NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Pagi dan Berat Malam

Restoran hotel pagi itu tampak eksklusif, hanya diisi oleh beberapa tamu penting. Dokter Reza dan Bu Kanaya sudah menunggu di meja bundar dengan wajah sumringah.

Begitu Yoga dan Dinda muncul, Yoga langsung menjalankan perannya dengan sangat sempurna, sebuah akting yang layak mendapatkan piala penghargaan.

Yoga menarik kursi untuk Dinda dengan gerakan yang sangat lembut. "Silakan duduk, Sayang," ucapnya sambil memberikan senyum tipis yang tampak begitu tulus di mata orang tua Dinda.

Dinda sempat terpaku. Perubahan drastis Yoga dari pria dingin di kamar menjadi pria yang sangat perhatian membuatnya bingung. Yoga bahkan sempat mengusap pundak Dinda sekilas sebelum duduk di sampingnya.

"Gimana malam pertama kalian? Bahagia kan?" tanya Bu Kanaya dengan nada menggoda, matanya menyelidik mencari tanda-tanda kebahagiaan di wajah putrinya.

"Luar biasa, Ma. Yoga bener-bener jagain Dinda," jawab Yoga tenang, tangannya menggenggam tangan Dinda di atas meja. Genggamannya kuat, memberikan tekanan peringatan agar Dinda tetap diam.

Di tengah sesi sarapan, Dokter Reza mengeluarkan sebuah amplop besar dan sebuah kunci dengan gantungan logo mobil mewah.

"Yoga, ini ada surat rumah di kawasan Dharmawangsa dan kunci mobil untuk kalian. Anggap saja ini modal awal biar kalian nggak susah-susah dari nol. Papa ingin putri tunggal Papa tetap hidup nyaman," ujar Dokter Reza dengan bangga.

Dinda matanya langsung berbinar. Rumah di Dharmawangsa adalah impiannya. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk berseru senang, namun Yoga lebih dulu memotong dengan suara yang sangat sopan namun berwibawa.

"Mohon maaf sebelumnya, Papa, Mama," Yoga meletakkan sendoknya, menatap Dokter Reza dengan sungguh-sungguh. "Bukannya Yoga tidak menghargai pemberian Papa, tapi sebagai suami, Yoga ingin belajar mandiri.

Yoga ingin memberikan tempat berteduh untuk Dinda dari hasil keringat Yoga sendiri."

Bu Kanaya mengerutkan kening. "Tapi Yo, itu rumah mewah. Mau ditaruh di mana harga diri Papa kalau menantunya tinggal di tempat biasa?"

"Justru itu, Ma. Harga diri Yoga sebagai laki-laki dipertaruhkan kalau Yoga hanya bisa numpang pada mertua," Yoga tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Dinda. "Dinda juga sudah setuju, kan, Sayang? Kita mau mulai dari tempat yang lebih sederhana dulu supaya kita tahu artinya berjuang bersama?"

Dinda menatap kunci itu dengan nanar, lalu melirik Yoga. Ia melihat kilatan ancaman "surat cerai" di mata suaminya. Bibirnya yang sudah terbuka untuk protes mendadak kelu.

"I-iya, Pa... Dinda setuju kok sama Mas Yoga. Kita mau mandiri aja," ucap Dinda terbata-bata, suaranya hampir hilang karena menahan dongkol.

Dokter Reza tampak tertegun, lalu tertawa bangga sambil menepuk bahu Yoga. "Luar biasa! Jarang ada anak muda jaman sekarang yang punya prinsip kayak kamu. Saya bener-bener nggak salah pilih menantu. Kamu bener-bener laki-laki sejati, Yoga!"

Selesai sarapan, saat orang tua Dinda sudah pergi lebih dulu, sandiwara itu runtuh seketika. Yoga langsung melepaskan genggaman tangannya seolah-olah tangan Dinda adalah barang kotor.

"Pintar," ucap Yoga pendek sambil mengelap tangannya dengan serbet. "Sekarang kemas barang-barang kamu. Kita pindah ke kostan siang ini juga."

Dinda hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja, menatap punggung Yoga yang berjalan menjauh. Ia baru saja melepaskan rumah mewah demi sebuah kamar di rumah kontrakan, dan ia tidak punya pilihan selain mengikuti permainan suaminya.

Mobil SUV Yoga berhenti di depan sebuah rumah minimalis di kawasan yang cukup tenang, namun jauh dari kesan glamor Menteng. Rumah itu bersih dengan cat dinding berwarna abu-abu netral, memiliki dua kamar tidur yang letaknya berseberangan. Tidak ada lampu gantung kristal atau sofa kulit impor; yang ada hanyalah perabotan fungsional yang esensial.

Begitu pintu utama dibuka, aroma pembersih lantai yang segar menyambut mereka.

Kosong, tanpa hiasan dinding, memberikan kesan dingin yang senada dengan hubungan pemiliknya.

"Ini rumahnya. Bersih, aman, dan dekat ke rumah sakit kalau ada emergency call," ucap Yoga sambil meletakkan kunci di atas meja kayu di ruang tamu.

Yoga melangkah ke arah koridor kecil. "Kamar di sebelah kiri itu kamar kamu. Kamar yang kanan, kamar saya. Jangan pernah masuk ke kamar saya tanpa izin, dan saya juga nggak akan mengganggu privasi kamu."

Dinda berdiri di tengah ruangan, menatap nanar sekelilingnya. "Mas, serius? Ini bahkan lebih kecil dari walk-in closet aku di rumah! Terus mana asisten rumah tangganya? Siapa yang bakal nyuci baju dan masak?"

