Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16~Taman yang menceritakan kita
Pagi itu langit cerah tanpa awan.
Burung-burung berkicau di atas atap, dan sinar matahari jatuh lembut menembus jendela kamarku.
Aku menatap ponsel yang baru saja bergetar — satu pesan dari Raka.
Raka: “Hari ini kita mulai, Ly 🌿.”
Aku tersenyum membaca pesannya. Hari ini adalah hari yang sudah lama kami tunggu — hari pertama pembangunan taman impian kami.
Bukan taman besar seperti proyek arsitek biasanya, tapi taman kecil di tepi kota, dekat sungai, tempat udara masih bersih dan daun-daun berdesir seperti irama yang menenangkan.
Aku mengganti bajuku dengan kemeja putih sederhana dan celana jeans. Saat bercermin, aku tersenyum kecil.
“Dulu aku cuma bantu siram tanaman di taman sekolah,” gumamku. “Sekarang aku bantu bikin taman beneran.”
Raka sudah menunggu di lokasi saat aku tiba.
Dia mengenakan topi proyek, kemeja kerja warna biru muda, dan senyum yang selalu bisa bikin suasana jadi ringan.
“Pagi, insinyur taman,” sapanya sambil mengangkat tangan.
Aku tertawa. “Pagi juga, arsitek andalan.”
Dia menatapku sebentar, lalu berkata, “Kamu tahu nggak, Ly, aku mimpi tentang tempat ini beberapa kali. Taman yang tenang, penuh bunga, dan punya cerita di setiap sudutnya.”
Aku menatap lahan kosong di depan kami — masih ada rumput liar dan batu-batu kecil di sana. “Sekarang mimpinya bakal jadi nyata.”
Dia mengangguk. “Iya. Tapi kali ini, aku nggak mau bangun sendirian.”
Aku menatapnya dan tersenyum. “Aku di sini, Rak. Dari awal, kan kita emang selalu mulai bareng.”
Hari pertama kami habiskan dengan menggambar ulang sketsa taman.
Raka menjelaskan setiap detail dengan semangat yang mengingatkanku pada caranya waktu masih SMA — waktu dia menjelaskan sistem pipa hidroponik sambil menjatuhkan ember air karena gugup.
“Jadi nanti di bagian tengah, aku mau ada dua kursi kayu di bawah pohon flamboyan,” jelasnya sambil menekankan pensil ke kertas. “Flamboyan itu tahan panas dan hujan, kayak hubungan kita.”
Aku mengerutkan dahi pura-pura bingung. “Kenapa bukan bunga matahari aja? Kamu kan suka banget sama itu.”
Dia tertawa. “Karena matahari cuma ngikut cahaya. Tapi flamboyan kuat berdiri meski nggak ada sinar.”
Aku diam sejenak, lalu berkata pelan, “Kamu bener. Cinta juga harus gitu — bukan cuma tumbuh karena senang, tapi tetap kuat pas keadaan gelap.”
Raka menatapku lembut. “Itu sebabnya aku pengen taman ini bukan cuma cantik, tapi bermakna. Biar orang yang datang ke sini ngerasa tenang, ngerasa dicintai, bahkan kalau dia datang sendirian.”
Dua minggu berlalu.
Setiap pagi, aku datang ke lokasi taman sebelum kuliah, dan setiap sore Raka menemaniku menyiram bibit yang baru ditanam.
Kami tertawa di bawah sinar matahari, saling mencipratkan air pakai selang seperti anak kecil.
Suatu sore, setelah selesai bekerja, kami duduk di atas rumput sambil menikmati jus buah dari warung sebelah.
Raka menatap langit jingga di atas kepala. “Ly, kamu sadar nggak? Dulu waktu SMA kita cuma punya taman kecil di belakang sekolah. Sekarang kita bikin taman yang bisa dikunjungi banyak orang.”
