Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Godaan di Tengah Malam
Keheningan malam menyelimuti mansion Aditama. Hanya suara detak jam dinding yang menemani kesunyian di lantai dua. Amara terbangun dengan tenggorokan yang terasa seperti terbakar. Ia meraba nakas di samping tempat tidurnya, namun jemarinya hanya menyentuh permukaan kayu yang kosong. Ia lupa membawa botol air minum ke kamarnya sebelum tidur tadi.
"Haus sekali..." gumamnya lirih.
Ia melirik jam beker di samping tempat tidurnya. Pukul satu dini hari. Amara menghela napas panjang, mencoba memejamkan mata kembali, namun rasa haus itu semakin menjadi. Akhirnya, dengan langkah malas, ia bangkit dari ranjang.
Kriitt...
Suara deritan pintu kamar Amara yang dibuka perlahan ternyata menembus dinding ruang kerja Arlan yang terletak tak jauh dari sana. Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu meja itu, Arlan sedang berkutat dengan berkas-berkas audit perusahaan. Pendengarannya yang tajam langsung menangkap suara itu.
Arlan melirik tablet di meja kerjanya. Dengan satu sentuhan, ia membuka akses CCTV lorong lantai dua dan area dapur. Layar tablet itu menampilkan sosok Amara yang baru saja keluar dari kamar. Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.
"Mau kemana kau, Amara?" bisiknya pelan.
Di layar, Amara tampak menuruni tangga dengan hati-hati. Ia mengenakan daster batik lusuh selutut yang motifnya sudah agak pudar—pakaian yang menurut Arlan sangat "kampungan"—namun potongan daster yang tipis itu justru mengikuti ĺéķúķ ťúbúħ Amara dengan sempurna. Tanpa břá di baliknya, ďáďá béśářñýá bergoyang pelan setiap kali ia melangkah, menciptakan pemandangan yang membuat Arlan melepaskan kacamata bacanya dengan perlahan.
Arlan menutup tabletnya. Pekerjaan audit yang tadinya sangat penting kini terasa membosankan. Ia merasa butuh "hiburan" malam yang lebih nyata daripada sekadar angka di atas kertas. Ia ingin melihat lebih dekat bagaimana rupa pengasuh desanya itu saat sedang lengah di tengah malam.
Di dapur yang remang-remang, Amara menuangkan air dingin dari dispenser ke dalam gelas. Ia meminumnya dengan rakus, setetes air mengalir dari sudut bibirnya, melewati lehernya yang jenjang, dan menghilang di balik kerah dasternya yang řéñďáħ.
Plek.
Suara langkah kaki yang berat membuat Amara tersentak hingga hampir menjatuhkan gelasnya. Ia berbalik dengan cepat dan mendapati Arlan sudah berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya, namun lengan kemejanya sudah digulung hingga siku dan beberapa kancing teratasnya terbuka, menampilkan kesan máśķúlíñ yang berantakan namun sangat śéķśí.
"T-Tuan? Belum tidur?" tanya Amara dengan suara gemetar, ia mencoba menutupi ďáďáñýá dengan tangan, sadar betul bahwa dasternya sangat tipis.
Arlan tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang, masuk ke dalam area dapur yang sempit. Langkahnya yang mantap membuat Amara terdesak hingga punggungnya menempel pada meja marmer dapur.
"Pekerjaanku membuatku haus, Amara," ucap Arlan dengan suara rendah yang menggetarkan udara di ruangan itu. Matanya tidak menatap gelas di tangan Amara, melainkan terkunci pada ďáďá Amara yang naik-turun karena napas yang memburu.
Arlan berhenti tepat di depan Amara. Jarak mereka begitu dekat hingga Amara bisa mencium aroma kopi dan sisa parfum Arlan. Arlan mengulurkan tangannya, bukan untuk mengambil gelas, melainkan untuk menyentuh ujung daster Amara di bagian báħú.
