NovelToon NovelToon
Adek Gue BAD

Adek Gue BAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Contest / Keluarga / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Pihak Ketiga
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Biru

Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.

Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.

Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.

Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.

Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?

****

Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Menjemput Ketenangan

...Di mana kamu merasakan gelisah dan ketenangan tak kunjung menjemputmu, Tuhan adalah tempat kembali terbaik untukmu....

...****...

"Mami ...." Seorang gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit terbangun seketika, keringat muncul di sisi kanan dan kiri pelipisnya.

Tampak dua orang laki-laki yang terdiam di ruangan itu terkejut. Salah satunya langsung memeluk gadis itu erat, sedangkan yang lain berjalan mendekat.

Gadis yang memekik nyaring itu pun membalas pelukan seseorang yang mendekapnya. "Kak ... Za-Zahra takut ...," ujarnya terbata.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala sembari bergumam pelan 'ga mungkin'. Ia mengucapkan itu berkali-kali. Walaupun lirih, Rio tetap bisa mendengarnya. Pelukannya bertambah erat seiring air mata yang terjun bebas, membasahi pipi mulusnya yang pucat. Untuk pertama kalinya, gadis itu menangis di tempat umum dan dihadapan orang lain.

"Ustt, tenang. Kakak ada di sini." Rio menenangkan adiknya sambil mengusap belakang kepalanya, berharap gadis itu tenang dan menceritakan apa yang terjadi.

Setelah beberapa saat mengeluarkan air mata, isakan kecilnya berhenti. Ia juga melepas pelukannya pada sang kakak.

"Apa yang terjadi?"

"Lo kenapa?" tanya Rio dan Devan bersamaan. Kedua laki-laki itu saling pandang.

Gadis yang tadinya menunduk, mendongak menatap keduanya, ia menggeleng pelan. "Gue ga papa, ga usah khawatir," katanya sambil mengusap bekas air mata, ia menampilkan senyum untuk meyakinkan kedua orang di hadapannya.

Rio mendesah panjang. "Zahra, cerita sama kakak!" katanya tegas tak terbantah.

Gadis itu hanya diam sambil menatap kosong infus yang mengalir ke tangannya, mengabaikan pertanyaan dari sang kakak.

"Ra?" Devan menyentuh bahu Zahra pelan. Gadis itu menoleh dengan tatapan kosong, setelah itu kembali menatap jarum infus yang menancap di tangannya.

"Lo kenapa, sih?" tanya Devan kesal, Zahra lagi-lagi mengabaikan pertanyaannya.

"Udahlah, Van. Jangan dipaksa, dia lagi ga mau diganggu."

Devan menganggukkan kepala. "Kalau gitu gue pulang dulu, cepet sembuh," kata Devan sambil mengusap pelan kepala Zahra.

"Titip salam buat tante." Zahra membuka suara, gadis itu mendongak menatap Devan, membuat kedua laki-laki yang ada di ruang itu tersenyum.

"Gue pulang, Bang!" pamit Devan pada Rio.

"Thanks, hati-hati."

Devan mengangguk sambil berlalu.

"Masih ga mau cerita, hm?" Rio menggenggam tangan adiknya, menyalurkan kekuatan padanya. Gadis itu meremas pelan tangan yang menggenggamnya, ia kembali menggeleng. Rio menghela napas, pria itu tersenyum tipis, ternyata adiknya belum mau terbuka.

Rio mengusap tangan yang ia genggam dengan ibu jarinya, lalu mendekap erat adiknya dari belakang. "Maafin gue, udah ninggalin lo disaat yang salah, gue ga tau lo bakal kayak gini. Gue ga becus ya jadi abang?"

"Ustt, udah diam. Gue masih bisa liat kakak aja udah seneng," kata gadis dalam dekapan Rio.

"Ngomong apa si? Jangan diulangi lagi!" Rio mencubit gemas hidung adiknya. Gadis itu hanya mengangguk lucu.

"By the way, kapan gue bisa pulang?"

Rio melepas dekapannya dan bergerak menjauh. "Gue cari dokter dulu."

"Kalau ga ada Devan, gimana ya nasib gue tadi? Bodoh banget sih, lo! Ngapain coba ke bar, harusnya kalau mau nenangin diri itu ke tempat abang, nah ini? Malah ke bar, apaan coba!" omel Zahra pada dirinya sendiri, merutuki kebodohan yang dibuatnya.

Gadis itu menggerutu sampai tak sadar bahwa selang infusnya terlepas dari pergelangan tangannya.

"Awshhh," ringisnya pelan sambil mengusap darah yang ada di pergelangannya.

"Kok ga mau berhenti sii?" Darah itu tetap mengucur dan membuat seseorang yang melihatnya menjadi panik, sudah cukup gadis itu kehilangan darahnya dulu, tidak untuk sekarang. Dia tidak tahu saja bahwa pekerjaan yang dijalani adiknya ialah pekerjaan berisiko yang menimbulkan terciptanya pertumpahan darah.

