"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERJAMUAN PARA SERIGALA
BAB 3: PERJAMUAN PARA SERIGALA
Gedung Grand Ballroom Hotel Mulia malam itu tampak seperti lautan cahaya. Lampu-lampu sorot di sepanjang karpet merah menyambut kedatangan tamu-tamu kelas atas dari kalangan pejabat, pengusaha minyak, hingga selebritas papan atas. Malam ini bukan sekadar pesta biasa; ini adalah malam kembalinya Keluarga Adiwangsa ke panggung publik setelah sepuluh tahun menutup diri dari hiruk-pikuk media.
Di sudut lain ibu kota, sebuah taksi tua yang mesinnya sudah batuk-batuk berhenti di depan gerbang hotel. Raka dan Siska keluar dari sana dengan wajah yang sangat kontras dengan kemewahan di sekitar mereka.
Raka mengenakan setelan jas lamanya yang mulai terlihat sempit, sementara Siska memakai gaun merah yang ia klaim sebagai merek ternama, padahal itu adalah barang sewaan yang ia paksa ambil dengan sisa saldo kartu kreditnya. Wajah Siska terlihat sangat tebal dengan riasan yang berlebihan, mencoba menutupi rasa panik karena rumah mereka baru saja disita secara paksa subuh tadi.
"Mas, kamu yakin kita bisa masuk? Kita kan tidak punya undangan fisik," bisik Siska cemas sambil memegangi lengan Raka yang terasa dingin.
"Tenanglah, Siska. Aku sudah menelepon rekan bisnis lamaku. Katanya, Keluarga Adiwangsa sedang mencari mitra baru untuk proyek pembangunan pelabuhan. Kalau aku bisa bertemu salah satu dari tujuh putra Adiwangsa, aku bisa memulihkan nama baikku. Kehancuran rumah kita tadi pagi pasti hanya kesalahan administrasi atau sabotase saingan bisnis. Aku harus mendapatkan investasi malam ini!" jawab Raka dengan nada sombong yang dipaksakan.
Namun, saat mereka sampai di depan pintu masuk, dua orang penjaga bertubuh raksasa dengan ear-piece di telinga mereka langsung menghadang.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Undangan Anda?" tanya penjaga itu dengan suara berat yang menggetarkan nyali.
"Ah, itu... aku Raka Ardiansyah, CEO dari Ardiansyah Group. Aku lupa membawa kartu undanganku, tapi aku adalah tamu penting di sini," Raka mencoba berbohong sambil membusungkan dada.
Penjaga itu memeriksa tablet di tangannya sebentar, lalu menatap Raka dengan pandangan meremehkan. "Raka Ardiansyah? CEO? Berita pagi ini mengatakan perusahaan Anda sudah dinyatakan pailit dan aset Anda dibekukan. Nama Anda ada di daftar hitam tamu yang tidak boleh masuk."
Siska membelalak. "Apa? Pailit? Itu tidak mungkin! Kami—"
"Silakan pergi sekarang, sebelum kami menyeret Anda keluar dengan cara yang kasar," potong penjaga itu tanpa kompromi.
Siska dan Raka nyaris berbalik dengan malu, namun tiba-tiba seorang pria dengan jas berwarna silver muncul dari dalam. Itu adalah Julian Adiwangsa, Kakak Ketiga Alana. Dia tersenyum ramah, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Tunggu, biarkan mereka masuk," ujar Julian santai sambil memainkan kunci mobil sport-nya di jari telunjuk.
"Tapi Tuan Julian, mereka tidak ada di daftar..."
"Aku yang mengundang mereka secara pribadi," Julian menoleh ke arah Raka dan Siska yang tampak kaget sekaligus kegirangan. "Tuan Raka, kan? Aku dengar kau sedang butuh bantuan. Masuklah, nikmati pestanya. Siapa tahu nasibmu berubah di dalam."
