Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Di Antara Fajar dan Luka.
[POV Ling Feng]
Aku terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuh.
Batu gua yang keras menekan punggungku. Otot-ototku terasa seperti diremas semalaman. Saat aku mencoba menggerakkan leher, dunia berputar pelan dan kepalaku berdenyut seperti dipukul dari dalam.
Tanganku terasa kosong.
Dingin langsung menyergap kesadaranku. Aku menoleh.
Xiao Lu masih di sampingku.
Wajahnya pucat, hampir sewarna batu di bawahnya. Bibirnya kehilangan darah. Rambutnya menempel tipis di kening oleh keringat yang telah mengering. Untuk sesaat, dadaku berhenti bergerak.
Lalu kulihat.
Dadanya, naik turun. Pelan. Sangat pelan. Tapi ada.
Syukurlah, masih bernapas.
Aku meraih tangannya. Kulitnya dingin. Kaku. Tapi tidak sedingin mayat.
“Xiao Lu,” bisikku. Suaraku serak oleh debu dan kelelahan. “Bangun.”
Ia tidak bergerak.
“Xiao Lu.”
Abu mendekat dengan langkah pelan. Hidungnya menyentuh pipi Xiao Lu, lalu menjilatnya pelan. Seekor anjing iblis yang biasanya garang kini hanya bisa merintih pelan, seperti takut mengganggu keheningan.
“Xiao Lu, kau harus—”
Kelopak matanya bergetar.
Gerakan kecil. Nyaris tak terlihat.
Lalu terbuka. Sayu. Samar. Tapi terbuka.
“Ling ... Feng?” Suaranya tipis seperti benang yang hampir putus.
“Aku di sini.”
Aku tak sadar sejak kapan jemariku menggenggamnya begitu erat.
Ia mencoba tersenyum. Otot wajahnya bergerak, tapi luka dan lelah menahannya.
“Aku ... masih hidup?”
"Iya. Masih."
Kata-kata itu terasa lebih seperti doa daripada jawaban.
“Beruntung ...” Napasnya tersendat. Dadanya naik terlalu cepat. “Padahal aku ... sudah bersiap ... mati.”
Jantungku mencelos.
“Jangan bicara seperti itu.”
"Tapi ... aku ..." Matanya menatapku. Di sana ada sesuatu, bukan sekadar rasa sakit. Ada beban. Ada ketakutan yang tak sempat ia selesaikan. “Aku harus ... bilang sesuatu ... sebelum ...”
“Nanti.” Aku menggenggam tangannya lebih kuat, menahan gemetar yang mulai merayapi tubuhku sendiri. “Bilang nanti, kalau kau sudah kuat.”
“Tapi—”
“Nanti.” Aku tersenyum, lelah, bibirku pecah-pecah, tapi tulus. “Aku akan tunggu. Aku bisa tunggu.”
Ia menatapku lama. Seolah mencoba memastikan aku tidak akan menghilang jika ia memejamkan mata.
Lalu kelopak itu turun lagi.
Tapi tangannya masih menggenggam tanganku.
Abu menghela napas panjang, tubuhnya turun perlahan. Ia meringkuk di sisi Xiao Lu, menjaga.
Di luar, cahaya yang tersisa memudar. Bayangan gua semakin tebal. Malam mulai turun, menyelimuti luka dan kelelahan kami.
Dan kami bertiga, terluka, lelah, tapi masih hidup, bertahan di dalam gua itu.
******
[POV Xiao Lu]
Aku terbangun oleh dinginnya malam.
Bukan dingin biasa.
Dingin yang merayap dari luka di bahuku, menyusup ke tulang, membuat gigiku hampir beradu. Aku bisa merasakan darah yang hilang dari tubuhku, seperti ruang kosong di dalam dada yang tak bisa diisi.
Bahuku terasa terbakar. Punggungku berdenyut setiap kali aku bernapas terlalu dalam.
Tapi tanganku hangat.
