Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERSENTUH
Hati keras Mark seolah seolah dicubit, dia tidak bisa membayangkan bagaimana dua keturunan murni ini tumbuh tanpa figur sang ayah yang menjadi pelindung alami bagi klan serigala.
Tanpa berkata-kata lagi, Mark segera berlutut dan merentangkan kedua tangannya yang berotot.
"Kemari lah, Tuan Muda Leo," ucap Silas parau.
Dengan wajah yang mendadak ceria, Leo menghambur ke pelukan Mark.
Mark mengangkat tubuh kecil itu seolah-olah Leo seringan bulu, dia menempatkan Leo di pundaknya yang kokoh, membuat bocah itu kini berada di posisi yang sangat tinggi.
"Wah! Tinggi sekali!" seru Leo kegirangan.
Leo melingkarkan tangan kecilnya di leher Mark dan menyandarkan kepalanya di rambut kasar pria serigala itu.
"Paman Mark kuat sekali! Rasanya persis seperti yang Leo bayangkan tentang Ayah," ucap Leo, tersenyum lebar.
Mark berjalan perlahan mengelilingi ruangan, memberikan sensasi terbang pada Leo.
Sementara itu, Peter mendekati Lucian dan menawarkan tangannya.
"Ingin di gendong juga Tuan muda?" tawar Peter, berlutut di depan Lucian.
Lucian, meski lebih tenang dan dewasa, tidak bisa menyembunyikan binar iri di matanya, dia pun akhirnya membiarkan dirinya diangkat oleh Peter.
"Nyaman, Paman Mark?" tanya Leo sambil menepuk-nepuk pundak Silas.
"Sangat nyaman, Tuan Muda," jawab Mark tenggorokannya terasa tersumbat karena menahan tangis.
"Paman akan menggendong mu setiap kali kamu lelah, sampai Ayahmu sendiri yang mengambil alih tugas ini," nya cuma Mark, hatinya merasa hangat saat menggendong Leo.
Jasmine, yang masih bersembunyi di balik pilar, menutup mulutnya dengan tangan agar isak tangis nya tidak terdengar.
Jasmine baru menyadari betapa besarnya lubang di hati anak-anaknya karena ketidakhadiran Lucas, dalam hati Jasmine bersumpah, bahwa dia tidak akan hanya membawa pulang seorang ksatria bagi kerajaan, tapi dia akan membawa pulang seorang Ayah bagi anak-anaknya.
"Terima kasih, Mark..." bisik Jasmine tanpa suara, sebelum akhirnya dia melangkah pergi dengan hati yang lebih hancur sekaligus lebih bertekad dari sebelumnya.
Malam itu untuk pertama kalinya, Mark yang selama ini hanya menjadi mahluk pemangsa, malam ini mereka merasa benar-benar hidup, mereka juga merasakan beban di pundaknya begitu ringan, namun beban di hatinya terasa begitu berat.
Mark menoleh ke arah Lucian yang masih berdiri diam di lantai batu yang dingin, Lucian sudah turun dari gendongan Peter, bocah kecil itu tidak ingin merepotkan paman nya, walupun sebenarnya dia masih ingin di gendong.
Meskipun Lucian berusaha bersikap dewasa dan tegar, Mark bisa melihat bagaimana jemari kecil bocah itu meremas ujung bajunya sendiri sambil menatap adiknya di atas pundak nya dengan tatapan rindu.
"Tuan Muda Lucian," panggil Silas dengan nada rendah yang bergetar.
Lucian mendongak, matanya yang berwarna emas redup tampak berkaca-kaca di bawah cahaya obor yang temaram.
"Ya, Paman?"
"Pundak Paman masih sangat lebar, sini," ucap Mark merentangkan tangan kirinya yang bebas, mengisyaratkan Lucian untuk mendekat.
Lucian sempat ragu sejenak, dia menoleh ke arah pintu seolah memastikan tidak ada pelayan atau Neneknya yang melihat sisi lemahnya ini. Namun, saat melihat Leo tertawa riang di pundak kanan Mark, pertahanan Lucian runtuh, dia melangkah maju dengan cepat.
