NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : Binatang Buas Yang Terluka

​Bagian 1: Reruntuhan Istana Kaca

​Jakarta, Apartemen Penthouse Sudirman.

​Suara pecahan kaca terdengar nyaring, memecah kesunyian apartemen mewah yang kini terasa seperti kuburan itu. Erlangga melempar gelas kristal berisi sisa wiski mahal ke dinding. Cairan berwarna amber itu merembes di wallpaper impor, meninggalkan noda gelap yang jelek, sejelek nasibnya saat ini.

​Erlangga terengah-engah. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan kemeja yang ia kenakan sudah kusut—kemeja yang sama yang ia pakai tiga hari lalu. Di layar televisi raksasa di hadapannya, berita running text terus berjalan tanpa ampun:

​"KPK menyita 15 mobil mewah milik tersangka korupsi Wijaya... Rekening keluarga dibekukan... Putranya diduga ikut menikmati aliran dana panas..."

​"Brengsek!" teriak Erlangga. Suaranya serak, penuh keputusasaan.

​Tiga hari lalu, dia adalah pangeran. Dia punya segalanya: uang tanpa seri, hormat dari orang-orang yang takut padanya, dan akses ke mana saja. Hari ini? Dia adalah paria. Tikus got yang dihindari semua orang.

​Ponselnya bergetar di atas meja marmer. Bukan telepon dari teman-temannya—mereka semua sudah memblokir nomor Erlangga atau pura-pura tidak kenal agar tidak terseret kasus. Itu notifikasi dari bank.

​PEMBERITAHUAN: Kartu Kredit Platinum Anda Ditolak.

​Erlangga tertawa getir. Tawa yang mengerikan. Tadi siang dia mencoba membeli bensin untuk mobil satu-satunya yang belum disita (mobil atas nama temannya yang ia pinjam), dan kartunya ditolak. Petugas pom bensin menatapnya dengan pandangan curiga. Rasa malu itu membakar ulu hatinya lebih panas daripada api.

​Tapi yang paling menyakitkan bukanlah hilangnya uang. Yang paling menyakitkan adalah melihat apa yang terjadi di Instagram melalui akun palsunya.

​Di layar ponsel, Erlangga melihat postingan terbaru di akun gosip kampus. Sebuah foto candid.

​Foto Zalina sedang tertawa. Tawa yang lepas, tulus, tanpa beban. Dia mengenakan helm proyek warna kuning yang kebesaran, wajahnya sedikit cemong kena debu, tapi matanya berbinar bahagia. Dan di sebelahnya, memegang gulungan kertas biru, berdiri Fatih.

​Fatih juga tertawa. Laki-laki miskin itu, laki-laki yang seharusnya sudah hancur beasiswanya, kini justru terlihat bersinar. Mereka berdua berdiri di depan sebuah ruko yang sedang direnovasi. Caption fotonya berbunyi: "Couple Preneur Kampus Kita! Salut sama perjuangan mereka bangun usaha dari nol. #RelationshipGoals #LangitArsitektur"

​Komentar-komentar di bawahnya memuji mereka setinggi langit.

"Cocok banget!"

"Ini baru pasangan berkelas, berkarya bareng, bukan pamer harta bokap."

"Mending sama Fatih lah daripada sama si koruptor itu."

​Erlangga membanting ponselnya ke sofa.

​"Ini semua gara-gara lu, Fatih..." desisnya. Urat-urat di lehernya menonjol.

​Dalam logika Erlangga yang sudah rusak karena depresi dan alkohol, Fatih adalah sumber segala kesialannya. Fatih yang "merebut" panggung di pestanya. Fatih yang membuat Zalina membangkang. Fatih yang—menurut delusi Erlangga—mungkin melaporkan ayahnya, atau setidaknya doa-doa sok sucinya itu yang membuat sial.