Hangat yang kontras dengan tubuhku sendiri.
Aku menoleh perlahan.
Ling Feng.
Ia tidur sambil duduk, punggungnya bersandar pada dinding gua. Kepalanya sedikit miring. Tanganku masih digenggamnya, seolah ia takut aku akan menghilang.
Wajahnya pucat. Ada bayangan gelap di bawah matanya. Rambutnya berantakan. Tapi ekspresinya tenang. Seperti seseorang yang akhirnya berhasil mempertahankan sesuatu yang hampir hilang.
Abu tidur di sisi lain, ekornya menyentuh kakiku. Napasnya teratur.
Aku menatap Ling Feng lama.
Kenapa?
Pertanyaan itu kembali seperti luka yang belum sembuh.
Kenapa kau peduli?
Kenapa kau tidak lari?
Kenapa kau memilih tinggal bersamaku, orang yang jelas-jelas menyimpan sesuatu?
Lalu kuingat.
Suara itu.
Di antara denging kematian dan bau darah, suaranya menembus kabut kesadaranku.
Aku tahu ... kau punya rahasia. Aku tahu ... kau bukan siapa yang kau katakan. Tapi aku ... aku tidak peduli. Asal kau ... tetap di sini. Bersamaku.
Dadaku sesak.
Ia tahu. Atau setidaknya, ia cukup peka untuk curiga.
Dan ia tetap memilihku.
Air mata mengalir tanpa izin. Hangat di kulit yang dingin. Aku tidak tahu kenapa aku menangis.
Karena sakit?
Karena lega?
Atau karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, seseorang melihat retakan di topengku, dan tidak pergi?
Tanganku yang bebas terangkat perlahan. Jari-jariku menyentuh pipinya. Hangat. Nyata.
Ia bergerak sedikit dalam tidurnya, alisnya berkerut sebentar, tapi tidak bangun.
“Ling Feng,” bisikku. “Kau benar-benar bodoh.”
Ia tidak menjawab.
Tapi dalam tidurnya, ia menggenggam tanganku lebih erat.
Senyum kecil muncul di bibirku.
Dengan sisa tenaga, aku berbisik lagi, hampir tak terdengar oleh siapa pun selain diriku sendiri.
“Aku juga punya perasaan. Tapi aku belum bisa bilang. Belum sekarang. Belum ... sampai aku jujur padamu tentang siapa aku sebenarnya.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi kalau nanti ... kalau kau masih mau menerimaku setelah tahu semuanya ... mungkin saat itu aku bisa bilang.”
Sial. Aku jatuh cinta pada anak desa, seorang petani yang bodoh. Aku paham, dia tak mungkin punya rasa padaku.
Di luar, angin malam menyusup melalui celah batu. Dingin. Di dalam gua, ada kehangatan yang tidak berasal dari api.
Jika aku mengaku, apakah ia masih akan memandangku dengan mata yang sama?
Ataukah ada sesuatu yang retak, bukan pada dirinya, melainkan pada bayanganku di matanya?
Aku membawa masa lalu di tubuhku, dan entah mengapa dunia sering menghitungnya lebih keras daripada hatiku.
Bukan inginku, aku yang sudah tak perawan.
******
[POV Ling Feng]
Aku terbangun oleh hangatnya sesuatu di sampingku.
Abu.
Ia meringkuk rapat di sisiku, bulunya menyerap dingin malam. Di sisi lain, Xiao Lu masih tidur.
Tapi napasnya lebih stabil. Tidak lagi terengah. Warna pucatnya berkurang sedikit.
Aku menghela napas lega tanpa sadar.
Tanganku masih menggenggam tangannya.
Perlahan, aku mencoba melepaskan. Jari-jarinya bergerak refleks, menggenggam balik. Matanya terbuka.
“Pagi,” bisiknya. Suara serak, tapi ada kekuatan tipis di dalamnya.
“Pagi.” Aku tersenyum. “Kau bagaimana?”
“Sakit. Tapi masih hidup.”
