Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Mas Bram berhasil menyusulku sampai ke parkiran mobil yang hampir kosong. Suara langkahnya terdengar tergesa di belakangku.
"Rania, tunggu!!"
Aku berhenti, tapi tak menoleh. Air mata ini terasa panas, cepat-cepat kuhapus sebelum dia melihat betapa rapuhnya aku.
"Ceraikan aku!" seruku tajam tanpa ragu.
Ia terdiam sesaat, napasnya memburu. "Mana bisa cerai dalam keadaan hamil, Rania?"
Aku tertawa miris. "Jadi aku harus bertahan hanya karena anak ini? Bukan karena kamu mencintaiku?"
Mas Bram mengusap wajahnya kasar, frustrasi. "Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak ingin kamu sendirian. Tidak ingin anak kita lahir tanpa ayah."
"Anak kita?" ulangku lirih. "Sejak kapan kamu benar-benar memikirkan kami? Bahkan statusmu saja belum jelas, Mas."
Ia melangkah mendekat, tapi aku mundur satu langkah.
"Aku akui aku salah, Ran. Soal Monika… soal semuanya. Tapi jangan hukum anak kita dengan keputusan sesaat."
Dadaku sesak. Nama itu lagi. Selalu saja ada bayang-bayang yang tak bisa kuhindari.
"Aku tidak menghukum siapa pun," ucapku gemetar. "Aku hanya ingin harga diriku kembali."
Mas Bram menatapku lama, matanya merah menahan emosi. "Kalau kamu pergi sekarang, aku akan tetap bertanggung jawab. Tapi aku tidak akan melepaskanmu semudah itu."
Aku membuka pintu mobil. Tangan ini bergetar, antara marah dan rindu yang masih tersisa.
"Mas, yang sulit itu bukan pergi…" bisikku pelan sebelum masuk ke dalam mobil, "yang sulit itu bertahan di hati yang tidak utuh."
Mesin mobil menyala, meninggalkan Mas Bram yang berdiri terpaku di parkiran.
Ku lajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tanganku berulang kali memukul setir, air mata mengaburkan pandangan.
“Kenapa aku hamil di saat aku tahu semuanya?! Aaghhh… ini sangat menyakitkan!”
Dadaku terasa sesak, napas naik turun tak beraturan. Dunia seperti tidak adil padaku. Di saat aku tahu kenyataan tentang Mas Bram, justru ada kehidupan kecil di dalam rahimku yang harus ku jaga.
Akhirnya ku tepikan mobil di pinggir jalan. Lampu hazard menyala berkedip pelan. Aku turun, lalu duduk di tepi trotoar. Angin sore menyapu wajahku yang basah oleh air mata.
Aku tak tahu harus ke mana. Pulang? Ke rumah itu yang penuh luka? Atau ke kantor Mas Bram dan berpura-pura semuanya baik-baik saja?
Tanganku perlahan berpindah ke perutku.
“Maafkan Mama…” lirihku serak. “Mama bukan menyesali kamu… Mama hanya menyesali keadaan.”
Isakanku pecah lagi.
Di tengah kebingungan itu, ponselku bergetar di dalam tas. Nama yang muncul di layar membuatku terdiam.
Mas Bram.
Jariku gemetar. Untuk beberapa detik aku hanya menatap layar yang terus berdering. Hati ini ingin mengangkatnya… tapi harga diri menahanku.
Derit motor yang melintas membuatku tersadar. Tidak aman bagiku duduk sendirian di pinggir jalan seperti ini.
Aku berdiri pelan, menyeka wajahku, mencoba terlihat tegar walau hati hancur.
Panggilan itu mati.
Beberapa detik kemudian, masuk satu pesan:
[“Ran, jangan pergi sendirian. Kirim lokasi kamu. Aku mohon.”]
Namun sebelum aku masuk ke dalam mobil, terdengar klakson berbunyi pendek.
Tin… tin…
Aku menoleh cepat ke belakang. Jantungku sempat melonjak, mengira itu Mas Bram.
Ternyata bukan.
Mobil berwarna hitam itu berhenti tak jauh dariku. Kaca jendelanya turun perlahan.
“Rania?”
Aku membeku.
“Dokter Leon?” gumamku tak percaya.
Ia segera turun dari mobilnya, wajahnya penuh kekhawatiran. “Kamu ngapain duduk sendirian di pinggir jalan begini? Kamu habis nangis?”
Refleks aku memalingkan wajah, menyeka sisa air mata. “Enggak kok, dok… cuma pusing sedikit.”