Hap
Mark dengan sigap menyambar tubuh Lucian dan mengangkatnya.
Kini, kedua putra Duke Lucas itu duduk di atas pundak raksasa Mark, satu di kanan dan satu di kiri.
"Waaah!" Lucian memekik pelan, tangannya refleks mencengkeram jubah kulit Mark agar tidak jatuh.
"Tinggi sekali, aku bisa melihat seluruh ruangan dari sini," seru Lucian, dengan mata berbinar.
Walaupun tadi Lucian sempat di gendong oleh Peter, tapi ukuran badan Mark jauh lebih besar dan lebih tinggi dari pada Peter atupun Ketty.
"Jangan takut, Tuan Muda, Paman tidak akan membiarkan kalian jatuh, bahkan jika dunia ini runtuh, Paman akan tetap memegang kalian," ucap Mark dengan suara yang sangat dalam dan tulus.
"Kak Lucian, lihat! Kita lebih tinggi dari Paman Ethan sekarang! Paman Mark seperti gunung!" seru Leo, yang berada di pundak sebelah, langsung memeluk kepala Mark dari samping.
Lucian tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya menyandarkan kepalanya di pundak kanan Mark, memejamkan matanya, menghirup aroma maskulin yang kuat, aroma hutan, salju, dan aroma yang selama ini hanya dia bayangkan ada pada sosok Ayahnya.
"Paman..." bisik Lucian lirih di telinga Mark
"Apa Ayah juga punya pundak sekuat ini? Apa Ayah akan marah kalau tahu kami minta digendong orang lain?" tanya Lucian, merasa sangat dekat dengan Mark, walaupun mereka baru bertemu.
Ketty dan Peter yang menyaksikan itu harus membuang muka, karena tidak tega melihat kedua Tuan muda kecil nya.
Bahkan Peter prajurit serigala yang paling tangguh sekalipun, harus mengusap matanya dengan kasar.
"Ayah kalian tidak akan marah," jawab Mark tegas sambil mulai berjalan pelan mengelilingi ruangan, memberikan sensasi ayunan yang menenangkan bagi keduanya.
"Dia akan sangat berterima kasih karena ada yang menjaga harta karunnya saat dia tidak ada, dan saat dia kembali nanti, Paman sendiri yang akan memastikan dia menggendong kalian berdua sampai kalian bosan," lanjut Mark, membuat Leo dan Lucian mengembangkan senyum lebar nya.
"Leo tidak akan pernah bosan!" ucap Leo sambil tertawa kecil.
Mark terus berjalan mengelilingi kamar tamu, membiarkan kedua tuan muda nya bersandar di bahu lebar nya.
Hari semakin malam, dan lama kelamaan, rasa kantuk mulai menyerang dua bocah kecil itu, karena merasa sangat aman di pelukan raksasa itu, Leo dan Lucian tertidur diatas bahu lebar Mark.
Jasmine, yang masih berada di balik pilar, terduduk lemas di lantai lorong yang gelap, dia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat, hatinya hancur melihat betapa haus anak-anaknya akan kasih sayang seorang ayah, namun di saat yang sama, dia merasa sedikit lega karena ada sosok yang bisa mengisi kekosongan itu sementara waktu.
"Lucas... lihatlah mereka," batin Jasmine pilu.
"Anak-anakmu tidak meminta emas atau kekuasaan, mereka hanya ingin pundak untuk bersandar, mereka hanya ingin pelukan hangat dari Ayahnya, yang selama ini tidak pernah mereka rasakan," batin Jasmine, menghapus kasar air mata nya.
"Aku bersumpah atas nyawa ku sendiri, aku akan membawamu pulang, meski aku harus menghancurkan seluruh kerajaan ini dengan tanganku sendiri," lanjut Jasmine, mengepalkan tangannya dengan mata berkilat tajam.
Malam itu, di kamar tamu yang tersembunyi, dua pangeran kecil Alistair akhirnya tertidur lelap di pundak sang serigala liar, seolah-olah untuk malam ini saja, badai yang mengintai keluarga mereka telah berlalu.
Sekuat apapun mereka saat latihan, tapi mereka berdua tetap lah seorang anak kecil.