“Syukurlah.”
Itu bukan sekadar basa-basi. Itu pengakuan bahwa kami berhasil melewati satu malam lagi.
Kami diam sebentar. Cahaya fajar menyusup dari mulut gua, menyentuh wajahnya yang masih lemah tapi hidup.
“Ling Feng.”
“Ya?”
"Kemarin ... kau bilang sesuatu. Waktu aku pingsan."
Aku mencoba mengingat di antara panik dan ketakutan. "Aku bilang banyak hal. Yang mana?"
“Kau bilang ... kau tahu aku punya rahasia. Tapi kau tidak peduli.”
Keheningan turun lagi.
“Itu benar?”
Matanya terbuka penuh sekarang. Tidak ada selubung. Tidak ada jarak. Hanya kerentanan yang jarang ia tunjukkan.
“Aku tidak tahu rahasiamu,” kataku pelan. “Tapi aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Dari caramu bicara. Dari caramu menatapku kadang-kadang. Dari caramu ... menyimpan botol itu.”
Ia terkejut. Alisnya terangkat.
“Kau tahu tentang botol?”
“Aku tidak tahu isinya. Tapi aku tahu kau sedang bergulat dengan sesuatu.” Aku tersenyum kecil. “Aku bisa mendengar, ingat? Bukan hanya tanah. Tapi juga ... alam. Entah kenapa."
Ia terdiam lama.
Aku bisa melihat perjuangan di wajahnya—antara kebiasaan menyembunyikan dan keinginan untuk percaya.
“Aku ... aku harus cerita. Tentang diriku. Tentang misiku. Tentang—”
“Nanti.” Aku menggenggam tangannya lagi. “Cerita nanti, kalau kau sudah kuat. Aku tidak ke mana-mana.”
“Tapi—”
“Nanti.” Aku tersenyum. “Aku tunggu.”
Ia menatapku, lalu—untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya—ia tersenyum tanpa beban.
“Kau benar-benar ... orang aneh.”
“Iya. Tapi kau tetap di sini.”
Ia tertawa kecil, lalu meringis, memegangi bahunya.
“Idiot.”
“Bodoh.”
Kami tertawa pelan bersama.
Lalu hening.
Tapi hening yang hangat.
***
Kami bersiap pergi.
Xiao Lu masih lemah. Langkahnya tidak stabil. Aku memapahnya dari samping, merasakan berat tubuhnya yang bersandar padaku. Abu berjalan di depan, telinganya tegak, sesekali menoleh memastikan kami tidak tertinggal.
Dari kejauhan, arah gua Xue Gou diselimuti asap tipis yang membubung ke langit pagi.
Mereka mungkin sudah menemukan jejak.
Tapi kami tidak menoleh.
“Ling Feng.”
“Ya?”
“Ke mana kita pergi?”
Aku meraba manik batu di leherku. Hangat. Denyutnya samar, seperti kompas yang tak terlihat.
“Ke utara. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang ... memanggil.”
“Utara?” Ia mengerutkan kening. "Itu pegunungan. Dingin. Berbahaya."
"Tapi mungkin satu-satunya tempat yang aman."
Ia mempertimbangkan sejenak. Lalu mengangguk.
"Baik. Ke utara."
Kami berjalan. Perlahan. Tertatih. Tapi bersama.
Dan di dadaku, ada perasaan yang belum berani kuakui. Setiap kali ia terhuyung dan tangannya mencari tanganku, perasaan itu semakin jelas.
Untuk apa hidup dijalani?
Pertanyaan itu muncul lagi.
Untuk saat ini, aku ingin menjadi kuat.
Aku menatap perempuan di sampingku, rapuh, penuh rahasia, tapi memilih bertahan.
Mungkin juga ... untuk momen seperti ini.
Untuk seseorang yang membuatmu ingin terus berjalan, meski jalan itu menuju ketidakpastian.
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
Ia menoleh, tersenyum.
Dan kami terus melangkah.