Dokter Leon menatapku lama. Tatapannya tak percaya.
“Kamu sedang hamil. Tekanan emosional bisa berpengaruh ke janin,” ucapnya lebih lembut sekarang. “Kamu sendirian?”
Pertanyaan itu justru membuat dadaku kembali sesak.
Aku hanya mengangguk pelan.
Ia menghela napas. “Masuk mobil. Setidaknya duduk di dalam, jangan di pinggir jalan seperti ini. Tidak aman.”
Aku ragu.
Tapi tubuhku terasa lemas. Kakiku bahkan sedikit gemetar. Mungkin karena terlalu banyak menangis.
“Tidak perlu takut,” tambahnya pelan. “kita kan sudah jadi teman, ingat?”
Kalimat itu membuat pertahananku runtuh.
Aku akhirnya membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi penumpang depan. Bau khas parfum maskulin yang lembut memenuhi inderaku.
Dokter Leon menyerahkan sebotol air mineral.
“Minum dulu. Tarik napas pelan.”
Tanganku masih bergetar saat menerima botol itu.
“Suami kamu tahu kamu di sini?” tanyanya hati-hati.
Aku terdiam.
Air mata kembali jatuh tanpa izin.
“Dok…” suaraku pecah, “bagaimana kalau bayi ini justru hadir di waktu yang salah?”
Dokter Leon tak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, lalu berkata pelan,
“Tidak pernah ada bayi yang salah waktu, Rania. Yang sering salah… hanya orang-orang dewasanya.”
Tapi di saat yang sama, ponselku kembali bergetar.
Mas Bram menelepon lagi
Tapi segera kumatikan teleponnya.
Sekilas kulihat Leon melirik ke arah ponselku yang masih menyala di tanganku.
“Kenapa nggak diangkat?” tanyanya tenang, namun penuh makna.
Aku diam. Hanya menatapnya kosong, seolah seluruh tenaga untuk bicara sudah habis.
“Hey, Rania…” suaranya melembut. “Kamu baik-baik saja?”
Entahlah.
Pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahananku runtuh. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh begitu saja di depan Leon. Tanpa suara, tanpa isakan besar—hanya mengalir.
Aku malu. Seorang dokter melihat pasiennya seperti ini. Seorang perempuan hamil yang kehilangan arah.
“Aku capek, Dok…” lirihku akhirnya. “Capek pura-pura kuat.”
Leon terdiam beberapa detik. Ia tidak menyentuhku sembarangan, hanya mengambil tisu dari dashboard dan menyodorkannya pelan.
“Kamu nggak harus selalu kuat,” ucapnya pelan. “Terutama bukan sekarang.”
Aku menggigit bibir, menahan tangis yang kembali pecah.
“Semua terasa salah… pernikahan ini, kehamilan ini, keputusan-keputusan yang aku ambil…” suaraku bergetar. “Aku merasa sendirian.”
Leon menoleh, menatapku dalam. Tatapannya tidak tajam, tidak menghakimi—hanya khawatir.
“Kalau kamu sendirian,” katanya pelan, “kamu nggak mungkin nangis di depan saya.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku menghangat.
“Suami kamu yang telepon, ya?” tanyanya hati-hati.
Aku mengangguk lemah.
“Kalian bertengkar?”
Aku tersenyum pahit. “Lebih dari itu.”
Leon menghela napas panjang. “Rania, saya nggak akan ikut campur urusan rumah tangga kamu. Tapi sebagai dokter, dan… sebagai orang yang peduli, saya cuma mau bilang satu hal.”
Aku menatapnya, menunggu.
“Stres berat bisa memicu kontraksi dini. Kamu harus jaga diri. Bukan demi dia… tapi demi kamu dan bayi kamu.”
Tanganku refleks kembali menyentuh perutku.
Di luar, langit mulai menggelap. Lampu jalan menyala satu per satu.
“Kalau kamu nggak mau pulang sekarang,” lanjut Leon pelan, “setidaknya jangan sendirian. Saya bisa antar kamu ke tempat yang kamu mau. Rumah teman? Rumah orang tua?”
Aku membeku.
Teman… ada Arumi.
Rumah orang tua… rasanya terlalu jauh untuk menjelaskan semuanya.
Ponselku kembali bergetar. Nama Mas Bram muncul lagi.
Aku menatap layar itu cukup lama.
Hati ini masih mencintainya.
Tapi luka ini juga nyata.
Leon tidak memaksa. Ia hanya menunggu jawabanku, sabar.
Sekarang aku harus memilih —
menghindar…
atau menghadapi semuanya malam ini?
***