Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mode Perang Ardiansyah dan Rahasia di Balik Laser
Suasana ruangan CEO yang tadinya hangat langsung berubah jadi sedingin kutub utara. Rian narik Nara menjauh dari jendela besar itu. Dia nggak mau ambil risiko sekecil apa pun.
"Satya! Tutup semua tirai otomatis! Matikan lampu utama, nyalakan lampu cadangan yang lebih redup!" perintah Rian dengan suara bariton yang bikin siapa pun merinding.
Sreett! Tirai otomatis menutup rapat, bikin ruangan jadi remang-remang.
Nara megang tangan Rian kenceng banget. "Mas... tadi itu beneran laser kan? Mas jangan bilang kalau Andra itu sebenernya agen rahasia yang jago nembak?"
Rian ngusap kepala Nara, nyoba nenangin meskipun rahangnya mengeras. "Dia bukan agen rahasia, Nara. Dia cuma pengecut yang punya banyak duit buat sewa orang profesional. Tapi dia salah cari lawan."
Satya udah stand-by di depan pintu dengan pistol yang terselip di pinggang belakangnya. Dia sibuk ngomong sama tim keamanan lewat earpiece. "Pak, tim sudah menyisir gedung seberang. Posisi sniper tadi sudah kosong, tapi kita nemu sesuatu di sana. Satu buah topeng daster... dan pesan singkat."
Nara melongo. "Topeng daster?! Wah, ini bener-bener penghinaan terhadap karya seni saya, Mas! Andra bener-bener mau main-main sama daster?!"
Satu jam kemudian, Bima—sahabat sekaligus pengacara Rian yang juga punya koneksi ke "dunia bawah"—dateng ke kantor. Dia bawa koper kecil berisi alat pelacak frekuensi.
"Rian, gue udah cek jalur pelarian Andra. Gila ya, dia dibantuin sama sisa-sisa orangnya Pak Handoko yang masih loyal. Mereka punya jalur tikus di bawah tanah Jakarta," ucap Bima sambil masang alatnya di meja Rian.
"Gue nggak peduli dia lewat jalur tikus atau jalur semut, Bim. Gue mau dia ketangkep malam ini juga," balas Rian dingin.
"Mas, tapi kalau kita cuma nunggu di sini, dia pasti bakal terus neror kita," sela Nara. Tiba-tiba mukanya berubah jadi serius, nggak ada lagi cengiran khasnya. "Gimana kalau kita pancing dia keluar? Dia pengen saya, kan? Dia pengen bikin Mas hancur lewat saya?"
Rian langsung melotot. "Nggak. Jangan pernah kepikiran buat jadi umpan, Nara. Itu ide paling bodoh yang pernah saya denger."
"Tapi Mas! Andra itu tipe orang yang bakal terus ngumpet kalau dia nggak liat targetnya. Kita bikin seolah-olah saya kabur dari perlindungan Mas karena kita berantem! Kan kita baru nikah, pasti orang mikirnya kita lagi penyesuaian dan gampang pecah," Nara ngejelasin rencananya dengan semangat.
Bima nengok ke Rian. "Sebenernya... ide Nara masuk akal, Yan. Secara psikologis, Andra itu narsis. Dia bakal ngerasa menang kalau liat hubungan kalian retak."
Rian diem sebentar. Dia natap Nara lama banget. Ada rasa takut di matanya, tapi dia juga tahu kalau istrinya ini bukan cuma sekadar "Ibu Daster", tapi cewek yang punya nyali baja.
"Oke. Tapi dengan satu syarat," ucap Rian akhirnya. "Satya harus nempel sama kamu dalam jarak kurang dari dua meter. Dan saya bakal ngawasin dari jarak dekat dengan tim taktis."
Rencana pun dijalankan. Sore itu, tersiar kabar di kalangan internal kantor kalau "Ibu CEO baru" nangis-nangis keluar dari ruangan Rian dan mutusin buat balik ke apartemen lamanya sendirian. Nara aktingnya juara, Bro! Dia lari ke parkiran sambil nutupin mukanya pake syal, pura-pura sesenggukan.
Dia masuk ke mobil lamanya—mobil mungil yang dulu sering dia pake buat anter daster. Satya nyamar jadi supir taksi online yang kebetulan lewat dan diambil sama Nara.
"Target bergerak, Pak," lapor Satya lewat mic tersembunyi.
Rian dan Bima ngikutin dari jauh pake mobil hitam yang kacanya gelap banget. Jantung Rian udah kayak mau copot, tiap detik berasa kayak sejam.
Pas mobil Nara lewat di daerah yang agak sepi di deket gudang tua—daerah yang emang disetting buat jebakan—tiba-tiba ada dua motor besar yang mepet mobil Nara. Mereka nendang kaca spion mobil sampai patah.
BRAKK!
"Heh! Berhenti lo!" teriak salah satu pengendara motor yang pake helm full face.