Aku menatap hasil kerja kami — lahan yang dulu kosong kini mulai berubah. Ada jalan setapak dari batu alam, ada kolam kecil di tengahnya, dan deretan bunga berwarna lembut di sisi kanan.
“Dulu kita cuma menanam karena tugas,” kataku pelan. “Sekarang kita menanam karena cinta.”
Dia tertawa kecil. “Cinta yang tumbuh dari tugas, ya?”
Aku ikut tertawa. “Lumayan unik sih kalau diceritain ke orang.”
“Tapi nggak semua tugas sekolah bisa berakhir jadi kisah kayak kita.”
Aku menatapnya, tersenyum hangat. “Mungkin karena dari awal, Tuhan memang nyuruh kita ngerjain proyek yang sama.”
Raka terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Aku percaya itu.”
Semakin hari, taman itu semakin hidup.
Bunga-bunga mulai mekar, daun mulai rimbun, dan kolam kecil di tengahnya mulai memantulkan cahaya matahari pagi.
Kami memberi nama taman itu “Taman Langit” — karena katanya, cinta kami sudah melalui banyak langit yang berbeda, tapi selalu menemukan jalan pulang ke satu yang sama.
Suatu sore, saat aku sedang menata pot di pinggir kolam, Raka menghampiriku dengan dua gelas kopi dingin.
“Untuk pekerja terbaik di proyek ini,” katanya sambil menyerahkan satu gelas.
Aku menerimanya sambil tersenyum. “Kamu tahu nggak, Rak, aku selalu suka aroma taman — wangi tanah basah, daun, bunga. Rasanya kayak tenang tapi hidup.”
Dia duduk di sampingku. “Aku juga. Tapi aroma favoritku tetap kamu waktu lagi serius kayak gini.”
Aku mendengus kecil. “Kamu tuh, gombalnya makin profesional.”
“Karena aku belajar dari pengalaman,” katanya sambil tersenyum nakal.
Aku pura-pura tidak memedulikan, tapi pipiku sudah memanas.
Beberapa hari kemudian, taman itu akhirnya selesai.
Di hari peresmian kecil yang kami adakan, langit sangat cerah.
Beberapa teman Raka dari kantor datang, juga beberapa anak-anak dari sekolah dekat situ. Mereka berlarian di antara bunga, tertawa riang.
Aku berdiri di sisi taman, menatap semuanya dengan mata berkaca-kaca. “Raka… kita beneran berhasil.”
Dia berdiri di sampingku, matanya tak lepas dari pemandangan di depan. “Iya. Tapi ini bukan cuma taman, Ly. Ini cerita kita.”
Aku menatapnya. “Cerita kita?”
Dia mengangguk. “Lihat setiap bagian taman ini. Jalan setapak dari batu itu — simbol langkah-langkah kecil kita yang nggak selalu mulus, tapi tetap maju. Pohon flamboyan itu — lambang kesabaran yang kita tanam. Kolam di tengahnya — ketenangan yang selalu kamu bawa. Dan dua kursi kayu di bawahnya…”
Dia menoleh padaku dan tersenyum. “Itu tempat buat kita kembali, kapan pun dunia jadi terlalu bising.”
Aku menggigit bibir, menahan perasaan yang hampir tumpah. “Kamu… selalu tahu cara bikin aku terharu.”
Dia tertawa kecil. “Aku cuma nyeritain apa yang udah kita lalui.”
Malam mulai turun.
Tamu-tamu sudah pulang, dan hanya kami berdua yang tersisa di taman.
Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak menyala, menciptakan suasana hangat seperti bintang yang turun ke bumi.
Raka duduk di salah satu kursi kayu dan menepuk tempat di sebelahnya. “Duduk sini.”
Aku duduk, dan selama beberapa menit kami hanya diam.
Angin malam berembus lembut, membawa suara jangkrik dan aroma bunga yang baru mekar.
“Ly,” katanya pelan. “Kamu tahu kenapa aku pengen taman ini ada kursi dua?”
Aku menggeleng.