​"Lu pikir lu menang?" gumam Erlangga, berjalan terseok-seok menuju jendela besar apartemen yang menghadap kelap-kelip kota Jakarta. Di bawah sana, mobil polisi terlihat mulai berdatangan ke lobi apartemen. Mereka pasti datang untuk menyita unit ini.

​Erlangga tahu waktunya habis. Dia tidak punya masa depan. Ayahnya akan membusuk di penjara. Ibunya sudah kabur ke Singapura membawa sisa perhiasan. Dia sendirian.

​Dan binatang buas yang terluka, yang terpojok dan sendirian, hanya punya satu insting tersisa: Menghancurkan.

​"Kalau gue hancur, lu juga harus hancur, Fatih," bisik Erlangga pada bayangannya sendiri di kaca jendela. "Dan gue bakal pastiin, 'rumah' yang lu bangun itu bakal jadi kuburan mimpi lu."

​Erlangga berbalik. Ia mengambil kunci mobil temannya, sebuah jaket hoodie hitam, dan sisa uang tunai yang ia sembunyikan di bawah kasur. Ia tidak akan menyerah pada polisi malam ini. Dia punya satu urusan terakhir di Bandung yang harus diselesaikan.

​Bagian 2: Wangi Semen dan Harapan

​Bandung, H-2 Grand Opening Kedai Kopi "Tuang".

​Suasana di ruko Kedai Kopi "Tuang" sangat sibuk. Bunyi gergaji mesin, pukulan palu, dan teriakan tukang bersahut-sahutan menciptakan simfoni kerja keras. Aroma cat tembok yang masih basah bercampur dengan wangi serbuk kayu jati belanda dan aroma kopi yang sedang di-trial oleh barista.

​Fatih sedang berada di atas scaffolding (tangga perancah), mengecat bagian langit-langit yang tinggi. Keringat membasahi kaos hitam polosnya, mencetak otot-otot punggung yang terbentuk karena kerja fisik selama dua minggu terakhir.

​Fatih bukan tipe arsitek yang hanya duduk di belakang meja dan menunjuk-nunjuk. Dia turun tangan. Dia mengamplas kayu, dia mengaduk semen, dia memasang lampu. Baginya, setiap inci bangunan ini adalah amanah.

​"Mas Fatih! Awas kepalanya!"

​Teriakan Zalina membuat Fatih menunduk. Hampir saja kepalanya terbentur balok kayu.

​Di bawah sana, Zalina berdiri sambil memegangi daftar inventaris. Gadis itu mengenakan gamis denim yang casual dan sepatu kets, lengkap dengan masker yang diturunkan ke dagu. Di sebelahnya, Nisa—yang setia menjadi "pengawas syariah" (orang ketiga)—sedang sibuk mencicipi menu cookies.

​Fatih turun dari tangga dengan tangkas. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

​"Aman, Bu Bos. Kepala saya keras kok, sering kebentur realita," canda Fatih.

​Zalina tertawa kecil. "Jangan becanda ih. Kalau Mas gegar otak, siapa yang mau presentasi pas pembukaan lusa?"

​"Kan ada kamu," Fatih menatap Zalina sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ke lantai, menjaga hati. "Gimana stok biji kopi? Udah aman?"

​"Aman. Tadi Pak Burhan udah deal sama petani kopi dari Ciwidey. Kita dapet harga bagus," lapor Zalina antusias. "Oiya, ini ada titipan."

​Zalina menyodorkan rantang makanan susun tiga.

​"Apa ini?"

​"Kata Ayah, 'suruh tukang insinyurnya makan'. Isinya rendang buatan Ibu. Spesial," ujar Zalina, pipinya sedikit merona merah.

​Fatih tertegun menerima rantang itu. Rasanya berat, tapi hatinya terasa ringan melayang. Ini bukan sekadar makanan. Ini adalah sinyal penerimaan. Pak Yusuf, ayah Zalina yang dulu sangat dingin padanya, kini mengirimkan rendang. Dalam bahasa diplomasi calon mertua, rendang adalah simbol perdamaian tingkat tinggi.

