian duduk di samping Elara, punggungnya tegak, matanya menatap lurus ke depan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Namun, rahangnya yang terkatup rapat mengkhianati amarah yang masih tertahan di balik topeng ketenangannya.
Elara melirik pergelangan tangannya yang memar. Bekas cengkeraman Leo meninggalkan warna keunguan yang kontras di kulit putihnya. Ia ingin memprotes sikap Julian yang terlalu posesif, namun lidahnya terasa kelu.
Begitu sampai di mansion, Julian tidak langsung menuju ruang kerjanya. Ia menahan lengan Elara—kali ini dengan sentuhan yang jauh lebih lembut—dan menuntunnya ke ruang duduk pribadi di lantai atas.
"Duduk," perintah Julian pelan.
Julian menghilang sejenak dan kembali dengan kotak P3K. Ia berlutut di depan Elara, sebuah posisi yang membuat Elara merasa sangat tidak nyaman. Pria yang ditakuti seluruh London ini sekarang sedang berlutut di depannya, dengan teliti mengoleskan salep dingin ke luka memarnya.
"Seharusnya kau tidak perlu datang ke sana," bisik Elara, memecah kesunyian. "Kau mempermalukanku di depan teman-temanku."
Tangan Julian berhenti sejenak. Ia mendongak, matanya yang gelap menatap Elara dengan intensitas yang membuat napas Elara tertahan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, Elara. Terutama sampah seperti dia."
"Aku bukan propertimu, Julian."
"Dalam perjanjian ini, kau adalah tanggung jawabku," Julian mengoreksi dengan nada datar. Ia lalu meraih tangan Elara, mengelus cincin perak itu dengan ibu jarinya. "Kau tahu kenapa aku melarangmu melepas cincin ini?"
Elara menggeleng pelan. "Kau bilang untuk perlindungan."
Julian berdiri, namun tetap berada dalam jarak yang sangat dekat. "Cincin itu bukan sekadar perhiasan, Elara. Itu adalah kunci akses ke beberapa sistem keamanan Moretti, dan juga... penanda bagi mereka yang tahu siapa aku. Jika kau melepasnya, kau akan kehilangan perlindungan hukum dan fisik yang aku berikan."
Julian merunduk, napasnya terasa hangat di kening Elara. "Cincin itu memiliki pemancar kecil di dalamnya. Aku selalu tahu di mana kau berada."
Elara tersentak. Rasa aman yang tadi ia rasakan seketika berubah menjadi rasa terkurung. "Kau menyadapku?"
"Aku menjagamu," jawab Julian tanpa rasa bersalah. "Dunia ini lebih berbahaya dari yang kau bayangkan, Elara. Ayahmu tidak hanya berutang uang. Dia kehilangan sesuatu yang milik keluarga Moretti, dan mereka yang menginginkannya kembali akan menggunakanmu untuk mencapainya."
Julian membelai pipi Elara dengan punggung jarinya, sebuah sentuhan yang sangat singkat namun membekas. "Jangan mencoba melarikan diri dariku. Karena di luar sana, kau bukan siapa-siapa tanpa namaku."
Julian berbalik dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Elara yang terpaku di kursinya. Elara menatap cincin itu dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya terikat pada kontrak kertas, tapi juga pada teknologi dan bayang-bayang Julian yang selalu mengawasinya.
Malam itu, saat Elara mencoba tidur, ia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Julian. Ia terjebak dalam sangkar emas yang memiliki mata. Dan saat ia menyentuh ukiran kuno di cincinnya, ia merasakan sesuatu yang aneh—sebuah celah kecil di balik motif peraknya.
Dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutnya, Elara menekan celah itu. Sebuah cahaya merah kecil berkedip sekali. Dan tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur bergetar, menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal:
"Jangan percaya pada perlindungan yang ia berikan. Cincin itu adalah cara mereka melacak mangsa."
Jantung Elara hampir berhenti. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apakah Julian benar-benar menjaganya, atau ia hanyalah umpan di tengah kolam hiu?