Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 23 - PERSIAPAN PERANG
Tiga hari terakhir berlalu sangat cepat.
Ash hampir tidak punya waktu untuk bernapas. Pagi sampai siang dia latihan dengan Violet, belajar kombinasi elemen yang lebih kompleks dan cara mempertahankan sihir lebih lama tanpa kehabisan mana. Sore sampai malam dia "dilatih" oleh Morgana, yang sekarang tidak hanya melepaskan golem, tapi juga monster Tier C yang lebih berbahaya dan lebih agresif.
Tubuhnya penuh luka setiap malam, tapi regenerasinya bekerja semakin cepat. Violet bilang itu karena tubuhnya mulai beradaptasi dengan penggunaan mana yang konstan.
Morgana bilang itu karena Uroboros di dalam dirinya mulai "bangun" sedikit demi sedikit karena tekanan.
Ash tidak tahu mana yang benar. Dia hanya tahu setiap hari dia jadi sedikit lebih kuat, sedikit lebih cepat, sedikit lebih percaya diri.
Tapi juga sedikit lebih lelah.
Malam sebelum keberangkatan, Ash duduk sendirian di kamarnya, menatap perkamen penugasan yang tergeletak di meja. Surat itu terlihat sederhana, tapi beratnya luar biasa.
Ketukan di pintu membuatnya menoleh.
"Masuk."
Eveline masuk dengan dua mangkuk sup panas. Dia menyerahkan satu ke Ash dan duduk di kursi seberang.
"Kau tidak makan malam di ruang makan," ucapnya.
"Tidak lapar."
"Bohong. Kau selalu lapar." Eveline mendorong mangkuk itu lebih dekat. "Makan. Besok kau butuh energi penuh."
Ash mengambil mangkuk itu dan mulai makan. Supnya hangat dan enak, membuat perutnya yang sebenarnya memang lapar langsung berbunyi.
Eveline makan dalam diam, tapi matanya sesekali melirik ke arah Ash.
"Kau takut?" tanyanya tiba tiba.
Ash berhenti mengunyah. "Ya. Sangat."
"Aku juga."
Ash terkejut. Ini pertama kalinya Eveline mengaku takut dengan jujur.
"Tapi kau terlihat tenang."
"Karena aku sudah terbiasa menyembunyikan rasa takut." Eveline meletakkan mangkuknya. "Keluarga Nightshade mengajarkan bahwa takut adalah kelemahan. Jadi kami belajar mengubur rasa itu dalam-dalam. Tapi tak berarti rasa itu hilang."
"Lalu bagaimana kau menghadapinya?"
"Dengan mengingat kenapa aku bertarung." Eveline menatap Ash. "Dulu aku bertarung karena dipaksa. Atau karena takut dihukum. Tapi sekarang... aku bertarung untuk melindungi orang yang kupedulikan."
Ash tersenyum kecil. "Itu termasuk aku?"
"Tentu saja, bodoh." Eveline hampir tersenyum. Hampir. "Kau, Razen, bahkan Morgana yang menyebalkan itu. Kalian semua adalah alasanku."
Ash merasakan dadanya hangat. "Terima kasih."
"Jangan berterimakasih dulu."
Mereka menghabiskan sup dalam diam yang nyaman. Setelah selesai, Eveline berdiri dan berjalan ke pintu, tapi dia berhenti sebelum keluar.
"Ash."
"Ya?"
"Besok, apapun yang terjadi... jangan mati. Aku masih butuh seseorang untuk diajak makan roti keras sambil mengeluh tentang bokong yang sakit."
Ash tertawa. "Aku janji tidak akan mati. Karena aku juga masih butuh seseorang yang menamparku kalau aku mulai bodoh."
Eveline tersenyum tipis, lalu keluar dan menutup pintu.
Ash kembali menatap perkamen penugasannya. Rasa takut masih ada. Tapi sekarang ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut itu.
Tekad.
---
Pagi keberangkatan, mereka berkumpul di halaman depan istana. Sebuah kereta besar dengan perisai sihir sudah disiapkan, ditarik oleh empat kuda hitam yang terlihat jauh lebih kuat dari kuda biasa.
Violet berdiri di tangga istana bersama Lyra dan beberapa anggota council.
"Ini bukan perpisahan selamanya," ucap Violet sambil menatap Ash, Eveline, dan Razen. "Ini hanya penugasan. Kalian akan pulang setelah situasi di Fort Silvergate stabil."
"Berapa lama estimasinya?" tanya Razen.
"Dua minggu jika semuanya berjalan baik. Satu bulan jika Varnhold benar-benar serius dengan invasi mereka." Violet turun beberapa anak tangga. "Lyra akan ikut sebagai penghubung resmi. Dia akan memastikan kalian dapat semua dukungan yang dibutuhkan."
Lyra mengangguk. "Kereta sudah disiapkan dengan barrier pelindung dan persediaan untuk seminggu. Perjalanan ke Fort Silvergate butuh dua hari."
