NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.18

Begitu kelas selesai, Ryn Moa langsung diculik teman-temannya. Begitu dosen mengucapkan, “Baik, sampai di sini dulu,”. Ryn Moa bahkan belum sempat mengemas buku catatannya ketika tangan Ida sudah mencengkeram lengannya seperti petugas keamanan bandara yang menemukan penumpang mencurigakan. Padahal Ryn Moa baru saja menarik napas lega setelah satu setengah jam berusaha fokus pada materi kuliah yang sebenarnya tidak sepenuhnya ia cerna. Bukan karena dosennya membosankan, justru sebaliknya, melainkan karena ada satu keberadaan di dalam ruangan itu yang terus mengacaukan konsentrasinya.

Namjoon.

Hari ini di kelas yang sama, Ia duduk dua baris di depan, sedikit ke samping kanan. Ryn Moa melihat pria itu tidak banyak bergerak dan ribut, juga tidak melakukan hal-hal dramatis seperti membetulkan rambut atau memutar pulpen. Dan entah kenapa, keberadaannya terasa terlalu nyata untuk membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan. Sementara teman-teman Ryn Moa duduk jauh di belakang, karena semua kursi kosong yang ada disekitar Ryn Moa sudah terisi semua. Bahkan mereka hampir saja terlambat masuk kelas.

Ryn Moa bahkan belum selesai menutup buku ketika Ida menyeretnya.

“EH, IDA, TUNGGU !” ucap Ryn Moa.

Namun Windi dengan cepat mendorongnya untuk keluar

“Jalan, jalan, jalan! Target harus diamankan sebelum dia kabur!”

Ryn Moa hampir tersandung tasnya sendiri. Ia sempat melirik ke belakang dan mendapati Namjoon yang baru berdiri sambil merapikan catatannya. Mata mereka sempat bertemu sepersekian detik, cukup singkat untuk dianggap kebetulan, tapi cukup lama untuk membuat jantung Ryn Moa melakukan salto ganda. Ia buru-buru memalingkan wajah. Ody sibuk heboh sendiri.

“AKU BILANG JUGA APA?! AKU BILANG INI BAKAL TERJADI!”

“TERJADI APA?!” Ryn Moa masih setengah diseret, setengah berjalan.

“SEGALANYA!” jawab Ody dengan penuh keyakinan, seolah baru saja memenangkan lotre takdir.

Melly sibuk mengomentari setiap detik.

“Ekspresi Moa tadi? Lima bintang. Tatapan kosong? Oscar worthy.”

“AKU NGANTUK!” Ryn Moa membela diri.

“Kebohongan,” sahut Melly santai.

Arella dan Celine paling tenang tapi paling tajam dalam mengamati.

Arella berjalan sambil menyilangkan tangan didepan dada, ekspresinya seperti detektif yang sudah mengumpulkan cukup bukti. Celine diam di sisi Ryn Moa, memperhatikan dari sudut mata, jenis pengamatan yang membuat orang merasa sedang di-scan sampai ke lapisan jiwa. Ryn Moa bisa merasakan itu. Tatapan Celine selalu seperti kamera resolusi tinggi. Tidak menghakimi, tapi tidak bisa dibohongi. Mereka menyeret Ryn Moa ke kantin belakang fakultas, tempat nongkrong favorit yang agak sepi, dengan meja panjang dan kursi kayu yang sering berbunyi nyaring saat diduduki. Kantin itu bukan yang paling hits di kampus. Tidak ada dekorasi estetik atau spot foto viral. Tapi justru karena itu, tempat ini jadi markas tetap mereka. Begitu Ryn Moa didorong duduk, kursi kayu di bawahnya berbunyi “KREKK” keras, seolah ikut mengomentari situasi. Keenam pasang mata langsung menguncinya.

“CERITAKAN SEMUAAAAAAA!!!” Ida langsung meledak. Bukan karena marah, tapi lebih karena senang.

Ryn Moa refleks menutup telinga.

“IDA, PITA SUARAMU !”

“Aku lihat dari kejauhan,” Windi menambahkan. “Namjoon senyum ke kamu. Astaga itu jarang banget! Dia Zen manusia!”

“ZEN MANUSIA ITU APA?!” Ryn Moa memprotes.

“Itu istilah baru,” Windi menunjuk-nunjuk. “Dia kayak biksu modern. Tenang. Kalem. Tapi mematikan.”

Ryn Moa menelan ludah. Deskripsi itu terlalu tepat. Namjoon memang tidak pernah melakukan hal berlebihan. Tapi justru ketenangannya itu yang membuatnya sulit diabaikan.

“Dan dia duduk DEKAT, dua baris di depan Moa” Celine ikut, menekankan kata dekat.

Ryn Moa ingin menyangkal, tapi bayangan jarak antar kursi itu masih terlalu jelas di kepalanya.

“DEKAT DALAM ARTIKULASI APA?” Ida mendekatkan wajahnya ke Ryn Moa.

“Radius kurang dari satu meter,” jawab Celine datar.

“ITU INTIM!” Ida teriak.

Beberapa mahasiswa di meja lain menoleh. Ida tidak peduli.

“Dan dia ngomong sesuatu! Bibirnya bergerak!” Ody panik.

“ODYYY,” Arella akhirnya bicara, “orang ngomong memang pakai bibir.”