​"Sampaikan terima kasih saya ke Ayah dan Ibu ya, Zal. Masya Allah, jadi ngerepotin," ucap Fatih tulus.

​"Nggak repot kok. Ayah... Ayah sekarang sering nanyain progres Mas Fatih. Kemarin pas liat berita di TV soal keluarga Erlangga, Ayah cuma geleng-geleng kepala terus bilang, 'Untung Zalina diselamatkan Allah lewat doa anak muda itu'. Ayah nggak sebut nama Mas, tapi aku tahu maksudnya."

​Nisa yang sedang mengunyah cookies menyahut, "Cieee... lampu hijau nih yeee. Jalan tol udah dibuka, Tih! Tinggal gaspol!"

​"Hush, Nisa!" tegur Zalina malu.

​Fatih tersenyum simpul. Ia tahu jalan masih panjang. Ia harus membuktikan bahwa kedai ini sukses dulu. "Doain ya. Lusa adalah hari penentuan. Kalau Grand Opening sukses, insya Allah saya... saya akan memberanikan diri main ke rumah kamu. Bukan sebagai arsitek, tapi sebagai laki-laki."

​Suasana mendadak hening dan manis. Zalina menunduk, memainkan ujung kerudungnya. "Iya. Aku tunggu."

​Namun, momen manis itu terganggu oleh suara gaduh di luar ruko.

​PRANG!

​Suara benda keras menghantam kaca depan ruko.

​Fatih dan Zalina tersentak. Semua tukang berhenti bekerja. Fatih langsung berlari ke depan, naluri melindunginya menyala.

​"Zalina, Nisa, tetap di belakang saya!" perintah Fatih tegas.

​Di depan ruko, kaca jendela besar yang baru dipasang kemarin retak seribu. Sebuah batu bata tergeletak di lantai teras. Tidak ada siapa-siapa di jalanan. Hanya sebuah motor matic yang melaju kencang menjauh di ujung jalan.

​"Masya Allah..." Zalina menutup mulutnya kaget.

​Pak Burhan keluar dari dalam dapur dengan wajah merah padam, membawa spatula besar. "Siapa itu?! Siapa yang lempar?!"

​Fatih berjongkok, mengamati batu bata itu. Ada kertas yang diikatkan dengan karet gelang pada batu itu. Fatih membukanya.

​Tulisan tangan yang berantakan, ditulis dengan spidol merah:

​JANGAN MIMPI BISA BUKA. INI BARU PERMULAAN.

​Fatih meremas kertas itu. Ia tahu siapa pelakunya. Atau setidaknya, siapa yang menyuruhnya. Meski Erlangga sedang hancur, sisa-sisa kegilaannya masih bisa menjangkau mereka.

​"Siapa, Mas? Preman minta jatah?" tanya Pak Burhan khawatir.

​Fatih menggeleng, menyembunyikan kertas itu ke saku celananya agar Zalina tidak membacanya dan ketakutan. "Cuma orang iseng, Pak. Mungkin anak-anak nakal lewat."

​"Iseng kok lempar batu segede ini? Kaca mahal ini!" Pak Burhan mengomel.

​Zalina mendekat, wajahnya pucat. "Mas... itu tulisan Erlangga kan?"

​Fatih menatap mata Zalina. Tidak ada gunanya berbohong pada wanita secerdas dia. Fatih mengangguk pelan. "Kemungkinan besar. Atau orang suruhannya."

​"Dia masih mau ganggu kita? Padahal dia udah jadi buronan?" suara Zalina bergetar.

​"Orang yang tenggelam akan berusaha menarik apa pun di dekatnya, Zal," ucap Fatih tenang, berusaha menularkan ketenangan itu pada Zalina. "Tapi kamu jangan takut. Ada saya. Ada Pak Burhan. Ada Allah."

​Fatih berdiri tegak, menatap para tukang yang mulai kasak-kusuk ketakutan.