"Dua hari?" Ash terkejut. "Bukankah benteng itu di perbatasan?"
"Ya. Tapi jalur yang kami ambil melewati pegunungan untuk menghindari patroli Varnhold." Lyra menunjuk peta kecil di tangannya. "Lebih lama tapi lebih aman."
Dari balik kereta, seseorang melangkah keluar dengan langkah ringan.
Morgana.
Dia mengenakan jubah gelap yang berbeda dari biasanya, lebih sederhana, tapi tetap dengan senyum lebar yang khas.
"Nivraeth ikut~!" ucapnya sambil melambai.
Ash hampir tersedak. "Apa?! Kenapa?!"
"Karena Nivraeth bosan di sini. Dan Nivraeth ingin lihat bagaimana vessel kesayangan bertarung di perang sungguhan~." Morgana berjalan mendekat dan menepuk kepala Ash. "Jangan khawatir. Nivraeth tidak akan ikut campur kecuali kalian semua hampir mati. Nivraeth cuma akan... menonton~."
"Itu tidak menenangkan sama sekali!"
Violet berdeham. "Morgana memang bukan bagian dari rencana awal. Tapi dia... Mungkin bisa membantu. Dan aku pikir keberadaannya bisa jadi jaminan tambahan untuk keselamatan kalian."
Morgana tersenyum lebar ke arah Violet. "Lihat~? Violet yang bijaksana setuju~."
Violet mengabaikannya dan kembali menatap Ash, Eveline, dan Razen. "Hati-hati. Jaga satu sama lain. Dan ingat, kalian bukan tentara. Kalian adalah mata dan telingaku. Jangan coba jadi pahlawan sendirian."
"Kami mengerti," jawab Razen sambil membungkuk hormat.
Mereka naik ke kereta. Di dalam sudah ada bangku yang empuk, beberapa peti berisi persediaan, dan bahkan kasur kecil untuk istirahat.
Lyra naik terakhir dan menutup pintu. Dia mengetuk dinding kereta dua kali.
Kereta mulai bergerak.
Ash menatap keluar jendela, melihat Violet yang masih berdiri di tangga istana, melambaikan tangan pelan.
Lalu istana itu perlahan menghilang di belakang pepohonan saat mereka keluar dari gerbang kota.
---
Perjalanan hari pertama relatif tenang. Mereka melewati desa-desa kecil di pinggiran Lunaria, lalu mulai mendaki jalur pegunungan yang berkelok-kelok.
Pemandangannya indah. Pegunungan dengan puncak bersalju, lembah hijau yang luas, dan sesekali air terjun kecil yang mengalir di sisi jalan.
Tapi tidak ada yang benar-benar menikmati pemandangan. Semua orang di kereta itu tegang, waspada.
Morgana duduk di sudut sambil bermain-main dengan bola cahaya kecil yang dia ciptakan entah dari apa, melemparnya dari satu tangan ke tangan lain sambil bersenandung.
Lyra membaca perkamen laporan dengan ekspresi serius.
Razen mengasah pedangnya dengan batu asah kecil, gerakan ritmis yang menenangkan.
Eveline membersihkan belati-belatinya dengan kain, memeriksa setiap bilah dengan teliti.
Dan Ash... Ash mencoba berlatih menarik mana tanpa membuat api atau angin yang bisa merusak interior kereta.
Sore hari, mereka berhenti di sebuah pos kecil di tengah pegunungan untuk istirahat dan ganti kuda.
Ash turun dari kereta untuk meregangkan kaki. Udaranya dingin dan segar, membuat paru-parunya terasa bersih.
Razen berdiri di sisinya, menatap ke arah timur di mana pegunungan membentang.
"Fort Silvergate ada di ujung pegunungan ini," ucapnya sambil menunjuk. "Benteng yang dibangun dua ratus tahun lalu saat perang pertama antara Lunaria dan Varnhold. Temboknya setinggi sepuluh meter, terbuat dari batu yang diperkuat dengan sihir."
"Kedengarannya kuat."
"Memang. Tapi tembok sekuat apapun bisa ditembus kalau penyerang punya cukup waktu dan pasukan." Razen menghela napas. "Dan Varnhold punya keduanya."
"Kau pernah ke Fort Silvergate?"
"Dulu. Saat masih di LightOrder. Kami pernah diutus ke perbatasan untuk... negosiasi." Razen tertawa pahit. "Negosiasi yang sebenarnya hanya ancaman terselubung."
Ash menatapnya. "Kau menyesal? Meninggalkan LightOrder?"
Razen diam sebentar, lalu menggeleng. "Tidak. Aku menyesal tidak meninggalkan mereka lebih cepat. Sebelum terlalu banyak darah di tanganku."
Sebelum Ash bisa menjawab, Lyra memanggil dari kereta. "Kita lanjutkan. Matahari akan segera tenggelam dan jalur malam lebih berbahaya."
Mereka naik kembali dan kereta melanjutkan perjalanan.