"Zahra!"

Orang itu bergegas menutup darah yang masih mengucur di tangan adiknya. "Jangan diusap-usap, nanti malah banyak keluarnya. Dokter bentar lagi ke sini kok." Rio menekan bekas jarum infus yang terlepas, mencegah darah adiknya keluar lebih banyak.

Dokter yang telah tiba langsung memasangkan kembali infus yang sempat terlepas, serta memeriksa keadaan gadis itu.

"Suhunya sudah stabil, detak jantungnya juga. Mohon jangan terlalu banyak bergerak supaya infusnya tidak terlepas lagi."

Rio dan Zahra mengangguk ketika dokter selesai memberi penjelasan.

"Kalau gitu, kapan saya bisa pulang, Dok?" Zahra memandang dokter penuh harap, mungkin saja dokter itu tahu apa yang diinginkannya .

Dokter itu menggeleng. "Keadaan kamu masih belum pulih sepenuhnya."

"Lalu, kapan saya bisa pulang?"

"Mungkin besok sore."

Zahra mendesah lega, setidaknya ia tidak di rumah sakit lebih lama.

...****...

Zahra terbangun dari tidurnya, sisi kanan dan kirinya basah oleh keringat. Bahkan, napasnya masih terlihat tersengal-sengal bagai dikejar setan.

"Kenapa mimpi itu lagi si?" Gadis itu mengerang kesal, tangan mungilnya menjamah berbagai barang di nakas dan melemparnya sebagai bentuk pelampiasan.

Berbagai jenis bunyi-bunyian terdengar, mulai dari jam, vas, kaca mini, jam tangan, berakhir nahas di lantai. Miris sekali, padahal harga benda-benda tersebut sangatlah mahal. Persetan dengan harga barang tersebut, yang Zahra inginkan adalah ketenangan. Entahlah, setelah pertemuan menegangkan antara gadis itu dan wanita yang mirip dengan ibunya, hidup Zahra seakan-akan penuh teror.

"Pertemuan sialan! Wanita keparat! Gara-gara dia hidup gue kayak gini. Gue ga kuat kalau lama-lama gini, ahh ... gue benci hidup ini." Gadis itu mengerang frustasi sambil menjambak rambutnya.

Entah sejak kapan iris matanya basah, ia benar-benar menangis sekarang. Gadis itu menelungkupkan wajahnya diantara kedua kaki. Sejak tadi pintu kamarnya diketuk tidak slow oleh seseorang, tapi gadis itu mengabaikannya dan meneruskan isak tangisnya.

...****...

Rio dan Bi Heni menyiapkan makanan untuk makan pagi mereka.

"Udah matang semua nih, tinggal sayurnya di taruh mangkuk aja."

Rio mengangguk dan segera membantu bibi menaruh segala macam sayur ke mangkuk yang telah tersedia di meja makan.

"Ya udah, kamu mandi dulu habis itu ...."

Belum sempat bibi meneruskan kata-katanya, sebuah suara memaksa masuk ke gendang telinga mereka dan membuat mereka khawatir.

Bibi menatap Rio penuh arti. "Adik kamu?" tanyanya dengan raut wajah tak terbaca.

Tanpa berkata-kata lagi, mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua, tujuan mereka adalah kamar dengan pintu hitam legam. Bi Heni mengikuti Rio sampai depan pintu kamar. Dari luar terdengar erangan panjang dan kemudian tergantikan dengan isak tangis. Perlahan Rio mulai mengetuk pintu bercat hitam legam tersebut.

"Dekkk, buka pintunya. Kamu baik-baik aja kan di dalam?" Bodoh! Kalau adiknya sedang menangis berarti ia sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaan macam apa itu, Rio bahkan mengutuk dirinya sendiri.

Sudah dua menit Rio bertahan di posisi tersebut, tapi seseorang yang berada di balik pintu hitam tak kunjung membukakan pintu untuknya.

"Coba kamu masuk!"

Rio memutar knop pintu adiknya. "Dikunci, Bi."

"Kunci cadangan ada di kamu, kan?"

Rio mengambil kunci cadangan yang berada di kamarnya, setelah menemukan benda yang dicari pria itu langsung memutar kunci pada lubang kunci.

Pintu terbuka, menampilkan seorang gadis tengah terisak dengan menelungkupkan wajah di kedua kakinya. Kamar gadis itu juga telah berantakan ada pecahan kaca di sudut ruangan, vas yang di dekat balkon, kaca lemari yang retak, dll. Rio dan bibi mendekatinya.

Rio mendudukkan diri di samping adiknya, ia membawa gadis itu ke dekapan hangatnya. "Udah tenang, semua akan baik-baik aja."