​"Bapak-bapak!" seru Fatih lantang. "Tenang! Ini cuma cobaan kecil. Kaca pecah bisa kita ganti. Semangat nggak boleh pecah! Kita lanjut kerja. Malam ini, biar saya dan Pak Burhan yang jaga ruko. Nggak akan ada yang bisa ganggu tempat ini lagi."

​Mata Fatih menyiratkan tekad baja. Dia sudah membangun tempat ini dengan keringat dan doa. Dia tidak akan membiarkan siapa pun, apalagi Erlangga, merobohkannya.

​Bagian 3: Malam Jahanam

​Malam harinya, Hujan turun sangat lebat di Bandung. Langit seolah menumpahkan seluruh airnya, membuat jalanan Dago Pakar sepi dan mencekam. Kabut turun, menyelimuti Kedai Kopi "Tuang" yang gelap.

​Fatih duduk di teras ruko, ditemani secangkir kopi hitam dan senter. Ia mengenakan jaket tebal dan sarung yang ia lilitkan di leher. Di sebelahnya, Hadi—yang datang sukarela untuk menemani—sedang terkantuk-kantuk sambil memeluk gagang sapu (sebagai senjata darurat).

​"Lu yakin dia bakal dateng, Tih?" tanya Hadi sambil menguap. "Ini udah jam 2 pagi. Hujan gede gini, setan juga males keluar."

​"Firasat gue nggak enak, Di," jawab Fatih. Matanya tajam menyapu kegelapan jalan. "Surat tadi siang itu bukan ancaman kosong. Dan Erlangga... dia tipe orang yang egonya nggak bisa nerima kekalahan. Dia pasti mau ending yang dramatis."

​"Tapi dia kan lagi dicari polisi, Tih. Nekat banget kalau dia ke sini."

​"Justru karena dia dicari polisi, dia nggak punya apa-apa lagi buat dipertaruhkan. Nothing to lose."

​Fatih berdiri, berjalan mengecek gembok pagar. Semuanya aman. Tapi suara hujan yang bising membuat pendengarannya terganggu. Ia sulit membedakan suara angin dan suara langkah kaki.

​Tiba-tiba, dari arah samping ruko—area gang sempit yang gelap—terdengar suara kaleng jatuh.

​Klang.

​Fatih menoleh cepat. "Di, bangun. Ada suara."

​Hadi langsung tegak, memegang gagang sapunya erat-erat. "Kucing kali, Tih."

​"Kucing nggak bawa bau bensin," desis Fatih. Hidungnya mencium aroma menyengat yang samar-samar terbawa angin. Bensin.

​Fatih menyalakan senternya, menyorot ke arah gang samping.

​"Siapa di sana?!" teriak Fatih.

​Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan.

​Fatih memberi kode pada Hadi untuk menjaga pintu depan, sementara dia berjalan perlahan menuju gang samping. Jantungnya berdegup kencang, dzikir tak putus di bibirnya. Hasbunallah Wanikmal Wakil.

​Saat Fatih berbelok ke gang samping, sorot senternya menangkap sosok berbaju hitam dengan hoodie menutupi kepala. Sosok itu sedang menyiramkan cairan dari jeriken ke tumpukan kayu bekas di dinding samping ruko.

​Dinding itu terhubung langsung dengan gudang penyimpanan biji kopi dan—yang lebih bahaya—tabung gas untuk dapur.

​"Berhenti!" teriak Fatih.

​Sosok itu menoleh. Cahaya senter menyinari wajah di balik tudung hoodie. Wajah yang tirus, mata cekung dengan lingkaran hitam, dan seringai gila.

​Erlangga.

​"Halo, Fatih," sapa Erlangga dengan suara serak. Di tangan kanannya, ia memegang pemantik api (Zippo) yang menyala. "Malam yang dingin ya? Butuh sedikit kehangatan?"

​"Istighfar, Angga!" Fatih maju selangkah, mengangkat tangannya mencoba menenangkan. "Apa yang kamu lakuin? Ini kriminal! Kamu bisa bunuh orang!"