“Karena aku pengen kita selalu punya tempat buat istirahat dari dunia,” katanya. “Tempat buat diem bareng, tanpa harus ngomong apa pun, tapi tetap ngerti satu sama lain.”
Aku menatap wajahnya yang diterangi cahaya lampu taman. “Dan kalau suatu hari salah satu dari kita capek?”
Dia menatap balik. “Kita duduk di sini. Nggak perlu kuat sendirian.”
Aku mengangguk, lalu bersandar di bahunya. “Aku janji bakal terus nyiram taman ini. Biar nggak cuma tumbuh di tanah, tapi juga di hati.”
Dia menatap ke langit malam yang dipenuhi bintang. “Dan aku janji bakal terus jagain cahaya kamu, biar nggak padam.”
Kami diam lama. Hanya suara alam yang mengisi ruang di antara kami.
Dan di momen itu, aku tahu — ini bukan sekadar akhir dari perjalanan panjang, tapi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Taman ini bukan hanya tempat kami menanam bunga.
Tapi juga tempat kami menanam kisah — kisah tentang dua remaja yang dulu dijodohkan tanpa rencana, lalu perlahan jatuh cinta bukan karena takdir, tapi karena saling memilih, hari demi hari.
Beberapa minggu setelah taman dibuka untuk umum, aku sering datang sendirian setelah kuliah.
Aku suka duduk di kursi kayu itu sambil membaca buku atau sekadar menatap langit.
Kadang Raka datang diam-diam tanpa aku tahu, lalu tiba-tiba duduk di sebelahku sambil membawa roti hangat.
“Untuk pengawas taman terbaik,” katanya setiap kali.
Aku selalu tertawa, tapi dalam hati, aku tahu — ini adalah kebahagiaan yang sederhana tapi nyata.
Suatu malam, saat kami duduk berdua lagi di taman, Raka menatap langit dan berkata, “Ly, kamu sadar nggak? Dari dulu kita selalu mulai hal besar di tempat sederhana.”
Aku menoleh. “Maksudnya?”
“Dulu taman sekolah, sekarang taman ini. Dan aku yakin, nanti apa pun yang kita mulai, nggak perlu mewah asal dari hati.”
Aku menatapnya lama. “Kamu ngomongnya kayak orang yang mau ngajak mulai sesuatu lagi.”
Dia tersenyum kecil, lalu mengambil sesuatu dari saku kemejanya.
Sebuah kotak kecil berwarna hijau.
Hatiku langsung berdebar. “Raka… ini apa?”
Dia membukanya perlahan. Di dalamnya ada cincin sederhana, dengan ukiran kecil berbentuk daun di sisinya.
Dia menatapku lembut. “Bukan lamaran, Ly. Belum. Tapi janji.”
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Janji?”
“Janji kalau nanti waktunya datang, aku akan datang ke rumah kamu lagi — bukan karena dijodohin, tapi karena aku benar-benar memilih kamu.”
Aku tidak bisa menahan senyumku yang berubah jadi tawa pelan di antara air mata.
“Raka, kamu…”
Dia menatapku dalam. “Aku tahu, perjalanan kita panjang. Tapi setiap langkah, setiap hujan, setiap jarak — semuanya bawa aku ke sini, ke kamu.”
Aku menatapnya, lalu berkata pelan, “Kalau gitu, aku janji juga. Aku akan terus ada di sini. Di setiap taman yang kamu buat, di setiap langit yang kamu lihat.”
Kami saling menatap lama, lalu tertawa kecil bersama.
Di atas kami, bintang-bintang terlihat lebih terang malam itu.
Dan di antara cahaya lembut dan aroma bunga yang menenangkan, kami tahu — cinta kami sudah tumbuh cukup kuat untuk menembus waktu.
Taman ini bukan hanya milik kami, tapi milik setiap hati yang pernah percaya bahwa cinta yang dijaga dengan sabar… akan selalu menemukan jalannya sendiri.
✨ Bersambung ke Bab 17