"Daster ini... sangat buruk," gumam Arlan, jemarinya sengaja mengusap kulit báħú Amara yang halus. "Tapi dia gagal menyembunyikan apa yang ingin aku lihat."
Amara menahan napas saat merasakan ujung jari Arlan mulai merayap turun menuju bagian tengah ďáďáñýá. "Tuan... ini sudah malam, saya harus kembali ke kamar."
"Malam justru waktu yang tepat untuk 'makan tambahan', bukan?" Arlan menyeringai. Ia mengambil gelas dari tangan Amara yang gemetar, meletakkannya di meja tanpa memutuskan kontak mata. "Lagipula, aku tidak bisa tidur jika tahu ada oase yang sedang berjalan-jalan di dapurku tanpa pengawasan."
Arlan semakin mengikis jarak, menekan tubuh tegapnya hingga Amara benar-benar terhimpit di antara dada bidang sang tuan dan pinggiran meja marmer yang dingin. Hawa panas yang terpancar dari tubuh Arlan terasa kontras dengan dinginnya batu marmer di belakang punggung Amara.
"T-Tuan... jangan begini. Nanti ada orang yang lihat..." bisik Amara dengan suara yang hampir habis. Matanya melirik cemas ke arah pintu keluar dapur yang menuju lorong pelayan.
Arlan terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti geraman lapar di telinga Amara. Ia menunduk, bibirnya menyentuh pucuk telinga Amara, membisikkan kata-kata yang membuat nyali gadis itu menciut sekaligus bergetar.
"Apa kau lupa, Amara? Seluruh pelayan berada di paviliun belakang pada jam seperti ini. Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa izinku," ucap Arlan serak.
Tangan Arlan kemudian bergerak turun, meraba kain daster batik yang tipis itu. Matanya menyipit saat ia merasakan ťéķśťúř ťúbúħ Amara yang begitu nyata tanpa penghalang apa pun di balik kain murahan tersebut.
"Dan lihat ini... berani-beraninya kau berkeliaran di rumahku tanpa břá? Hm?" Arlan memberikan tekanan pada kalimatnya.
Grep.
Tanpa peringatan, Arlan meremas páýúďářá béśář Amara dengan satu tangan yang kuat. Remasan itu begitu dalam hingga jari-jari Arlan tenggelam di balik kéķéñýáláñ ďáďá Amara yang penuh dengan śúśú.
"Akhh... T-Tuan..." Amara memekik tertahan, tangannya secara refleks mencengkeram lengan kemeja Arlan yang digulung.
"Ssttt... jangan berisik, atau kau ingin mengundang perhatian?" goda Arlan. Ia justru semakin mempermainkan ďáďá Amara, memutar telapak tangannya di atas púťíñg yang kini méñóñjól keras menusuk kain daster. "Dadamu sangat bengkak malam ini. Apa kau sengaja ingin menggodaku agar aku membantumu méñgóśóñgkáññýá di sini?"
"T-tidak, Tuan... saya hanya haus," rintih Amara, namun tubuhnya justru berkhianat dengan melengkung mendekat ke arah řémáśáñ tangan Arlan.
"Haus? Aku juga haus, Amara. Tapi aku tidak butuh air dingin dari dispenser itu," Arlan menarik dagu Amara, memaksa gadis itu menatap matanya yang sudah berkilat gelap oleh ñáfśú. "Aku butuh sesuatu yang hangat, manis, dan langsung dari śúmbéřñýá."
Arlan tiba-tiba melingkarkan lengannya di pinggang Amara dan dengan satu sentakan kuat, ia mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas meja marmer dapur yang tinggi.
"A-ah! Tuan, dingin!" Amara terkesiap saat kulit páħáñýá yang terbuka bersentuhan langsung dengan marmer yang sedingin es.
"Kalau begitu, biarkan aku menghangatkanmu," bisik Arlan. Ia berdiri di antara kedua páħá Amara yang terbuka, lalu tangannya mulai menarik tali daster Amara ke bawah, menyingkap kéíñďáħáñ yang selama ini menghantui pikirannya sepanjang hari.