​"Gue udah mati, Fatih!" teriak Erlangga, suaranya kalah oleh deru hujan. "Hidup gue udah mati gara-gara lu! Bokap gue dipenjara, nyokap gue kabur, temen-temen gue ngejauh! Gue nggak punya apa-apa! Dan kalau gue nggak bisa punya kebahagiaan, lu juga nggak boleh!"

​"Ini bukan salah saya, Angga. Ini hasil perbuatan ayah kamu sendiri," Fatih mencoba bernegosiasi, matanya melirik jeriken bensin yang sudah kosong. Kayu-kayu itu sudah basah kuyup oleh bensin. Satu percikan api, dan tempat ini akan jadi neraka.

​"Tutup mulut lu yang sok suci itu!" Erlangga tertawa histeris. Ia memainkan pemantik apinya. Klik. Nyala. Klik. Mati.

​"Angga, dengerin saya. Masih ada jalan buat perbaiki semuanya. Menyerah baik-baik. Jangan tambah dosa kamu dengan bakar tempat ini. Di dalem ada Pak Burhan yang lagi tidur!" (Kebohongan taktis, Pak Burhan sebenarnya pulang, tapi Fatih butuh Erlangga ragu).

​"Bodo amat!"

​Erlangga mengangkat tangannya, siap melempar pemantik api itu ke tumpukan kayu.

​"JANGAN!"

​Fatih menerjang.

​Ia tidak peduli pada keselamatannya sendiri. Ia melompat menerjang Erlangga tepat saat pemantik itu terlepas dari tangan Erlangga.

​BRUK!

​Mereka berdua jatuh berguling di tanah yang becek berlumpur.

​Pemantik api itu jatuh melayang... dan mendarat di atas genangan air hujan, bukan di kayu yang berbensin. Apinya padam seketika oleh air.

​Alhamdulillah, batin Fatih.

​Tapi pertarungan belum selesai. Erlangga mengamuk seperti orang kesurupan. Dia memukul wajah Fatih membabi buta.

​"Mati lu! Mati lu!" teriak Erlangga sambil melayangkan tinju.

​Fatih yang terbiasa sabar, kali ini harus bertahan hidup. Sudut bibirnya pecah kena pukul. Tapi Fatih lebih kuat secara fisik karena terbiasa kerja kasar. Ia menahan tangan Erlangga, memitingnya, mencoba melumpuhkan tanpa menyakiti parah.

​"Sadar, Angga! Sadar!" bentak Fatih di telinga Erlangga.

​Namun Erlangga mencabut sesuatu dari saku celananya. Kilatan logam terlihat di bawah cahaya petir. Pisau lipat.

​"Fatih, awas!"

​Hadi muncul dari belakang, memukulkan gagang sapu ke tangan Erlangga.

​TAK!

​Pisau itu terlepas. Erlangga mengerang kesakitan. Fatih memanfaatkan momen itu untuk menindih tubuh Erlangga, mengunci pergerakannya di tanah lumpur.

​"Lepasin gue! Lepasin!" Erlangga meronta-ronta, menangis, berteriak, memaki. Campuran antara amarah dan keputusasaan yang amat sangat.

​Di bawah guyuran hujan, Fatih menatap musuhnya itu. Dulu, Erlangga terlihat begitu gagah di atas panggung dengan jas mahalnya. Sekarang? Dia hanya seorang laki-laki menyedihkan yang berlumuran lumpur, menangis meraung-raung karena kehilangan mainan dunianya.

​Fatih tidak merasa benci. Ia justru merasa kasihan.

​"Udah, Angga. Udah," bisik Fatih, nafasnya terengah-engah. "Berhenti nyalahin dunia. Berhenti nyalahin orang lain."

​Suara sirine polisi terdengar mendekat. Hadi rupanya sudah menelepon polisi sejak awal Fatih berteriak.