“TAPI BIBIR NAMJOON BERGERAK KE ARAH Moa saat berbicara dengan temannya tadi,” Ody bersikeras.

Melly menyeruput boba. “Yang benar aja, kalian semua fokus ke bibir Namjoon. Yang penting tuh Moa tadi mukanya merah!”

Ryn Moa menutup wajah. “Kalian terlalu lebay…”

Ia bisa merasakan pipinya masih panas, bahkan sekarang. Padahal kejadian Namjoon bicara padanya itu sudah lewat dari satu jam yang lalu, tapi tubuhnya, terutama pipinya masih saja menyimpan semu merah itu seperti pengkhianat. Ia ingat jelas momen itu, ketika Namjoon mencondongkan badan sedikit dan berbisik pelan, saat berbicara padanya. Tidak ada sentuhan. Tidak ada rayuan. Tapi suara itu terdengar rendah, tenang, dan terlalu dekat.

“Terlalu lebay?” Ida memelotot.

“Kami temanmu! Kalau kamu jadian sama salah satu BTS versi kampus, kami butuh persetujuan dokter jiwa dulu!”

Ryn Moa hampir jatuh dari kursi karena tertawa, sampai bahunya naik turun, hingga rasa gugupnya sedikit luruh. Inilah teman-temannya, berisik, dramatis, tapi hangat. Mereka ribut bukan karena ingin menghakimi, tapi karena peduli.

“Jadi,” Arella menyilangkan tangan. “Kamu suka siapa?”

Pertanyaan itu menampar. Bukan dengan suara keras tapi dengan ketepatan yang menyakitkan.

Suka? Suka siapa?

Ryn Moa mendadak kehilangan kemampuan bercanda. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Hatinya terasa penuh, seperti ada terlalu banyak perasaan yang ingin keluar bersamaan.

Taehyung adalah alasan ia masuk kampus ini. Wajah pertama yang membuatnya jatuh cinta dari jauh. Nama yang membuatnya nekat memilih kampus nya yang sekarang, mengubah hidup, dan percaya pada kemungkinan kecil. Ia masih ingat pertama kali melihat Taehyung di koridor minggu orientasi saat SMA. Seragamnya rapi, wajahnya dingin, tapi matanya hangat saat tersenyum pada temannya. Sejak saat itu, Ryn Moa seperti hidup dengan satu tujuan kecil yang ia simpan rapat-rapat di hati.

J-Hope begitu ramah dan menyenangkan. Ceria tanpa dibuat-buat. Mudah didekati. Membuat Ryn Moa merasa dilihat, bukan sebagai “gadis mahasiswa baru”, tapi sebagai Ryn Moa. Ia selalu muncul dengan energi yang membuat hari terasa lebih ringan. Tidak menuntut. Tidak memaksa. Tapi selalu ada.

Namjoon.., entahlah. Ada sesuatu yang ia belum mengerti. Namjoon tidak memaksa. Tidak mendekat berlebihan. Tapi justru itu yang mengganggu pikirannya. Namjoon hadir seperti jeda di antara kalimat. Tidak keras, tapi terasa penting.

“Aku…” Ryn Moa menelan ludah. “Aku nggak tahu.”

Jawaban itu keluar jujur dari mulutnya tanpa drama dan hiasan. Ida memegangi kepalanya sendiri.

“Astaga cinta segitiga… bukan, segi empat?!”

“Segi empat itu namanya apa?” Windi mikir keras.

“Bujur sangkar,” Ody menjawab refleks.

“Ini bukan pelajaran matematika!” Ida melempar tisu ke arahnya.

“Kita butuh papan tulis,” Ody bersiap mencatat.

“Aku punya spidol di tas,” Melly menawarkan serius.

Celine menatap Ryn Moa penuh simpati.

“Kamu dalam bahaya.”

“Bahaya yang cakep,” tambah Windi.

Melly menyeringai.

“Karena kamu ini walking romcom.”

Ryn Moa hanya bisa menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kantin yang dipenuhi kipas berderit. Hidupnya terasa seperti naskah yang bahkan ia sendiri tidak tahu arahnya. Dan seolah semesta memang belum puas. dari kejauhan terdengar suara yang akrab ditelinganya memanggil,

“Eh, Ryn!”

Semua kepala berputar bersamaan. J-Hope melambaikan tangan dari pintu kantin, senyumnya lebar seperti biasa. Cahaya siang dari luar membuat siluetnya terlihat semakin cerah, seolah ia memang dilahirkan untuk jadi pusat perhatian. Di belakangnya, Taehyung baru masuk, earphone masih menggantung di leher. Langkahnya santai, tatapannya lurus ke depan, sampai akhirnya berhenti tepat ketika melihat Ryn Moa. Dan beberapa langkah setelah itu, Namjoon muncul sambil membawa botol air. Wajahnya tetap tenang, tapi alisnya sedikit terangkat, reaksi kecil yang hanya bisa ditangkap oleh orang yang memperhatikan dengan saksama. Enam pasang mata teman-temannya kembali menatap ke Ryn Moa.

“Ini final boss.” Ida berbisik,

“Aku mau pingsan.” Ody berdiri setengah.

“Aku hidup untuk momen ini.” Melly lalu menyesap boba nya.

Sementara Ryn Moa, menutup wajah lagi dengan kedua telapak tangannya.

“Hidupku… kenapa begini sih,” gumamnya lirih.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!