---
Malam tiba dengan cepat di pegunungan. Langit berubah dari oranye ke ungu gelap dalam hitungan menit, dan suhu turun drastis.
Lyra menyalakan lampu sihir di dalam kereta, memberikan cahaya hangat.
"Kita akan berhenti di shelter berikutnya," ucapnya. "Masih sekitar dua jam lagi."
Tapi shelter itu tidak pernah mereka capai.
Setengah jam kemudian, kereta tiba-tiba berhenti dengan guncangan keras.
Semua orang kecuali Morgana terlempar ke depan.
"Apa yang—" Ash belum selesai bicara saat suara teriakan terdengar dari luar.
Lyra langsung berdiri, tongkat sihirnya sudah di tangan. "Jangan keluar. Biarkan aku periksa."
Dia membuka pintu sedikit dan mengintip.
Lalu wajahnya berubah pucat.
"Bandit? Monster?" tanya Razen sambil menghunus pedangnya.
"Lebih buruk," jawab Lyra dengan suara tegang. "LightOrder."
Ash merasakan darahnya mendingin.
Dari luar, suara keras terdengar. "ORANG DI DALAM KERETA! KELUAR DENGAN TANGAN DI ATAS KEPALA! INI ADALAH PERINTAH ATAS NAMA KERAJAAN VARNHOLD!"
Razen mengutuk pelan. "Mereka menemukan kita. Bagaimana bisa?"
Lyra menggeleng. "Aku tidak tahu. Seharusnya jalur ini aman—"
"Nivraeth tahu~," ucap Morgana tiba-tiba dengan nada yang tidak main-main lagi. Senyumnya hilang. "Ada yang memasang tracking spell di kereta ini. Nivraeth baru merasakannya sekarang. Sangat halus. Sangat... licik."
"Pengkhianat lagi?" desis Eveline.
"Mungkin. Atau Varnhold punya spy yang lebih baik dari yang kita kira." Morgana berdiri dan berjalan ke pintu. "Berapa orang di luar?"
Lyra menutup mata sebentar, merasakan dengan sihir deteksinya. "Sepuluh. Delapan infantri, dua ksatria LightOrder."
"Hanya itu~?" Morgana tersenyum lagi, tapi kali ini senyumnya dingin. "Nivraeth bisa bunuh mereka semua dalam tiga detik."
"Jangan," ucap Lyra cepat. "Kalau kita bunuh patroli LightOrder, itu akan jadi alasan Varnhold untuk menyatakan perang total lebih cepat."
"Lalu apa rencananya? Menyerah?"
"Tidak." Lyra menatap Ash, Eveline, dan Razen. "Kita lawan. Tapi jangan bunuh kalau bisa dihindari. Lumpuhkan. Tangkap. Bawa mereka sebagai bukti bahwa Varnhold yang menyerang duluan."
Razen mengangguk. "Aku bisa lakukan itu."
Eveline mengecek belatinya. "Aku juga."
Ash menarik napas dalam. "Aku... aku akan coba."
Lyra menatap mereka semua. "Siap?"
Mereka semua mengangguk.
Lyra membuka pintu kereta lebar-lebar dan melangkah keluar dengan tangan terangkat, tongkat sihirnya terlihat jelas.
Ash, Eveline, Razen, dan Morgana mengikuti.
Di luar, sepuluh pria dengan armor putih emas Varnhold sudah mengepung kereta. Dua di antaranya mengenakan helm tertutup dengan ukiran dua sayap, ksatria LightOrder resmi.
Kusir kereta mereka sudah berlutut dengan tangan diikat.
Salah satu ksatria melangkah maju. Suaranya terdengar dari balik helm. "Kalian dari Lunaria. Dalam wilayah netral. Tanpa izin resmi dari Varnhold. Itu pelanggaran perjanjian perbatasan."
"Ini jalur pegunungan yang tidak diklaim siapapun," balas Lyra tenang. "Dan kami punya surat penugasan resmi dari Ratu Lunaria."
"Surat itu tidak berlaku di sini." Ksatria itu menghunus pedangnya. Cahaya keemasan mulai menyelimuti bilahnya. "Kalian akan datang bersama kami untuk interogasi. Atau kalian akan mati di sini. Pilih."
Razen melangkah maju. "Atau kalian yang akan mati."
Ksatria itu menoleh ke arahnya, lalu membeku.
"Razen," ucapnya pelan. "Razen si Pengkhianat."
"Aku punya nama lain sekarang," balas Razen sambil menghunus pedangnya. Api merah mulai menyala. "Tapi aku lebih suka di panggil Razen si Bebas."
Ksatria itu tertawa dingin. "Bebas? Kau pikir kabur dari tanggung jawab membuatmu bebas? Kau hanya pengecut."
"Mungkin," ucap Razen. "Tapi setidaknya aku bukan budak."
Hening sejenak.
Lalu ksatria itu menyerang.
Dan pertempuran pertama mereka di perjalanan ke medan perang pun dimulai.