​Cahaya biru-merah memantul di dinding basah ruko. Beberapa polisi turun dari mobil patroli, berlari dengan senjata siap.

​"Angkat tangan! Jangan bergerak!"

​Erlangga berhenti meronta. Tubuhnya lemas. Ia menatap lampu polisi itu dengan tatapan kosong. Habis sudah. Pelarian berakhir.

​Fatih perlahan melepaskan kunciannya, mundur menjauh sambil mengangkat tangan tanda kooperatif. Polisi segera memborgol Erlangga yang sudah tidak berdaya.

​Saat digiring masuk ke mobil polisi, Erlangga sempat menoleh ke arah Fatih. Tidak ada lagi api amarah di matanya. Hanya kehampaan yang gelap.

​"Kenapa..." suara Erlangga lirih, nyaris tak terdengar. "Kenapa lu nggak bales pukul gue tadi? Padahal gue mau bakar usaha lu."

​Fatih menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia menatap Erlangga teduh.

​"Karena saya membangun tempat ini buat menenteramkan, Angga. Kalau saya balas dengan kekerasan, apa bedanya saya sama kamu?"

​Erlangga terdiam. Kalimat itu menembus relung hatinya yang paling gelap. Pintu mobil polisi ditutup. Mobil itu melaju membawa Erlangga menuju pertanggungjawaban dunianya.

​Hadi mendekati Fatih, menyerahkan handuk kering yang ia ambil dari dalam. "Gila lu, Tih. Beneran gila. Lu hampir mati ditusuk."

​Fatih menerima handuk itu, tubuhnya menggigil kedinginan, tapi hatinya panas oleh rasa syukur.

​"Jalur Bumi dia udah abis, Di. Sekarang dia harus hadapin hukumannya," gumam Fatih. Ia menatap ruko yang masih berdiri tegak, tak tersentuh api sedikitpun. "Dan kita... kita masih punya pekerjaan besok."

​Bagian 4: Fajar Kemenangan

​Matahari terbit keesokan harinya terasa berbeda. Langit Bandung bersih, biru cerah tanpa awan, seolah ikut merayakan kemenangan malam tadi.

​Berita penangkapan Erlangga menyebar cepat di berita pagi. "Anak Koruptor Ditangkap Saat Mencoba Membakar Ruko". Publik semakin menghujat, tapi bagi Fatih dan Zalina, itu adalah penutup buku masa lalu yang kelam.

​Hari Grand Opening.

​Kedai Kopi "Tuang" sudah dipadati pengunjung sejak pukul 10 pagi. Karangan bunga berjejer di depan ruko. Salah satunya karangan bunga besar bertuliskan: "Selamat & Sukses - Keluarga Yusuf & Ratih".

​Di dalam kedai, suasana hangat dan estetik sesuai desain Fatih memukau para tamu. Cahaya matahari masuk lewat skylight, menyinari dinding bata ekspos dan tanaman hijau yang rimbun. Pengunjung—kebanyakan mahasiswa—sibuk berfoto dan mengerjakan tugas dengan nyaman.

​Fatih berdiri di pojok ruangan, mengenakan kemeja batik yang sama yang ia pakai di pesta ulang tahun Zalina dulu. Bedanya, kali ini dia berdiri dengan kepala tegak, sebagai arsitek yang karyanya diakui, bukan sebagai tamu tak diundang.

​Zalina menghampirinya. Gadis itu tampak sangat cantik dengan gamis warna terracotta.

​"Mas," panggil Zalina lembut.

​Fatih menoleh. "Eh, Zal. Rame banget ya?"

​"Iya, Alhamdulillah. Sold out 200 cup dalam dua jam," mata Zalina berbinar. "Mas... liat ke sana deh."

​Zalina menunjuk ke arah pintu masuk.

​Di sana, Pak Yusuf dan Ibu Ratih baru saja masuk. Mereka melihat sekeliling dengan takjub. Ibu Ratih—yang dulu sangat meremehkan—kini menyentuh dinding kedai, mengagumi detail interiornya.