"Gue benci hidup gue, Kak. Gue benci ...," kata Zahra putus asa, gadis itu sesenggukan di dekapan Rio.

Rio mengeratkan dekapannya. "Mimpi buruk lagi?"

Gadis itu mengangguk kecil. "Tapi mimpi ini lain, terasa begitu nyata. Gue ga bisa hidup kayak gini, ga bisa, Kak." Zahra meremas kaus belakang Rio, membiarkan derasnya air mata membasahi kaus milik kakaknya.

Rio sendiri bingung dengan perubahan adiknya, apa yang terjadi dengan Zahra hingga seperti ini.

Rio dan Bi Heni menatap gadis itu miris, tatapan yang biasanya tajam dan penuh kewibawaan kini berganti menjadi tatapan keputus-asaan. Mirip sekali dengan tatapan saat ayahnya meninggal dulu.

Rio mengangkat dagu gadis itu, memaksa gadis itu untuk balas menatapnya. "Cerita sama kakak, hal apa yang udah buat kamu kayak gini!" ucap Rio dengan suara bass-nya. Ini bukanlah suatu permintaan ataupun permohonan, melainkan suatu perintah yang harus dilakukan. Terhitung dua hari gadis itu di rumah, tapi nyatanya pengendalian emosinya tak kunjung membaik, ini yang menyebabkan gadis itu dilarang untuk pergi kemana pun. Bahkan hari ini, tingkat emosialnya bertambah.

Zahra akhirnya menceritakan segalanya, tak tertinggal juga pertemuan menegangkan dengan arwah ibunya atau wanita yang mirip ibunya. Rio dan Bi Heni mendengarkan dengan saksama, mereka tampak terkejut dengan apa yang dialami oleh permata kecil mereka. Mungkin hal inilah yang menyebabkannya menjadi kacau.

"Gambaran itu menari-nari di otak gue, mereka seakan-akan nginjek-nginjek gue. Gue harus gimana, Kak?"

"Mungkin ini saatnya buat kamu buka semuanya, kakak akan bantu kamu. Mungkin setelah ini mimpi itu akan hilang."

No! Membuka semua? Hah? Jika ia lakukan ini sekarang, rencana yang tersusun rapi di otaknya akan sia-sia. Ia sudah menyiapkan sesuatu untuk bersenang senang, tidak mungkin akan menghancurkannya begitu saja. Zahra menggeleng cepat.

"Gue cuma butuh ketenangan, Kak. Gue ga butuh apa pun," kata Zahra lirih. Rio menghela lelah, mungkin belum saatnya dirinya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, sehingga meninggalkan trauma terdalam bagi adiknya.

Rio mendapati botol Vodka dan Tequilla tergelatak di bawah rak buku, ia menggeleng tak percaya. Pantas saja kondisi adiknya tak kunjung membaik. Oh ayolah, alkohol tentu bukan solusi yang baik.

Rio mengalihkan atensinya pada bibi yang sedari tadi menatap dirinya dan Zahra. "Bi, tolong bereskan botol-botol itu," tangan Rio menunjuk ke arah di mana botol-botol itu tergeletak, "dan singkirkan, yang masih berisi maupun tidak."

"Baik, Den." Bibi segera mengambil botol-botol itu dan membawanya ke luar kamar.

Rio melonggarkan dekapannya, ia berdiri dan mengulurkan tangan pada adiknya. Gadis itu memicingkan mata. Seolah mengerti, akhirnya Rio menjawab, "Kakak ajak kamu menjemput sesuatu yang menenangkan, ayok!"

Gadis itu menatap kakaknya ragu, apa benar? Meski begitu, akhirnya Zahra menerima uluran tangan Rio. Pria itu membawanya turun menuju ruangan dengan panjang lima meter dari keempat sisinya.

"Masuklah!" titah Rio pada Zahra. Gadis itu masuk dengan berat hati karena enggan menginjakkan kaki di tempat itu.

"Kakak tau kamu belum salat, subuhan dulu, yuk?" Sebelum melaksanakan salat mereka berwudu di tempat minimalis khusus yang telah disiapkan di tempat itu. Mereka menunaikan salat subuh berjamaah. Setelah selesai melaksanakan salat, Rio berzikir dan berdoa, ia memimpin doa. Ia memohonkan ampun untuk semua orangtuanya, berdoa semoga hati adiknya lekas membaik dan berdoa semoga masalah yang menghantui pikirannya dapat segera terselesaikan. Tak lupa ia berterimakasih kepada Tuhan atas apa yang telah dilimpahkan dalam hidupnya dan keluarganya.