Raka hampir sujud syukur. "Terima kasih, Tuan Adiwangsa! Anda benar-benar malaikat penolong!"
Siska berbisik penuh kemenangan, "Lihat kan, Mas? Pesonaku pasti menarik perhatiannya. Dia bahkan tahu kita butuh bantuan."
Mereka berdua masuk ke dalam ballroom dengan kepala tegak, tidak menyadari bahwa mereka baru saja masuk ke dalam kandang singa yang sudah kelaparan selama sepuluh tahun.
Di lantai paling atas hotel tersebut, di sebuah Presidential Suite yang dijaga ketat, Alana sedang berdiri di depan cermin raksasa. Elvan, sang kakak tertua, masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah kotak beludru hitam.
"Kau siap, Dek?" tanya Elvan lembut.
Alana berbalik. Dia terlihat sangat berbeda. Jika tadi pagi dia adalah wanita yang hancur, malam ini dia adalah definisi dari kemewahan yang tak tersentuh. Gaun midnight blue itu membalut tubuhnya dengan elegan, menunjukkan lekuk tubuh yang selama ini dia sembunyikan di balik baju-baju daster kusam saat melayani Raka.
Elvan membuka kotak itu. Sebuah kalung berlian dengan batu zamrud seukuran ibu jari bersinar terang di dalamnya. "Ini milik Ibu. Dia selalu bilang, jika suatu saat kita menemukanmu, kalung ini harus melingkar di lehermu. Ini adalah simbol bahwa kau adalah satu-satunya ratu di keluarga ini."
Elvan memasangkan kalung itu. Dinginnya berlian menyentuh kulit Alana, memberikan sensasi kekuatan yang nyata.
"Kakak-kakakmu yang lain sudah di bawah. Mereka sedang 'bermain' dengan mantan suamimu," Elvan terkekeh kecil. "Bastian sedang memantau keamanan, Arka memastikan makanan di meja mereka adalah sisa, dan Gio... yah, kau tahu Gio, dia sudah gatal ingin mematahkan leher pria itu."
"Biarkan mereka bermain sebentar, Kak," ujar Alana dengan suara tenang namun tegas. "Aku ingin masuk saat mereka merasa sudah berada di puncak harapan, lalu aku akan menjatuhkan mereka ke jurang yang paling dalam."
Elvan menatap adiknya dengan bangga. "Darah Adiwangsa memang tidak pernah bohong. Ayo."
Di bawah, di tengah kerumunan pesta, Raka dan Siska merasa seperti berada di surga. Mereka mencoba mencicipi berbagai hidangan mewah. Namun, anehnya, setiap kali mereka mengambil makanan, pelayan akan berkata, "Maaf, ini meja khusus anggota VIP," dan mereka digiring ke meja paling pojok dekat pintu dapur.
"Mas, kenapa kita ditaruh di sini? Ini kan meja untuk staf?" keluh Siska sambil mengipasi dirinya dengan tangan.
"Sabar, Siska. Yang penting kita sudah di dalam. Lihat, itu Tuan Hanif Adiwangsa, si raja properti! Aku harus menyapanya," Raka bangkit dan berjalan menuju Hanif (Kakak Keempat) yang sedang dikelilingi oleh para konglomerat.
"Tuan Hanif! Selamat malam, saya Raka Ardiansyah, saya ingin berbicara sedikit tentang lahan di Jakarta Utara—"
Hanif menoleh sedikit, menatap Raka dari bawah ke atas seolah sedang melihat serangga kecil yang mengganggu. "Siapa kau? Aku tidak bicara dengan orang yang nilai sahamnya lebih rendah dari harga sepatuku. Pergi."
Gelak tawa pecah dari orang-orang di sekitar. Wajah Raka merah padam. Dia mencoba mendekati kakak-kakak yang lain, tapi responnya sama. Mereka semua menghina Raka secara halus maupun terang-terangan.