​"Bagus ya, Pah. Nggak nyangka lho, ini desainnya si Fatih itu. Kelihatan mahal, padahal katanya low budget," bisik Ibu Ratih yang terdengar oleh Fatih.

​Pak Yusuf mengangguk, senyum tipis terukir di wajah wibawanya. Ia melihat Fatih berdiri di pojok.

​Pak Yusuf berjalan menghampiri Fatih. Fatih langsung menegakkan tubuh, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah "sidang" yang sesungguhnya.

​"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Fatih, mencium tangan Pak Yusuf dengan takzim.

​"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Yusuf. Ia menatap Fatih lekat-lekat. Melihat luka lebam di sudut bibir Fatih yang belum sembuh.

​"Luka itu... gara-gara kejadian semalam?" tanya Pak Yusuf.

​Fatih mengangguk pelan. "Kecelakaan kecil, Pak. Sudah nggak sakit."

​"Zalina sudah cerita semuanya," kata Pak Yusuf. "Bagaimana kamu menahan diri untuk tidak memukul balik. Bagaimana kamu melindungi tempat ini."

​Pak Yusuf menepuk bahu Fatih. Tepukan yang mantap dan berisi.

​"Kamu laki-laki, Fatih. Ayah suka cara kamu berjuang. Kamu tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. Kamu tidak mengandalkan harta orang tua, tapi mengandalkan keringat sendiri dan doa."

​Dada Fatih sesak oleh rasa haru. Ini adalah validasi tertinggi yang ia tunggu-tunggu.

​"Terima kasih, Pak."

​"Tapi..." Pak Yusuf melirik Zalina yang berdiri cemas di sebelah Fatih. "Ayah dengar kamu arsiteknya. Berarti kamu yang gambar masa depan tempat ini?"

​"Iya, Pak."

​"Kalau begitu," Pak Yusuf menatap mata Fatih tajam namun hangat. "Kapan kamu mau mempresentasikan gambar masa depan putri saya? Ayah tunggu proposalnya di rumah minggu depan. Jangan lama-lama, keburu diambil orang lagi."

​Fatih ternganga. Zalina menutup mulutnya kaget, wajahnya merah padam.

​Itu bukan sekadar lampu hijau. Itu karpet merah.

​"Ba-baik, Pak! Insya Allah! Saya siapkan!" jawab Fatih gagap saking senangnya.

​Pak Yusuf tertawa renyah, tawa yang jarang sekali keluar. "Ya sudah. Ayah mau pesan kopi. Katanya kopi buatan klien kamu ini enak."

​Pak Yusuf dan Ibu Ratih berlalu menuju meja kasir. Meninggalkan Fatih dan Zalina yang berdiri bersisian.

​Mereka tidak bersentuhan. Tidak berpegangan tangan. Tapi hati mereka bertautan lebih erat dari sebelumnya.

​"Mas denger tadi?" bisik Zalina.

​"Denger. Jelas banget," Fatih tersenyum lebar, mengabaikan rasa perih di bibirnya. "Siapin diri kamu, Zal. Minggu depan, saya bakal datang ke rumah kamu. Bukan bawa desain ruko, tapi bawa rombongan keluarga."

​Zalina tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Aku tunggu, Mas. Pintu rumahku—dan pintu hatiku—udah kebuka lebar buat kamu."

​Di luar, langit Bandung begitu cerah. Awan putih berarak pelan. Seolah-olah semesta sedang berbisik: Lihatlah, wahai manusia. Inilah hasil akhir dari mereka yang mencintai lewat Jalur Langit. Mungkin prosesnya sunyi, berliku, dan penuh air mata. Tapi ketika sampai di tujuan, kebahagiaannya abadi dan tak tertandingi.

​Fatih memejamkan mata sejenak, menghirup aroma kopi dan kemenangan.

​Terima kasih, Ya Allah. Engkau Sutradara terbaik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!