Selesai berdoa gadis itu tidak langsung melepas mukenanya, ia melihat sesuatu dengan warna pink mencolok di sudut ruangan, diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Ia menghampiri dan mengambil benda itu, membuka benda pink dengan kehati-hatian, hatinya terenyuh. Rasa khawatir gelisah dan was-was yang sejak lusa menghantuinya kini menjadi berdebar-debar kala ia membuka benda pink tersebut. Ia membuka lembaran demi lembaran, kini perasaannya menjadi tak terdefinisikan, seperti abstrak tapi itu juga membuatnya lebih tenang. Ia tak tahu perasaan apa ini.

Gadis itu mendekati Rio, membuat pria itu tersenyum ditempatnya. "Temenin gue di sini sambil baca ini." Zahra mengangkat benda yang dipegangnya dan menunjukkannya pada Rio. Gadis itu duduk di sebelah Rio.

Zahra dan Rio membacanya bergantian. Meskipun ia jauh dari agama, tapi gadis itu takkan melupakan tulisan apa yang ada di benda pink tersebut dan bagaimana membacanya. Bahkan, Rio dibuat terkagum olehnya. Setelah selesai membaca, gadis itu segera menutupnya.

Johan Frendo Aditama, seseorang yang telah mengajarkan gadis itu membaca ayat-ayat suci tersebut, orang yang bahkan hampir menyerah karena gadis itu sangat sulit diajari. Tapi, dengan ketekunan dan kegigihannya akhirnya ayat-ayat suci tersebut terbaca dengan baik. Perilakunya memang menyimpang, tapi gadis itu takkan melupakan bagaimana susahnya ia belajar membaca Al Qur'an. Ia sangat berterimakasih pada papanya karna telah mengajarkannya membaca kitab suci itu dengan baik.

"Gue harus makasih sama mami karena udah ngasih ini ke gue. Jujur kak, setelah salat apalagi setelah baca Qur'an ini bareng kakak, hati gue jadi jauh lebih tenang." Gadis itu tak mampu menahan senyumnya sehingga ia terus tersenyum ketika berbicara dengan Rio. Rasanya ia bersyukur sekali mempunyai kakak seperti Rio, selalu mengajaknya mendekatkan diri pada Tuhan dan berbuat baik meski ia selalu menolaknya.

Rio mengusap kepala adiknya yang terbalut mukena dan mengecup kening adiknya lama. "Bagus kalau kamu merasa lebih baik."

Gadis itu melihat sampul Qur'an yang baru dibacanya, disitu tertulis 'Dari mami untuk putri terkasih mami, Ulyana Zahra F', Zahra mengusap tulisan itu dengan haru. Gadis itu mendongak menatap Rio. "Mau baca lagi," kata Zahra riang.

Lagi-lagi Rio mengusap kepala yang masih terbalut mukena. "Sure, Baby," kata Rio dengan senyumnya.

Bibi berjalan melewati tempat di mana Zahra dan Rio berada sekarang, ia mengulas senyum. "Andaikan kalian masih di sini, kalian pasti senang." Kemudian bibi berlalu melanjutkan pekerjaannya yang belum usai.

...****...

Terimakasih untuk yang telah menunggu dan setia pada AGB.

Jangan lupa untuk ingatkan sekedar typo dan hal lain. Tetap jaga kesehatan ya, Luv. Jangan lupa like dan komennya.

See you ❤️

1
Zalma Fauzia
karya ini sangat sangat sangat bagus ☺️☺️
💞 Lily Biru 💞: terimakasih kak zalma uda baca Uda mampir... untuk up masih aku usahakan ya kaka... makasih bnyak sehat selalu ❤️😭
total 1 replies
Zalma Fauzia
lanjut terus KK ke BAB selanjutnya KK😉
Ir Syanda
Mereka seakan berkata, "Abang2 juga harus ikut!"
Ir Syanda
Simple sih, mereka hanya terlalu sayang sama kamu, Zahra ...
Ir Syanda
Hati2 over dosis weh ...
Ir Syanda
Zahra kenapa?
Ir Syanda
Kembali ke rutinitas, ye kean ...
Ir Syanda
Biasalah ...😌
Ir Syanda
Janinmu tak salah apa2 loh, janganlah sampe diaborsi ...
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
sip lah
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
good 👍😎
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
wow
Radiah Ayarin
Zahra perduli dan tak ingin terulang kesalahan yang kedua
Zaenab Usman 💓
luar biasa 🌹
..
gk baik buruk sangka hrs ttp baek sangka
..
lah adeke nangis lais kowe 🚶🚶
..
wkwkwkwk kutukan cinta
ᖴαуѕнα
kan si Putra malah usaha deketin Una padahal dia masih jadi pacar Zahra, emang gk bener si Putra ini🙄
ᖴαуѕнα
astaga Ra, napa gk sama Devan aja sih daripada sama Putra yg badboy itu
ᖴαуѕнα
Zahra sama Putra kayaknya sering bolos ya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!