Puncaknya adalah saat lampu utama ballroom tiba-tiba padam.
Sebuah lampu sorot tunggal mengarah ke panggung utama. Elvan Adiwangsa melangkah maju dengan gagah ke atas podium. Suasana menjadi hening seketika.
"Selamat malam, kolega dan sahabat sekalian," suara Elvan menggema berwibawa. "Malam ini bukan hanya tentang bisnis. Malam ini adalah tentang keadilan dan kembalinya harta berharga Keluarga Adiwangsa yang sempat hilang."
Raka berbisik pada Siska, "Lihat! Mereka akan memperkenalkan anggota keluarga baru. Pasti ini momen besar. Aku harus mencari celah untuk berfoto dengan mereka agar kredibilitas perusahaanku naik lagi."
"Sepuluh tahun yang lalu, adik bungsu kami hilang karena sebuah kecelakaan," lanjut Elvan, suaranya memberat karena emosi. "Selama itu pula, kami mencarinya tanpa henti. Dan kami sangat sedih mengetahui bahwa selama dia hilang, ada orang-orang kejam yang memperlakukannya seperti sampah, menghinanya, dan membuangnya seolah dia tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini."
Raka mengerutkan kening. "Kasihan sekali adik mereka. Siapa ya orang bodoh yang berani menghina adik keluarga Adiwangsa?"
"Maka malam ini," Elvan melanjutkan dengan suara menggelegar, "Izinkan saya memperkenalkan kepada dunia, putri tunggal Keluarga Adiwangsa. Adik kesayangan kami... Alana Adiwangsa!"
Musik orkestra yang megah mulai bermain. Pintu besar di belakang panggung terbuka.
Alana melangkah keluar. Cahaya lampu sorot mengikuti setiap langkahnya yang anggun. Dia berdiri di samping Elvan, kepalanya tegak, senyumnya tipis namun mematikan.
Di meja pojok, gelas di tangan Raka jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Siska nyaris jatuh dari kursinya. Jantung mereka seakan berhenti berdetak serentak.
"A-Alana?" bisik Raka, suaranya bergetar hebat. "Itu... itu istriku?"
"Tidak mungkin! Itu pasti orang yang mirip saja! Alana itu miskin, dia tidak punya keluarga!" jerit Siska pelan dengan wajah pucat pasi.
Alana menatap ke seluruh ruangan. Matanya yang tajam sengaja mencari keberadaan Raka di pojok ruangan. Saat mata mereka bertemu, Alana tidak menunjukkan kemarahan. Dia justru memberikan anggukan kecil dan senyum paling manis yang pernah Raka lihat—senyum yang menandakan bahwa eksekusi baru saja dimulai.
"Tuan Raka," suara Alana terdengar lewat mikrofon, membuat semua tamu menoleh ke arah meja pojok yang kumuh itu. "Terima kasih sudah datang. Bagaimana rasanya berdiri di sana? Bukankah kau dulu bilang aku hanya parasit yang tidak punya tempat di dunia mewahmu?"
Seluruh mata tamu pesta—orang-orang paling berkuasa di negeri ini—kini menatap Raka dan Siska dengan tatapan menghakimi.
"Mas... kita harus pergi dari sini," bisik Siska ketakutan.
Tapi sebelum mereka bisa beranjak, tujuh pria Adiwangsa sudah berdiri mengepung meja mereka. Gio, si bungsu, menarik kursi di depan Raka dan duduk dengan santai sambil meremas sebuah gelas kaca hingga retak.
"Mau ke mana, Tuan Raka?" tanya Gio dengan nada sangat ramah namun mematikan. "Pestanya baru saja dimulai."
Raka gemetar hebat. Dia menatap Alana di atas panggung yang kini sedang dipeluk oleh Elvan. Dia baru menyadari satu hal: dia bukan hanya membuang seorang istri, dia baru saja mendeklarasikan perang dengan penguasa negeri ini.