NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Semburat Merah di Atas Jembatan

Suara deru kereta api di kejauhan terdengar seperti detak jam kematian yang terus memburu. Gia memacu sepedanya kembali ke arah jembatan kayu dengan kecepatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Angin malam menyabet wajahnya, namun ia tak peduli. Di depannya, Rian sedang bergumul di atas tanah berlumpur dengan pria berjaket kulit itu. Posisi Rian terdesak; luka di bahu kirinya yang belum sembuh total membuat gerakannya terbatas, sementara sang pembunuh terus menekan leher Rian dengan lengan yang sekeras baja.

"Rian!" jerit Gia.

Pria itu menoleh sekilas, memberikan celah bagi Rian untuk menyikut ulu hatinya. Namun, si jaket hitam itu hanya mundur selangkah dan kembali menyerang dengan pukulan telak ke arah rahang Rian. Rian terhuyung, darah merembes dari sudut bibirnya, membasahi tanah Sukamaju yang ia cintai.

Gia melepaskan sepedanya hingga terjatuh dengan suara dentang logam yang nyaring. Ia berlari mendekat, tangannya sudah menggenggam erat kaleng cat semprot warna perak sisa pembangunan Balai Kreatif.

"Hei, Brengsek! Lihat sini!" teriak Gia.

Pria itu berbalik dengan tatapan dingin yang mematikan, namun sebelum ia sempat bereaksi, Gia menekan nosel kaleng itu sekuat tenaga.

Pssssssst!

Kabut cat perak pekat menyembur tepat ke arah wajah dan mata pria itu. Ia berteriak kesakitan, tangannya refleks menutupi mata yang terasa pedih luar biasa terkena zat kimia cair. Dalam kegelapan malam, wajahnya kini tampak mengerikan, tertutup lapisan perak yang berkilat di bawah cahaya bulan.

"Argh! Sialan kamu, Jalang!" raung pria itu sambil mengayunkan tangannya secara membabi buta.

Rian tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan sisa tenaganya, ia bangkit dan mengambil kunci pas besar yang tadi sempat terlempar. Ia menghantamkan alat berat itu tepat ke arah lutut sang lawan. Bunyi krek yang mengerikan terdengar, diikuti oleh jeritan kesakitan yang memecah kesunyian hutan pinus.

Pria itu tersungkur, memegangi kakinya yang patah sambil terus mengusap matanya yang masih tertutup cat. Rian segera menarik tangan Gia.

"Ayo, Gia! Sekarang!" bisik Rian dengan suara parau.

Mereka meninggalkan sepeda dan mulai berlari menembus jalur setapak perkebunan teh. Rian harus menopang berat tubuhnya pada Gia karena kakinya juga sempat terkilir saat bergulat tadi. Napas mereka memburu, menciptakan uap putih di udara malam yang dingin.

Mereka sampai di stasiun kecil itu tepat saat kereta ekonomi terakhir dari arah kota mulai melambat di peron yang sepi. Tidak ada petugas di sana, hanya lampu kuning temaram yang berayun ditiup angin. Rian dan Gia segera melompat masuk ke gerbong terakhir yang hampir kosong.

Begitu pintu kereta tertutup dan roda besi mulai berderit meninggalkan stasiun, Gia jatuh terduduk di kursi kayu gerbong yang keras. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Adrenalin yang tadi memuncak kini perlahan surut, menyisakan rasa takut yang nyata.

Rian duduk di sampingnya, mencoba mengatur napas. Ia merobek sedikit bagian bawah kemejanya untuk mengikat lengan yang terluka akibat sabetan belati tadi.

"Kamu... kamu gila, Gia," ujar Rian sambil menatap Gia dengan sorot mata yang sulit diartikan—antara marah, kagum, dan lega yang luar biasa. "Kenapa kamu balik? Kamu harusnya sudah aman di stasiun."

Gia menatap tangan Rian yang berdarah, lalu menatap tangannya sendiri yang masih berlumuran cat perak. "Aku sudah bilang, aku nggak akan ninggalin kamu lagi. Lagian, lihat hasilnya? Manajer pemasaran bisa lebih kreatif daripada pembunuh bayaran, kan?"

Rian tertawa lemah, tawa yang berakhir dengan rintihan karena rusuknya terasa nyeri. Ia menarik Gia ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang masih berdegup kencang. "Makasih, Neng. Tapi jangan pernah lakuin itu lagi. Jantungku hampir copot pas lihat kamu lari ke arah dia."

"Kita mau ke mana sekarang, Rian?" tanya Gia pelan.

"Jakarta. Tapi kita nggak akan ke ruko Pak Jaka. Mahendra pasti sudah mengawasi tempat itu," jawab Rian, matanya menatap tajam ke arah kegelapan di luar jendela kereta. "Kita akan ke tempat yang paling tidak mereka duga. Rumah lama Danu."

Gia mengernyitkan dahi. "Rumah Danu? Bukannya dia musuh kita?"

"Danu sudah melarikan diri, tapi dia punya apartemen rahasia yang tidak terdaftar atas namanya. Di sana ada server cadangan yang dulu sering kami pakai buat simpan 'proyek sampingan'. Kalau aku bisa masuk ke sana, aku bisa mematikan aliran dana ilegal Mahendra yang dipakai buat bayar orang-orang kayak pria di jembatan tadi."

Perjalanan malam itu terasa sangat panjang. Kereta bergoyang pelan, membawa mereka menjauh dari ketenangan desa menuju kekacauan kota yang penuh intrik. Saat fajar mulai menyingsing dan siluet gedung-gedung tinggi Jakarta mulai terlihat, Gia menyadari bahwa ia tidak lagi takut pada kota ini. Ia tidak lagi datang sebagai wanita yang kalah, melainkan sebagai pejuang yang membawa kebenaran di sakunya.

Rian menatap ponselnya yang sudah ia nyalakan kembali setelah masuk ke wilayah kota. Puluhan notifikasi masuk, tapi satu pesan menarik perhatiannya. Pesan dari nomor anonim.

“Tikusnya sudah sampai di kota. Selamat datang di babak eliminasi, Rian Ardiansyah.”

Rian meremas ponselnya. Ia tahu, Mahendra sudah tahu mereka datang. Ini bukan lagi soal sembunyi-sembunyi; ini adalah undangan perang terbuka di tengah hutan beton.

"Gia," panggil Rian serius.

"Iya?"

"Begitu sampai di stasiun kota, kita harus langsung berpencar. Kamu menuju alamat yang aku kasih, dan aku akan memancing perhatian mereka di pusat kota. Jangan menoleh, jangan kirim pesan kecuali lewat kode yang sudah kita sepakati."

Gia menggenggam tangan Rian erat. "Berjanjilah, kita akan ketemu lagi di kedai. Sambil minum kopi jahe yang beneran hangat, bukan yang penuh lumpur kayak sekarang."

Rian tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat tenang, senyum seorang arsitek yang sudah menghitung semua beban dan resiko dalam desain keselamatannya. "Janji, Neng Bos. Utang kopiku masih banyak, aku nggak bakal berani mati sebelum lunasin semuanya."

Begitu pintu kereta terbuka di Stasiun Gambir, Jakarta yang riuh menyambut mereka. Mereka melangkah keluar, dua jiwa dari desa yang kini siap mengguncang fondasi kekuasaan sang Naga Tua.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!