Yoga berbalik, menatap Dinda dengan datar. "Nggak ada asisten. Kamu mahasiswa, kan? Saya rasa kamu sudah terbiasa hidup mandiri di Jepang. Atau jangan-jangan di sana kamu cuma sibuk 'main' sampai lupa cara pegang sapu?"

"Mas Yoga! Kamu keterlaluan ya bahas itu terus!" seru Dinda dengan wajah memerah.

Yoga tidak menghiraukan kemarahan istrinya. Ia melanjutkan penjelasannya dengan nada instruksi medis. "Dengar, sesuai perjanjian. Sampai liburan semester kamu berakhir dan kamu balik ke Jepang, kita hidup masing-masing. Kamu bebas mau pergi ke mana saja, mau ketemu siapa saja, saya nggak akan intervensi. Begitu juga saya. Kita cuma perlu 'tampil' kalau ada acara keluarga atau kolega Papa kamu."

"Tapi Mas, setidaknya beliin sofa yang lebih empuk kek, ini—"

"Dua puluh juta sudah saya transfer ke rekening kamu untuk jatah bulan ini. Pakai itu kalau mau beli barang tambahan. Saya nggak akan kasih lebih," potong Yoga cepat. "Dan satu lagi, jangan harap saya bakal anter-jemput kamu. Gunakan transportasi umum atau online."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Yoga melangkah masuk ke kamarnya.

"Mas! Aku belum selesai ngomong! Mas Yoga!" Dinda menggedor pintu kamar Yoga yang tertutup rapat. "Ini bener-bener nggak manusiawi! Mas! Buka!"

Dari dalam kamar, hanya terdengar suara kunci yang diputar. Yoga sama sekali tidak memperdulikan protes atau teriakan manja Dinda. Bagi Yoga, rumah ini adalah benteng pertahanannya, tempat di mana ia bisa lepas dari bayang-bayang keluarga Reza, sekaligus penjara bagi Dinda agar wanita itu merasakan bagaimana hidup tanpa fasilitas mewah yang selama ini ia salah gunakan.

Dinda akhirnya terduduk di lantai ruang tamu yang dingin, menatap kopernya yang masih tertutup. Ia baru sadar, pernikahan yang ia pikir akan menjadi pelindung kesalahannya, justru menjadi awal dari kehidupan yang paling tidak ia bayangkan sebelumnya.

Dinda membanting pintu kamarnya, menguncinya rapat-rapat seolah itu bisa melindunginya dari hawa dingin yang dipancarkan Yoga. Dengan tangan gemetar, ia segera meraih ponsel dan mencari nama Kenji. Begitu panggilan tersambung, tangisnya pecah.

"Kenzi... hontou ni tsurai yo... Mas Yoga jahat banget," isak Dinda dalam bahasa campuran. "Dia bawa aku ke rumah kecil yang nggak ada apa-apanya. Dia kasar, dingin, dan bener-bener nggak punya hati. Aku kayak tinggal di penjara, Kenji!"

Di seberang telepon, suara Kenzi terdengar berusaha menenangkan, memberikan janji-janji manis yang membuat Dinda merasa tetap dicintai. Dinda tidak tahu, setiap isak tangisnya, setiap keluhannya, bahkan setiap desahan napasnya terekam dengan jernih melalui kamera tersembunyi berukuran mikroskopis yang terpasang di sudut plafon kamar itu.

Yoga duduk tenang di depan meja kerjanya yang hanya diterangi lampu baca. Di layar laptopnya, tertampil visual Dinda yang sedang meringkuk di ranjang sambil menelepon. Di telinga Yoga, terpasang earphone yang menyalurkan setiap kata yang keluar dari mulut Dinda dan Kenzi.

Ponsel Dinda memang sudah dalam kendali Yoga. Ilmu hacking dan penyadapan yang ia pelajari dari temannya yang seorang ahli IT di Surabaya terbukti sangat efektif. Yoga bisa melihat semua riwayat pesan, lokasi GPS, hingga mendengarkan panggilan telepon secara real-time.

Yoga menyandarkan punggungnya, menatap layar dengan tatapan datar, bukan tatapan pria yang cemburu, melainkan tatapan seorang predator yang sedang mengumpulkan bukti untuk menjatuhkan mangsanya.

"Bertindaklah sesukamu, Dinda," gumam Yoga pelan, suaranya sangat dingin hingga sanggup membekukan udara di sekitarnya. "Cerita saja semuanya pada selingkuhanmu itu."

Yoga mencatat waktu percakapan tersebut di sebuah dokumen digital yang diberi nama "Evidence: Breach of Contract".

"Semakin banyak kamu mengeluh, semakin banyak kamu berhubungan dengannya, maka akan semakin mudah bagiku untuk menendangmu keluar dari hidupku. Aku hanya butuh waktu sampai uang itu terkumpul, dan rekaman ini akan menjadi tiket kebebasanku tanpa harus membayar sepeser pun penalti kepada ibumu."

Yoga mematikan layar laptopnya, namun proses penyadapan tetap berjalan di latar belakang. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan hari di mana ia bisa melemparkan semua bukti pengkhianatan ini di depan wajah Dokter Reza dan Ibu Kanaya.

Malam itu, di bawah satu atap yang sama, dua orang sedang merencanakan masa depan yang berbeda: yang satu merencanakan pelarian asmara, sementara yang lain merencanakan pembalasan yang paling elegan.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!