Satya dengan tenang banting setir, pura-pura panik. Dia ngerem mendadak di depan gudang tua itu. Dua motor itu berhenti, dan dari balik bangunan, muncul sebuah mobil sedan mewah warna hitam.
Pintunya kebuka, dan Andra keluar dengan muka yang penuh luka bekas berantem di penjara, tapi senyumnya tetep licik kayak rubah.
"Wah, wah... liat siapa yang lagi galau malam-malam begini," Andra jalan deketin mobil Nara sambil tepuk tangan. "Nara, Nara... baru nikah sehari udah ditinggal suaminya? Makanya, jangan ketinggian mimpi jadi istri Ardiansyah."
Nara keluar dari mobil. Dia gemeteran (masih akting, Bro!), tapi matanya tetep tajem. "Andra! Mau lo apa sih?! Mas Rian udah kasih semuanya ke polisi, lo nggak bakal bisa menang!"
"Menang? Gue udah kalah, Nara! Tapi gue nggak mau kalah sendirian! Gue mau liat Rian nangis darah pas liat mayat istrinya dibungkus daster kebanggaannya!" Andra ngeluarin pisau lipat dari sakunya.
Tapi, pas Andra mau melangkah lebih deket, Satya tiba-tiba keluar dari kursi supir dengan gerakan yang saking cepetnya nggak bisa diliat mata manusia biasa.
KRETEK!
Satya langsung melintir tangan Andra sampai pisaunya jatuh.
"ARGHHH! SIAPA LO?!" teriak Andra kesakitan.
"Hanya seorang supir taksi yang punya hobi nangkep sampah," jawab Satya datar.
Tiba-tiba, lampu sorot dari puluhan mobil polisi dan mobil Rian langsung nyala, ngepung area gudang itu. Rian keluar dari mobilnya, jalannya tegap banget, aura CEO-nya berubah jadi aura algojo.
Rian nyamperin Andra yang udah tiarap di tanah karena diteken sama Satya. Rian jongkok di depan sepupunya itu.
"Satu hal yang lo harus tahu, Andra," bisik Rian, tapi suaranya kedengeran jelas banget karena saking sunyinya. "Gue bisa maafin lo karena masalah harta. Tapi lo nyentuh Nara... lo sama aja udah gali kuburan lo sendiri."
Rian berdiri, terus dia narik Nara ke pelukannya. "Kamu nggak apa-apa?"
Nara napas lega, dia nyender di dada Rian. "Nggak apa-apa, Mas. Tapi daster saya kena debu gudang nih, Mas harus ganti yang baru ya!"
Rian ketawa kecil, rasa tegangnya langsung ilang denger permintaan konyol Nara. "Iya, saya beliin satu pabriknya sekalian."
Andra pun diseret masuk ke mobil polisi dengan pengawalan ekstra ketat. Kali ini, nggak ada celah lagi buat dia kabur.
Malam itu, mereka balik ke apartemen. Suasananya udah jauh lebih tenang. Satya balik ke posisinya sebagai "penunggu pintu" yang setia.
Nara lagi asyik selonjoran di sofa sambil mijit kakinya. "Mas, tadi itu keren banget ya? Kita kayak di film Mission Impossible!"
Rian duduk di samping Nara, dia ngambil alih kaki Nara dan mulai mijitnya pelan. "Keren sih keren, tapi jangan diulang lagi ya. Jantung saya hampir berhenti pas motor-motor itu mepet mobil kamu."
"Hehe, kan ada Bang Satya, Mas. Dia itu lebih jago dari John Wick kayaknya."
Tiba-tiba, HP Nara bunyi. Ada notifikasi dari akun Instagram-nya.
"LHO! MAS! LIHAT!" teriak Nara.
"Ada apa lagi?"
"Koleksi daster saya yang tadi dipake di butik... FOTONYA VIRAL! Gara-gara ada yang motoin pas kita lagi 'perang' tadi, orang-orang malah fokus ke desain baju saya! Sekarang pesanan masuk ribuan, Mas!"
Rian cuma bisa bengong. "Jadi... gara-gara aksi nangkep buronan, daster kamu malah laku keras?"
"Itulah keajaiban daster, Mas! Semakin banyak cobaan, semakin tinggi harganya!" Nara langsung buka laptopnya, lupa kalau dia tadi baru aja hampir diculik.
Rian senyum tipis, dia nyium puncak kepala istrinya. Hidup sama Nara emang nggak pernah bosenin. Dari teror laser sampai jadi viral, semuanya dilalui dengan daster.
"Nara," panggil Rian pelan.
"Iya, Mas?"
"Besok kita liburan. Benar-benar liburan. Tanpa daster kerja, tanpa HP, tanpa Andra. Cuma kita berdua."
"Boleh, Mas! Tapi boleh bawa daster buat santai di pantai kan?"
Rian ketawa kenceng. "Terserah kamu, Sayang. Terserah kamu."